Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 63


__ADS_3

" Aa, sudah dengar belum kalau mbak Ayu mau menikah?" kata Mira Sambil meletakkan kopi panas di hadapan ku. aku menatapnya sambil sedikit mengangguk, lalu kembali menatap Ke laptop ku.


" Cepet banget ya Aa, Orang ketemu sama jodoh nya?" katanya lagi.


" Kenapa? Kamu udah pingin kawin juga." kataku sambil sedikit tertawa kepada nya. dia sedikit memonyongkan bibirnya itu.


" Ingat Mira, nanti kamu jangan cari lelaki macam Aa ini. kamu kan tau Aa kayak apa? pokoknya Jangan!' kataku sedikit keras.


" Kan Aa gan jelek-jelek amat Sih?" tanya nya.


" Kalau masalah ketampanan mah, jelas Aa kamu gak ada tandingannya?!" kataku sambil tertawa lepas Kepada nya.


" Hooo... Si Aa mah Narsis!?" katanya sambil menggerakkan salah satu tangan nya yang memegang serbet.


" Kamu jangan Dekat dekat sama si Hakka itu. jangan kamu kira Aa gak tau kadang kamu di antar sama dia!" kataku tegas. Mira hanya diam.


" Nanti bulan depan, Aa beliin kamu motor. biar kamu gada alesan jauh jalan mau ke tempat kursus atau ke pasar.!"


" Biar kamu gak ngerepotin Ayu terus, nebeng Kesana kesini." kataku.


" Mungkin bulan depan juga, Anak Aa mau di bawa kesini. Aa minta tolong sama kamu bantu jagain dia.." kata ku.


" Nanti kamu bilang ke semua, itu anak Aa. kamu gak usah kasih tahu siapa Ibu nya ke siapapun?" kata ku.


Dia menatapku.


" Mira, keponakan kamu ini punya sakit bawaan. jadi dia gak seperti Lio atau Danesh. jangan ajak dia ngelakuin hal hal yang bikin capek." kataku.


" Maksud Aa? Bukan Lio atau Danesh. Atuh siapa?' katanya heran. Aku tersenyum, memang aku tak memberi tahukan Kepada nya sebelum aku dan Livia menikah.


" Anak Aa sama Livia. umurnya hampir sama dengan Lio. hanya beda setengah tahun?" kataku yang membuat nya terkejut.


" Teh Livia..?' katanya Pelan dengan mulut ternganga.


" Itulah, kenapa Aa di gugat cerai sama Estu. ya karena Aa memang salah." Kata ku.


" Kan Aa Bilang tadi. kamu jangan cari lelaki yang seperti Aa. pokoknya jangan.!"


" Lelaki kalau tabiatnya seperti Aa, susah di rubah. Aa sendiri susah untuk menahan Tabiat-tabiat jelek yang ada di diri Aa.. terutama sama perempuan." kataku pelan.


Dia hanya diam tertunduk. tak lama kemudian terdengar suara Salam dari luar, rupanya Ayu yang Sengaja main ke rumah.


Aku hanya sedikit tersenyum dan meninggalkan nya.


***


Kenapa sih dia, sepertinya kaku banget dan sengaja menghindari ku. Apa mungkin dia tahu aku akan menikah dengan Linggar. lalu Aku menatap Mira.


Ya iyalah, Pastinya dia tahu kalau aku sudah bertunangan dengan Linggar. Dan akan melangsungkan pernikahan beberapa bulan kedepan.

__ADS_1


Memang sih, aku sama mas Sakha jarang sekali berbicara langsung. komunikasi kami berdua selalu Lewat ponsel. itupun kadang kadang buru buru di sudahi nya karena alasan kerjaan atau anak nya.


" Mbak, mbak Ayu?" kata Mira yang menyadar kan ku.


aku sedikit tersenyum kepada nya.


" Mbak sudah makan belum. aku bikin Sop, makan bareng yuk?" ajak nya. Aku hanya tersenyum.


Tak lama kemudian, Mas Sakha datang menghampiri kami. Dia tersenyum datar Kepada ku.


" Ehh, ada calon manten. selamat yaa?" katanya dengan sedikit senyum itu. aku menatap matanya yang seolah-olah tak tulus itu.


" Sekalian yuk makan sama sama. Yaa anggap saja perayaan atas pertunangan kamu Ay!" Katanya sambil mengajak ku.


" Gak usahlah mas, Terima kasih." kataku menjawab nya.


" Biasa ajalah, gak usah sungkan. kamu kan selama ini sudah baik sama Mira, udah kayak adik sendiri lagi. Berarti kan kamu juga harus nya aku anggap adik?" katanya dengan senyuman palsu itu.


" Jadi kapan nih Hari bahagia nya, jangan lupa undang undang yaa?" katanya sambil menuangkan sayur di piringnya itu. Aku hanya tersenyum kaku.


Kemudian dia menatapku tajam Sambil tersenyum.


" Gara gara kamu, Mira jadi ingin cepat-cepat menikah juga." katanya sambil tertawa terkekeh dan menatap Mira.


" Apa sihh Aa... enggak kok Mbak, si Aa mah suka bercanda?" jawab Mira sambil cemberut Kepada Mas Sakha.


" Coba kamu Ayu, nasehati dia. kalau perlu cariin dia laki laki yang Sepadan sama dia. jangan cari mahasiswa anak orang kaya lagi." Katanya penuh arti Kepada ku.


Aku menatap Mira. wajar saja Aa nya bilang begitu sama dia. karena Aa nya sendiri tahu kelakuan si Hakka itu seperti apa.


" Jadi kamu menikah tanggal 21 bulan Juli besok.?" tanya nya kepada ku setelah mendesak.


Aku hanya mengangguk. Dia hanya menarik nafas dalam-dalam dan menghela nya perlahan.


" Berarti, cuma tinggal sebulan setengah lagi ya dari sekarang." katanya kemudian. aku hanya diam.


Kemudian dia tersenyum.


" Yang Paling cepat itu Memang waktu ya Ay... Rasanya baru kemarin aku kenal kamu, sekarang kamu Sudah mau nikah Saja." Katanya terdengar mendalam.


Lagi lagi aku diam. Aku gak tau apa yang ada di fikiran nya itu.


Sekilas dia Tampak Seperti biasa saja, Namun Seperti ada kesedihan yang terasa dalam setiap kata katanya. Ataukah hanya aku yang merasa sedih akan meninggalkan nya.


Rasanya belum puas aku menjalani hari hari dengan nya.


" Mungkin, bulan depan juga Anak ku aku bawa kesini. Nanti kamu kalau ada waktu temanin Mira ya. bantuin juga Boleh.!" katanya sambil tertawa kecil.


" Sementara Anak nya dulu, baru nanti aku cari Ibunya." katanya sambil tertawa lepas.

__ADS_1


Aku sedikit Memandang nya dalam.


" Mas,?" kataku pelan kepadanya. dia menjawab sambil memperhatikan ku. Kami saling menatap.


" Mas gak keberatan kan aku menikah sama Linggar?" kataku hati hati.


" Kenapa mesti keberatan? Dia kan pilihan mu, dan dia juga datang sebelum adanya aku kan??" jawab nya.


" Memang aku siapa sih?" tanyanya sambil melemparkan senyum kepada ku.


" Aku bukan siapa siapa di hidup kamu. aku itu cuma Cameo, Cuma lewat di skenario Hidup yang kamu jalani."


" Aku enggak mempersalahkan kamu yang pernah seperti itu ke aku. Aku berusaha anggap kamu sedang melakukan Kesalahan, dan sekarang kamu sedang berada di jalan yang benar sesuai rencana.!" katanya.


Aku sedikit berkaca kaca mendengar nya bicara.


" Mungkin juga, nanti Akan ada bintang yang bersinar walaupun tak seterang bintang yang lain- Merefleksikan kisah kita.!" katanya sambil tersenyum simpul.


Sungguh, disaat ini. aku ingin sekali memeluknya. entahlah mengapa, aku makin Merasa salah terhadap nya. dan berfikiran salah mengambil keputusan menikah dengan Linggar.


Dia menatapku lalu mengusap rambut ku dengan jemari nya yang panjang itu. lalu berdiri mengangkat telepon dari seseorang.


Lalu aku menghampiri Mira yang berada di dapur.


" Mbak, aku lupa ambil Laundry baju. mana besok bajunya mau di bawa Aa lagi?" kata Mira tiba tiba kepada ku. Aku menatapnya.


" Nah loh...kok bisa? Sana cepat ambil. ini bawa motor ku saja?" kataku sambil menyerahkan kunci motor ku padanya.


" Aduh, sebentar ya Mbak?" katanya sambil berpamitan. Lalu aku melanjutkan mencuci piring yang tadi di kerjakan oleh Mira.


" Mira, Baju kemeja Aa mana yang coklat!" teriak mas Sakha kemudian sambil menghampiri ku di dapur.


" Dia baru saja keluar Mas, katanya lupa mau ambil Laundry baju mu." kataku. dia hanya tersenyum.


Dia masih berdiri di sudut pintu Dapur, mas Sakha tampak memperhatikan ku dari sana.


Lalu tersenyum saat aku balik menatap nya.


" Kenapa mas?" tanya ku. sambil mengusap tangan ku yang basah dengan lap. Dia hanya menggeleng dan tertawa kecil.


" Kamu sudah pantas untuk Menikah kayak nya Ay. Aura nya sudah kelihatan?" katanya sambil tertawa kecil. Aku hanya diam.


" Beneran cepet banget ya waktu?" katanya sambil tertawa pelan.


Aku sedikit berlari menghampiri dan langsung memeluk nya. Dia tampak terkejut.


" Ay... kamu apa apaan lagi!" katanya sambil sediki melepaskan pelukan ku.


" Sebentar saja Mas, aku pingin peluk Kamu'.!" kataku memberanikan diri.

__ADS_1


__ADS_2