Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 65


__ADS_3

Aku tak bergeming saat dia mendekati ku. Aku masih merasa kesal kepada nya.


Rasanya tak terima saja kalau Mas Sakha ku di Hina olehnya.


Mas Linggar beberapa kali mengucapkan kata maaf kepada ku. namun aku masih diam. malah aku jadi sedikit Risih karena nya.


" Dek, Udah sih. jangan marah lagi" katanya.


" Iya aku yang salah, Maaf. aku janji gak bakal ngulang lagi masalah yang seperti tadi." ucap nya.


Aku memandang nya, kemudian dia memegang tangan ku.


' Kalau perlu, aku minta maaf sama mas Bandi juga Mas Sakha itu." katanya terdengar berat.


" Aku sedikit Cemburu, Kalau dia dekat dengan Kamu. entah itu Adik nya yang dekat sama Kamu atau kamu yang Sengaja main ketempat nya?" katanya.


Dek!! Aku merasa kalau mas Linggar sedikit tau jika aku ada sesuatu dengan nya?


" Ya tadi aku kerumahnya karena ada perlu sama Mira, bukan karena dia. eehh, kebetulan malah Mira minjam motor ku. masa aku gak bolehin sih mas?" kataku sedikit pelan. Dia hanya diam.


'' Masa iya sih kamu cemburu. Wong mas Sakha juga udah punya Pacar." kataku menambahkan.


" Cemburu kamu kok ya gak beralasan gitu?" kataku.


" Iya, maaf. aku yang salah. Aku cuma takut kehilangan kamu Yu, apalagi kita berdua mau menikah." katanya. Aku hanya menatapnya.


Ternyata, mas Linggar seolah tau dengan apa yg ada di Hatiku. kecurigaan nya sebenarnya tidak salah, akulah yang sebenarnya bermain api dengan nya.


****


Aku melirik si Mira yang tengah tertidur di samping ku. Aku ke jakarta karena memang ada urusan bertemu dengan seseorang.


Proposal ku di terima di ritail besar yang menjual Segala macam furniture untuk interior atau eksterior rumah. Dan segala macam barang perlengkapan rumah.


Aku berharap ini langkah awal ku untuk mengembangkan bisnis milik ku dengan pak Bandi. sejauh ini usaha ku sudah mulai berjalan sedikit lancar. Dengan pak Bandi, sekarang aku sudah mempunyai 10 orang karyawan.


Aku sedikit mengingat kejadian tadi siang, Sedikit menyesali nya. Kenapa Coba aku masih menanggapi perasaan ku dengan Ayu. Aku Seolah mau jadi selingkuhan nya.


Andaikan dia tahu bahwa aku sudah menikah dengan Livia? Mungkin hal semacam tadi tak akan terjadi.


Jika sampai Livia tahu, akan habis aku di cacah oleh-nya.


***


" Jadi ini, kontrak kerjanya ya pak. mohon di tanda tangani." kata Seseorang yang bernama Haris itu kepada ku.


" Selama Bapak menandatangani kontrak ini, Bapak di larang menjual produk bapak ke toko lain dengan menggunakan merk dagang yang sudah di sematkan ini."


" Kalau ketahuan, apalagi harganya lebih murah dari yg kita jual, ya kontrak bisa di cabut sewaktu waktu?" katanya sambil tersenyum.


" Keuntungan yang bapak perolehan, produk bapak ini bisa kami ikut sertakan dalam pameran furniture di Swedia. atau negara Eropa lainnya!" katanya lagi.


" Maaf mas, kalau seandainya saya ikut even pameran di dalam negeri bagai mana?" tanyaku.


" Tetap bisa pak, asal harga nya sama seperti yg kita jual dan lagi bapak tetap harus mengarahkan Si pembeli di toko kami. kalau tidak bapak buka toko sendiri tetapi Barang yang bapak jual sudah termasuk biaya cukai." katanya.


Aku mengangguk paham.

__ADS_1


" Ya Hallo, kataku sambil sedikit menyingkir dari orang itu.


" Ada apa Livi?" tanyaku heran mendengar nya menangis.


" Mama aku koma.." kata nya dari sana sambil menagis sesegukan. Sesaat aku diam.


" Tenang dulu, jangan nangis gitu." kataku


" Tapi ini gimana Kha, dia mama aku satu satunya...aku" katanya terputus karena tangisannya itu.


" Iya, aku tau. tapi kamu tenang dulu. Biarin Dokter ngasih tindakan, kamu percaya Tuhan pasti tolong mama kamu." kataku.


" Nanti aku Kesana. kamu yang tenang dulu ya." kataku lagi.


Lalu aku menemui pak Haris tadi. Dia memandang ku sedikit heran.


" Kenapa pak? Ada apa?" tanya nya kepada ku. Aku tersenyum kepadanya.


" Maaf nih pak, bukan saya tidak mau berlama-lama. tapi kalau sudah selesai urusan kita. saya boleh pamit pak?" kataku.


" Oh, iya. enggak apa-apa pak Nuril. Saya rasa urusan kita sudah beres, kalau bapak belum paham atau ada sesuatu yang mau di tanyakan. hubungi nomor telepon saya saja." katanya sambil sedikit tersenyum.


aku membalas Senyuman nya itu.


" ya sebenarnya saya ingin bertanya banyak hal kepada bapak, tetapi mendadak ada urusan keluarga. Mertua saya sedang sakit dan saya harus buru-buru ke rumah sakit. istri saya sangat panik sendirian.!" kataku mengatakan hal itu kepadanya.


dia kembali tersenyum kami berdua saling bersalaman.


" Livia!!" panggil aku kepadanya yang terlihat masih menangis. dia menoleh ke arahku, Lalu Memeluk ku dan kembali menangis.


aku mencium kepalanya itu dan mengelus-elus Punggung nya. berusaha menenangkan Livia.


" Sabar, dan terus berdoa. yakin Mama kamu itu kuat." kataku.


" Sudah, jangan nangis terus.!" kata ku.


***


Aku memberinya minum, Sekedar untuk membuat Livia sedikit tenang. Dia menatapku dengan mata Dan hidung yang memerah. Aku mencium keningnya.


" Kamu kok ada di Jakarta?" tanyanya kemudian.


" Aku dapat kontrak sama Ritail Itea, Hari ini aku tanda tangan sama Perusahaan itu." jawab ku.


" Kamu kok gak bilang sama Aku?" tanya nya lagi.


" Ya aku pikir, nanti sekalian di Jawa Aku kasih tau kamu. nanti pas kita ambil Kylie.?" kataku.


" Aku kayaknya gak bisa ke Jawa Kha. kondisi mama aku memburuk." katanya Sedih.


Aku hanya menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan.


" Ya Sudah, Nanti Aku yang ambil Kylie sama Mira?" Kataku pelan.


" kamu gak apa-apa kan ambil Kylie di Maurice?" katanya. Aku. hanya mengangguk.


" Kamu berapa hari Mau di Jakarta?" tanya nya lagi.

__ADS_1


" Tiga hari." Jawab ku sambil memandang nya. dia terlihat tajam menatap ku. Aku menghela nafasku dan sedikit memalingkan wajah ku dari nya.


" Ya ampun, Livia. Sudah lah, jangan mulai keributan baru. Aku cuma mau ketemu sama anak anak." kataku.


" Kamu masih sempet sempet nya mikir ke hal lain." kataku sedikit lelah. Dia hanya diam.


Tak berapa lama om Vanus Datang. Dan aku masih kaku di hadapan nya itu. hanya Livia yang berbicara kepadanya. aku lebih banyak diam.


" Sakha, bukan nya kamu ada di Jawa. kenapa kamu ada di Sini!?" tanya nya dengan suaranya yang sedikit berat itu.


Aku tersenyum kecil menatap nya, ada sedikit perasaan ngeri aku terhadap Nya. Takut salah.


" Saya ada urusan om di Jakarta."


" Oo, Nengokin anak kamu?" katanya memotong. Aku kembali tersenyum kecil Kepada nya.


" Iya sih Om, tapi saya niat nya ke jakarta karena urusan dengan rekan usaha saya Om." kataku.


" Urusan apa, kamu punya usaha apa Emang nya!?" tanyanya sedikit Curiga.


" Saya ada usaha furniture di Kutoarjo om. tadi saya tanda tangan kontrak dengan Itea, Ritail itu loh Om." kataku.


Kemudian dia Tampak diam dan sedikit memperhatikan Livia.


" Lalu, kapan kamu mau jemput anak kamu yang di pantai!?" katanya seperti menggertak.


" Sepulangnya dari sini Om, jika gak berhalangan. hari Jumat saya Pulang atau bisa langsung jemput putri kami." kataku. dia terlihat manggut-manggut kecil.


Tak lama kemudian aku mendapatkan telepon dari Mira. yang meminta ku segera datang. Dia aku titipkan di rumah Estu. sedangkan aku memilih tinggal di penginapan kecil.


Aku menatap Livia dan om Vanus. lalu berpamitan kepada keduanya. Sebelum pergi, aku memeluk Livia dan mencium keningnya di hadapan Om nya itu.


***


" Dasar bocah tengil!?" kata om Vanus sedikit tersenyum kepada ku setelah Sakha pergi dari hadapan kami.


" Sengaja sekali dia cium peluk kamu dihadapan om ini." Katanya sambil menatap ku. Aku hanya diam sambil melipat bibir ku ini.


" Ternyata dia lelaki baik, walaupun sudah sering disakiti. kalau di perlukan pasti dia membantu.!" katanya memuji Sakha.


" Berapa kali saja dia aku marahi, Bahkan tau kelakuan mu itu, dia masih mau menikah sama kamu.!!"


" Dia tak pernah meminta untuk tes DNA anak kamu itu Livi?" tanya nya. Aku hanya menggeleng pelan.


Kamu yakin kan, kalau anak kamu itu juga anak nya.!!" katanya kepada ku yang membuat ku sedikit kaget.


" Iya om. Kylie memang anak nya. Saya tahu persis." jawab ku.


" Lihat, Dia masih saja membela kamu meskipun kamulah yang menghancurkan rumah tangga nya. Saya tahu persis, apa yang dia alami setelah berpisah dengan istri nya itu.!" katanya.


" Sekarang, jadikanlah rumah tangga mu sebenarnya berumah tangga Livi.!"


" Beribadah untuk menjadi seseorang yang lebih baik, Saya tahu dia tidak bisa meninggalkan Tuhan nya.tapi itu takkan Om persoalkan lagi. yang penting kalian rukun." katanya.


Aku hanya diam mendengarkan nya. mungkin om Vanus banyak bicara benar, namun belum tahu sisi yang lain nya dari seorang Sakha.


Namun yang jelas, aku memang mencintai nya.

__ADS_1


__ADS_2