
Aku segera bergegas mencari kunci mobil dan menuju TKP.
benar saja di sana sudah ada mobil pemadam kebakaran dan tampak orang-orang berkumpul. api yang membakar gudang tempatku bekerja sangat besar, hampir seluruh gudang sudah terbakar dan tidak bisa dimasuki apalagi menyelamatkan barang-barang.
dengan perasaan yang berkecamuk. Berulang - ulang kali Aku mengucapkan Dzikir.
Beristighfar menguatkan perasaanku sendiri.
Mira yang datang bersama Kylie langsung memelukku sambil menangis.
Tampak Ayu memegang tangan pak Bandi yang menutupi wajahnya itu.
Aku menggendong Kylie, sambil menatap kobaran api yang seolah-olah membakar semua harapanku di gudang itu.
Aku harus kuat, aku mampu bangkit. kata hatiku, menguatkan perasaanku.
Dengan perasaan yang tak menentu, aku memberikan kan jawaban pada polisi yang mengintrogasi ku.
Wajah ku terlihat kuyu, semenjak kebakaran semalam aku tak tidur.
" Ada kamera CCTV pak di sebelah Utara Gudang. tapi memang hanya satu.!" kataku
" Saya bisa memastikan jika Di gudang tidak ada Barang atau benda yg mudah terbakar, seperti Gasolin dan resin saya tempatkan di gudang yang berbeda. ada di gudang dekat rumah saya." kataku menjawab pertanyaan dari polisi itu.
Setelah selesai di interogasi, Aku kembali ke Gudang yang terbakar.
Masih ada asap yang mengepul dari tumpukan kayu yang sudah menghitam itu.
Bekas Air yang tergenang disana sini itu sedikit membuat becek.
Nyaris tak ada barang yang bisa diselamatkan.
Aku harus bagaimana ini. Pikirku keras.
" Maaf pak, nasib kita bagaimana?" kata salah seorang pekerja Kepada ku. Aku menatapnya.
" Maaf ya Mas, untuk beberapa saat seperti nya kalian terpaksa harus berhenti. dan saya mempersilahkan kalian jika mau bekerja di tempat lain."
" Saya gak bisa jamin ini selesainya kapan?" kataku.
" banyak yang harus dibenahi mas. mohon kesadaran dan ke ikhlasan nya." kataku pelan.
Aku menatap gudang ku yang sekarang sudah di garis polisi itu. lalu berbalik menuju mobilku untuk pulang.
aku merasa lelah sekali.
***
" Yaa pak, bukan tidak ingin membayar tapi kan situasi memang seperti ini Pak. saya bukan lari atau mengingkari perjanjian.!"
kataku kepada si pemilik kayu yang kemarin baru saja datang ke gudang ku dan terbakar pada malam harinya.
" kan kemarin perjanjiannya tidak bisa saya bayar semua sebesar 94 juta. saya mau bayar dulu setengahnya dari harga yang telah kita sepakati itu?"
" Yaaa pak. saya bukan bermaksud menunda-nunda, sekarang saya memang sedang sibuk-sibuknya mengurus ini dan itu.?"
" Bapak Jangan asal menuduh sembarangan!! bukannya Bapak mengirimkan barang Bapak tanpa seijin saya terlebih dahulu, bahkan Pak Bandi mengatakan jika barangnya akan dikirim besok ternyata sudah sampai saat itu juga.?"
" Sekarang Bapak minta saya untuk membayar penuh? Seolah ketakutan tidak akan dibayar!!
" kita bermitra ini sudah lama loh pak. Apa pernah saya mengingkari perjanjian sebelumnya, tolong pertimbangkan itu?"
" sekarang saya lagi butuh Dana buat ini dan itu pak. Tolong lah kasih Tempo Sebentar.!" kataku sedikit lembut.
" Saya tidak mau tahu pokoknya dua minggu lagi uang kayu harus Bapak bayarkan!!" katanya terdengar keras. lalu sambungan telepon pun terputus. aku menatap ponsel ku.
" Bagaimana kata Pak haji Marsono mas?" tanya Pak Bandi kepadaku. Aku hanya menatap nya bias.
" Yaa dia minta agar uang yang dibayarkan 2 minggu kedepan.?"
__ADS_1
" saya ada uang, tapi gak ada banyak untuk modal usaha baru. kalau segitu kan lebih baik buat yang lain Dulu."
" Kenapa sih dia nggak ngasih keringanan ke kita pak??"
" Apa Bapak tidak bisa membujuk nya pak haji Agar melunak untuk saya.?" kataku sambil menatapnya
" Iya Mas nanti akan saya coba tapi belum pasti bisa boleh."
" Saya kira dia orang yang dermawan ternyata bisa berbuat seperti itu terhadap Mas." kata Pak Bandi kepadaku aku hanya tersenyum sinis kepadanya.
" Kalau lagi jatuh Pak kita malah diperlihatkan sama orang-orang yang benar-benar baik sama kita atau pura-pura sama kita.!"
" Yaaa, kita anggap itu biasa Saja lah." kataku sedikit lesu.
" Iya mas Sakha. emhh, Mas bagaimana kalau produksi Kita alihkan ke gudang milik saya yang di samping rumah Lagi."
" Ya setidaknya kita masih bisa menggunakan sisa bahan yang tersisa.?" katanya
aku menatapnya lesu. Sedikit Tertawa iba.
" Semua kayu sudah terbakar Pak, yang ada di gudang Cuma resin sama Gasolin, sedangkan mesin mesin juga ikut terbakar? Apa mungkin kita mengerjakannya manual." tanyaku padanya.
Dia sedikit tersenyum kepadaku.
" Loh Mas saya juga masih bisanya serut Kayu pake alat Biasa.!"
" terus ada beberapa orang yang loyal sama kita, mau membantu dan dibayar seikhlasnya. yang penting siang dikasih makan.!" katanya kepadaku.
Aku menatapnya seperti menemukan sedikit cahaya. Titik terang di dalam kegelapan dan kesulitan atas masalahku.
" Kalau bapak enggak keberatan sih, ya saya minta tolong untuk menggunakan gudang bapak kembali."
" tapi untuk sementara mungkin saya tidak bisa membantu apa-apa pak."
" Seperti listrik dan biaya makan mereka.?" kataku.
" jangan putus asa. mungkin setelah ini pun bakal ada kesulitan yang kita hadapi, jadi ikhlas aja!!" katanya terdengar bijak.
aku sedikit terharu terhadapnya hidungku terasa pengar dan mataku sedikit memerah menahan air mata. dadaku sesak rasanya aku ingin menangis.
kalau masalah gaji 2 orang tersebut nanti kita bisa bicarakan katanya kepada ku.
Aku hanya mengangguk kecil sambil terbata mengucapkannya terima kasih kepada nya.
***
" Loh pak, kok gampang sekali bapak bilang begitu Sama Dia kalau hitungannya seperti itu ya Bapak yang rugi dong!!" kata mbak asih kepada Mas Bandi.
" Rugi apa sih Bu? kan kita sudah sering ditolong olehnya." kata Mas Bandi menjawab perkataan Mbak Asih.
" Kan listrik tiap bulan harus di bayar, belum lagi nyediain makan sama yang kerja. terus bayar upah nya gimana?"
" Masa iya harus ditanggung bapak semua?" kata nya terdengar sewot.
" Lah apa kamu lupa? bagaimana dulu dia membayarkan hutang kita dengan cuma-cuma??"
" itu belum ada hitungannya lho Bu. 80 juta - bayangkan saja bisa enggak kita bayarkan sekarang ini." kata Mas Bandi kepada Mbak Asih Sedikit keras . Mbak asih hanya diam.
" Ingat gak sih beberapa bulan ini kita bisa hidup lebih baik, Yaa karena dia Bu!"
" dia juga nggak lepas tangan dan masih banyak ide di kepalanya yang belum keluar. aku yakin itu."
" kalau semisal aku Berbuat seperti ini, itu belum ada artinya.!"
" perbuatan ku sekarang hanya untuk membantunya tenang!!"
" coba pikir kalau dia itu saudara kita sendiri, siapa coba yang mau membantu selain orang terdekat.!"
" Dia itu nggak punya siapa-siapa di sini, mulai dari nol dan percayanya sama aku!"
__ADS_1
" coba kamu pikir, yang menyarankan dia kerjasama dengan Haji Marsono itu aku. harga belum sepakat, haji Marsono sudah antar barang nya. terus kayu nya ikut kebakar.!"
" Sekarang Dengan gampangnya haji Marsono bilang kalau uang Kayu harus dibayar penuh. 94 juta harus dibayar 2 minggu kedepan coba??
" dia pastinya ada uang segitu, Tapi kan lebih baik Untuk Modal. kalau modal sudah ada kita kan cuma menyediakan tempat."
" idenya dia, Semua idenya dia Bu.?"
" yang jalankan usaha kita Hidup lagi Siapa kalau bukan dia, Semua karena dia loh Bu.!"
" jadi jangan asal kamu menjelek-jelekkan dia di saat keadaan lagi terpuruk!"
" kamu cukup diam, aku nggak bakal ngurangin jatah belanja mu." katanya terdengar sedikit marah.
Aku hanya bisa mendengarkan ya dari balik kamar milik Ningrum.
***
Aku mendapati Mira yang sedang menangis. Dia menangisi keponakan nya yang seperti sesak bernafas dan lunglai itu.
Aku segera berlari ke arah nya. dia langsung memeluk ku. sedangkan Kylie di Bopong oleh Pengasuh nya itu.
Tak lama kemudian mas Sakha datang. dia berlari setelah keluar dari mobil nya itu.
Wajahnya tampak Panik.
" Ada apa Mira, kenapa Kylie!?" katanya keras sambil menggendong anak nya itu.
" Kenapa anak saya mbok??" katanya kepada pengasuh nya.
" Kylie lagi kumat mas, harus dibawa ke Supermarket mas, ehh maksud saya rumah sakit Mas!?" Katanya terdengar Gugup.
Mas sakha langsung menggendong Kylie dan membawanya ke mobil.
" Mira sama mbok, Naik di belakang. Ayu Titip Rumah yaa.'' katanya sambil bergegas ke dalam mobil.
Aku hanya bisa menatap nya dari sini, sempat-sempatnya tadi pengasuhnya ngebadut. Sempat salah ucap, Rumah Sakit menjadi supermarket. aku sedikit tersenyum jika mengingat kejadian barusan.
Yaaa Allah, seperti Sudah jatuh tertimpa tangga. Mas Sakha mendapatkan musibah seperti ini, semoga saja dia kuat dan mampu melewati semua. batinku penuh harap terhadapnya.
***
" Mbok Sarti, Tolong hubungi suster Maurice. bilang sama dia tentang keadaan Kylie anak saya, tapi tolong minta dia untuk merahasiakannya dari Livia."
" Saya tidak ingin dia juga panik memikirkan anaknya, mertua saya lebih membutuhkan dia ketimbang anak saya untuk sekarang ini?"
" Masih ada saya, Mbok dan bibinya untuk Kylie."
kataku kepada mbok Sarti pengasuh Kylie yang ditunjuk langsung oleh suster Maurice.
" Iya mas.?" katanya sambil menatapku.
" Anu mas, saya mau minta maaf. tadi saya salah ngomong sama mas?" katanya.
aku lantas senyum-senyum kepadanya
" nggak papa mbok, namanya orang panik. semua juga panik, sesuatu yang sepele juga bisa salah ngucapin." " yang penting sekarang anak saya sudah ditangani oleh dokter dan kondisinya sudah mulai stabil." kataku
" Iyaa Mas. saya minta maaf, bisa-bisa nya saya ngomong rumah sakit jadi supermarket?" katanya.
aku lantas tertawa kecil mengingatnya.
" Mira, nanti pulang dulu. ambil barang-barang yang bakal diperlukan di sini. tadi Aa sudah tanya sama dokter. Kylie nggak bakal lama di rumah sakit."
" Dia kumat begini karena mungkin dia melihat sesuatu yang bikin jantung nya syok?". kataku.
" Apa mungkin karena melihat gudang kebakar ya Aa??" kata Mira kepadaku. aku hanya mengangguk kecil.
"Bisa jadi. mungkin aja si Mira, kedepannya Aa minta kita salin hati-hati terhadap Kylie." kataku adikku itu hanya mengangguk pelan.
__ADS_1