
" mastiin gimana?" tanya aku.
" Mastiin kalau aku bakal ketemu Mas lagi nanti??" jawabnya.
" Ooo... Iya Pasti lah kalau itu. emang nya kenapa? mau ngasih kartu undangan. syukurlah kalau kamu udah nemuin tanggalnya??" kataku sedikit bergurau. dia tersenyum datar.
" Mas udah siap-siap, Aku antar ya ke stasiun apa ke Pull bus??" tawarnya. aku hanya tersenyum.
" enggak usahlah Ay, kamu kan nanti kerja??" kataku.
" enggak, aku tukar libur sama temanku, dia hari ini seharusnya libur, tapi dia kerja. aku kan jatah liburnya hari Jumat, Dia hari Jumat ada kepentingan jadi tukar libur??" jawabnya terdengar logis.
" Enggak usahlah Ay, aku nggak pengen ngerepotin kamu. nanti kamu capek, bukannya hari ini kamu libur. santai santai ajalah. aku bisa pesan ojek online kok?? kataku sedikit tertawa.
tetapi wajahnya tampak tidak senang atas jawabanku
dan aku hanya diam.
" Beneran apa Mas kamu nggak ngerasain sedikit aja dari aku??" katanya. aku sedikit bingung, tetapi aku hanya diam menatapnya.
" maksudnya bagaimana, kamu tetap mau nganterin aku ke Pull Bus?" dianya diam.
" Kalau kamu Bawa lari aku, Aku juga gak bakalan Nolak??" katanya dengan sedikit serak seperti mau menangis. Aku Sedikit bingung karena nya.
Dia Seperti nya mau menangis. Kuberanikan Untuk memegang kedua bahunya, sedangkan dia tertunduk.
" Heeiii... kamu kenapa??!" kataku heran. dia mulai menangis perlahan.
" Aku capek Mas menyembunyikannya, Aku capek menyembunyikannya dari kamu??!" katanya.
" Maksud kamu apa Ayuu ??" kataku kebingungan. Untung saja di rumah sedang tidak ada siapa-siapa.
Aku kemudian menaikkan dagu nya yang tertunduk. matanya masih mengeluarkan air mata, menangis sesegukan seperti menahan sesuatu.
" Menyembunyikan apa ? apa maksud kamu Ay, tolong bicara yang jelas??"
" Aku suka sama kamu Mas, Aku cinta sama kamu??"
" Aku takut kalau enggak sempat mengatakannya sama kamu nanti?"
Katanya terdengar jelas. aku sedikit memundurkan badanku Darinya. dan masih bingung terhadapnya, apakah selama ini aku menaruh hati kepadanya juga, atau aku hanya merasa kesepian. Naluriku sebagai lelaki yang terbangun kala mengingatnya.
Tetapi Dia semakin menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
" Ayuu... kamu sadar enggak sih sama yang kamu ucapkan??" Kataku sambil memegang bahunya kembali.
" Aku Sadar Mas Sakha.. !!"
" Aku belum lupa rasanya cemburu ke kamu saat mbak itu datang ke rumah ini. aku belum lupa rasanya cemburu saat kamu bilang belum selesai ke pacar kamu itu, di pom bensin. Dan Aku cemburu saat kamu nganterin dia setengah perjalanan ke Jogja.?!"
" kamu nggak tahu kan kalau aku sempat berpikir macam-macam sama kamu saat antar dia??!"
Katanya sambil terisak-isak.
aku memandangnya lekat.
" Hak kamu Ayu untuk mencintai siapapun, atau suka sama siapapun. tapi kenapa mesti aku??
" Aku emangnya siapa??!"
" kamu berhak mendapatkan kan laki-laki yang lebih baik daripada aku. aku cuman duda beranak dua Yang pekerjaannya gak jelas seperti ini !?" kata aku menjelaskan.
" Aku enggak butuh itu mas, Aku bisa bantu kamu. aku juga kerja aku bisa lakuin apa aja kalau hanya cari uang??"
Aku menutup mataku. jujur aku bingung dan bertambah pusing.
" Dengar ya Ay, Aku nggak pingin hubungan aku dengan Pak Bandi jadi jelek gara-gara ini. apalagi kamu sudah dilamar oleh seseorang, Aku nggak ingin merebut seseorang yang sudah Taken !?"
__ADS_1
" Aku bukan barang Mas. kalaupun iya, aku inginnya kamu yang ngambil aku. Aku mau batalin semua demi kamu.??!"
" Tolong Mas, kamu terima ya cinta aku. dan aku beneran suka sama kamu??" katanya terdengar menghiba.
aku sangat terkejut karena ucapannya itu. mulutku ternganga. aku sedikit menggelengkan kepalaku.
" Ay, aku nggak bisa mutusin hal ini. tapi bakal aku pikirin, aku lagi banyak persoalan, kamu tahu itu.!" " nanti sepulang nya aku kasih jawaban. Aku mau nyelesaiin semua persoalan aku dulu termasuk sama pacar aku itu??" kataku menjelaskan Sambil memegang pundak nya.
" apa susahnya sih Mas kamu ngasih jawaban sekarang, aku juga perlu melakukan tindakan karena jawaban kamu itu??" katanya terdengar memaksa. aku memandangnya sedikit kesal.
Baru aku tahu, dia seagresif Itu dibalik sikap diamnya.
Ada perasaan heran, ada perasaan aneh dan perasaan yang bercampur aduk lebih banyak lagi di hatiku.
" Aku Capek Ayu, tolong kamu jangan menekan seperti itu??" kataku sedikit lesu.
" jujur, kalau sekarang aku nggak mau sama kamu. aku nggak pingin keluarga kamu malu gara-gara kamu batal menikah dengan lelaki yang pernah melamarmu.?"
" kita baru perkenalan keluarga Mas, bukan lamaran??" jawabnya.
" Sama saja Ay, apa kata tetangga-tetangga kamu sama keluarga kamu kalau semisal kamu nggak jadi sama dia??!"
" Atau ada yang bilang seperti ini: lamarannya sama siapa kawinnya sama siapa??"
" Aku bakalan nungguin kamu selesaiin dulu sama pacar kamu, baru aku siap, Mau sama kamu?" jawabku. aku melirik ke jam Dinding sebentar.
Aku mendekatinya lalu membelai rambutnya yang terurai. sejenak aku berfikir mungkin usiaku Aku Dan Dia terpaut sekitar 8 atau 10 tahunan.
Dia memeluk pinggangku sambil terus menangis.
aku mengusap air matanya.
" Ayu.. mungkin kamu hanya bingung dan belum siap dengan Kenyataan yang akan terjadi.?"
" kamu masih ragu-ragu, mencari alasan untuk diri kamu sendiri. makanya kamu merasa mencintai aku??"
" Tapi aku beneran suka sama kamu Mas??" katanya Masih dengan terisak.
" Aku nggak ingin kehilangan kamu Aku nggak pingin orang lain memiliki Kamu Dan Aku ingin kamulah yang memiliki aku??"
" Apa cuma karena suka, kamu merusak Bunga yang udah capek-capek orang rangkai buat kamu??" kataku kepadanya.
" Jika memang aku seperti yang kamu katakan tadi, tolong biarkan aku ngelakuin satu hal sama kamu??" pintanya kepadaku.
" Apa??" tanya aku.
" Aku Ingin kamu Cium aku, Atau Biarkan Aku yang Cium kamu??" katanya.
Aku menelan ludahku, permintaan yang aneh pikirku.
" Aku janji, Jika aku dapat jawaban dari itu. aku gak akan ganggu kamu lagi.?" Katanya.
" Tolong kamu tutup mata Seolah dan pura pura Bukan apa-apa, anggap saja aku nggak ada.??!"
" Kamu gila Ay, permintaan bodoh macam apa yang kamu ucapkan. kamu sadar nggak sih??" kataku.
" Kamu cuma Ter obsesi sama aku. ini bukan cinta cuma nafsu??" kataku kepadanya sedikit tegas.
Dia menatapku seperti malu, dan menangis kembali.
Aku mendekatinya, mengajaknya duduk. mengambil kan nya minum.
Sesaat setelah dia sedikit tenang, Sangat dekat sekali dia dihadapan ku. Pikirku kacau menatap Wajah nya yang Menawan.
Entahlah, apa yang akan dia lakukan.
Aku hanya diam memandanginya yang sedikit demi sedikit maju mendekati ku.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, dia mencium bibirku.
bibir yang lembut, dengan rasa strawberry. Aku bisa merasakannya. permainanya itu dengan sesekali gigitan kecil perlahan seolah mengajakku.
Tak sedikit pun aku membalasnya, walaupun sangat ingin.
Jiwa ku seolah memberontak dan terbangun ganas. namun aku masih bisa menahan nya.
" Apa apa an ini Ayuuu??" kataku sambil mendorong tumbuhnya pelan.
dia menatapku seperti terluka dan menangis. menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
tangisannya terdengar iba dan ada rasa malu yang disembunyikan. Sesaat aku membiarkan nya.
Aku beranikan mendekatinya lagi, meraih dan memeluknya Erat.
Aku Mencium bibirnya perlahan, memainkan bibir merah jambu itu. sambil membelai rambutnya.
Dia membalas nya Pasti, yang terasa menusuk perlahan. Aku rasakan hasrat nya seperti mengejar.
Dan tak bisa ku hindari lagi, Kami saling berbalas. Aku Berusaha menghindar sebelum keadaan semakin bertambah liar. Namun tak kuasa kepada nya lagi.
Seperti menemukan ladang Oase di tengah Gurun Yang panas dan Sedang Merasa Haus, Aku ataukah Dia yang semakin menjadi.
" Sudah Ay, Jangan terus menerus memaksa?!" kataku padanya Perlahan. Namun dia tak bergeming.
" Jangan bikin aku takut Ayu!"
" Sudah??" kataku padanya.
Sudahlah, keadaan semakin tak bisa dikontrol. aku tidak bisa menjinakkan milikku sendiri, aku sadar ingin melakukannya seperti aku melakukannya dulu dengan mantan istri ku.
Dengan isyarat Kami beralih ke suatu tempat Dan suara pintu yang ditutup kemudian.
kami saling memuaskan, dengan pakaian yang masih melekat di tubuh Kami, Yang bertambah kusut tak beraturan.
Akulah yang merabanya, Akulah yang seperti kuda
liar pada akhirnya. Kubuat dia kewalahan.
Akhirnya Meskipun Oral. Serbuk Sari ku tumpah, bersamaan dengan Putiknya yang terpuaskan.
Dengan Pakaian yang acak acakan.
Setelah itu Aku hanya memandang nya, Mencium nya dan terus menerus berciuman.
Disitulah kurasakan, aku juga sebenarnya ingin memiliki nya yg milik orang.
Aku membutuhkan nya sebagai Perempuan ku.
***
Meskipun tanpa kata, Aku yakin sudah memiliki nya. dan dia sudah mendapatkan ku.
Tak ku sesali sekarang, Aku memang menginginkan nya. Menginginkan Perempuan di hidup ku lagi. sebagai pendamping Dan istri.
Dengan menggunakan Hoddie milik ku, Ayu mengantarkan ku ke Pull Bus kenamaan di kota ini.
Dia mengantar ku sampai di jok. Dia memeluk pinggangku dari samping. aku mencium keningnya.
" Janji yaa Mas, kamu pulang??" pintanya pelan sambil menatap ku. aku mengangguk kecil.
" Bantu aku dengan Doa yaa??" kata ku. Dia menatapku lagi penuh rasa sayang.
Sebelum banyak orang, aku mencium Bibir nya beberapa kali.
Kemudian Aku menyuruh nya turun dari bus, karena akan berangkat. dia berpamitan sambil mencium Tangan ku.
__ADS_1