Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 84


__ADS_3

" Abah... Abah... terdengar suara Mira menangis meraung sesampainya mobil yg mengantar nya itu di depan rumah.


Aku memeluk nya, menenangkan Tangisan nya. dan berkata kalau Abah tidak apa apa. hanya merindukan nya. namun Mira sudah terlanjur panik.


Anak ku Kylie juga menangis. Aku ganti Mendekap nya.


" Terima kasih ya mas Dokter. sudah mau jauh-jauh nganterin Adik saya?" kata ku. Dia hanya tersenyum kecil.


" Gak apa-apa mas, kebetulan saya free, terus gada carteran juga yang mau antar Mira kesini?" katanya.


Namun aku tahu sebenarnya itu alasan. Aku hanya tersenyum.


" Ini Ardi mas, teman saya. buat gantian nyopir semalam?" katanya mengenalkan nya padaku. aku tersenyum sambil menyalami tangan Ardi. teman si Arya.


" Dia salah satu Perawat di rumah sakit tempat saya bekerja,?" Katanya aku hanya tersenyum sambil mempersilahkan mereka masuk.


" Ya seperti inilah keadaan keluarga saya Mas di kampung. sederhana nggak ada mewah-mewah nya?" kataku Sambil tertawa kecil.


" Nggak papa Mas malah masih terkesan asri dan tradisional.?" jawab ardi sambil menatapku. aku hanya tersenyum.


masih terdengar suara tangisan Mira di kamar milik Abah, lalu aku berteriak kecil kepadanya.


" Nggeus Atuh Mira, tong ceurik wae. Sing era Atuh kana mas dokter.?" kataku.


**


" Kalau boleh tahu, bapaknya mas Sakha sakit apa ya?" tanya Arya kepadaku.


" Sakit Liver kalau dari hasil pemeriksaan rumah sakit di sini?" jawabku padanya.


" ya sakitnya hampir sama dengan almarhum ibu saya?"


Dia hanya mengangguk pelan. Aku tersenyum kecil sambil mempersilahkan keduanya untuk minum.


" Mas, kalau di Jawa kan rumah tradisional namanya joglo kalau di daerah Pasundan nama rumah tradisional nya apa ya?" tanya Ardi kepadaku.


" Biasanya kami bilang ini rumah jolopong.?" jawab ku.


dia hanya mengangguk-angguk kan kepalanya kecil.


" tapi ini besar ya Mas nggak terlalu kecil Kalau boleh tahu, maaf di dalam ada berapa ruangan?" Tanya nya lagi.


" Kalau mau lihat-lihat ya silakan mas? nggak papa. semuanya nya Ada empat kamar, satu ruang tengah sama Dapur. kalau kamar mandi kita ada di belakang rumah." jawab ku.


Tak lama kemudian Elis menghampiriku membisikkan sesuatu di telinga.


" Nah mas, sekarang kita makan dulu lalu Nanti mas nya bisa istirahat. itu sudah disiapkan sama adik saya. ayo mari?" ajak aku kepada mereka berdua.


" Seadanya ya mas, masakan kampung?" kataku sambil menyuruh nya makan. Akupun turut menemaninya nya makan.


" Di rumah, Bapak tinggal sama siapa mas?" tanya Arya Kepada ku.


" ada satu adik saya, Elis tinggal di sini bersama suaminya. terus kakak saya kemarin barusan datang sama saya. dia sakit stroke dan ingin tinggal di sini untuk sementara." jawab ku.


" sudahlah lama mas sakit stroke nya?" tanya Arya lagi.


" Belum lama sih, belum ada Setahun.?" kataku.


" Teteh Hanya mulutnya sedikit miring sama tangannya kaku?" tambah ku lagi.


" Pulang kampung Biar dia Gak terlalu Stres di kota. disini sekalian mau terapi Urut?" jawab ku.


" Nanti siapa yang urus mas? Apa Mira bakalan tinggal lagi di kampung?" katanya seperti cemas. Aku tersenyum kecil.


" belum dibicarakan lagi sih, sapi kamu berencana mencari seseorang untuk membantu Teteh disini?" jawab ku. wajahnya terlihat tegang. hmmm?

__ADS_1


" Kalau mira sih sepertinya tidak. soalnya Sekolahnya Belum selesai kan?" tambah ku lagi. dan kata-kataku tadi sepertinya membuatnya sedikit lega.


Setelah kami selesai makan. keduanya menengok Abah yang sedikit lemah berada di kamar nya itu. mereka berkenalan sebagai teman ku.


Lalu kemudian mereka ber istirahat di kamar.


***


" Sepp, Mumpung sadayana nuju kumpul. Abah hoyong nyarios sareng anjeun. " Katanya terdengar pelan.


" Sa Encan Abah angkat, Abah teh hoyong pisan janten wali perkawinan adi anjeun, Mira.? Katanya. Aku menatapnya dengan serius.


" Kamari , Abah kantos naros ka Haji Ujang. Anak na si Roman, Abah nyuhungkeun Jang salaki si Mira? "


#( "kemarin waktu kapan,Abah pernah tanya ke haji Ujang. anaknya si roman Abah minta untuk suami si Mira?") katanya.


" Tapi sateuacan éta, Naha anjeun terang saha kabogoh si Mira? " tanya nya. Aku hanya menggeleng pelan sambil berpikir.


#( " Tapi sebelumnya, Apa kamu tahu siapa pacar si Mira?")


" Saur anjeunna henteu acan gaduh kabogoh, tapi engké kuring naros deui? "jawab ku.


" Upami tiasa, sateuacan Jumaah wengi énjing anjeun kedah naroskeun. naha henteu kedah Abah kawin keun anjeunna sareng Roman.? "


#( "Jika memungkinkan, sebelum malam Jumat Besok Kamu harus bertanya. kalau tidak Abah menikahkan dia dengan Roman.? ")


***


Mira Langsung menangis sesenggukan setelah aku mengatakan keinginan Abah terhadapnya.


Dia menatapku sedih dan bingung. mungkin dia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.


Aku memeluknya dan merangkul bahunya itu.


#( " Aa juga tidak tahu harus melakukan apa. apa yang mungkin menjadi pilihannya yang paling cocok untukmu.")


" Tapi Aa, Mira ncan Hoyong Nikah. Mira teh masih hayang Milu ka Aa?" katanya.


Aku menatapnya, Lalu menarik nafas ku sedikit panjang.


" Mira, upami aya batur anu resep sareng anjeun, resep anjeunna, pasti Aa ogé bakal nyatujuan éta." Kataku.


#(" Mira, jika ada seseorang yang menyukaimu dan kamu menyukainya, pasti Aa juga akan menyetujuinya.”)


Dia menatapku sambil menggelengkan kepalanya perlahan.


" Kudu sabar, Aa geh nte bisa neangken Lalaki anu Pas, anu cocok Jang Mira. Aa pikir, masalah jodoh. engkeun wae Mira milarian Sorangan.?" kataku padanya.


#(" Sabar, Aa juga gak bisa mencarikan pria yang tepat untuk Mira. Pikir Aa, masalah perjodohan. Nanti, Mira akan mencari sendiri.?”


***


" Loh mas, katanya Free? Besok saja pulangnya sekalian. buat Nyaksiin si Mira nikah??" kataku pada Arya.


dia menatapku kaget. matanya yang bulat seperti akan keluar dari kacamatanya itu.


" Loh mas, Mira mau menikah besok ini?" tanyanya tak percaya. aku hanya mengangguk.


" Sama siapa Mas, saya kira dia gak punya Pacar?!" tanya nya lagi seakan tak percaya. aku kembali mengangguk.


" Ini dadakan mas, ayah saya yang minta. Ayah saya berencana menjodohkan dia sama seseorang yang masih kerabat.?" kataku.


" Terus Mira? Apa dia mau mas??" tanyanya lagi.


" Sepertinya dia merasa berat tetapi mau tidak mau dia harus menikah. dia ingin berbakti kepada bapak saya."

__ADS_1


" saya sudah tanya sama Mira, dia juga belum punya pacar katanya.!" lanjut ku.


Arya menatap Ardi Teman nya itu. Lalu dia menelan ludah nya.


" Saya juga tidak bisa memilih kan dia seseorang sebagai suaminya takut kesalahan." Lanjut ku.


" Saya Tadi hanya bilang ke dia cuma ada lelaki yang dia sukai dan lelaki itu menyukainya, Saya pasti menyetujuinya." kataku. Arya hanya diam.


" sebenarnya sih Saya pengen tanya sama Mas Arya atau mas Ardi, Apakah sudah punya pacar? tapi saya merasa keluarga kami tidak sepadan dengan Keluarga mas Arya atau Mas Ardi?" kataku.


Muka Arya dan Ardi Seperti memerah, mereka saling menatap satu sama lain.


" Bukannya Tak sepadan mas, semua orang itu sama. hanya saja nasibnya memang yang berbeda.?" Katanya Ardi sambil tertawa kecil.


" Iya, dari kami berdua juga suatu hari akan menikah. tapi jika dihadapkan dengan persoalan seperti ini, saya rasa... menikahkan harus Butuh pemikiran yang panjang? Jawab Arya.


Aku hanya mengangguk kecil.


" Yahh, hanya Tukar pendapat mas. Saya juga, Rasanya gak mungkin mendapatkan seseorang untuk Mira kalau mepetnya seperti ini. Gimana nanti saja mas, yaa saya sebagai kakak hanya menginginkan Mira mendapatkan kehidupan yang baik Sama suaminya kelak?!" kataku.


Dia hanya menatap ku sambil tersenyum tipis.


" Ya sudah Kalau Mas nya mau pulang nanti malam. Biar saya suruh adik saya memetik hasil kebun?" kataku.


" Oh gak usah mas, gak usah repot-repot?" jawab nya.


***


" kepiye saiki? Saiki Dewe isih ing tahap pambuka. Aku ora pengin dheweke tetep bebrayan." kataku pada Ardi.


#(" bagaimana ini sekarang? Sekarang kita masih dalam tahap perkenalan. Aku juga tidak ingin dia tetap menikah.")


'' Ya, aku kudu kepiye Mas, aku uga ora ngerti kudu nindakake apa? " Jawab Ardi.


#(" Ya, apa yang harus saya lakukan Mas, saya juga tidak tahu harus berbuat apa?"


" Aku seneng karo dheweke, kaya katresnan. nanging wektune ya aku kudu bebojoan saiki tanpa restu bapak lan ibu.?" Jawab ku.


#(" Aku suka sama dia, seperti cinta. tapi kalau aku menikah sekarang tanpa restu ayah dan ibuku.?” Kata ku bingung.


" Mas, Mungkin sekarang saatnya atau tidak Ada kesempatan sama sekali.? Kata Ardi Sambil menepuk pundak ku.


Aku menatapnya, sesekali aku menarik nafas panjang.


**


" Mira, aku mau pulang nanti Malam. kalau enggak ya besok pagi. Jumat sore aku ada jadwal operasi?" kataku saat aku berpapasan dengan nya saat hendak ke air. Dia mengangguk pelan.


Lalu dia seperti hendak pergi.


" Eeee.. Mira!?" panggil ku. Dia menoleh kepada ku. menatapku dengan wajah sendu nya.


" Ya Mas?" katanya pelan.


" Eee... Mira. selamat ya atas pernikahan kamu nanti!?" kataku sesak. Dia menatapku dengan mata yang sedikit berkaca kaca.


" Aku..?" kataku sambil menelan ludah ku. Dia mulai menitikkan air mata nya.


" Aku... Aku boleh??" kataku terbata bata. lalu menelan ludah ku.


" Maaf Mira, mungkin waktunya tak tepat tapi apa Aku boleh aku bilang, kalau aku Suka kamu!?" kataku dengan wajah yang memerah. Aku menahan Nafas ku.


" Kalau kamu suka aku, kenapa kamu gak nikahin Aku mas?" Katanya sambil mengeluarkan air mata. Aku hanya diam. sesaat kami saling pandang. berkali-kali Dia menyeka Air matanya yg mengalir ke pipi.


Dan hatiku terasa Sakit.

__ADS_1


__ADS_2