
Rasanya Seperti tak karuan begini? hampir 3 bulan lebih aku menghentikan kontak dengan mas Sakha ataupun Mira. Entahlah, Bagaimana keadaan mereka sekarang pikirku kadang aku masih memikirkan perkataan mas Sakha terhadapku waktu dulu.
Sewaktu aku keguguran. dia berniat untuk melamar dan menikahiku.
Namun keinginan itu rasanya punah, setelah Mas Bandi memberitahukan kepada keluargaku Siapa mas Sakha sebenarnya.
lelaki dengan 2 istri dan 3 orang anak. keluargaku menolak secara mentah-mentah Jika dia sampai mendekatiku.
keluargaku tidak ada yang tahu sebenarnya jika aku dan mas Sakha??
Tiba-tiba Suci rekanku itu menyenggol lengan ku. mengisyaratkan bahwa ada pelanggan yang datang.
Kemudian Aku tersadar lalu tersenyum kepada orang yang berdiri di hadapanku itu.
" Selamat siang Bapak, selamat datang. Ada yang bisa saya bantu??" kataku kemudian. lalu tamu yang di hadapanku itu tersenyum lalu berkata sesuatu.
" Maaf Bapak, apa sudah melakukan reservasi sebelumnya??" tanyaku lagi dengan ramah.
" Boleh dibantu dengan ktp-nya bapak? untuk berapa malam??" tanyaku kemudian.
memang sudah 2 bulan ini aku ikut kerja dengan temanku di Surabaya. Aku sengaja mencari tempat kerja yang jauh dari jangkauan mas Sakha. dengan harapan tidak akan bertemu lagi dengannya ataupun mengingatnya.
Namun Rasanya, Permasalahan itu tak akan selesai jika aku terus mengingat nya.
***
" Maa... Papa mana?" tanya Kylie pelan. Aku menatapnya sambil tersenyum.
" Papa lagi ada urusan Sayang, kenapa emang ya?" tanya aku kepadanya.
" nanti pulang enggak?" tanyanya lagi.
" Hmmm... Mama kurang tahu tuh?" jawab ku.
" Maa.. Telepon Papa dong?" pintanya kemudian. aku menatapnya dan berpikir aku harus menjawabnya apa.
Bukannya tadi anaknya yang lain juga menginginkan untuk bersama Sakha.
" Tapi mama takut kalau nanti malah ganggu Papa, kirim pesan aja ya?" kataku kemudian.
" kan Ini udah malam ma? masa Papa sibuk terus?" jawabnya kepadaku.
lantas aku menatap jam dinding yang menunjukkan sudah pukul 9 malam lewat.
mungkin saja acara dirumah Estu sudah selesai? tapi bagaimana dengan anaknya nya yang bernama Lio itu jika ingin bersama juga dengan Sakha?
" Kamu pulang nggak yaa? Kylie nanyain kamu?" kataku di teks pesan kepada nya yang masih Ceklis satu.
Lalu aku menatap Kylie.
" Ayo ke kamar dulu yuk sambil nungguin papa? Mama bacain buku cerita??" kataku pada Kylie.
Dia menatapku.
" Kylie Telepon Papa dulu ya ma, please?" katanya sambil menangkupkan tangannya itu.
aku hanya tersenyum kecil kepadanya. lantas aku mencoba untuk menelepon sakha.
***
Aku melirik kearah ponsel milik Sakha yang Sengaja aku diamkan. di situ tertera panggilan dari Livia.
Kenapa lagi dia? pikirku.
__ADS_1
Aku tak memberi tahu Sakha. mendiamkannya, toh nanti orang nya tahu sendiri.
Sakha Sendiri sedang di kamar yang lain bersama Lio dan Danesh. Selesai tahlilan tadi, Dia langsung mengajak anaknya untuk tidur mungkin? Pastinya nanti dia akan pergi ke Rumahnya Livia.
Pintu kamar ku di dorong, Tampak ibu menghampiri ku.
" Estu... Tadi Sakha minta izin sama ibu. Katanya dia mau pergi kerumah istrinya?"
aku hanya diam memandangi ibu.
" Emang rumah istrinya di mana sih? tanyanya kemudian aku hanya mengangkat bahu menandakan bahwa aku tidak tahu.
Ibu sedikit memandangiku dengan lekat.
" kamu nggak bicara sama dia??" tanya ibu kepadaku.
" mau ngomong apa emang Bu?" kataku datar.
" kamu sama dia masih diam-diaman gara-gara tadi?" kata ibu lagi. aku hanya diam, kemudian terdengar helaan nafasnya.
" Estu.. Estu.., mau cuma gara-gara sepele aja jadi ribet berkepanjangan?"
" Apa kamu dan dia ada permasalahan lain?" tanya ibu sedikit menyelidik. aku hanya diam menatapnya.
" Apa karena istrinya??" tanya ibu kepadaku lagi.
aku menghela nafas panjang sambil menatap ibu.
" Nggak tahu lah Bu. Setelah dia pulang dari rumah istrinya, mukanya jadi asem! bawaannya marah kalau sama Estu kata aku menjawabnya.
" Perasaan kamu Saja Mungkin Estu, Jangan terus-terusan menyalahkan dia.?"
" Bukan kenapa-napa, tapi memang sekarang posisinya Kamu itu cuma istri siri-nya. bukan prioritasnya lagi.
" sebenarnya, kalau jadi dia pun pasti sulit. di satu sisi Mungkin dia tidak ingin menjalani kehidupan seperti ini tetapi harus meskipun itu tidak Dia niat kan.?"
" coba kamu ingat-ingat, awalnya dia tidak ingin menikahi kamu kan sewaktu almarhum Bapak memintanya langsung sama Dia."
" andai kamu nggak hamil, pernikahan ini Ibu rasa tidak akan pernah terjadi." Kata ibu yg mungkin ada benarnya lagi.
" kalau yang sedang terjadi sama dia, mungkin dia sedang pusing dituntut sana-sini. baik sama kamu atau istrinya itu."
Aku Lagi lagi diam.
" Kamu kan tahu kalau orang lagi pusing itu bawaannya memang suka marah cepat tersindir." Kata ibuku.
" tapi apa istrinya sudah tahu kalau Sakha nikah lagi sama kamu ?" tanya ibu kepadaku aku menatapnya lekat. seraya mengangguk perlahan.
" Masih untung kamu nggak dilabrak sama istri nya. Bahkan jauh lebih baik karena dia tetap tanggung jawab sama kamu dan keluarga kita.?" Kata ibuku terdengar bijak, meskipun ada kata-katanya yang mengganjal di hatiku.
lalu kemudian ibu pergi meninggalkanku.
Aku sedikit diam. Mungkin ibu ada benarnya, Aku harus sedikit melunak pada nya.
**
" Kha, tadi ada telepon dari Livia?" kataku sambil menyerahkan ponselnya itu kepada nya.
Dia menatapku Perlahan sambil mengambil ponsel yg aku serahkan. lalu dia beranjak dari tempat tidur nya itu. menatap sebentar kepada Danesh dan Lio yg belum tertidur.
Dia keluar sebentar dari kamar. Aku mendengar nya dari balik pintu.
" Ya Hallo Livi... tadi nelfon ya?" katanya
__ADS_1
" Maaf, tadi aku gak dengar?" jawab nya Pelan.
" Iya, Bilang aja sama dia kalau nanti aku Pulang?" katanya lagi.
Lalu terdengar suara nya yg tengah mengobrol dengan anak perempuan nya itu.
Dia meminta maaf jika Pulang nya nanti akan telat dan meminta anaknya untuk tidur duluan.
Lalu dia masuk kembali kedalam kamar.
Matanya menatapku sedikit berbeda. Dia Tersenyum kecil pada ku. Lalu kembali menghampiri Kedua anak lelakinya.
" Mama sini?" pinta Lio Kepada ku. Aku menatap Sakha sedikit Canggung. Namun Senyum nya seolah meminta ku juga.
Lantas aku menghampiri mereka.
" Papa sedikit geseran Buat mama tidur?" kata Lio pada Sakha. matanya menatapku lalu menatap Anak nya itu.
" Ini Kasur nya kecil Sayang, Gak bisalah kalau kita tidur berempat?" jawab nya.
" Kecuali kalau tidur di kamar Mama di Rumah yang sana?" katanya lagi Sambil Menatap ku.
" Ini kan kasur nya Aa Danesh buat tidur sendirian?" tambah nya.
" Geser dikit lagi Kha?" kataku pada Sakha pelan.
" Mama kenapa panggilin Papa.. Kha terus sih? gak pernah Panggil Papa aja?" kata Danesh protes pada ku.
Sakha sedikit tersenyum karena nya Dia memandang ku. Aku juga menatap nya, merasa sedikit tersudut karena nya.
" Ya gak apa-apa sayang kalau Mama manggil Papa pakai nama. kan Panggilan Sayang?" katanya Sambil melirik ku.
" Kalau orang lain manggilnya Papa kan Bapak Nuril?" katanya pada Danesh.
Iya juga yaa? dari dulu aku memanggil nya dengan panggilan Sakha. bukan Papa atau Sayang? geli banget rasanya pikirku.
kemudian Lengannya sedikit ditaruh di bawah kepalaku. seolah-olah Aku sedang bersandar kepadanya, aku hanya diam.
Lalu tangannya itu tadi sedikit membelai rambut ku perlahan.
" Lio tidur sama Aa yaa... Papa ke kamar juga buat tidur sama Mama.?" katanya kepada anak anak.
" Tapi besok beneran ya Paa, pergi ke mall?" kata Danesh pada Sakha. Dia hanya mengangguk.
Sakha merangkul pundak ku, Lalu mengajak ku keluar kamar. Aku hanya diam Sampai di kamar.
" Estu, Kapan Jadwal periksa Kandungan nya?" katanya tiba-tiba saat sampai di kamar. Aku menatapnya, dia hanya menaikkan Alisnya itu.
" Kenapa?" tanyaku pelan.
" Yaa.. aku juga ingin tau kondisi jabang Bayiku ini?" katanya sambil melihat ke arah perutku. Lagi lagi aku hanya diam.
" Estu? Boleh aku pegang perutnya?" katanya kemudian. Aku menatapnya lekat lalu mengangguk kecil.
Dia berjongkok di hadapan ku, memegang Perut dan mencium nya Sebentar lalu menempelkan telinganya di perut ku itu.
Ada perasaan yg tiba tiba kuat terasa di hati ku terhadap nya.
" Dia lagi apa yaa?" tanyanya kemudian sambil tersenyum. wajah nya mendongak Kepada ku. Aku menatapnya datar. Lalu dia mengelus nya sambil menciumi nya sebelum berdiri.
" Kamu masih marah?" tanyanya sambil sedikit menahan senyumnya kepadaku. Aku memasang muka sinis terhadapnya.
" Maaf ya tadi aku Bentak kamu?" katanya sambil menglgantungkan tangannya di pundakku.
__ADS_1
Aku menatapnya Hampir menangis, lalu dia memeluk ku. Dan tangisku pecah.