
" Saya terima nikah dan Kawin nya, Dyah Pangestu Indriyani binti Kardiman Rahardjo dengan mas kawin tersebut Tunai!" Kataku Sambil menjabat tangan pak kardiman didepan Penghulu dan Amil nikah tersebut.
" Syah..?" kata penghulu nya.
" Sahh!!" jawab mereka yang menyaksikan pernikahan ku ini.
" Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.”
Artinya: ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya.
Kata penghulu nya kemudian. dan Di aminkan oleh kami semua sambil mengusap wajah.
Jadi, Sudah syah lagi aku menikah dengan Estu.
Sebagai saksi ku, Aku meminta tolong kepada Ade. rekan kerjaku dulu sewaktu masih bekerja di kantor BUMN di Jakarta.
Selain Penghulu dan Amil Nikah nya, hanya ada Ibu Bapak juga Panji.
Setelah semuanya selesai dan pergi meninggalkan kami. Aku mendekati Panji.
Panji hanya diam saja menatapku. Mungkin sebenarnya dia tak menyukai pernikahan ku dengan Estu lagi, atau bahkan Malu karena Masalah yg dulu. Saat dia memfitnah ku.
Aku ijab kabul tadi di Ruangan rawat inap yg di tempati oleh bapak mertuaku itu.
Lantas Aku tersenyum kepadanya.
" Panji Apapun salah aku sama kamu. Tolong di maafkan." kataku.
" Aku pribadi gak Ingin kita Berdua bermusuhan dan saling Diam. Sekarang kita keluarga lagi.?" kataku.
Dia menatapku, seakan sengit. aku kembali tersenyum lagi kepadanya.
" Setelah menikah dengan Estu, gak akan ada yang berubah. Aku akan tetap jauh dari kamu dan gak bakal nyampurin urusan kamu Panji." kataku.
" Kamu gak usah khawatir. Aku gak akan dominan tinggal di keluarga kamu. Selain mematuhi keinginan Bapak, memang pernikahan ini harus terjadi?" kataku.
" Maksud mas Sakha?" tanyanya. Aku tertawa.
" Ya harus terjadi, Bagian dari takdir." kataku.
Dia tertawa kecil.
" Kadang aku ngiri sama hidup kamu mas?" katanya yg mengagetkan ku.
" Maksud kamu??" tanyaku. Dia menatapku Sebentar.
" Iya kamu??" katanya sambil memperagakan dengan tangan nya.
" Kamu mas, hidup kamu berjalan sangat berliku tapi Seolah olah semua orang malah mensupport tindakan kamu yg di luar kebiasaan itu?" katanya.
Aku menatapnya masih tak mengerti.
" Kamu... lelaki baik-baik yang sengaja ditawarkan perempuan lain yang lebih cantik yang tujuan utamanya hanya menggoda kamu. tapi Oalah perempuan ini benar-benar jatuh cinta sama kamu??"
" bukan saya nggak tahu kalau kalian ini sudah menikah kan?" katanya.
" Sekarang bapak malah meminta kamu untuk menikahi Mbak Estu lagi. bukan Aku nggak tahu Mas, kamu diam diam masih jalankan sama Mbak Estu sebelum ini??" katanya.
Aku diam saja menatapnya.
" kamu dilempar dimana aja hidup. betapa kerasnya bapakmu fitnah kamu. awalnya kamu di mutasi ke daerah lalu Kamu diberhentikan dari kerjaan dituduh korupsi, baru punya usaha kecil dibakar??
" dan sekarang kamu kembali ke Jakarta, ditawarkan sesuatu yang?..... yang manis lagi mungkin buat kamu.?" Katanya.
__ADS_1
Aku tertawa karena nya.
" kamu nggak usah capek-capek mikirin hidup aku, hidup aku ini cuma sebagian kecil yang kamu bisa terawang Panji."
" hidup kamu lebih baik dari aku Panji. dari segi apapun.!?" kataku
" lebih baik sekarang, kamu mensyukuri hidup kamu ini dan jadilah lelaki yang lebih baik dari sebelumnya.?"
" Jangan melihat orang lain, lelaki lain.
atau mungkin kamu melihat aku dan mencoba menirunya? itu nggak kan bisa, karena setiap orang sudah diberikan porsinya masing-masing sudah diberikan takdir hidupnya.!" kataku.
" Kalau boleh aku minta aku ingin punya wanita satu saja di hidupku. Aku Ingin setia. tapi Hatiku lemah dan mudah tergoda dengan yang lain. aku sangat lemah dengan godaan dasar seorang laki-laki?" kataku.
" kalau dipikirkan, aku ini sangat menjijikkan bagi sebagian orang.!"
" Aku ini seperti lelaki hidung belang atau mungkin siluman babi - Cu phat kai yang ada di kera sakti itu?" kataku sambil tertawa.
" kamu jangan mencontoh hidup siapapun untuk di terapkan di kehidupan kamu!"
" yang baik saja yang bisa kamu ambil dan kamu sesuaikan sama pribadi kamu. Jangan memaksa menjadi orang lain!" kataku padanya.
terdengar suara hembusan nafasnya yang panjang. dia menatapku sambil sedikit tersenyum.
tak begitu lama Estu datang menghampiri kami berdua.
" kalian lagi ngobrol apa?" tanya nya sedikit Curiga.
Aku tersenyum kepada nya.
" cuma obrolan biasa, kamu kan sudah lama nggak pernah ketemu?" kataku
Estu Menatap ku dengan memicingkan sedikit matanya.
" Gombal?" katanya kemudian sambil pergi.
Aku menatap Panji dan kami langsung tertawa bersama.
**
" Jadi nanti malam kamu mau pulang Kha?" kataku Kepada nya
" Iya, aku harus pulang Estu ke Jawa? urusanku banyak di sana?" jawab ku kemudian.
" termasuk urusan sama perempuan itu?" kataku Santai. dia menatapku lalu tertawa.
" Sekarang dia sudah pergi nggak tahu ke mana, baik aku ataupun Mira sudah sama-sama diblokir oleh dia?!" katanya terdengar berat.
" hmm.. kamu masih ngarepin dia Kha?" Tanyaku.
dia menatapku sambil kembali mengemudi.
" kalau di bahasain, Apa ya namanya??" katanya kemudian.
" maksud kamu??" apa tanyaku lagi
" Yaaa mungkin aku ini harus menembus kebaikannya?" katanya
" Aku merasa sangat berdosa sama dia. gara-gara aku, dia sampai bimbang menikah dengan pacarnya?" katanya.
" jadi benar. kalau kamu duluan yang Godain dia?" tanyaku semakin penasaran. dia tertawa.
" Estu, sekarang aku tanya sama kamu. di hubungan kita ini yang sekarang .... Yang sekarang.., kata kamu siapa yang menggoda siapa??" tanya nya. Aku hanya diam.
__ADS_1
" Sama halnya dengan hubunganku dengan Ayu? itu terjadi begitu saja?" Kataku.
" Lalu, Kenapa mesti kamu merasa harus menembus kebaikannya?? kamu sudah berbuat apa sama dia?" kataku Curiga.
Dia menatapku dengan sorot mata yang seperti itu.
" Astaghfirullah... Sakha!!" kataku kaget.
" bisa-bisanya kamu berbuat seperti itu juga sama dia!! Sebenarnya kamu ini pengennya hidup sama berapa Perempuan sih!!" kataku yg jengkel.
" Estu maaf, aku menjalin hubungan sama dia itu sebelum aku menikah lagi dengan Livia.
dengan kondisinya yang seperti itu? dia sudah bertunangan dengan orang lain.?!"
" Lalu kemudian Livia datang bilang kalau dia punya anak dari aku terus aku Ketemu kamu... dan semuanya.... semuanya terjadi begitu aja!" Katanya berkata seperti Sedang membebaskan beban pikirannya.
" kemarin aku berencana untuk menikahinya, menghadap sama keluarganya. aku sudah memikirkan apapun yang terjadi aku akan tetap maju untuknya.?"
" memang saat itu yang menjadi dasar ku adalah, aku sedang di tuntut cerai sama Livia. berharap tidak berharap sih akan perceraian itu.??"
" tapi sekarang keadaannya berubah sangat cepat. aku sama Livia baikan. dan sekarang aku menikah sama kamu.. Kita akan punya anak lagi?" katanya.
" sekarang dia pergi nggak tahu ke mana, kamu tahu Estu, aku itu menyesal. belum sempat mengucapkan maaf kepadanya!?" katanya terdengar tertekan, suaranya sedikit serak. mungkin saja Dia ingin menangis.
" Aku ingin menikahinya bukan tanpa sebab Estu... dia sudah pernah mengandung anakku??" katanya sedikit bergetar.
Ternyata Ayu pernah hamil oleh Sakha, pikirku. Aku hanya diam.
mungkin kalau dahulu dia tidak sampai pergi ke Jawa. hal ini tidak akan terjadi di kehidupannya yang selalu dibebani oleh masalah perempuan.
Lalu aku sekarang? aku sekarang memang juga sudah jadi istrinya. meskipun istri sirinya.
Aku harus sadar juga akan keberadaanku di hidupnya. dia masih menjadi suami sah dari Livia. Yang dahulu kisahnya berbalik denganku.
sekarang aku ada di posisinya yang dahulu dan Livia sekarang ada di posisiku yang dulu.??
Aku tidak mengerti mengapa Sakha bisa sejujur ini sekarang kepadaku.
Apa mungkin? sudah banyak tekanan di hidupnya yang membuatnya merasa hidup dalam rasa yang tak nyaman.
" Aku nggak ingin kamu mengerti Estu, Atau kamu pahami. atau bahkan kamu maafkan?"
" aku tahu akulah yang salah. akulah yang brengsek. semua ini di luar kendali kemauan ku. aku enggak menyangka hidupku berliku seperti ini?" katanya.
**
Sudah seminggu lebih kakak iparku itu pergi ke Jakarta. tak paksa istriku Mira, yang menghandle segala urusannya di sini. dan untungnya Mira bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan ku.
tak pernah sekalipun aku aku melihat Mira sebelumnya, ikut-ikutan di urusan milik kakak iparku itu. namun dia keadaan yang genting seperti ini, seperti biasa saja dia melakukannya untuk kakak nya itu meskipun waktu denganku sedikit terganggu.??
wajarlah jika aku ingin memiliki waktu yang ekstra dengannya. kami masih dalam suasana pengantin baru. aku belum puas mengeksplor Dirinya, belum puas bersenang-senang dengannya yang bagiku sangat menakjubkan!!
Kadang ibu menjelek-jelekkan kakak iparku itu, walaupun tak terang-terangan dia selalu mengaitkannya dengan Mira Yang sepertinya belum bisa diterima sepenuhnya oleh ibu.
untung masih ada Bapak yang kadang membelaku. Meskipun aku sudah hidup terpisah dengan ibu, aku tinggal sendiri di rumah ah yang dibangun dengan jerih payahku sendiri. masih saja Ibu mencampuri kehidupanku dan mira.
Untung saja Mira bisa sabar dan mengerti.
" Mas, memang kamu suami aku. tapi Kamu Milik ibu kamu seumur hidup." katanya Bijak.
" aku nggak apa-apa Kalau Ibu seperti itu sama aku, aku sadar juga kalau aku ini banyak kurangnya. dan aku mohon kamu juga Sabar ya Mas, menghadapi aku yang belum bisa Baik dan bakti sama kamu?" katanya yang langsung membuat ku meleleh.
Dalam hati, aku sangat beruntung memilikinya. sebuah permata yang tidak disangka-sangka asalnya.
__ADS_1