
Ibu menangis terisak-isak kepadaku, dia menangis sejadi-jadinya. dan mengucapkan maaf berkali-kali kepadaku.
" Ibu enggak nyangka kalau Panji tega berbuat seperti itu kepada Reni.?"
" Ibu malu sama kamu, ibu malu sama keluarga besarnya Reni??" katanya kepadaku. aku hanya diam.
" Estu Juga minta maaf sama Ibu Bapak kalau Estu selalu merepotkan kan?"
" selama ini, di usia yg sudah setua ini. Estu masih saja menyusahkan ibu dan bapak."
" maafkan Estu kalau nggak bisa jadi anak yang berguna bagi ibu dan bapak, enggak bisa membanggakan ibu dan bapak.??" kataku
" Bukan maksud Estu untuk mengacak acak keadaan. Estu hanya tidak tahan dengan kelakuan Panji??" kataku.
" dan Ibu Bapak harus tahu kebenarannya, siapa Panji sebenarnya."
" Bukan maksud Estu untuk membela sakha. tapi Estu jengah jika apa-apa selalu saja Sakha yang disalahkan kan, Di kait kaitkan dalam hal apapun.??"
" sering Bapak menyalakan Sakha, menjelek-jelekan nya di di depan anak-anak."
" mungkin Arcelio memang masih kecil tetapi Danesh sudah bisa merekam dan mengingat setiap perkataan yang Bapak ucapkan.??"
" Sering dia bertanya, ma kata eyang - Papa itu bajingan, bajingan itu apa Ma??" kataku.
" Haruskah Buk, Anak anak ku Mengetahui Level kata BADJINGAN yang Bapak kasih buat Sakha?!" Kataku dengan mimik muka yang serius.
" Walaupun Estu benci dengan Dia tetapi sebisa mungkin anak-anak jangan sampai membenci Papa nya.!?"
" Bukannya Estu mau meninggalkan Ibu sendirian. Tapi Estu lebih baik tinggal di rumah sendiri sementara waktu. sampai urusan Panji selesai.?"
" intinya Estu nggak ingin menyusahkan ibu dan bapak.?" tambah ku.
Ibu masih saja menangis di hadapanku. namun aku masih terus membereskan pakaian ku dan anak anak.
****
Mungkin Sekarang pukul jam 11 siang, pikirku. Tadi pagi aku tidak sempat membawa jam tangan yang biasa aku pakai saat pergi bersama Pak Subandi ke Wonogiri untuk melihat kayu jati yang ditawarkan kepada kami.
hawanya terasa panas mungkin karena ini sudah memasuki musim kemarau atau memang Indonesia yang semakin panas.
mobil kamu berhenti di sebuah warung di pinggir jalan. kamu berdua bermaksud untuk istirahat dan makan siang di warung tersebut. sebuah warung soto kecil milik nenek tua yang tampak ramah terhadap kami.
" soto ne kaleh ya Mbah??" kata Pak Subandi kepada nenek penjual soto.
" Sebenarnya, bisa saja tadi kita mampir ke Wonosari.?" kata Pak Subandi sambil makan soto milihnya.
" Hmmm.. di mana itu Pak?" tanya aku.
" tadi kan kita lewatinya mas??" katanya.
" tadi waktu habis lewati Jogja itu jalan ke Wonosari Sari Ada kenalan saya di sana. tapi kita belok kanan, terus ke sini??"katanya memberikan keterangan. aku hanya manggut-manggut kecil.
" Lalu nanti pulang jam berapa Pak ??" tanya aku.
dia hanya tertawa, hari ini Kita menginap. Nanti mampir ke Salatiga, tidur di rumah orang tua saya.
" ini lihat kayaknya kita masuk ke hutan loh mas??" katanya.
" hutan Pak??" kata Ku heran. dia hanya tertawa.
" kalau di sini bilangnya alas Mas. ya nanti kita lihat pohonnya masuk alas??" tambah nya.
__ADS_1
" kenapa Mas belum pernah masuk hutan ya??" tanyanya kepadaku. aku hanya tersenyum.
" dulu saya juga Sering masuk hutan Pak, cari kayu bakar bantuin almarhum nenek saya." kataku bercerita.
***
Sebelumnya aku membayangkan hutan belantara seperti yang ada di TV. tapi kenyataannya hutan atau alas yang dimaksud oleh Bapak Subandi adalah hutan buatan berisikan pohon pohon jati yang sengaja ditanam oleh pemiliknya. memang berada di bawah lereng sebuah gunung.
Didampingi oleh rekan Pak Subandi, mereka tampak berbincang dalam bahasa Jawa yang tak ku mengerti.
terdengar olehku suara kumbang hutan yang Berderit dan sesekali tampak burung-burung liar yang bersuara merdu.
meskipun namanya hutan di sini terasa amat panas.
karena sibuk memperhatikan sesuatu, tak sengaja kakiku menginjak dahan pohon yang membuatku terjatuh terperosok. dan sialnya lagi kakiku yang tertabrak dulu itu yang terperosok. aku merasakan ngilu yang teramat sangat. aku meringis menahan rasa sakit. seharusnya aku membawa tongkat Tadi karena tulang yang retak belum lah sembuh secara sempurna.
Akhirnya, dengan dipapah oleh Pak Bandi dan rekannya ke mobil. kami beranjak pulang menuju Salatiga.
****
" Waah... saya malah ngerepotin jadinya sama bapak." kataku dia hanya tersenyum
" saya juga lupa kalau Mas di Jakarta Kemarin mengalami kecelakaan. harusnya saya nggak ngajak Mas dulu?" jawabnya
" Nggak apa-apa Pak untuk pengalaman saya juga sekalian, biar saya tahu daerah-daerah di Jawa." kataku.
" Nanti mungkin sebentar lagi tukang urut nya datang, Saya mau ke rumah orang tuanya Ayu dulu?" katanya aku hanya mengangguk pelan. Dan aku lupa, siapa itu Ayu.
" Gimana mas setelah diurut, merasa baikan belum Kaki nya??" kata pak Bandi setelah pulang dari salah satu kerabatnya, Habis menghadiri pertemuan antar keluarga.
" Sakit Pak?!" jawab ku sambil meringis . dia hanya tertawa kecil.
" Itu adik saya sedang merebus kan ramuan untuk mas , biar sakitnya segera sembuh. tulangnya Biar Kuat lagi?" katanya. aku hanya mengangguk. tak berapa lama berselang ada seseorang yang sepantaran teteh ku masuk dalam kamar, aku segera duduk di tepian tempat tidur
****
" Semalam itu kami menemui perwakilan keluarga Linggar yang berniat melamar Ayu. adik sepupu saya katanya bercerita.
Aku hanya sesekali menengok kepadanya yang sedang mengemudi.
mataku aku melihat kesana sini sepanjang perjalanan pulang Kami ke Kutoarjo. salah satu kota di provinsi Purworejo Jawa tengah.
" jauh enggak mas?" tanyanya kepadaku.
" Yaa lumayanlah Pak, bikin pegel pantat??" jawab ku sambil tertawa.
" oh iya Mas, temennya mas yang punya mobil itu gimana kabarnya??" tanyanya kepadaku. Mungkin maksudnya Livia.
aku hanya tersenyum.
" udah nggak ada kabar pak, teleponnya susah dihubungi. sibuk kali??" jawabku.
" Ooo... begitu?" katanya sambil manggut-manggut.
" Eeee... Anu eee Mas, Mbak nya itu pacarnya Mas apa gimana sih??" tanyanya penasaran. kemudian aku tertawa kecil.
" Yaaa... bisa dibilang seperti itu lah Pak??" jawab ku.
" Ooo, Jadi sekarang mas-nya putus sama mbaknya itu??"
Aku hanya tersenyum.
__ADS_1
*****
" Apa ini mas, kok Banyak amat??" tanya Hakka kepadaku.
" Hmm, Apa?? Iya ini Oleh oleh dari keluarganya pak Subandi di Salatiga??" jawab ku.
" Eealahhh Mas, kok sampe ke sayur mayur segala sih??" katanya sambil mengacak-acak kardus mi yang barusan aku bawa.
" Hmm...apa ini. kacang panjang,cabe rawit...apa ini, beras juga Tho Mas??" katanya heran. aku hanya tersenyum.
" Lahh ini pada terong,timun apa ini mas panjang-panjang putih, mirip belut." katanya sambil sedikit tertawa geli.
" Hmm, Katanya sih itu namanya pare laut apa Pare Belut gitu kata Bu asih??" kataku menjawab sambil terus memperhatikan laptopku.
" Hmm... begitu, Mase Lagi apa tho??" Tanya nya.
" Hahh!!, ini lagi lihat lihat model mebel yang sedang diminati di pasaran??" jawab ku.
" Mas seriusan tho kerja sama sama pak Bandi??" katanya.
" Yaa insyaallah sih ka? Emang kenapa??" Tanyaku.
" Yaa enggak sihh, Cuma cerita aja kalau dulu aku pernah lihat ada orang bang nagih utang sama Pak Bandi. kata tetangga sini, Pak Bandi itu hutangnya??" katanya nya.
Aku hanya diam.
" Iya sihhh... Aku juga sempat dengar itu. tapi ya aku insya Allah saja. cuma berusaha??" jawab ku.
" Ya iyalah mas. Yowes, aku tinggal dulu ya.??" katanya sambil Pergi meninggalkan ku.
Aku mengangguk kecil Kepada nya
Apa ini, Perpaduan antara kayu dan resin. jadinya bagus sekali ya?? Batinku saat memperhatikan sebuah video di Instagram.
Tidak lama dari kepergian Hakka, ada seseorang yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam kepadaku.
Aku menoleh sambil menatapnya.
dia tersenyum padaku sambil membawa sesuatu.
" Maaf Mas, mau nganter ini??" katanya sambil menyerahkan sesuatu kepada aku.
" Apa yaaa??" kataku sambil berdiri dan menghampirinya.
" Katanya jamunya Mas ketinggalan, aku suruh antar Sama Mbak Asih ke sini??" jawabnya sambil menyerahkan botol Bekas Syrup berisi cairan dan bungkusan berisi jamu kering milik ku semalam.
" Ouhh iya, saya lupa semalam saya taruh di jok mobil??" kataku Sambil tertawa dan menatapnya.
dia hanya tersenyum kepadaku, dan menyerahkan Jamu itu.
Tak sengaja saat aku menerima Bungkusan jamu. jemariku menyentuh jemarinya. Dia menatapku.
sekilas aku melihat nametag yang terpasang di lehernya. Indah Rahayu P.
Ohh, namanya Indah?? pikirku.
" Ya sudah mas, Saya mau kerja.?" Katanya berpamitan. Aku tersenyum kecil kepada nya.
" Iya, Terima kasih yaa??" Kataku sambil mengantarnya Keluar dari Pintu.
***
__ADS_1
Mungkin aku yang ke ge'eran atau hanya melebih-lebihkan. rasanya senang sekali, tadi saat tangan ku bersentuhan dengannya.
Rasanya gimana gitu, pikirku sambil senyum-senyum sendiri.