
Sudah pukul 8 malam lewat aku masih di rumah Livia. Agak susah tadi menenangkan Kylie yang menangis.
Jadwal ku jadi berantakan.
Berkali-kali aku mendapatkan telepon dari partner kerja di Jawa yang menanyakan keberadaan ku. Belum lagi besok aku harus bertemu dengan Kapolres sana.
dan yang lain.
Sudah beberapa hari ini memang ada pesan yang meneror ku untuk berhati-hati. entah dari siapa, nomernya tak aku kenal.
Rasanya pun aku tak punya musuh. itu yang membuat Kapolres menanyakan keberadaan ku dan di Minta nya untuk segera bertemu.
Aku mengambil gelas, bermaksud untuk minum. Aku menyadari bahwa sedari tadi siang akh belum makan. bahkan aku lupa untuk minum obat ku.
Aku memanggil Mira, meminta nya untuk membeli sesuatu. aku khawatir juga dia dan mbak Surti belum makan. Sekalian membelikan untuk Livia.
Aku berjalan melewati Kamar nya, karena terbuka sedikit. Aku memberanikan diri untuk melongoknya kedalam.
" Livia?" kataku pelan. Dia menoleh, menatap ku. Aku menelan ludah ku.
" Makan dulu yuk?" ajak ku.
" kamu gak mau kita makan malam terakhir bersama sebagai suami dan istri?" kataku sambil menahan sakit di hatiku.
Dia hanya diam.
" Aku tau, aku ini Enggak pantas buat kamu dan tidak bisa memantaskan diri di samping kamu. maafin aku. tapi aku beneran cinta sama kamu Livia?"
" Aku enggak ada maksud sengaja balas dendam ke kamu, tentang semua yg udah lalu. Aku udah lupain!?"
" Bagi aku kamu tetap Livia, Seperti saat pertama kita kenalan karena Aldes?" kataku menahan Haru.
" Aku enggak Gombal, dan mencoba merayu kamu Livia.?" kataku sambil pura-pura Tertawa kecil.
" Aku sayang kamu dan Kylie. meskipun kamu mungkin akan Hidup lebih nyaman jauh dari aku Nanti nya?" kataku Sedikit bergetar, mataku sedikit berair.
" Maaf, malam ini aku harus balik ke Jawa. kamu bolehin atau tidak, aku akan bawa Kylie pergi.!"
" Untuk kebaikan kamu saat ini, dan aku janji bakal nyerahin dia ke kamu kalau mama sudah pulih?" kataku
" Livia... Aku. kalau aku, Aku Enggak mau cerai sama kamu?" kataku haru dengan mata yang seperti tergenang air mata.
Aku menitikkan nya. hatiku sakit sekali. buru buru aku menyeka dengan jemari ku.
Aku menghela nafas ku panjang. Lalu keluar dari kamar nya.
***
Aku kembali menangis, hatiku Sakit kembali. Apalagi setelah mendengar nya tadi.
Ada perasaan yg bercampur di dadaku. Rasa benci, marah, kesal,kasihan, sayang dan cinta yang tak menentu. Semua perasaan di dadaku Naik turun kadar nya.
berkali-kali ku tanyakan kepada diriku sendiri bagaimana perasaanku terhadap Sakha? Apakah aku terlalu mencintainya.
Apakah apa yang ku katakan kepadanya benar-benar hal yang aku inginkan. bercerai dengannya?
jujur aku tidak merelakannya jauh dariku. aku benci jika dia bersama orang lain. aku membutuhkannya sebagai lelaki ku, aku membutuhkannya sebagai pelengkap di hidupku, Aku mau membutuhkannya sebagai seseorang yang menghargaiku sepenuhnya.
Namun aku membenci kekurangan nya.
Aku tau, dia menangis tadi saat mengatakan tidak ingin Bercerai dengan ku.
Aku tahu, perasaan nya juga hancur.
***
" Aa.. jadi pulang malam ini?" tanya Mira. aku mengangguk.
" tengah malam ya Mira, kalau enggak habis subuh.?" kataku.
" Nanti kalau Cece mu ngadat lagi, permasalahkan Kyle. kamu Aa tinggal dulu ya?" kataku.
" Soalnya mbak Surti gak mau di Jakarta. katanya?"
" Mira hanya mengangguk kecil.?"
__ADS_1
" Masalah sekolah kamu, Aa yg urus?" kataku sambil menyuapkan nasi goreng itu.
" Cici mau nasi goreng nya?" kata Mira tiba-tiba Sambil Menatap seseorang dari balik badan ku. Aku menoleh, ternyata Livia.
Dia menarik kursi yg ada di sebelahku, selisih satu.
Mira kemudian buru buru mengambil kan nya piring.
" Gak usah repot-repot Mira?" katanya pelan.
Aku berusaha Santai Dan terus menghabiskan nasi goreng ku itu. Setelah aku minum, aku berdiri dan meninggalkan nya Tampa kata kata.
Ternyata persembunyian nya dikamar akan kalah dengan rasa lapar, pikirku sambil sedikit tersenyum dalam hati.
Aku mendengar percakapan nya dengan Mira samar samar.
**
" Kamu mau pulang malam ini?" katanya sambil berdiri di pinggir pintu ruang tamu ini. Aku menatapnya sambil mengeluarkan asap Vape yang ku hisap.
" Iya, jawab ku pelan.
" Kita belum selesai bicara!?" Katanya.
" Udah deh Livia, aku males Ribut ribut lagi?" kataku merasa enggan Sambil menggerakan tangan ku seperti tidak mau.
" Aku turuti mah nya kamu, apa aja.?" kataku.
" aku ga mau kehabisan waktu lagi di sini. banyak hal yang harus aku kerjakan?" kataku.
" Kamu jangan bawa mobil aku!" katanya yang rasanya seperti memotong nadi ku.
" Ohh, iya gak apa-apa. aku bisa naik kereta?" kataku kesal.
" Apalagi?" kataku berusaha sabar. aku berdiri sambil mengambil ponsel ku, untuk mengecek jadwal keberangkatan Kereta api.
" Kamu mau kemana?" katanya dingin. aku menatapnya kesal.
" Aku mau siap siap lah? ini jadwal nya jam 1 malam?" kataku sambil pura-pura menunjukkan nya.
Kenapa sih gak sedari tadi bilang nya. aku jadi merasa di permainkan.
Aku buru buru memakai jaket ku. lalu mengambil tas yang terlanjur Sudah ada di mobil.
" Sakha, kamu mau ke mana!?" tanya nya.
" Aku jalan pulang lah sekarang, Aku sudah gak ada tempat lagi?" kataku dalam sambil tersenyum memaksa kembali.
" Sakha!! Aku belum selesai sama kamu!?" katanya sambil sedikit berteriak.
" Apalagi sih sekarang!" kataku sedikit keras.
" Apalagi, Apalagi yang kamu mau dari aku?!" kataku Kesal dengan suara sedikit tertahan.
" Aku sakit Sakha gara gara kamu?!" katanya sambil Menangis.
" Aku juga sakit Livi kamu perlakukan seperti ini!!"
" Seharusnya dari tadi kamu bilang kalau aku harus segera pergi. nggak tengah malam begini?" kataku sedikit keras.
" Aku gak bisa pesan kereta dadakan., kamu tau jam berapa kereta nya datangnya? jam 7 pagi besok. kamu bikin aku buang buang waktu disini!?" kataku kesal.
" Mau gak mau aku harus naik Bus. karena besok siang ada yang mau ku Kerja kan.!" kataku.
" Gak usah sok sibuk kamu, paling kamu mah ngurus Sugar Baby kamu disana.?" katanya ketus.
" Iya!!" kataku keras
" Terserah kamu mau bilang Apa, terserah lah?!" kataku.
" Sakha, kamu mau kemana?" katanya terdengar merengek Sambil menangis. Aku tak bergeming.
" Sakha, Kamu belum selesai sama aku. Aku belum puas marahin kamu?!" katanya sambil mengikuti langkah ku.
" Sakha... kamu belum aku maafin. kamu belum boleh pulang?" katanya.
__ADS_1
" Sakhaaa..." katanya sambil Menangis.
Aku berhenti, Lalu Menatap nya. Dia Langsung menabrak kan tubuh nya. Livia menangis, sambil memeluk ku Erat.
Damn!! apalagi ini? pikirku.
Ada perasaan yang nyaman tiba tiba ada di dadaku. seperti kunci yang menemukan gembok nya. Pas dan tepat.
" Aku belum selesai sama kamu, kamu gak boleh pergi!" katanya. Aku berusaha mendorong tubuhnya.
" Livia, lepasin?" kataku pelan.
" Enggak!! kamu gak boleh pergi. kamu belum aku maafin!?" katanya.
" Livia, jangan kayak gini. malu sama Mira?" kataku.
Aku berkali-kali berusaha melepaskan pelukannya itu.
namun tangisannya semakin kencang. air matanya terasa hangat ada di dadaku.
Aku melemah dan mulai memeluknya Erat. erat sekali, Livia semakin mendekap Ku kuat. aku mencium rambut kepalanya. dia semakin membenamkan wajahnya di dadaku.
entah apa yang ada dipikirannya sekarang? Aku tidak tahu, dan aku hanya mengikuti alurnya saja.
Setelah beberapa saat aku memeluknya. Aku Membawa duduk di sofa. dia masih memelukku dan tangisnya mulai mereda.
" Livia, aku harus pulang?" kataku. tapi dia menggerakkan tubuhnya itu seolah-olah melarang.
" nggak bisa begini dong Livia. Aku ada janji dan kerjaan di sana. tolong ngerti aku sedikit?" Kataku. tapi dia diam.
aku menarik nafas panjang, sesaat kami berdua saling terdiam. aku menatap jam di dinding. hari sudah semakin malam.
beberapa kali aku menguap rasanya aku ingin tidur.
" Tidur yuk?" kataku sambil mengajak nya ke kamar.
dia masih memelukku.
" kamu masih marah sama aku nggak?" tanya aku sambil menahan senyum. Livia hanya diam.
" kalau masih marah lepasin dong biar aku tidur di luar!" kata aku
" Kalau kamu tidur diluar aku semakin marah." Katanya pelan.
Alhamdulillah, pertanda baik ini pikirku sambil sedikit tersenyum.
kami berdua saling bertatapan, matanya yang sembab masih terlihat mengeluarkan air mata aku menghapusnya dengan jemariku mencium keningnya perlahan.
" Maafin aku ya Livi, gara-gara aku kamu banyak menangis dari kemarin." kataku pelan
" seharusnya kamu nggak memberikan sesuatu yang istimewa lagi buat aku, Agar aku nggak berharap sama kamu.?"
" Aku sakit hati sama kamu Kha, Aku marah juga benci sama kamu.!"
" Tapi akan lebih sakit hati lagi kalau kita Enggak baikan?" katanya sambil membenamkan Wajahnya kembali di dadaku. dia mulai terisak.
Aku menarik nafasku panjang.
kadang wanita itu tidak butuh dimengerti mereka hanya butuh dicintai.
aku membelai rambutnya dengan syahdu dan segenap rasa sayang ku terhadapnya.
Dalam fikiranku, aku mencoba kilas balik saat pertama kali bertemu dengannya.
saat aku merasakan cinta kepadanya dan saat aku benar-benar menginginkannya, semua yang ada dalam dirinya dan aku siap menanggung resikonya kala itu.
Aku cinta dan sayang sama kamu Livia, paket komplit.
perasaan ini juga aku punya untuk yang lain, egois memang aku. tetapi perasaan cinta dan sayang untuk Estu dan Ayu Sama besarnya tetapi wanginya berbeda.
" Lukanya sakit?" tanyanya sambil mengusap kening ku
" Enggak sakit, cuma nyeri. yang sakit di sini??" kataku sambil menunjuk dada ku.
" Aku juga sakit?" katanya pelan.
__ADS_1