
Erwin itu tadinya teman kuliahku, setelah lulus dan diwisuda dia mendapatkan pekerjaan di Jepang.
sejak saat itulah kami berdua tidak saling berkomunikasi. jujur aku tidak senang menggunakan sosial media, akun ku hanya dibiarkan begitu saja.
tetapi Erwin sangat aktif sekali di sosial media yang menampilkan foto-foto.
Aku scroll terus foto-fotonya selama beberapa tahun terakhir ini, aktivitasnya selama di Jepang dan waktu nya mengisi liburan ke berbagai negara.
Huuhhh !!..., ada perasaan iri aku terhadap nya.
Selama ini aku hanya berlibur 1 kali ke Bali itupun sudah bersama dengan Sakha dan Danesh.
mampir ke candi di Magelang, itupun karena ada acara keluarga besar bapak.
Pergi ke Bogor pun karena Mendampingi Istri atasanku Karena undangan Kerjaan.
Rasanya aku tak pernah memiliki waktu. walaupun sekedar "me time!". hidupku hanya untuk kerja, ngurus anak-anak, ribut sama keluarga atau ribut dengan Sakha dahulu.
Hanya Berbelanja Bulanan sebagai Refreshing. itupun masih bersama dengan Anak anak.
Yang ku tahu, sekarang Erwin masih lajang. dulu jaman masih kuliah sih, dia salah satu crush di kalangan cewek-cewek kampus. aku juga sempat mengaguminya, tetapi aku terlanjur dijodoh jodoh kan oleh Bapak sama Panca.
Panca pada saat itu sedang mengambil pendidikan di Kuala lumpur.
tiba-tiba notifikasi pesan ponselku berbunyi, dari Erwin rupanya.
*" Kapan ada waktu, Bisa ketemu gak?"* pesan nya
*" Boleh, Minggu depan mau?"* balasku.
*" Kelamaan, Dekat dekat ini gak bisa yaa😞?'* balasnya.
*" Kalau Sepulangnya aku kerja, mau??"* kataku
*" Oke, kapan??"* tanya nya
*" Selasa Sore ya, Jam 4 aku keluar dari kantor?"*
*" Aku jemput yaa?Sekalian antar kamu pulang, boleh?"* katanya di pesan.
*" Oke 👍🏻"* Balas ku.
*****
" Mas, Minggu Depan. sepertinya pihak dari bank mau Survey bengkel kayu kita??" kata Pak Subandi kepadaku.
Aku dan dia memang mengajukan pinjaman modal dari bank milik negara sebesar 145 juta. dengan menggadaikan sertifikat tanah milik Pak Subandi.
perjanjian awal, Pak Subandi memakai 80 juta untuk melunasi sisa utangnya. sedangkan sisanya aku yang pegang.
Sedangkan sisanya aku gunakan untuk mengurus surat surat Pembuatan CV agar barang ku bisa diterima di platform salah satu toko perlengkapan rumah terbesar di Indonesia.
agar aku lebih gampang mengekspor furniture produksi ku ke luar negara atau mengikuti pameran furniture.
Aku Niatkan, dan berkomitmen bekerja sama dengan Pak Subandi.
" Iyaa pak , semoga berhasil yaa??" kataku penuh harap. Dia aku mengangguk sambil pergi ke sebelah sana untuk menyerut kayu, yang akan dibuat menjadi pintu.
Tak lama kemudian Ayu Datang menghampiri kami. sambil membawakan nampan berisi dua gelas kopi dan sepiring pisang goreng yang masih panas.
Tiba-tiba saja wajahku bersemu merah, ada perasaan malu dan canggung menatapnya. apalagi saat dia tersenyum kepadaku.
Naluri lelakiku Rasanya bangkit lagi.
" Makasih ya Ay?" kataku kepadanya. Lagi lagi dia hanya tersenyum. Damn!!! apa ini? pikirku sambil berpura-pura Meminum kopi yang masih panas itu.
__ADS_1
Karena panas itulah, Aku memuntahkan kopi yang terlanjur Sudah ku minum.
Kenapa juga harus tumpah di bagian resleting celanaku. aku akui di dalamnya ada sesuatu yang sedang bergetar.
" Mas... pelan pelan??" katanya reflek sambil membersihkan kopi yang tumpah di bagian Badan ku tadi. Untung saja dia cepat tersadar, sebelum Pak Subandi ikut memperhatikan.
Dia terlihat malu dan kikuk.
" Dang bikin lagi Yu?" kata Pak Subandi kepadanya.
" Enggak usah lah Pak biarin, ini masih ada sisanya kok??" kataku.
" Itu cuma ampasnya aja Mas??" katanya sambil tertawa
" Lagian kenapa sih Mas kok bisa tumpah??" tanyanya sambil memegang serutan kayu.
" Saya lupa kalau panas Pak??" kataku sambil sedikit tertawa, menutupi rasa malu ku.
" Bikin lagi aja Yu... sekalian ambil lap buat Mas nya!?" perintah Pak Subandi kepada Ayu.
Dia hanya mengangguk lalu pergi dengan sedikit melirik kepada ku. Seettttt!!! Malah seperti ada panah yang lewat.
" Kamu masih shift Dua Ay??" kataku sambil menerima kain lap dari nya . dia hanya mengangguk.
" Loh, kok mas Sakha taj dia shift dua?" kata pak Subandi sambil minum kopi miliknya.
aku jadi merasa canggung untuk menjawabnya.
" Eeeee... Anu, kemarin saya ke tokonya habis maghrib. saya tanya dia masuk siang atau lembur. dia jawabnya masuk siang, iya kan Ay??" kataku mengkode dirinya dengan mengedipkan sebelah mataku tanpa disadari oleh Pak Subandi.
dia hanya mengangguk.
Huuhhh!! kenapa aku merasa kucing-kucingan dari Pak Bandi??
***
" Surat apaan ko??" kataku seraya menyobek ujung surat tersebut.
" Gak tahu Mas, mungkin surat panggilan kerja lagi??" jawabnya.
Sesaat aku terdiam membacanya.
" Isinya Apaan Mas??" tanya Eko mengulang.
" Panggilan sebagai saksi lagi ko, di pengadilan Tipikor di Jakarta. nama terdakwanya mantan atasan ku dulu??" kataku sedikit lesu sambil memberikan surat itu kepada Eko.
" Lahh mas, kok kamu kesandung terus sih sama korupsi orang lain??"
" Lagi lagi kamu yang dijadiin saksi. sepenting apa sih dulu jabatanmu di sana??": tanyanya kepadaku.
" Aku gak tau, lupa?!" kataku sedikit kesal
" Pusing ko hidup di lingkungan orang-orang yang kerjanya nggak tanggung jawab, menghalalkan segala macam cara, menghalalkan uang yang bukan miliknya menghalalkan kolusi, korupsi dan nepotisme menjadi suatu hal yang biasa!!".
" Rasanya aku pingin mengundurkan diri saja tapi aku masih butuh gaji, pening aku Ko !?" kataku kesal.
" Kapan itu tanggal nya??" tanya ku.
" Tanggal 9 mas, besok Kamis??" katanya.
" Sekarang saja sudah Selasa, tanggal 7... Ckkkk!!?" Guman ku kesal.
" Nah kan?? Duit lagi ini urusannya!?" kataku
" Sudah lah, aku mau Siap siap. mau tidur, pusing pala ini rasanya.?"
__ADS_1
" Jangan cerita sama yang lain yaa?? Kataku.
Dia hanya melingkar kan jarinya membentuk huruf O
***
" Pak, maaf. nanti siang saya harus berangkat ke Jakarta??!"
" Loh ada apa Mas, kenapa lagi??" tanyanya penasaran. lalu aku menyerahkan surat yang semalam aku baca itu. sejenak dia terdiam.
" Saya jamin saya enggak terlibat Pak di kasus mantan atasan saya ini. seingat saya, saya cuma mendampingi beliau untuk menerima sejumlah uang yang katanya itu adalah uang yang dikembalikan seseorang kepadanya.!?"
" Kalau orang Bank datang mensurvey bengkel kayu kita, kalau bapak ragu-ragu mending gak usah diambil??"
" mungkin ragu-ragu sama saya atau sama keadaan yang gak bisa ditebak mending nggak usah diambil Pak.?"
" insya Allah ada jalan lain??" kataku kepadanya
" Saya mungkin Han di Jakarta sampai kasus ini selesai, biar nggak bolak-balik??"
" sudah selesai saya langsung balik ke sini pak??" kataku sedikit meyakinkannya. dia cuma diam.
" Iya Mas, saya juga nggak berani ambil resiko dan gegabah masalah uang.?!"
" Saya tunggu mas-nya pulang saja??" katanya lagi.
aku hanya mengangguk sambil menyalami tangannya.
" doakan saya ya Pak, semoga saya terhindar dari segala macam fitnah??" kataku.
" Yang sabar ya Mas, yang kuat insyaAllah Tuhan melindungi Mas??" katanya sedikit haru. Aku Memeluk nya sebagai tanda terima kasih.
Lalu kemudian aku berpamitan dengan istri nya juga.
" Untung saja ya pak orang bank belum ke sini, kita belum jadi utang??" kata Mbak asih
" Kalau surveinya itu kemarin, sampai uang cair apa nggak malah berantakan??" tambahnya lagi.
" Orang urusannya korupsi terus,??" katanya nyinyir.
" Cuma jadi saksi loh buk, Bukan Terdakwa atau tersangka. Doa kan saja dia enggak kenapa-napa??"
" Lha iyaa, Hidup nya kok barusan terus sama uang gak halal??" tambahnya nyinyir.
" Husst Buu, Jangan Su'udzon gitu??" kata Mas Bandi.
Aku mendengar nya sembunyi di kamar.
Aku membuka pintu rumah, menatap kepada siapa yang berdiri di depanku.
" Ay.. ada apa??" tanya aku
" Mas, apa yang diomongin Mas Bandi itu benar??" Tanyanya penasaran
Aku hanya sedikit menghela nafas.
Lalu aku serahkan surat itu kepadanya, sesaat kemudian Dia membacanya.
"Sebagai saksi aja kan Mas??" katanya terlihat cemas.
jujur aku sedikit heran terhadapnya. aku hanya mengangguk.
" Terus nanti setelah selesai Mas bakal kembali ke sini kan??" tanyanya. aku kembali mengangguk.
" Emangnya kenapa??" kata ku balik bertanya.
__ADS_1
" Enggak, Aku cuma mastiin aja?"