Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
episode 119


__ADS_3

Aku memeluk pundak Estu yang masih saja menangis di pemakaman Ayah mertua ku itu.


Teringat kembali kejadian yang baru saja terlewat.


Semalam, begitu aku sampai Jakarta. langsung menuju ke rumah sakit dimana Bapak di Rawat.


Aku menatapnya yang lemah, namun masih mampu tersenyum saat aku datang. Kondisi nya sangat lemah, namun masih mampu mengatakan sesuatu kepada ku.


**


Aku menepuk pundak Estu perlahan, dia bersandar di bahuku. Tangisnya menggerakkan tubuhnya yg masih mengandung anak ku itu.


Aku Coba menenangkannya walaupun aku sendiri merasa lelah.


Sampai akhirnya kami kembali ke rumah, meninggalkan pemakaman.


Estu masih sesegukan, Saat satu persatu kerabatnya menjabat tangan nya. Ada beberapa yang datang dari Magelang dan Malang. kerabat dari pihak almarhum Bapak. mereka Adik kandung almarhum Bapak.


Beberapa karangan bunga masih berjajar di depan Rumah mertuaku itu. Pelayat yang datang pun masih ada.


Dan Rumah rasanya sedikit Terasa Aneh? Atau mungkin badan ku yang masih terasa Lelah.


Aku memegang erat tangan ibu mertuaku itu yang masih menyimpan kesedihan yang tersisa di raut Mukanya.


Aku sedikit tersenyum, menguatkan nya dengan beberapa kata kata. Dia menatapku, tersenyum kecil sekali. Mungkin mencoba terlihat tegar untuk kami.


" Nanti ibu Bisa tinggal sama mbak Estu atau Panji Kalau kesepian.?" kata adik ipar ku itu.


" Ibu harus kuat untuk kesehatan ibu Sendiri. Panji gak mau Ibu sedih terus Sakit?" katanya.


" Yang terpenting sekarang, Ibu harus bisa ngiklasin Takdir ini. Ibu harus kuat, gak melulu sedih." kataku


" Berat pastinya ,Tapi bismillah... Kita pasti bisa melewati nya." tambah ku lagi.


Dia sedikit tersenyum. tak lama kemudian ada kerabat dari pihak Almarhum Bapak menyapa kami.


Setelah berbasa-basi, aku berpamitan kepada mereka.


"Estu, Aku mau istirahat sebentar yaa.. Nanti lanjut buat Tahlilan Almarhum Bapak?" kataku.


Dengan mata sembab nya dia menatapku sambil mengangguk pelan.


" Kamu sudah makan belum Kha?" Tanya nya. Aku hanya mengangguk kecil sambil menatap nya.


Aku berjala pelan menghampiri istri ku itu. Aku tersenyum kepadanya,Lantas Memeluk nya dan menciu kening nya.


Aku baru sadar jika belum memeluk nya Dari aku datang.


Dia menangis Sebentar di pelukan ku. Aku kembali tersenyum sambil menguatkan nya.


" Estu, inget kamu lagi Hamil?" kataku.


" Aku gak pingin kamu Sama Anak aku Kenapa Napa?" kataku.


Dia tersenyum, aku kembali mencium keningnya. lalu mengelus perutnya yang membuncit itu.


" Tadi aku lihat Haris?" kataku padanya.


" Bodo amat?" katanya pelan. aku hanya tersenyum kecil.


" Dia tau yaa kalau kita?" tanyaku.


" Tau kali." jawab nya datar. Aku kembali tersenyum.


" Aku pernah ketemu sekali sama Dia, aku bilang kalau aku sudah Nikah dan lagi Hamil!" kata Estu Tampa ekspresi. datar.


" Terus?" tanyaku sambil menyandarkan tubuh ku di kasur.


"Dia tanya aku Nikah sama siapa? Aku jawab Nanti juga kamu tau." katanya.


Aku sedikit tersenyum lagi.


" Terus, Apa Livia sudah tau kalau kita?" tanya Estu.


Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan. Lalu Menelan ludah ku sedikit.


" Aku belum siap ngomong sama dia?" kataku.


" Takut??' kata Estu. Aku hanya diam.


" Nanti dia keburu tau sendiri!?" katanya lagi. Aku menghela nafas ku panjang sambil menatap nya.


" Tadi pagi Sih, Seperti nya dia kirim pesan turut berduka cita. maaf gak bisa datang?" katanya sambil mengecek pesan di ponselnya.


Aku tersenyum pelan. Rasa kantukku mengalahkan seluruh kemampuan ku berinteraksi dengan Estu.


Aku lelah. kemudian Estu meninggalkan ku.

__ADS_1


Suara Ponsel yang berbunyi kencang itu Memaksa ku bangun dan membuka mata. Aku meraihnya, dan menjawab telepon itu.


" Yaa Hallo?" kataku lemah.


" Kamu dimana?" tanya seseorang dari sana.


Aku yang belum begitu sadar kembali menatap layar ponsel. siapa yg menelepon ku. Livia pikirku kemudian.


" Yaa Hallo?" ulangku.


" Iya Hallo Kha... kamu dimana?" tanyanya lagi.


" Aku Dirumah?" jawab ku.


" Rumah Siapa? Kamu tidur yaa??" tanyanya


" Di rumah Mira?" jawab ku sedikit bingung.


" Kamu dari mana? kok tumben tidur siang?" tanya nya lagi.


" Kemarin dari Semarang, ketemu calon Buyer?" jawab ku. lalu terdengar suara O panjang dari nya.


" Kha, apa kamu sudah tau kalau Bapaknya mbak Estu meninggal?" tanya nya dari sana


" Sudah, lusa aku mau ke Jakarta." kataku.


" Kamu jauh jauh mau ngelayat?" tanya nya.


" Iyaa.. bukan karena Estu nya tapi memang dia dulu banyak jasanya sama Aku, selain itu juga dulu Estu mau datang ke pemakaman Abah Ambu?" kataku lagi.


Sesaat Livia terdiam.


" Bagaimana keadaan nya kamu sama kandungan kamu Yang?" kataku.


" Aku Baik baik kok?" jawab nya.


" Aku kangen." kataku pelan.


" Sama Siapa?" tanya nya.


" Ya sama kamu, Sama anak aku juga?" jawab ku.


" Yaa Udah, aku tungguin di Jakarta yaa?" katanya sebelum kemudian menutup ponselnya itu.


***


Sengaja aku datang ke pemakaman Almarhum Bapak nya Mbak Estu, Aku menyusulnya yang baru saja berangkat ke pemakaman. Disana malah melihat pemandangan yang Sama sekali tak ku harapkan.


Bukan Masalah Sakha yg sudah Hadir Tampa memberi tahu aku. Tapi perut Si Estu yang juga membuncit, Yang juga Hamil seperti Aku??


Aku gak tahu pasti dia hamil berapa Bulan?


Dengan mesranya bersandar di bahu Sakha, Secara nggak langsung itu menandakan bahwa Sakha??


Aku kembali mengusap Air mataku. Aku mencoba kuat Sendiri. Banyak sekali bayangan ini dan Itu yang membuat ku bertambah Sakit.


Apakah harus se sakit ini Tuhan aku menjalani hidup ku. Apa ini semuanya karma atas apa yang aku lakukan sama mbak Estu dulu yang posisinya Hampir sama dengan aku sekarang.


Aku harus menunggu Sakha memberitahu aku atau aku yang harus memergoki mereka Berdua?


Terus setelah itu aku harus bagaimana?" pikirku sambil mengusap perut ku.


**


" Nanti siang aku keluar yaa?" katanya kepada ku.


" kemana??" tanyaku Kemudian.


" Aku mau nengokin Livia?" katanya lagi seperti meminta izin. aku terdiam menatapnya sambil menghela nafas perlahan.


" Terus, nanti kamu bilang apa sama dia??" tanyaku lagi.


" Dia udah nelpon aku kok? kasih tahu kalau bapak meninggal, dan aku bilang emang aku mau ke Jakarta??" jawab nya.


Aku menatapnya lagi.


" terus kamu nanti mau tinggal di Sana??" Tanyaku. dia menatapku lekat.


" Kha... saudara bapak sama ibu itu masih banyak lho yang di rumah? paling enggak mereka pulang setelah 7 hari.?" kataku


" Iyaa, aku sudah mikir ke situ kok?" katanya


" Terus??" kataku.


" ya nanti kalau pas tahlilan aku pulang ke sini?" jawabnya.


" ya mereka itu nggak mau lihat kamunya pas tahlilan aja Kha... aku nggak mau mereka curiga?" kataku.

__ADS_1


kemudian dia terdiam.


" Yaaa... Mungkin siang saja aku ketemu dia?" katanya lagi.


" Terserah kamulah Kha? aku minta ke kamu, jangan sampai saudaraku itu curiga dan malah menanyakan hal yang enggak-enggak sama ibu??" kataku.


Dia diam menatap ku.


Tak Lama kemudian, Seseorang Memanggil Estu. mengatakan bahwa ada seorang temannya yang datang.


kami Saling pandang, kemudian aku dan Sakha keluar dari kamar.


**


Sakha tampak mengusap wajahnya saat mengetahui Siapa yang datang.


aku menelan ludah dan sedikit merasa gugup. aku menghampirinya sambil Mencoba tersenyum sedikit kepadanya.


dia menyalami tanganku dan memelukku Sambil Mengucapkan Bela sungkawa.


Tak lama kemudian Ibu datang menghampiri kami, juga Ada Panji. Sepertinya ibu tidak tahu siapa yang datang itu.


Panji menatap Aku dan Sakha Secara Bergantian. Mungkin sedang menduga Bagaimana Reaksi kami.


" Jadi adik ini Teman nya Estu? teman Sekolah atau kuliah?" tanya ibu kepada nya sedikit berbasa-basi.


Dia tersenyum kecil Kepada kami.


" Teman apa yaa?? Kenalan aja Kok Bu, dulu mbak Estu mantan Nasabah saya?" jawab nya sambil melirik ku.


" Oo...mbak nya ini kerja di Bank?" tanya ibu polos.


Kemudian dia mengangguk.


" Kesini diantar siapa mbak? Seperti sedang hamil juga. Sama seperti Estu... kata ibu.


" Berapa bulan ya?" tanya ibu lagi.


" Saya nyetir mobil sendiri Bu, Maklum Suami saya lagi Diluar kota, lagi KERJA!?" katanya sambil melirik ke Sakha.


Sakha tampak menundukkan kepalanya Sambil mengusap wajah nya.


" Sudah mau 7 bulan Bu?" jawab Livia.


" Oohh ya sama dengan si Estu, Bulan depan juga pas 7 Bulan?" jawab Ibu yang membuat Livia menatap kami berdua secara bergantian.


Wajahnya Tampak menahan rasa Geram.


" Diminum Nak teh nya?" kata Ibu


" Saya tinggal dulu Yaa?' kata ibu kemudian. Livia hanya tersenyum kecil Kepada Ibu.


Lantas dia menatap kami secara bergantian. Sakha tampak menghela nafasnya.


" Kha... Tolong jawab ini semua.... Apa artinya!" katanya pelan dengan Nada yang marah.


" Livia, Nanti aku jelasin tapi tolong jangan di sini.?" Kata Sakha Kepada nya.


" Terus di mana!? di pengadilan!!" katanya lagi dengan ekspresi wajah yang benar-benar marah.


Sakha tampak sedikit Gusar. Dia duduk mendekati Livia. Tangan nya memegang Livia tapi terus di tepis olehnya.


" tolong Livia Jangan sekarang, setidaknya kamu ngorok menghormati ibu yang sedang berkabung." katanya pada Livia.


Livia menatap sengit kepada Sakha.


" Apa Kamu kira aku tidak bergabung atas perlakuan kamu!!" katanya.


" Sejak Kapan kamu menyembunyikan ini semua dari aku??"


" bisa-bisanya kamu menikah dan menghamili Mbak Estu yang kehamilannya sama denganku!!" katanya.


" Apa Ini hasilnya dari pertikaian kita waktu dulu itu?! Apa iya Mbak?" tanya nya mengungkit saat aku di labrak olehnya.


" Livia, Tolong jangan sekarang. nanti aku jelaskan Semuanya?" Kata Sakha kepadanya.


dia menatap sengit kepada Sakha.


" Apa yang mau kamu Jelaskan Haahh!! Kalian berdua ini sama saja!!" katanya sedikit keras.


Aku sedikit kaget, Dia hampir saja keceplosan berkata Kasar.


Sakha langsung memegang tangan nya. dan seperti tampak memohon.


" yang salah di sini itu cuma aku, enggak ada sangkut-pautnya sama dia."


" kalau kamu mau marah-marah, ya tolong sama aku saja. Dan aku minta sama kamu, tolong kamu jangan berbuat yang tidak-tidak di sini."

__ADS_1


" Setidaknya kamu menghormati keluarga yang berkabung bukan aku atau Estu nya?" pinta Sakha


__ADS_2