
Mira tampak tertidur di Kasur lantai milik ku ini. Sepertinya dia lelah menunggu Aa nya itu yang Ngobrol Kesana kemari dengan pak haji.
Ngomongin Janda lagi! membuat ku semakin bertambah kesal.
Tiba-tiba pintu kamar ku di ketuk, terdengar suara nya memanggil nama adiknya itu pelan. Aku membuka nya dengan memasang ekspresi yang datar.
" Mbak, Mira nya kemana yaa?" katanya.
" Ada mas, itu. sudah tidur dari tadi." jawab ku.
" Mira, bangun." katanya berusaha memanggil adik nya itu beberapa kali.
" Sudah, biar mas. biar Mira tidur di Sini malam ini. gak apa-apa." kataku. Dia menatapku.
" Takut ngerepotin mbak nya nanti." katanya.
" Mau di bangunin juga susah Mas. Sudah terlanjur pules dia. mas-nya Ngobrol kelamaan sih?" kataku sambil melirik kepadanya.
Dia tersenyum kecil yang tak ku tanggapi.
" Masih marah?" katanya lirih. Aku hanya diam menatap nya. Dia mulai senyum senyum sedikit.
" Gitu aja kok marah sih?" katanya lagi pelan. Aku masih tak bergeming.
Dia tampak menarik nafas panjang.
" Ya sudah ya mbak, saya pamit. tolong besok bangunkan dia pagi pagi ya. suruh langsung ke rumah pak Bandi. Saya permisi dulu." katanya tak peka terhadap ku.
Aku makin kesal di buat nya.
Tiba-tiba dia menarik ku ke sudut yang sedikit gelap. Dia memelukku erat.
" Jangan marah ya?" katanya lirih.
Mataku Seperti terbakar oleh perasaan yang meledak dari dalam dada. tenggorokan ku tiba tiba sakit.
Aku berusaha menahan tangis ku. aku benamkan wajahku di dadanya seraya memeluk nya.
Aku menangis tertahan.
Antara Rasa rindu, kesal, marah, Jengkel jadi satu.
Beradu tak beraturan, rasanya semakin sesak.
Namun saat dia mencium ku sesaat. segala perasaan itu hilang. Hanya lega dan Berganti dengan Rasa bahagia.
Dia mencium ku lama. memenuhi rasa ingin ku selama ini terhadap nya.
Kemudian dia pergi cepat. takut diketahui oleh orang lain.
**
" Semalam tidur nya nyenyak?" tanya Linggar ketika menjemputku dengan sepeda motor nya itu.
Aku hanya tersenyum melihatnya. Dia balik tersenyum kepada ku.
Rasanya semalam tadi aku merasa Puas, bisa tidur nyenyak bersama Calon iparku Mira dan mendapatkan " Kiss & Cuddle" darinya itu.
Aku menatapnya dari laju motor yang di bawa oleh Linggar, menatapnya yang sedang berjalan menuju Rumah mas Bandi.
****
" Mira, Aa ada urusan mau ke Surakarta. paling ya tiga hari. kamu di rumah pak Bandi aja. babantu ibu Nya. Aa sudah nitipin kamu Kok." kata ku kepada Mira.
Dia menatapku seperti takut di tinggalkan. aku tertawa.
" Kan bisa telepon Aa kalo ada Apa apa mah Mira. moal bakal Aa tinggalin kamu di sini.!" kata ku.
" Ya takut aja Aa.. mana Mira di sini baru seminggu. udah Aa tinggal lagi!" katanya resah.
Aku tertawa lagi.
" Kalau takut, Main nya sama Si Ayu aja?" kata ku.
Dia menatapku ku seperti curiga.
" Nanti Minggu depan kamu mulai ikut program sekolah paket C ."
" Cuma seminggu sekali apa dua Minggu sekali. nanti kan lama lama kamu ada kegiatan.!" kata ku.
" Awas, ulah bobogohan Heula. kanyahoan ku Aa, langsung Aa tikahkeun!!' kataku mengancam nya.
__ADS_1
#( Awas, jangan pacaran dulu. ketahuan langsung aku nikahkan!)
" Naon sih Aa.. Moal, Henteu. Da Mira mah arek Nurut ka Almarhum Ambu. nurut ka Aa." Katanya.
#( Apa sih Aa..Gak, enggak. Mira mau nurut ke almarhum Ambu. nurut ke Aa.) katanya.
Aku memandang nya, sedikit tak percaya. apalagi Hakka sering Akting didepan ku. berpura-pura Alim dan mencoba Mengambil Hati ku.
Seketika aku muak dengan nya. tapi setelah di pikir pikir, Ya aku juga mungkin sama dengan nya.
Aku menaiki Gerbong kereta ku ini dari stasiun Kutoarjo menuju Solo. Nanti di sana aku akan di jemput oleh Livia untuk mengunjungi Kylie.
Ini kali pertama aku akan bertemu dengan anak perempuan ku.
Kemudian aku teringat kepada Ayu, hubungan kami. Entahlah, hubungan macam apa ini. Hubungan perasaan atau kah hanya untuk bersenang-senang. Sebenarnya aku tak ingin menggantung tak ada kejelasan.
Kami berdua dekat, tetapi bukan sepasang kekasih. kita tidak pacaran tetapi aku dan dia seperti terkoneksi satu sama lain. Malah sampai-sampai?
Akkhh, Aku semakin pusing jika memikirkan nya.
Jujur, aku sayang sama dia. Akan dirinya yang sederhana, Biasa Namun Seperti ada ' Something ' yang membuat ku ingin sekali memiliki nya.
Namun dia sendiri sudah bertunangan dengan Linggar.
Itu yang membuat ku susah menjalankan langkah mengambil tindakan.
Apa harusnya Aku tinggalkan??
Aku menarik nafas ku Berat.
Terus, Status ku dengan Livia? Dia punya anak dari ku tetapi kami tidak menikah. Atau dengan Estu, mantan istri yang Pernah aku Nistakan walaupun dia sendiri tak mempermasalahkan.
Ya Allah... Banyak banget dosa ku ini. Sungguh aku ingin berhenti dan kembali menjadi seseorang yang baik baik Saja. Tak banyak tingkah Polah.
Aku takut jika sewaktu-waktu adik ku atau anak perempuan ku kelak akan terkena Imbasnya.
Aku takut mereka mengenal lelaki yang seperti aku Suatu hari.
Sungguh aku benci. Benci dengan diriku sendiri.
Pikirku dengan lelah.
***
" Surakarta, mbak." jawab nya.
" Katanya Sih ada urusan penting masalah kerjaannya Dulu. begitu!" tambah nya lagi.
Aku hanya menatap nya. sedangkan tatapan Mira seperti lain terhadap ku, seperti bulir padi yang ada isi nya? Ataukah anggapan ku saja.
" Ya sudah, Nanti kalau ada apa apa. kamu main saja ke kostan ku yaa?" tawar ku.
" Iya mbak, insyaallah." jawab nya.
Kenapa semalam tidak bilang yaa? pikirku.
" Ehm, mbak. Kata Aa Semalam Suruh minta temenin mbak kalau pas libur kerja." Katanya terdengar hati hati. aku memandang nya.
" Emangnya ada apa?" tanya ku.
" Itu Mbak, kata Aa mau ambil kontrakan rumah yang didepan Kost-an mbak." Katanya.
" Terus?" tanyaku tak sabaran.
" Iya mbak, Saya minta temanin ke mbak nya ke pasar buat beli barang barang perabot rumah tapi nungguin rumah selesai di renovasi." katanya.
" Ooo, iya. gampang itu." Kataku
" Emangnya, mau kapan pindahan?" tanya ku.
" Masih seminggu lebih mbak. kata Aa, pak haji mau renovasi kamar mandinya dulu. katanya sih mau buat di kamar." Jawab nya.
Aku hanya mengangguk.
" Mbak?" katanya pelan. aku menatapnya.
" Iya Mir, ada apa?" kataku.
" Tapi jangan marah ya mbak, Maaf sebelumnya?" katanya hati hati.
" Iya Mir, ada apa sih?" kataku penasaran.
__ADS_1
dia tampak menelan ludah nya.
" Mbak sudah tunangan ya sama mas mas tempo hari itu. yang jemput mbak kerja?" tanya nya.
Aku menatapnya.
" Kamu kata siapa?" tanya ku.
" Kata Ibu Asih." katanya polos.
Aku hanya tersenyum.
" Belum tunangan Mira, baru mau." jawab ku.
" Terus kapan mbak mau tunangan? Apa sekalian mau nikah?" tanya nya lagi.
Aku kembali tersenyum.
" Belum tahu Mira, Soal nya belum ada omongan dari keluarga nya mas Linggar."
" Kenapa emangnya Mira. kok tanya seperti itu?" kataku. dia tampak menggerakkan kedua tangannya.
" Enggak mbak, cuma tanya Kok.!" katanya buru buru.
Aku menatapnya sambil memberikan senyuman.
" Eh iya, mas Sakha katanya mau bawa siapa kesini. anaknya atau siapa?" tanya ku.
" Tadinya mau Bawa Lio, tapi mbak Estu gak ngasih ijin tapi ya gak tau juga aku mbak. mau tanya ke Aa takut dianya marah." jawab nya sambil tersenyum.
Lalu kami saling bercerita satu sama lain tentang banyak hal. termasuk kisah Mas Sakha, kekasih ku itu.
***
" Maurice, kenalin ini Sakha. Ayahnya Kylie anak ku." Kata Livia memperkenalkan ku kepada teman nya yang Biarawati itu.
Aku tersenyum seraya menyalami tangannya dan menyebutkan namaku sekali lagi.
Sejenak Tampak dia memperhatikan ku.
Aku hanya mendengar kan Livia yang Tampak berbicara dengan Maurice.
Mataku sedikit melihat Kesana kemari.
Kami berada di Ruangan yang seperti Aula ini. Kami berada di Asrama sekaligus Panti Asuhan.
memang, baru sekali ini aku masuk kedalam Ruangan yang seperti ini. Ataupun yang namanya Panti.
" Jadi, kemarin ada yang datang kesini. Sepasang suami istri dari asal Jakarta, mereka tinggal nya di Singapura.." Kata Maurice mulai Bercerita.
" Mereka sih bilang, ingin mengadopsi salah satu anak Panti. Sudah beberapa kali mereka berdua kesini, dan Tampak nya mereka jatuh hati kepada Kylie."
Katanya.
Livia tampak menarik nafas.
" Terus bagaimana?" tanya nya kepada Maurice tak sabar.
" Ya aku bilang ke mereka apa adanya. tentang kondisi Kylie juga tentang kalian."
" Sekarang ya terserah kalian saja." Katanya.
Livia menatap ku.
" Kalau melihat perkembangan nya. Kylie sudah lebih kuat dari sebelumnya. Walaupun tak begitu aktif dengan temannya yang lain. dia cepat tanggap kok seperti anak yang lainnya." kata Maurice.
Kami berjalan menyusuri lorong, Dia membawa kami ke ruangan yang lain.
Tak begitu lama, sampai lah kami di satu ruangan di belakang panti ini.
Tampak anak anak yang riuh bermain, Ada yg berlarian Kesana kesini. Atau bermain dengan mainannya masing masing.
Aku seperti mencari cari Anak perempuan ku yang selama ini tak pernah ku lihat.
Aku mencoba melihat Kesana kemari. yang manakah Anak ku. Rasanya aku ini Bodoh, Orang tua yang durhaka kepada anaknya.
" Kylie, sini sayang." panggil Maurice kepada salah satu anak perempuan berpita merah itu.
Dia berlari menghampiri kami.
Sejenak aku tertegun, rasanya ingin menangis.
__ADS_1