
Aku mencium keningnya perlahan,dan bibirnya kemudian.
Ada perasaan nyaman yang tiada kira aku rasakan. aku memeluk nya erat. Aku semakin merasa mencintai nya dan tak ingin kehilangannya.
" Livia?" kataku perlahan. dia menatapku, kami saling bertatapan.
" I love you." kataku sambil menatap nya.
" I love you so Kha." jawab nya.
Aku mencium nya dalam. penuh dengan segala rasa dan keinginan. kami melewati malam tidak dengan rasa hampa lagi.
Rasanya Puas sekali, Seperti mendapatkan sesuatu yang di inginkan. Aku menatapnya lagi, setelah semuanya selesai terjadi.
***
" Sampai kapan mas?" kata pak Bandi Kepada ku sambil menyalami ku.
" Tadi sore pak?" jawab ku sambil tersenyum kecil.
" Maaf pak, begitu sampai Jakarta kemarin ada saja kejadian tak terduga?" kataku.
" Iya mas, gak apa apa."
" Ohh... saya turut berbela sungkawa ya mas atas berpulangnya Bapak mas Sakha?" katanya lagi aku hanya mengangguk kecil.
" Terus apa kata pak Kapolres pak?" tanyaku setelah selesai Berbicara ini dan itu.
" Dia katanya udah netapin tersangka. tapi belum ada waktu yang pas untuk Nangkep nya.?" katanya.
aku hanya mengangguk.
" oh iya Mas minggu depan ikut ya Ya ke ke Salatiga. Ayu Mau menikah. kalau boleh sekalian mobilnya mas buat iring-iringan?" katanya sambil senyam-senyum.
" oh ya nggak Papa Pak selagi kita nggak punya kegiatan. besok saya segera ke bank buat mengajukan pinjaman?" kataku.
Ayu akan menikah? pikir ku. pantas saja tak ada pesan dari nya selama aku di Jakarta.
" Apa sekarang Ayu sudah pulang ke Salatiga pak?" tanyaku.
" Belum mas, rencananya katanya H min 1 atau 2. dia belum dapat ijin kerja." jawab nya. aku mengangguk kecil.
Tak lama kemudian aku berpamitan pulang kepada Pak Bandi.
***
Ku parkirkan mobilku Di pelataran minimarket tempat Ayu bekerja. Aku keluar dari dalam mobil lalu berjalan memasuki minimarket tersebut. Aku menatap kasir yang sedang berjaga, tetapi itu bukan Ayu.
sudahlah, mungkin aku sudah berkesempatan bertemu dengannya. kemudian aku mencari barang yang aku butuhkan dan membayar nya.
Namun aku kaget ketika berhadapan dengan kasir.
Itu Ayu. pikirku. Dia menggunakan Masker dan sedikit dingin terhadap ku. Aku tersenyum menatapnya.
" Pulang jam berapa?" kataku pelan. dia menatapku tajam beberapa detik.
" semuanya jadi 87.200 ya pak?" katanya. lalu Aku mengeluarkan selembar uang untuk membayarnya.
" mau sekalian Isi pulsanya Pak?" katanya menawarkan.
" Enggak mbak, Enggak ada yang menelepon ini?" jawab ku pelan. dia menatapku.
" Pulang jam berapa Ay?" tanyaku ulang.
__ADS_1
" Jam 7 dijemput." katanya cepat. aku hanya mengangguk kecil. lalu berjalan Pulang.
Ada perasaan aneh yang kurasakan, rasanya tak biasa saja. Aku menatapnya Sebentar sebelum masuk ke dalam mobil, tak disangka dia pun sedang menatapku. aku hanya tersenyum simpul.
" Yaa halo Arya, ada apa?" tanya aku aku ditelepon.
" kemarin siang. sore lah. Iya Mira ada di rumah?" jawab ku.
" Kamu mau ketemu dia?" tanyaku.
" Ya sudah temuin dia nanti kalau aku udah pulang ke rumah.?"
" Yaa jaga-jaga aja. sepertinya sekarang ada yang memata-matai Mira dan aku." Jawab ku.
" Bukan masalah kamu nggak boleh campur sama dia. tetapi kamu ingatkan perjanjiannya? sebelum kamu bilang sama orang tua kamu. aku nggak mengizinkan Mira untuk campur sama kamu." kataku.
" Kalau kamu mau memperkenalkan aku sama orang tua kamu ya enggak masalah nanti aku ajak dia." kataku lagi.
" Akan lebih baik lagi jika kamu bisa meresmikan pernikahan kamu itu secara negara."
Di seberang sana Arya Tampak diam. ya mungkin aku sedikit mengerti pikirannya itu.
" Atau kamu mau kami memantaskan derajat dahulu, biar sepadan dengan keluarga kamu?" Kataku.
terdengar suara tawanya yang sungkan.
" Sebenarnya aku nggak memaksakan kamu kok untuk buru-buru, asal kalian bisa sabar.?" kataku lagi.
" Yaa sabar buat itulah?" kataku Sambil tertawa.
" Yaa sudah nanti aku tunggu kamu di rumah ya?" kataku lagi sebelum menutup sambungan ponsel aku dengannya.
Keesokan harinya aku dan Pak Bandi mendatangi salah satu cabang Bank atas petunjuk Richard. bermaksud untuk mengajukan pinjaman. sesuai kesepakatan sebagai jaminan nya aku menggunakan sertifikat salah satu tanah milik Pak Subandi. kami berdua sepakat untuk meminjam modal sebesar 200 juta.
**
" Loh pak, kamu kok nggak bilang-bilang mau minjam uang sebesar itu ke Bank.?" kata mbak Asih sama mas Bandi.
" ya mau minjem ke mana lagi lohh Buu?" jawabnya.
" Kok bisa-bisanya kamu percaya ya gadai sertifikat tanah segala, kalau dia itu jahat sama kamu nggak mau bayar utang ke bank siapa yang ketempuhan!" katanya dengan nada Sedikit keras.
" Buu, kamu itu masih Su'udzon aja sama dia? kamu nggak ingat utang Kita pernah dibayarin sama dia?? terus usaha bisa sebesar ini pakai uangnya siapa kalau bukan duitnya mas Sakha?!" katanya menjawab dengan suara yang tegas.
mbak Asih terdiam.
" Yowes, pokoknya aku nggak milu-milu Kalau terjadi apa-apa sama kamu!" katanya kesal.
" ya Memang harusnya kamu enggak ikut-ikutan! kamu itu baiknya berdoa, bantu sama doa saja agar semuanya bisa beres. Jalan sesuai rencana.!" jawab Mas Bandi yang tampaknya juga kesal menghadapi istrinya itu.
Setelah sedikit reda, aku beranikan diri untuk menemui Mas Bandi.
" Ehhh, ada calon manten sejak kapan datang?" tanyanya kepadaku aku hanya tersenyum sambil menyalami tangannya.
" Barusan kok mas?" jawab ku.
" Gimana, Ada apa Kok kamu tiba-tiba datang ke sini?" tanyanya kemudian.
" Anu mas, saya dapat pesan dari bapak katanya kalau bisa Mas berangkat malam ini, Kalau nggak besok pagi Soalnya ada acara kumpul-kumpul keluarga dulu?" kataku kepadanya dia hanya mengangguk kecil.
" terus kamu pulangnya kapan?" tanyanya kemudian.
" ya mungkin H minus 2 mas. aku dapat ijinnya begitu." jawab ku.
__ADS_1
" Kamu nanti pulang diantar siapa?" katanya lagi. aku hanya diam.
" Apa Linggar yg mau antar kamu?" tanyanya.
" Dia sibuk mas, Sekarang aja lagi ke Semarang ada urusan bisnis atau apa Aku nggak paham. Nanti aku pulang naik bis aja?" jawab ku.
" Mana bisa begitu Yu. kalau nanti di jalan Kamu ada apa-apa kan bahaya kamu calon manten loh biasanya ada aja godaannya?" katanya. aku hanya tersenyum kecil.
" halangan apa sih Mas semua baik-baik aja udah lah nggak usah terlalu kolot?" jawab ku kepadanya.
" Yowes, nanti kamu Aku titipin sama masak aja aku udah bilang kalau mau makai mobilnya untuk iring-iringan nganterin kamu setelah nikahan Ke rumah mertua kamu?" katanya. Aku hanya terdiam Mungkin sedikit kaget. bagaimana ini pikirku.
" Apa itu nggak ganggu dia Mas enggak usah aku naik bis aja jawabku lagi.
" wes lahh... kamu nggak usah sungkan sama dia. dia udah kayak adikku sendiri kok. kalau adikku Ya sama aja masnya kamu kan?" katanya sambil tertawa kecil.
" nanti aku bilang lagi sama dia lagi, kayaknya sih kalau nganterin kamu aja dia bisa."
" Nanti kalau dia mau, tidurnya di rumah mbah saja.?"katanya lagi. aku hanya diam sambil melipat bibir ku.
" Nanti biar kamu berangkat sama Mbak mu?" katanya. pikirku tadi aku akan berangkat berdua saja dengannya? aku hanya mengangguk kecil.
" Tapi apa nggak kelamaan mas kalau dia pulang sama Ayu? apalagi sampai Nganterin aku ke rumah calon mertuaku?" kataku kepadanya kemudian dia tertawa.
" Ayu... Ayu? kok calon mertua sih!? Ya mertuamu lah wong kamu sudah nikah sama Linggar?" katanya mengingatkan. aku hanya tersenyum.
" iyaa mas, lupa...hehe?"
" Nah kebetulan masnya datang?" kata Mas mandi sambil menghampiri mas Sakha.
" Ada apa ini katanya sambil menatap kamu berdua heran. Mas Bandi terus-terus kamu kepadanya.
" Anu Mas saya ya besok pagi kalau nggak nanti malam harus pulang ke Salatiga. Saya mau nitipin Ayu sama Mas Sakha. ya 2 hari dari sekarang lah..., berarti hari Rabu besok?" katanya.
Kami berdua saling bertatapan.
" Loh pak, bukannya Ayu mau pulang sama Pak Bandi.?" katanya sambil menggaruk kepalanya.
" Dia dikasih liburnya itu H min dua hari. terus saya mau pulang karena Yang lain sudah menunggu saya di sana. besok masnya pulang bertiga sama Ayu juga istri saya katanya.
Dia hanya mengangguk kecil.
" bisa kan ya Mas tanya Mas Bandi lagi kepadanya.
" Sepertinya sih Bisa pak. tapi kalau hari Rabu sepertinya Sore, kalau nggak siang Ay aku bisa antar kamunya. ada janji sama Pak Kapolres soal nya?" katanya lagi.
" Oohhh yaa gak apa-apa. mungkin Ayu juga mau luluran terlebih dahulu di salon? perawatan gitu?" kata Mas Bandi sambil tertawa lebar. aku yang ditatap mereka berdua menjadi sedikit malu.
" Apaan sih Mas, ngomongnya kok aneh gitu?" elak ku.
" Yaa wajar lah, lumrah itu. dulu mbakmu juga begitu pas mau nikah sama Mas mu ini. luluran Segala?" katanya sambil tertawa geli.
Aku menatapnya Sekilas. dan dia berusaha menyembunyikan tatapannya yang seperti ingin mengatakan sesuatu dari Mas Bandi.
" Kalau bisa ajak sekalian Mira Mas buat teman Ayu di jalan?" kata Mas Bandi lagi.
" Bukan Enggak Boleh mas... ehh pak??" katanya sambil tertawa meralat kata-katanya.
" Ya silahkan kalau mau manggil saya dengan sebutan mas. kita juga sudah seperti keluarga kan?" kata mas Bandi. dia hanya tersenyum kecil.
" Bukannya saya melarang Mira untuk ikut, tetapi Kylie nggak ada yang menjaga. Mbak Surti lagi pulang ke Surakarta?" katanya memberikan alasan.
" Enggak apa-apa kan Ay?" tanyanya sambil menatap penuh arti kepadaku. aku hanya mengangguk pelan.
__ADS_1