Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 17


__ADS_3

" Pacare kali ya pak??" kata mbak Asih menanyakan perihal Perempuan yang bersama mas Sakha Semalam.


" bukan urusan kita Bu. ya biar saja, namanya juga single ya bebas mau berhubungan dengan siapa saja?" jawab Mas Subandi yang sedikit tidak suka aku dengar.


jujur aku merasa cemburu terhadap mas Sakha.


di satu sisi aku sedang mempertimbangkan statusnya yang duda Jika bersamaku.


Dan di satu Sisi kenyataan yang lain, dia sudah bersama orang lain yang tak kukenal. Dan Sial bagiku, perempuan itu terlihat lebih sempurna dari ku.


aku merasa insecure terhadapnya ataupun kenyataan seperti ini.


Aku hanya Diam berdiri di belakang Mbak asih saat mas Sakha keluar dari mobil yang dia pakai semalam.


Jujur aku pikir sebelumnya, dia adalah duda yang biasa-biasa saja.


Namun kenyataannya dia di luar dari ekspektasi ku.


Dan Dia menjelma menjadi seseorang yang luar biasa, aku merasa tidak pantas memiliki perasaan terhadapnya lagi.


mungkin ada baiknya jika aku tak terlalu berharap, ataupun berangan-angan bersamanya. lebih baik aku mundur teratur dan tak terlihat. daripada kalah sebelum berperang.


Dia tampak tersenyum kepadaku yang ku tanggapi biasa saja, kemudian Mas Subandi dan mas Sakha pergi meninggalkan Kami.


Tetapi anehnya perempuan yang semalam tidak ada di dalam mobil bersama Mas Sakha.??


*******


" mobilnya bagus e mas??" kata pak Subandi kepada ku sambil tersenyum. aku melirik kepadanya Sambil tertawa kecil.


" Mobilnya teman pak, cuman minjem.??" jawab ku.


" ya mau mobilnya Temen apa pacar ya gak apa-apa??" katanya dengan nada meledek ku.


Aku hanya tertawa lepas kepadanya.


Setelah kami mengunjungi beberapa toko furniture. di mana biasanya Pak Subandi menitipkan barangnya, kami berjalan pulang.


" ya hallo Vi, Sebentar lagi aku jemput kamu. ini aku masih arah pulang ke rumah??"


" Iya nanti aku langsung ke hotel, ini baru aja kelar??" kataku lagi menjawab pertanyaannya dari telepon.


" Iya aku cuman nganterin Pak Subandi, lalu balik hotel.??"


" sekitar 30 menit lagi, Aku selesaikan semua??"


" ya sudah...bye??" kataku sambil mematikan ponsel ku.


" Siapa Tho mas??" tanya Pak Subandi kepadaku.


Aku menoleh kepadanya.


" yang punya mobil Pak??" jawab ku.


"oh Mbak yang semalam itu tho??" katanya.


" Yang mu tho mas??" katanya terdengar menyelidik.


aku hanya tertawa.


******


" aku kok penasaran ya Mas sama kamu??" tanya Eko kepadaku. Aku menoleh kepadanya.


" penasaran gimana,? apanya??" kata ku heran.


" ya selama ini aku nggak pernah tahu kamu deket sama siapa atau telepon-teleponan sama siapa selain sama anak-anak dan mantan istrimu. kok tiba-tiba ada Mbak cantik yang datang nyamperin kamu!?"


" iri Aku mas sama kamu!?" katanya dengan nada jujur dan polos. aku tertawa karenanya.


" kayak gitu kok di iriin??" jawab ku


" ya ibaratnya kamu itu diam-diam menghanyutkan, gak pernah kelihatan rame. tahu-tahu, Wuahhhhh!!?" katanya. sambil menggerak-gerakkan tangannya.


aku kembali tertawa.


" heeh je mas. selain Ada yang iri kayaknya ada yang patah hati amargo dirimu??" sahut Noval dari dalam kamarnya.


" Ngarang kamu, mana mungkin ada yang patah hati gara-gara aku!?"jawab ku.


" emang aku kenapa??" kata ku tidak mengerti.


kemudian Noval menghampiri kami.


"kamu ingatkan si Indah? kasir minimarket itu. yang indekos di belakang. kalau enggak salah dia masih saudaranya Pak Bandi!?"


" terus maksud kamu apa??" tanyaku heran.


" sekarang sifatnya berubah Mas sama kita-kita??"


" berubah bagaimana? emangnya dulu dia bagaimana ke kamu?" tanyaku heran.


" ya kalau dulu dia kelihatan ramah sama kita, sekarang ketus. ketemu di jalan aja buang muka?" katanya sambil tertawa kecil.


" Dia jijik kali sama kamu Vall??" sambar Hakka kemudian. dan kami tertawa kencang karenanya.


" Sembarangan!!?" katanya terdengar sewot.


dan kami terus tertawa dengan candaan yang semakin menjadi-jadi.


******


" Mas, Minggu depan kita suruh meninjau ke Sleman lagi??" kata Ikmal kepadaku.


" Haahh... siapa yang bilang??" Tanya ku kepada-nya.


" Eeee... gak percaya tho, Tadi pak Budiman bilang sama aku. malah kalau ketemu mas, Mase di suruh ke ruangannya??"


aku hanya mengangguk kecil.


aku mengangkat ponselku yang berdering, rupanya dari Estu.


" Yaaa Estu,ada apa??" tanyaku pelan.

__ADS_1


" Sakha, kamu bisa pulang ke Jakarta nggak??" katanya.


" Haahh, Ada apa emangnya. Ada apa dengan anak-anak??" tanya aku sedikit panik.


" susah jelasinnya sekarang, Aku juga bingung??" katanya.


" ya tapi ada apa, kenapa." kata aku sedikit keras.


" pokoknya kalau bisa kamu pulang dulu satu atau dua hari ke Jakarta??" pinta nya.


" Iya, tapi ada apa.??!"


" Apa se Urgent itu keadaannya??" tanyaku lagi.


" Arcel Sakha, kata dokter dia harus dioperasi??"


tiba-tiba perasaan dan pikiranku menjadi tidak karuan. aku panik mendengar kata-kata operasi.


apalagi menyangkut nama anakku yang kecil.


Ada apa ini, kok tiba-tiba. kenapa dia kenapa harus dioperasi apakah parah, Bagaimana keadaan nya?? pikirku Rancu.


" coba dijelaskan pelan-pelan Estu,??" kataku mencoba tenang. Dia terdengar diam, sesaat kemudian Isak tangisnya pecah. jujur aku semakin panik.


" 2 hari yang lalu, badan Arcel panas. aku pikir dia demam biasa.?"


" Aku cuma kasih obat flu sama dia, di hari kedua dia mengeluh sakit di perutnya dan menangis nggak berhenti.?"


" Aku panik dan langsung membawanya ke rumah sakit dan kata dokter sekarang Arcel harus segera dioperasi." katanya sambil menangis.


" emang kata dokter dia sakit apa?" tanyaku.


" nggak tahu, aku takut Mau tanya-tanya??" katanya sambil terisak-isak.


bagaimana ini pikirku, aku harus bertanya kepada siapa lagi. tidak mungkin aku bertanya kepada mantan mertua aku, jika menghubungi dokternya pun pastinya aku disuruh datang langsung.


mana aku disuruh terjun ke lapangan di Sleman


Bagaimana ini..


********


" Ya Livi, aku pinjam uang kamu dulu. Aku butuh pegangan jika sewaktu-waktu ada keperluan mendadak??" kataku kepadanya di telepon.


" Keuangan ku tidak seperti dulu lagi Livi, apalagi simpanan ku kemarin aku pakai untuk modal usaha. kan kamu tau?!"


" Nanti aku ceritakan kalau kita ketemu."


" Aku butuh pinjaman. kamu ada kan??" tanyaku kepada nya.


" Ya kalau ada segitu?" lama aku terdiam mendengarkan nya berbicara.


" Oo..ya sudah. kalau kamu gak ada ya cukup bilang dari tadi. Gak perlu kamu tambah dengan menyangkut nyangkut kan keluarga aku?" kataku menahan emosi.


" Atau kamu menyangkut kan dengan Estu atau keluarga nya.!?" kataku.


" Aku ini seorang ayah,yang patut bertanggung jawab sama anak-anak nya. wajar jika aku merasa perlu bertanggung jawab penuh!?"


" Kalaupun nanti kita punya anak. aku punya anak dari kamu. Aku akan melakukan hal sama seperti ini jika keadaan nya aku seperti sekarang ?!" tekan ku.


" Yaa Udah lah, aku gak mau malah berantem sama kamu. Jujur aku malah tambah pusing!?" kataku.


" Ya udah yaa... maaf ganggu makan siang kamu??" kataku sambil menutup saluran telpon ku dengan Livia.


*******


" Kamu ngapain, nyuruh dia datang ke sini!!?" kata bapak dengan suara yg tinggi. dia marah kepadaku.


" Mung urusan Arcel mah sepele!!"


" Gak perlu bawa-bawa dia, emang dia punya apa sekarang!!" katanya sambil membalikkan badan membelakangiku.


" tapi gimana pun dia itu Papanya Arcel Pak??"


" Estu gak mungkin bertindak gegabah sama hal yang menyangkut keselamatan anak-anak.??" kataku.


" aku tahu, tapi nggak perlu lah sampai bawa-bawa dia.?"


" masalah ini selesai, Bakal beres. gak usah sampai dia campur tangan.!"


" Tapi Pak??" jawab ku.


" Aku itu gak sudi melihat mukanya, Aku muak sama dia. harusnya kamu ngerti!!"


" apa mampu dia membayar semua ini sekarang, berapa sih sisa gajinya.?!"


" kamu kok masih saja Bela dia!!"


kata yang terdengar marah kepadaku. aku hanya diam memperhatikan bapakku itu.


" udah tho Pak, gak usah marah-marahin Estu??"


" Dia itu bingung harus bagaimana, wajarlah kalau Keringetan si Sakha?". kata ibuk sambil memegangi bahu ku.


" dia juga nggak bakal lama di sini?"


" paling cuma 2 hari dia di sini, udah itu ya pergi.?"


" Apa masih kurang jauh dia sama Estu sekarang??"


" anakmu ini udah lakuin apa maunya kamu lho, cuma gara-gara ini. kamu marah besar. seolah-olah dia masih membela Sakha.?"


lanjut ibuku kemudian. bapak yang masih terlihat marah hanya diam memperhatikan ibuk. lalu pergi meninggalkan kami.


********


Aku sedikit menangis sambil memegangi tangan Arcel yang sedang tertidur.


Pikir ku serba Salah, aku harus menuruti kemauan bapak. di satu sisi sakha adalah ayah dari anak-anakku.


aku sudah menuruti semua perintah bapak. aku mengorbankan keluargaku, Rumah tanggaku, keinginanku dan juga keinginan Sakha dulu.


mungkin dulu kalau bapak tidak banyak mempengaruhi Kehidupan ku. Walaupun sakit, mungkin aku mau melupakan kesalahan sakha demi anak-anakku.

__ADS_1


Semua kulakukan, demi membalas jasa pada Bapak yg terlanjur kecewa terhadapku.


******


Sakha datang kemudian memeluk anaknya, dia memandang kepadaku. raut mukanya gusar, namun tak ada marah di matanya.


Dia hanya diam. Saat melihatku menangis.


mendatangiku dan memelukku perlahan.


tangisku semakin menjadi.


" It's okay. he will be fine?" bisiknya pelan.


Saat aku mulai tenang, dia menyodorkan sebotol air mineral kepada ku. dan aku meminumnya.


" kata dokter, Arcel Mengalami Hernia??" kata ku menjelaskan.


" Sekarang Dokter sedang menunggu perkembangan Arcel."


" Jika tak memungkinkan,dan tak kunjung membaik. Arcel harus operasi?" kataku sedikit terisak.


Dia Tampak Tenang mendengarkan.


" Yaa sudah, semoga arcel segera sembuh dan tidak harus dioperasi.?" katanya kemudian menenangkanku.


*****


" Yaa Hallo ko, kenapa??" kataku menjawab telepon dari Eko. rekan kerjaku.


" Apa, surat panggilan dari KEJARI JAKARTA??" kataku terdengar kaget.


" coba kamu buka kamu baca isinya apa??" Pintaku kepadanya.


" Senin besok di minggu depan tanggal 8. sebagai saksi di persidangan siapa??" tanyaku.


" Apa Ignatius Rudianto??" kataku .


Kemudian pikirku melayang kepada Rudi, yang masih kakak sepupu dari Livia. kenapa dia,ada apa


bukannya Sekarang dia sedang sakit??


dia melakukan apa, Korupsi apa?? pikir ku.


" Lalu bagaimana ini? minggu depan aku harus ke Jogja. sedangkan aku dapat Panggilan Dari KEJARI TIPIKOR.??" kataku bingung.


" Coba kamu diskusikan ini sama pak Budiman ya ko, aku baiknya gimana. Sekarang kan aku sedang ambil cuti dua hari. nyambung Sabtu Minggu.?"


" Rencana ku Minggu langsung ke Jogja??"


" ya sudah, aku tunggu infonya ya Ko??" kataku kemudian setelah mendengar penjelasannya.


******


" Apa.tersangka korupsi,??"


" penggelapan dana 1,3 M??" kataku heran.


" Iya aku kan cuman pelaksana lapangan, Aku nggak tahu duit dari atasannya itu berapa cuman aku salurkan dana sesuai perintah yang tertulis di berkas kerja?" Kataku menjelaskan.


"kemarin kamu gak cerita tentang dia??" Tanyaku kepadanya.


" bukannya dia sedang sakit sekarang??"


" Diabetes sama jantung??"


" Apaaa... istrinya gugat cerai!?" kataku kaget sambil terus memegangi ponsel yang tertempel di telingaku.


Aku sedang menelepon Livia.


" Anakku, iya semoga di baik-baik saja dan tidak harus dioperasi.?" jawab ku.


" mungkin karena loncat-loncatan atau main sama Aa nya bisa jadi karena berteriak ke kencangan. Namanya juga anak anak??" jelas ku.


" Kalau kata dokter sih namanya Hernia, kalau bahasa kampung mah turun berok??" kata ku.


" Iya, kalau orang dulu paling cuma di bawa ke tukang urut??" lanjut ku.


" ya mungkin karena Estu Panik sama anaknya.?"


" Biasalah kalau ibu-ibu begitu?"


" hmmm... harusnya Minggu aku pulang langsung ke Jogja. tapi hari Seninnya aku dapat panggilan dari kejaksaan. ya paling menunggu setelah sidang gimana??" kataku sambil menghela nafas.


" Aku juga belum tahu mau tinggal di mana?"


" Gak mungkin juga aku tinggal di rumah sakit, atau di rumah mantan mertuaku??" kataku sambil tersenyum.


" kok malah bilang ke enakan, aku yaa enggak bakal kerasan. terlalu diperhatikan seperti tahanan??"


kataku sambil sedikit tertawa.


" yang kemarin itu nginep semalam karena Anaku Sakit.?"


" Udah lama sihh??" kataku.


" Hahaha... ya enggaklah aku tidur sama anakku??"


" ketemu aja buang muka, apalagi disentuh.?"


" tapi nggak tau juga Kalau gelap??" Kataku Sambiltertawa lepas.


*****


Aku mendengarkan semua apa yang dia bicarakan. Rupanya dia masih berhubungan dengan perempuan itu. atau malah mungkin sekarang mereka sudah bebas berhubungan.


masih ada perasaan sedikit cemburu karenanya. aku kembali teringat perlakuannya terhadapku beberapa tahun yang lalu.


aku sakit hati, cemburu diduakan olehnya. sampai-sampai Dia meminta untuk berpoligami.


namun ku pikir sekarang, untuk apa aku masih memendam perasaan cemburu terhadapnya. toh kami sudah bercerai.


dia sudah bebas melakukan apa yang dia mau, atau berhubungan kembali dengan perempuan itu atau mungkin dengan perempuan lainnya.

__ADS_1


__ADS_2