Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
episode 122


__ADS_3

Aku segera bergegas keluar dari dalam mobil masuk kedalam rumah.


Di ruang tamu Livia sedang duduk sambil memegang Perutnya itu. Dia menangis merintih. seperti menahan sakit.


Kylie yang menunggunya juga tampak menangis melihat Mama nya seperti itu.


" Kamu Kenapa, apa yang sakit!?" kataku panik.


" Perut aku Sakit?" katanya sambil menangis kecil. Aku semakin panik karena nya.


" Ayo kerumah sakit?" kataku Sambil memapah nya ke dalam mobil.


Sedangkan Kylie masih saja menangis meskipun berusaha di tenangkan oleh pengasuh nya itu. Dia di gendong oleh pengasuh nya.


Kylie Menangis keras, seakan-akan ingin ikut dengan ku.


" Mbak cepat kunci rumah nya, lalu naik ke mobil!!" kataku sedikit berteriak.


" Kamu tahan yaa...!!" kataku Kepada Livia yang terus menangis kesakitan.


" Mbak, tadi ibu jatuh apa bagaimana!?" tanyaku pada pengasuh Kylie itu.


" Enggak Pak, ibu enggak kenapa-napa kok tadi?" katanya.


" Makan apa dia!?" tanyaku lagi sambil terus menyetir.


" Ibu kan tadi makan Online pak. malah belum makan malam!?" jawab nya. Aku langsung menatap Livia.


" Kamu minum apa Livia!?" tanyaku padanya.


" Aku enggak minum apa apa Sakha!?" jawab nya sambil menahan sakit.


Begitu sampai di ruang UGD Hospital nya, aku langsung meminta bantuan kepada perawat yg berjaga.


Livia langsung dibawa masuk ke ruangan.


Aku, Kylie dan pengasuh nya menunggunya di luar ruangan.


Tak begitu lama lah, sampai akhirnya Livia di pindahkan ke ruangan lain. Aku mendampingi nya yg terlihat lemas. sedangkan Kylie tertidur di pangkuan pengasuh nya itu. jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Livia harus menginap malam ini di R


umah Sakit.


**


" Udah bangun?" sapa ku pada Livia saat aku membuka mata.


Aku tertidur di sisi tempat tidur Livia. Dia menatapku.


" Mana Kylie?" tanyanya.


" Semalam aku Antar dia pulang pas kamu Udah masuk Ruang Rawat inap." kataku sambil menggeliat.


Aku berdiri, beranjak ke kamar Mandi untuk mencuci muka.


" Sakhaaa... Buruan. Aku juga pingin pipis ini?" tak lama aku mendengar suaranya itu.


Aku bergegas menghampiri Livia. Dia mengangkat kedua tangan nya seolah minta tolong.


Aku menjaganya sampai dia masuk ke kamar mandi.


" Pagi Bu..?" Sapa sang dokter Kepada Livia sambil tersenyum. Aku mendengar nya dari kamar mandi yang tengah menggosok gigi ku. buru buru aku keluar setelah nya.


" Bapak suaminya ibu ini?" tanyanya kemudian. Aku hanya mengangguk.


" Besok-besok tolong dijaga ibunya ya pak sampai Hpl nya selesai kalau bisa?" katanya. aku hanya mengangguk kecil.


" Maaf Dok, Istri saya Kenapa yaa, Bagaimana dengan kandungan nya?" tanya ku.


" Yaa.. kondisi kandungan ibu sebenarnya kuat. tapi memang semalam tadi itu, ibu mengalami kontraksi.?" katanya.


" Loh dok, Bukan nya usia kandungan nya belum cukup Umur? Kenapa bisa sampai kontraksi?" tanyaku lagi.

__ADS_1


" Ya bisa saja pak, selain gangguan dari luar. Semisal salah mengkonsumsi makanan atau obat bisa juga dari kondisi psikis Ibunya yang mungkin terlalu banyak berfikir, Stres mungkin?" katanya.


Aku dan Livia saling pandang. Lalu aku mengangguk kecil.


Sebelum dokter nya pergi tadi, dia berkata jika Livia sudah boleh pulang nanti Sore.


Aku memandang Livia lagi yang terdiam.


" Livia, tolong.!" kataku.


" Aku ingin kamu menjaga kondisi kesehatan kamu, Aku tahu akulah yang salah. tapi tolong jangan Stres Dulu!?" pintaku.


" Gimana caranya biar aku baik baik aja. Pura pura gak tau sama trouble yang kamu bikin!?" katanya menjawab ku. Aku menatapnya terdiam.


" Livia, setidaknya kamu jangan terlalu berat mikirin masalah ini?" kataku bingung sambil mengusap muka ku.


" Kamu pikir ini masalah ringan yang biasa saja... Begitu!!?" katanya sedikit menekan ku.


Damn!! kataku pelan. kesal pada diri sendiri. Harus nya aku bagaimana? pikirku Buntu.


Tak lama kemudian ada telepon dari Estu. Aku memandang Livia, lalu sedikit menjauh dari Nya.


" Kamu gak baca pesen nya aku Kha?" katanya dari sana.


" Maaf, aku belum sempat buka buka ponsel." kataku.


" Kenapa, ada apa?" Tanya ku.


" Coba kamu cek pesan nya?" kata Estu padaku


" Emangnya kamu gak bisa langsung bilang!?" kataku sedikit kesal.


" Kan ini kamu lagi ngomong sama aku!?" kataku lagi.


" Ya udah lah kalau kamu gak Bisa!" katanya juga terdengar tinggi. sepertinya juga marah.


" Apa... Apa?" Kataku namun sambungan nya keburu di putus.


Aku menghela Nafasku sedikit keras. lalu membuka pesan dari Estu itu yang memintaku untuk menelepon Lio juga hari ini Lio gak mau Sekolah, menunggu telfon dari ku.


Benar saja, Terdengar Suara nya yang kesal kepada ku. Aku meminta maaf padanya lantas minta berbicara dengan Lio.


***


" Kamu mau ganti baju dulu enggak?" tanyaku pada Livia


" Semalam aku sempat ambil Ganti." kataku sambil menyerahkan kantong plastik berisi beberapa potong baju Milik nya.


" Dalaman nya mana?!" katanya kemudian sambil mengacak Baju nya itu.


" Ngapain bawa ganti kalah Daleman nya gak ada Gini!" katanya seperti kesal.


" Kan kamu cuma nginep Semalam ini, gak apa-apa kali kalau gak ganti. kan di rumah bisa langsung ganti?" kataku.


" Mending gak usah ganti kalau begini!?" jawab nya kesal Sambil melempar kan bungkusan baju nya.


" Terserah kamu!?" jawab ku kesal dan capek. Lama lama darah tinggi ini aku ngadepin dia pikirku.


**


Setelah Di dorong sampai ke pelataran lobby rumah sakit ini. Aku lantas di Papah oleh Sakha masuk kedalam mobil.


Dari tadi dia Diam setelah pertikaian Kecil itu. Aku memang sedikit Kesal padanya yang Berbicara ini dan itu Kepada ku. berkedok menjaga kandungan ku.


Seakan akan dia menuntut aku harus baik baik saja sedangkan dia yang Menyebabkan ini semua.


Lantas aku juga diam.


Sesampainya di rumah pun, kami masih Sama sama diam. Dia tampak sedikit lesu namun masih sempat menyapa Anak nya itu. Kemudian dia membuat kopi untuk nya sendiri.


Yang aku rasakan memang tidak enak di kondisi yang seperti ini. Dia terus diam dan entah sampai kapan.

__ADS_1


" Aku mau ke Rumah Ibu nya Estu dulu?" katanya selepas mandi. Aku memandang nya yang masih mengenakan pakaian nya dari semalam.


Aku diam.


" Nanti sesudah selesai, aku balik lagi kesini?" katanya


" Kalau repot mah gak usah!" kataku Datar


" Kan tadi anakmu juga merengek minta kamu temani!? kataku lagi.


Dia Hanya diam menatap ku. Sorot matanya sedikit tajam.


Dan dia pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Aku jadi kesal Sendiri karena nya.


Rasanya ingin sekali mengacak-acak rambut nya atau menjambak nya sekalian.


Kenapa dia tidak peka sama sekali, atau setidaknya menjawab perkataan ku. Aku benar-benar ingin Adu mulut dengan nya. Ribut atau Berantem sekalian de nya.


***


Entahlah, apa yang terjadi pada Livia. aku belum sempat menanyakan nya pada Sakha. Males juga.


Sakha Sendiri dari tadi datang lebih banyak diam. Hanya tersenyum dan tertawa kecil kepada dua anaknya.


jika di tanya oleh orang lain pun hanya menjawab seperlunya. atau saat berpapasan dengan ku juga hanya menatap sekilas, datar dan sedikit masa Bodoh.


Mungkin saja dia lelah, tapi kan tak harus begitu?


Aku sekarang istrinya lho? dan aku sedang mengandung anaknya, masa dia tidak perhatian sedikit pun sama Aku. Pikirku seperti itu.


" Estu, tadi Lio belum makan siang Apa?" tanyanya padaku. Aku lantas menatap nya bias.


" Entahlah?" jawab ku sekena nya. dan seketika wajah ny berubah menjadi Geram karena jawabanku.


" Kalau dia sakit,Kamu juga kan yg repot?!" katanya.


" Aku sibuk tadi, mana Sempat aku merhatiin dia. lagian kalau dia lapar pasti minta Sendiri sama mbak nya?" jawab ku.


" Iya aja kalau di rumah sendiri?" katanya.


" Lah ini kan cuma rumah nenek nya, ya sama saja kan?" kata ku menjawab nya. Dia menatapku lebih tajam.


" Kamu harus nya tau, kalau dia itu masih kecil. apa apa juga masih harus di atur sama yg lebih tua. diatur jadwal maka nya?" katanya sedikit kesal.


" Lioo..!!" kata ku lantas memanggil anaknya itu dengan kesal. tak lama Kemudian Lio anak nya itu datang menghampiri ku.


Aku Sengaja memarahi nya di depan Sakha. Anakku itu menatap buku dengan perasaan takut dan mulai menangis.


" Kamu kenapa sih Estu!!" kata Sakha sambil menarik anak nya itu yang menangis. Dia menatapku tajam.


" Akutuh ngasih tau kamu, gak lantas marah sama anaknya!!"


" Kamu bilang kalau gak suka aku tegur!!" katanya lagi.


" Apasih susahnya ngomong iya aja sama aku atau jawab aja langsung kalau kamu gak setuju sama omongan ku.!!"


" Kamu gak harus marahin anak nya!!" katanya kesal.


" terus baiknya Gimana!!?" kataku kesal.


" Akunlagi edukasi dia, ngasih tau dia?!' kataku nggak mau kalah.


' Kamu bukan edukas ataupun ngasih tau... kamu itj marah marah!!" katanya sedikit kencang.


Lio semakin menangis di pegangan tangan nya itu.


Tak lama kemudian ibu datang melerai kami.


" Kalian kenapa sih? kok mesti mbengok - mbengok gini( Teriak teriak) kata ibu ku.


" Enggak bisa di omonginBaik baik apa?" kata ibu kepada kami berdua.

__ADS_1


" Heran, Masalah sepele kok pada geger!?" katanya pada kami.


Kami berdua saling pandang dengan sengit. lantas aku pergj meninggalkan nya.


__ADS_2