Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 56


__ADS_3

" Gak Estu... Aku gak mau ngelanjutin hubungan kita lagi, aku Gak mau ambil resiko lagi." jawab nya.


Aku menangis lagi dan semakin memeluk nya kencang


" Aku gak ingin kehilangan kamu lagi Sakha, tolong aku!" kataku terisak Isak. Dan dia Hanya diam.


" Enggak Estu, Aku gak bisa jamin kebahagiaan Hati kamu. Aku begini dan pasti nya kamu tau aku?" katanya sambil berusaha melepaskan pelukan ku itu.


" Enggak Sakha. Aku maunya sama kamu." kataku penuh permohonan. tapi dia berusaha lagi melepaskan pelukan ku itu. kemudian dia berhenti setelah berkali kali mencoba nya.


" Aku mau nurut sama kamu, lebih menghargai kamu, mencintai kamu sama keluarga kamu. Aku mau memperbaiki diri buat kamu Sakha. tapi tolonglah jangan tinggalkan aku!!" kata ku.


" Kalau aku bilang, aku punya anak dari perempuan lain!? Apa tanggapan kamu?" katanya.


" Enggak, kamu bohong. kamu cuma bohongin aku kan biar aku lepasin kamu." kataku sambil menangis.


" Aku enggak bohong, Aku punya anak perempuan dari dia!!" katanya.


Seketika perasaan ku semakin hancur,Bagaikan butiran Pasir di pantai yang tersapu Angin.


Aku gak rela jika itu benar terjadi. aku gak rela dia punya anak dari perempuan lain. aku gak rela! Kata batin ku menjerit.


aku menangis sambil memukul dadanya kesal, menarik kaos nya itu berkali kali. Aku menangis Pilu, Semua Sakit menjadi satu.


seakan tidak merelakan nya untuk perempuan lain.


Dia menahan tangan ku itu.kaos yang dipakai nya terlihat koyak. Dia memeluk ku Erat.


Memebelai rambut ku, Lalu mencium nya.


" Maaf Estu. Aku gak tau kenyataan ini sebelumnya.!!"


" Aku Laki laki yang memang enggak pantas Buat kamu!" Katanya terdengar menahan tangisnya.


" Aku titipkan anak anak sama kamu. Tolong didik mereka, Jangan sampai mereka seperti aku!" katanya


Perasaan ku semakin Hancur. Rasanya seperti jatuh dari Atap gedung yang tinggi. Dan itu terjadi untuk kedua kalinya.


Aku menangis menatap Sakha. Dia terlihat menyembunyikan Air matanya.


Perlahan, dia melepaskan dekapannya. Aku tak rela, Dan tak sanggup lagi berpisah dengan nya.


Aku masih sangat mencintai nya. Mencintai nya Dalam kenaifan ku.


" Aku Cinta kamu Sakha, Tolong aku." Kataku menangis sambil menghiba kepadanya.


" Mira..Mira!!" katanya berteriak kepada adiknya itu.


" Hayu..!!" katanya sambil melepaskan ku.


Tangisan ku semakin menjadi. Dekapan ku semakin ku erat kan.


" Sakha...." kataku dalam Tangis.


" Jangan Tinggalkan aku sama Anak-anak.!" Kataku memohon dalam tangisan..


" Aa..." Kata Mira memanggil nya sambil ikut ikutan meneteskan air mata.


" Lepasin aku Estu....Lepas!!" katanya membentak ku.


Teriakannya itu membangunkan anak anak. Suara Danesh dan Lio yang menangis membawa kami masuk kembali kedalam kamar.


Dia menghela nafasnya yang berat sambil menatap ku.


****


" Aku harus membayar terapis di rumah. Ibu ku terkena kanker Sakha!" Katanya.


" Bayar biaya Rumah sakit, Obat, perawat di rumah dan yang lain.!"


" Aku anak tunggal baginya, siapa yang akan tanggung dia kalau bukan aku?!" katanya lagi.

__ADS_1


" Aku belum pernah melakukan Dengan siapapun Sakha selain kamu.! Aku berani bersumpah atas nama Tuhan aku!!" katanya dengan serius.


" Ya..ya.. yaaaa! terserah kamu sekarang mau bilang apa. kenyataan nya kan kita sudah selesai!" kataku Terdengar masa Bodoh.


Sejenak dia tertawa. aku memandang nya heran. menelan ludah ku sedikit.


" Ini... ini... Iniii !!" katanya sambil mengeluarkan ponselnya Lalu memberikan nya kepada ku. Aku menatap gambar bocah kecil di ponsel nya tersebut.


" Dia Anak kamu!!" katanya terdengar tegas.


Aku menatapnya tak percaya. Dia menatap ku balik dengan tajam.


" Aku capek membunyikan nya terus dari kamu!!! apa kamu pikir hidup aku cuma senang senang!!" katanya terlihat kesal.


" Dia anak aku? Mana mungkin?" kataku tak percaya kepada nya.


" Kamu gak bisa melihat nya Sakha. mata nya, Hidung nya. semuanya mirip kamu! Kamu masih bisa menyangkal nya?!" Katanya lagi.


" Tapi Rudi bilang kamu keguguran?" kataku heran.


" Itu Pengalihan, Pengalihan dari keluarga besar aku agar tak curiga aku punya anak dari kamu, Tau!!"


" Kalau dia anak aku, tunjukin ke aku dimana dia sekarang?!" kataku.


" Dia ada Di Surakarta. Di panti asuhan, Teman aku yang Rawat. Asalkan kamu tahu, anak kamu itu sakit dari Kecil. kalau bukan aku siapa lagi yang Urus dia?!" Kata nya.


" Kalau dia anak aku, kenapa kamu gak bilang sama aku dari awal. Kenapa kamu gak mau aku nikahi?!" Kataku.


" Kamu tahu kan om Vanus? Lalu bagaimana sih kita!!"


jawab nya.


" Aku mau memberi tahukan kamu pun, Percuma!!" katanya.


" Anak kamu dari kecil punya kelainan Jantung." Katanya terdengar Parau. Dia seperti ingin menangis.


" Bagaimana pun dia anak aku, walaupun kamu gak mau mengakuinya ataupun Keluarga besar aku."


Aku Hanya Diam.


Diam dalam ketidak ngertian ku ini, Pikirku kacau. Rasanya tidak Percaya. Saling beradu antara mungkin dan tak mungkin. Anak perempuan ku ini berusia di bawah Usianya Arcelio. Persis sama ketika Livia menghilang dari hidup ku.


Apa mungkin benar dia anak ku?


****


Aku tersadar dari lamunanku. Mataku memerah, menahan Rasa kantukku.


Lio memeluk ku. Sedangkan di sana, Danesh terlihat Tidur bersama Estu.


Sudahlah, pikirku sambil memejamkan mataku.


**


Sungguh lelah Rasanya, kataku sambil memandang mataku yang sembab ini di kaca.


Rasanya ingin sekali aku tak berangkat ke kantor. namun aku harus melakukan nya.


Kulihat Lio yang tertidur lelap di atas Dada Papa nya. Sakha sendiri tidur Mendengkur cukup keras, tak membuat Lio merasa terganggu.


Popok Lio yang terlihat penuh nya pun tak mengusik Sakha dari rasa letih nya.


Aku tahu, dia merasa lelah dengan semua ini. Lelah dengan ku dan semua masalah masalah kami. mungkin juga dia merasa lelah dengan hari nya.Kemudian Ponsel nya bergetar, ada panggilan masuk dari pacarnya itu, tak lama kemudian panggilan dari perempuan itu.


Aku menghela nafasku dan pergi meninggalkan nya.


Anak ku Danesh sudah terlihat lebih baik dibandingkan semalam. hangat di tubuh nya sudah berkurang. Dia sudah menonton kartun favorit nya sambil memegang crayon dengan buku gambar yang ada di hadapannya itu.


Pikirku jika nanti Sakha pergi meninggalkan kami, ya sudahlah. Aku tak bisa menahan nahan nya terus.


masih ada Mbak Yuti yang membantu mengasuh Kedua anak ku.

__ADS_1


Aku berpamitan kepada Mira. Mengatakan hal hal biasa, sambil mengucapkan maaf kepada nya.


Dia menangisiku, meminta maaf jika kakak nya berbuat kasar kepada ku. aku hanya tersenyum kepadanya. Lalu aku pergi.


" Mira... Teh Estu kerja Atawa kamana?" kataku Bertanya sambil menguap dan meregangkan badan ku.


" Uhun Aa.. teh Estu angkat Damel tadi teh." Jawabnya. aku melihat jam dinding. jam 09.30 pagi.


" nya Geus, Pang mandiken si Lio. Aa Arek mandi terus ka luar sakedeng." kataku sambil meninggalkan nya.


Ojek online ku berhenti di Alamat yang ku tuju tadi. Aku mengunjungi Livia di rumah milik Richard itu.


Aku menunggu nya membukakan pintu. Tidak lama kemudian dia membuka nya.


" Mama, ini Sakha. teman Livi." katanya kepada seseorang yang duduk di kursi roda itu. sejenak ibu tadi memandang Livia lalu memandang ku.


Aku menyalami tangannya yang terasa dingin itu.


Dia tersenyum kecil kemudian.


" Dulu Dia teman satu kantor Rudi ma??" kata Livia lagi.


" Ooo..teman nya Rudi. kok sekarang mas gak kerja??" tanya nya. aku hanya tersenyum.


" Saya sudah resign Tante. sudah keluar dari kantor." jawab ku.


" Loh kok keluar, Kenapa??" tanya nya. aku kembali tersenyum.


" Enggak sanggup Tante, kerja di kantor yang banyak tekanan." jawab ku sambil tertawa kecil.


" Ooo... ya sudah. sesuatu yang di paksa kan memang tidak enak??." katanya sambil tertawa kecil.


" Mas sudah berkeluarga??" tanya nya tiba tiba. aku menatap Livia sebentar.


" Saya Single dengan Dua anak Tante??" kataku jujur.


" Oohh, lalu mas punya hubungan apa dengan livi??" tanya nya seperti mengintrogasi.


Aku menatap Livia lagi.


" Mama..., kok tanya nya begitu sih." kata Livia sedikit berbisnis.


" Gak apa apa ya mas, lebih baik saya tanya daripada penasaran kan yaa??" katanya kepada ku. aku hanya kembali tersenyum.


" Iya Tante Gak kenapa-napa kok." kataku.


" Saya dekat sama Livia Tante." lanjut ku hati hati.


" Sudah berapa lama??' katanya lagi.


" Eee.... sudah lama saya kenal Livia. tapi baru berhubungan kembali sekarang." Jawab ku.


" Maaf ya mas, mas nya ini dekat sama livi sebagai apa yaa kalau boleh saya tahu?" tanya nya lagi.


" Mama... kenapa bicara seperti itu sih?" kata Livia pada ibunya.


" Livi itu gak terbuka sama saya masalah pacar nya sekarang sekarang ini.!"


" Dia tertutup semenjak tinggal di Jakarta ini, saya merasa aneh dan khawatir Sama dia." katanya.


" kan Livi sudah bilang ke mama kalau Livi sibuk kerja gak ada waktu buat yang seperti itu??" kata Livia Kepada ibunya. aku hanya tersenyum menatap keduanya.


" Yahh, dia selalu tanya kapan aku menikah? selalu begitu." kata Livia setelah mengantar kan ibunya kembali ke dalam kamar.


" Wajarlah itu." kata ku kepadanya. dia memandang ku.


" Ngomong ngomong Om Vanus mana??" tanya ku.


" Dia sedang ke Surabaya, Ada kerabat ku yang menikah di sana??" jawab nya. oohh, pantas saja dia berani mengundang ku kesini, pikirku.


" Mama terkena kanker payudara. sudah stadium 4. jadi harus tinggal di sini, agar lebih dekat dengan rumah sakit Kanker." kata Livia.

__ADS_1


aku hanya diam.


__ADS_2