
" Gimana kabarnya anak anak?" tanyaku Sama Sakha ketika sudah berada di dalam mobil. Dia menatapku sebentar kemudian memandang ke jalan lagi.
" Anak ku semuanya baik. Cuma yang paling besar kemarin kaki nya tersiram air Panas!?";Katanya seperti Di eja.
" Si Danesh??" kataku. dia menatapku lalu mengangguk kan kepalanya.
" Kok bisa??" tanya ku berbasa basi.
" Yaahh, kata eyangnya kemarin dia pingin bikin mie instan sendiri. Begitu airnya mendidih, gak sengaja gagang pancinya Kesenggol sendiri sama dia." katanya menjelaskan.
" Kamu ketemu mantan mertua mu dong?' tanyaku.
" He'eh, Danesh memang tinggal sama ibu. adiknya dia yang lelaki kan sudah punya rumah sendiri. jadi Misah?" jawab nya
" Dia jadi cerai sama istri nya itu gak sih?" tanyaku lagi.
" Gak tau aku, aku gak tanya tanya. takut ibu ngerasa gimana gitu. Tanya kabar Bapak Kardiman saja aku pelan pelan. takut ke singgung?" jawab nya.
Masih saja mikirin perasaan orang lain kamu tu Kha. pikirku sambil menatap nya.
" Livia, Nanti habis makan. Aku tidur di rumah kamu yaa??" katanya sambil tersenyum padaku.
" Aku tidur di kamar Mama juga gak apa-apa?"
katanya sambil tertawa kecil Kepada ku. aku menatapnya Faham.
Dan kemudian Tatapan matanya mengisyaratkan sesuatu Dan semakin Nackal.
" Kita lihat ntar aja. siapa tahu om Vanus nginap dj rumah.!" jawab ku Datar, yang seketika menghapuskan Senyuman nya itu.
Aku Begitu karena masih merasa Kesal.
" Oh, iya Kha. aku sudah bilang sama Maurice. nanti kamu yang ambil Kylie Minggu depan ya?" kataku Kepada nya.
" Kalau bisa, kamu cari pengasuh satu lagi lah buat bantuin Mira. bukan nya dia juga sibuk kursus sama sekolah Sekarang.?" tanya ku.
Dia hanya mengangguk. Aku sedikit memainkan jemari ku di lengan nya. Dia memandang ku.
" Pulang Dulu yaa? Makan nya nanti!?" katanya sambil sedikit tertawa kecil.
" Huuhhh!!" kataku sambil memukul lengan nya itu. dan dia semakin tertawa sedikit keras.
***
" Jadi orang tua kamu hanya tinggal Ayah kamu?" kata Om Vanus kepada ku. Aku hanya mengangguk.
" Sudah Berumur Berapa?" tanya nya lagi.
" Hampir 70 tahun Seperti nya om." jawab ku.
" Cuma selisih 15 tahun ya sama Saya." katanya.
" Ohh, masa iya om?. saya pikir om masih berusia 45 atau 48 tahun begitu." kataku Mencoba Berbicara lebih akrab dengan nya.
Dia memandang ku sambil tertawa terkekeh.
" Cucu aku itu sudah banyak, malah mau punya cicit?" katanya.
__ADS_1
" Itu, Anak kakak nya si Rudi yang paling besar kan kemarin Mantu di Surabaya." katanya. aku hanya mengangguk.
" Ehh, iya Kha. apa kamu sudah bilang sama mama nya Livia siapa kamu.?" tanya nya.
Aku hanya menggeleng pelan. Dia tampak menarik nafas nya. Aku sedikit bergetar karena nya.
" Sebelum dia koma, apa kamu pernah ngobrol sama dia?" tanya nya.
" Pernah om, Satu kali saya pernah ngobrol sama Mama?" kataku.
" Pantas saja, dia pernah ngomongin kamu sama saya waktu itu?" Katanya.
" Saya bilang saja kalau kamu memang Pacar nya si Livi, tapi saya gak Bicarakan hal yang lain.!" katanya penuh arti. aku hanya tersenyum menatap om Vanus.
" Livi... heii Livi!!! apa kamu gak buatkan teh buat suami mu ini!?'' Katanya sedikit berteriak.
Aku jadi merasa senang karena dia sekarang begitu Kepada ku.
Tak lama kemudian Lia datang menghampiri kami. Kemudian om Vanus mengulangi kata katanya itu kepada Livia.
Kami saling pandang Sesaat dan sedikit tersenyum.
" Ya sudah, aku tinggal kalian ya. aku mau kerumahnya si Richard.!" katanya kepada ku. Lalu aku berdiri, mengantar kan nya keluar rumah.
Sedikit Berbasa-basi untuk mengantarkan nya, yang kemudian di tolak nya itu.
Aku dan Livia saling bertatapan setelah Om Vanus itu pergi. Aku tersenyum kepadanya, yang di tanggapi nya dingin sambil pergi meninggalkan ku.
Aku berlari mengejarnya sampai kamarnya yang ada di lantai dua itu.
" Sakha, Mandi Dulu!" katanya sambil menghindari pelukan ku.
" Mandi sana ikh..Bau tau." katanya lagi.
" Berdua yuk.?" kataku merayu.
" Enggak.!" katanya sambil tertawa kecil.
****
Hampir jam sepuluh pagi, kami berdua tadi bangun dari tidur.
Mungkin karena Dia merasa Haus akan itu dari semalam. Hanya berjeda Sebentar, kemudian lagi dan lagi. Sampai serangan fajar pun beberapa kali??
Hampir-hampir seperti tak punya rasa Capek dia Itu. atau barangkali, mungkin Sakha tak punya Tali pusar Lelah akan hal itu.
Yang selalu membawa ku melayang, mencapai titik tertinggi Kenikmatan. Jujur, aku selalu puas di buatnya. Mungkin malah Addict.
Aku tersenyum menatap nya. Menatap lelaki ku, Ayah dari putri ku yang Cantik, Kylie- Sakha dan Livi.
Setelah dia masuk kedalam mobil. dia menatapku yang senyum senyum sendiri.
" Apa?!" tanya nya sambil memasukkan kopiahnya itu kedalam Dashboard mobil.
Dia baru selesai sholat Jumat dan ku tunggu di pelataran parkir masjid.
Aku mencium pipinya dan dia menatapku heran.
__ADS_1
" Apaan sih?? Aneh." katanya pada ku. Aku hanya diam tetapi masih senyam senyum sendiri.
" Sudah nih, ayo ke rumah sakit. gak usah senyam senyum, bikin ngeri aja!?" katanya kepada ku sambil sedikit tertawa.
" Ayok Pir, Jalan??" katanya kepada ku.
" Sialan.?" kataku Kepada nya sambil tertawa.
Aku memeluk pinggang nya sambil berdiri di samping ranjang Mama ku yang masih koma itu.
Meskipun kondisi nya sudah stabil, tapi mama belum bangun dari koma nya. Kata dokter sih Katanya itu kondisi Vegetatif.
Walaupun keadaan nya seperti itu, itu Pertanda baik baik saja, kami tak perlu khawatir berlebihan. yang penting Detak jantung dan aliran darah nya Normal.
" Maa.. Sakha pulang dulu ya. mau urus kerjaan di sana. Sekalian mau ambil Kylie. anak Sakha sama Livi.?" katanya.
" Nanti, kalau mama sadar. Sakha Bakal kenalin Kylie sama Oma nya yang Cantik ini?" katanya lagi sambil tersenyum.
" Mama disini yang baik baik ya, mama sama Livia dulu. Maaf Sakha gak bisa nemenin Mama saat ini??" katanya sambil duduk dan memegang tangan Mama.
" Sakha akan kirim Doa selalu buat kesembuhan Mama disini." katam sambil mencium tangan Mama.
Manis sekali pikirku. Aku pun merangkul nya, mencium Rambut nya itu.
" Kamu jaga mama ya, kalau ada apa apa telfon aku.?" katanya sambil berdiri di hadapan ku. Bersiap siap akan pulang kembali ke Jawa.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Dia mengangkat nya yang rupanya dari Adiknya itu. si Mira.
" Ya Hallo, ada apa Mir?!" katanya. Kemudian Tatapan nya terlihat panik sambil memandang ku. terdengar suara adiknya yang menangis.
" Ada apa??" tanya ku bingung. Apa yang terjadi, ada apa dengan anak nya arah Estu pikir ku.
" Sakha, ada apa?!" tanyaku kepada nya yang terlihat panik dan gugup itu. Dia hanya diam
" Sakha!!" kataku sambil sedikit mengguncang kan badan nya Beberapa kali. dia menatapku.
" Abah Ku masuk Rumah Sakit Livi. sudah tiga hari ini.!" katanya yang membuatku terdiam. Dia seperti nya Tampak berfikir.
" Terus Kamu mau pulang kapan! Aku ikut." kataku padanya.
" Gak usah, kamu gak usah ikut. jagain Mama saja.!" katanya.
" Aku bisa minta tolong sama om Vanus, Atau Siapa kek. Aku rasa mama juga mengerti.!" kataku sedikit Ngotot.
" Gak usah Livi, kamu disini saja jaga Mama?!" katanya.
" Aku ikut!! bentak ku.
" Kalau aku nggak ikut, kapan kamu mau ngenalin aku ke Abah kamu itu!?" Kataku sedikit keras. Dia menatapku.
" Tapi Mama juga butuh kamu Livi!?" katanya sambil menatap Mama ku.
" Aku tau Mama sekarang lebih baik dari kemarin, aku bisa minta tolong sama om Vanus. toh aku disana cuma semalam saja. aku bisa pulang naik Bus!" kata ku.
" Jangan terlalu berpikir yang macam macam tentang Mama ku!" kataku lagi. Dia hanya menatap ku.
Kemudian dia memegang tangan Mama, mengucapkan kata kata meminta izin.
__ADS_1
***
" Aa... Abah??" kata Mira sambil menangis sesenggukan dan memeluk ku.