
lantas aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
" Aku juga nggak tahu, harus gimana bikin hidup kamu itu enak?" kataku kemudian menjawabnya.
dia menatapku dingin.
" tinggalin aku?" katanya pelan.
" Aku enggak mau?" jawab ku.
" aku nggak mau ninggalin kamu dalam keadaan seperti ini.?" kata aku sedikit berat.
" oke setelah bayi ini lahir, aku serahkan dia sama kamu. biar aku sama Kylie. tinggalkan kami?" katanya.
aku menatapnya sinis.
" paling tidak, anak ini harus kamu susui selama 2 tahun?" kataku.
Dia menatap ku lagi. dengan sejuta pikiran nya terhadapku.
" Nanti aku harus kembali ke rumah mertuaku, keluarganya mencari ku?" kataku lagi pada Livia.
" terserah. kalau malaikat maut mencari kamu juga aku nggak peduli!" katanya sarkas.
Aku hanya tersenyum kecil.
" mungkin kamu nggak akan berasa apa-apa kalau aku pergi atau mati, tapi gimana dengan anak-anak aku. mereka masih kecil-kecil dan masih butuh figur seorang ayah?" kataku.
" anakku nggak butuh figur Ayah seperti kamu. yang punya banyak wanita di sana sini?!" katanya sambil menatapku tajam. aku merasa tersudut Sambil sedikit menganggukkan kepalaku.
" punya banyak wanita apa? Aku cuman punya kamu sama dia. kita menikah resmi dan aku menikahinya walaupun secara agama?" Kataku menjawab nya.
" oh kalau begitu, nanti kamu bisa menikahi Estu atau Ayu secara resmi setelah aku lepas dari kamu?" katanya sinis.
Aku juga tersenyum sinis kepadanya.
" kamu nggak usah berandai-andai dulu, karena itu masih lama buat aku?" jawab ku. matanya menatapku melotot seperti ingin menelan ku bulat-bulat.
" sudahlah, aku nggak mau ribut lagi sama kamu. itu nggak baik buat kandungan kamu. nanti kalau kamu terlalu membenci aku, anak dalam kandungan kamu akan lebih mirip sama aku?": kataku sambil tersenyum.
dia menatapku sinis.
" Aku pergi Dulu yaa? Besok aku ke sini lagi?" kata ku sambil buru-buru mencium rambut kepalanya itu yang langsung dihapus oleh jemarinya. aku tersenyum.
kemudian aku menghampiri Kylie. berpamitan kepadanya.
" Papa besok kesini lagi yaaa sayang. Papa ada urusan, mau kerja?" kataku.
" Tapi janji ya jangan bohong?" kata anakku terhadapku. aku hanya mengangguk kecil lalu mencium keningnya, gendong Ya sebentar sambil menciumi tubuhnya yang mungil. dia tertawa geli.
Yaaa Tuhan. betapa nikmatnya aroma tubuh anak ini. seolah menenangkan jiwaku yang sedang kusut.
kemudian aku pergi, diantar sampai depan pintu rumah oleh Kylie.
***
aku menatapnya tadi saat dia memperlakukan Kylie dengan begitu hangat dan sangat ke Bapak'an.
Aura anakku itu juga berubah menjadi sangat happy saat mengetahui bapaknya ada disini.
Sakha memang sangat lembut terhadap anak-anaknya, tak terkecuali anakku Kylie. dari ke 3 anaknya itu. semuanya mirip dengan Sakha. dan dari ketiga anak nya itu, rata-rata mereka memiliki sifat yang sama antara kakak dan adik.
Aku seperti dihadapkan pada tepian jurang, yang aku hampir jatuh.
Hanya ada satu tali yang sepertinya Rapuh. Aku tak mungkin bergantung pada tali tersebut.
Tali itu bagaikan Sakha yang tak bisa ku harapkan sifatnya berubah. Bagaimana pun aku bertahan juga pasti akan jatuh.
Lantas aku mendesah perlahan. rasanya dadaku terasa sesak karena nya.
Aku bingung harus bagaimana. Jika aku meminta bantuan Om Vanus lagi, rasanya tak mungkin.
__ADS_1
Sebelum ini pun aku berusaha untuk bercerai dari Sakha sebelum aku tahu aku hamil. Om Vanus pasti akan menertawakan aku.
Apalagi aku sekarang Sedikit tergantung pada Sakha secara finansial.
Tabungan ku yang tersisa hanya aku pakai kalau ada sesuatu yang mendesak.
Jika aku menuntut Cerai dari nya, pasti nya tabungan ku akan terpakai untuk pengacara.
Aku sedikit menghela Nafas ku.
Tiba-tiba Marco menelfon ku. Aku menatap ponsel ku yang bergetar itu, Dan berfikir jika?
Lalu aku berbicara dengan nya.
***
" Tadi apa saja yang kamu bicarakan?" tanya Estu pada ku. Aku menatapnya.
" Yang pasti isi nya tentang cacian da menyalahkan?" jawab ku. Dia terdiam.
" Sekarang mau apalagi kalau sudah terjadi?" kataku.
" Apa dia juga ingin??" kata Estu kemudian.
" Ya sudah pasti itu... Seperti kamu kan??" kataku. Dia menatapku lekat.
" Terus kamu??" tanya Estu.
" Terus gimana?? ya nggak bisa lah. kalian kan masih pada hamil?" Jawab ku.
" Denger yaa... Semisalnya kamu mau seperti itu juga. Aku gak akan melepaskan Siapa pun. Aku udah terlalu capek ngurus yg begini.!" kataku sambil melepaskan baju Koko ku selepas tahlilan tadi.
Estu menatap Ku lekat.
" Terus terang aku capek Estu. Aku sudah Lelah sama masalah Hati. Aku gak pingin hidup acak acakan lagi seperti Dulu?" kataku.
" Terus, kalau ayu Datang lagi Gimana??" kata Estu yang sepertinya sedang memancing ku.
" Kamu tahu jawabannya Estu. Gak perlu kamu tanya lagi!?" kataku sambil merebahkan tubuh ku di atas kasur.
" Udah sihh.. kamu ngapain juga matik matik api!?" kataku pada Estu.
" Paaa.... Lio tidur di sini yaa??" kata anak ku itu yang tiba-tiba masuk ke kamar. Aku menatapnya.
" Loh Emang nya kenapa?" tanyaku padanya.
" Kan Lio sudah besar, katanya mau Sunat. kok masih mau bobo sama Papa?" Kataku sambil mengajaknya ketempat tidur.
" Malam ini aja Paa. Lio kangen sama Papa?" katanya sangat manis
Aku menatap Estu sambil tersenyum kecil.
" Tanya sama Mama boleh enggak?" kataku. lalu anak ku itu menatap Estu, yang kemudian mengangguk kecil pada Lio.
" Terima kasih maa?" katanya pada Estu. lantas aku mencium kepalanya itu.
**
Hampir satu jam sebelum akhirnya Lio tertidur, Sakha dan anaknya itu mengobrol tentang apa saja. memang Sakha sangat dekat sama anaknya, tetapi Anak nya juga sangat segan terhadap Papa nya itu.
Aku menatapnya yang terlelap sambil memeluk anak nya itu. mereka berdua seperti udang yg saling melengkung.
Tiba-tiba ponsel Sakha Berdering. aku meraihnya dari tempat Charger nya. Ternyata itu dari Livia.
Semula aku diamkan saja, namun Ponsel itu terus berdering. Aku takut itu telpon penting dari Livia, Lalu aku Coba membangunkan Sakha dengan menggerakkan Badannya itu.
" Kha... bangun. ini ada telepon dari Livia?" kataku sambil terus mengusik nya.
Mungkin karena dia lelah jadi agak susah untuk di bangunkan.
" Kha.. ada telepon..Bangun Kha??!" kataku berulang ulang.
__ADS_1
Sakha membuka matanya yang berat itu. dia menatapku dengan tatapan mata yg sedikit kosong. Lalu aku menunjukkan ponselnya itu. Dengan cepat dia meraih ponsel nya tersebut.
" Yaa Hallo Livi..?" katanya sedikit berat.
lalu terdengar suara Livia yang sedang Merintih. Aku sedikit panik sambil menatap Sakha yang juga tegang
" Kamu Kenapa!?" tanya Sakha sedikit keras.
" Sakha... Perutku Sakit..." terdengar suara Livia sambil menangis.
Sakha langsung beranjak dari tempat tidur nya.
" Iyaa.. kamu tenang. aku segera Kesana!" katanya sambil bergegas mencari dompet dan kunci mobilnya itu.
" Aku mau ketempat Livia, aku takut ada Apa apa sama dia!?" katanya kemudian Kepada ku. Aku hanya menatap nya.
" Tolong besok kasih alasan dulu sama ibu atau siapapun yg tanya aku Yaaa Estu.!" katanya sambil memakai celana panjang nya.
" Nanti aku kabarin kamu!" katanya lagi.
" Besok kalau Lio tanya aku, bilang apa kek ke dia yaa?" katanya sambil bergegas keluar kamar.
Aku mengikutinya langkahnya yang terburu buru itu.
" Udah kamu tidur Aja.!?" katanya sambil mencium kening ku, lalu masuk kedalam mobil nya. dan meninggalkan ku.
Setelah dia pergi, ternyata ibu sudah ada di belakang ku. Aku sedikit kaget karena nya.
" Sakha mau kemana malam malam begini?" tanya Ibu.
" Itu Bu... barusan kakak iparnya telepon katanya Teteh nya sakit dan masuk Rumah Sakit." kataku beralasan.
" Bukan nya istrinya Sakha juga ada di Jakarta ini?" kata ibu yang tiba-tiba berbisik padaku. Aku menatapnya.
Aku lupa, Kalau ibu juga tau jika Sakha punya istri di Jakarta. Aku pernah bercerita jika Istri nya Sakha itu mantan selingkuhan nya. tetapi memang ibu belum tau kalau Livia yg kemarin datang itu istri Sakha.
Aku hanya diam sambil menatap Ibu ku itu.
" Besok kalau pakde tanya, jawab saja seperti itu Ya Bu?" pinta ku.
Dia hanya mengangguk kecil sambil berjalan kembali ke kamar nya. Aku sedikit menghela nafas ku perlahan dan kembali ke kamar ku.
Aku menatap Lio yang sepertinya menangis. Aku mendekati dan coba menenangkan nya.
" Papa mana maa?" katanya sambil merengek.
" Besok Papa mu Pulang kesini kok. papa lagi ada sedikit Urusan." kataku pada Lio.
" Mama Bohong, Papa pasti pulang ke Jawa.?" katanya sambil Menangis.
" Enggak kok, itu baju Papa juga masih ada di koper nya?" kataku menjawabnya.
" Nanti Mama coba telepon Papa yaa." kataku
" Kan sekarang sedang nyetir mobil, nanti malah ganggu kalau menelpon.?" kataku lagi.
" ini mama kirim pesan dulu sama Papa mu?" kataku sambil mengetik pesan untuk Sakha.
Aku menatap Lio yg masih menangis.
" Ini, Mama gak bohong kan? coba baca pesan Nya?" kataku Kepada Lio.
Anakku itu mengusap air mata nya. Sambil terbata bata dia membaca pesan yang ku tulis.
" Jangan nangis yaa.. nanti pasti Papa mu telpon kalau sudah sampa tujuan.!" kataku.
" Maa... Lio gak mau Papa ke Jawa lagi. papa kerjanya disini Saja?" katanya sambil merengek.
Aku menatapnya sambil mengelus rambut nya itu seraya tersenyum.
" Iya, nanti Mama bilangin sama Papa."
__ADS_1