
" Nuhun ya zis?" kataku sambil menyalami tangannya.
" Santai wae lah, Tapi keadaannya cuma kayak gini Kha??" jawab nya sambil mempersilahkan ku masuk kedalam kontrakan kecil yg di tinggali nya dengan Istri baru nya itu. Mungkin usianya Lebih muda dari Ayu.
Aku menyalami istri mudanya yang bernama Santi itu.
" Anak maneh Dua nya, Siapa namanya??'" tanya nya dengan logat Sunda yang tak tertinggal.
Sesaat aku menghentikan makan ku itu, menjawab pertanyaan nya.
" He'eh, dua. Nu pertama Danesh, Valdanesh Aufar Nu kadua Ganesha Arcelio - Arcelio manggil na??"
" Naha ngaran na eweh sunda na pisan??" katanya.
" Pan tukang na Ngaran saya??" kataku sedikit tertawa.
" Mantan pamajikan Jawa apa naon suku na??" tanya nya.
" Jawa.. Jawa Magelang??" Jawab ku.
" Naha meunang kamu kawin sama mertua mu dulu??" tanya nya lagi
Aku hanya menatapnya sambil tertawa-tawa.
" Alahhh...Sarua Edan na??" kata nya mengerti dan tertawa terpingkal.
Dasar kuda, kumpul nya juga dengan Kuda. pikirku.
Capek-capek aku di perjalanan, mencoba melupakan kejadian aku dengan Ayu kemarin, Rencananya bersiap untuk kesaksian besok di pengadilan.
Malah Sekarang aku mendekati kuda yang sedang kuda-kuda an. maklum saja, Azis mengaku baru beberapa Minggu menikah dengan istrinya yang sekarang.
Jadi berasa tidur di kandang kuda pikirku.?
***
Aku Bertemu dengan rekan kerja ku dulu, saat masih berada di Jakarta.
Persis seperti dugaan pengacaranya Rudi dulu, sekarang yang menjadi tersangka adalah mantan Atasan ku. Dia dulunya adalah tangan kanan mantan mertuaku. Bapak Kardiman Rahardjo.
Sekilas aku seperti melihat mantan mertua ku itu. tapi hanya sebentar, atau pandangan aku saja yang salah.
Aku menjalani Persidangan dan pemeriksaan oleh Badan pengawasan korupsi dan kepolisian.
Dan Sempat tertahan di kantor polisi selama 2 malam.
karena kondisi itu Aku tidak berhubungan dengan siapapun, segala milikku ditahan. baik ponsel ataupun dompet. Aku berbicara hanya dengan pengacara independen yang mendampingiku.
Seperti nya memang Ada oknum Yang mencari Cari Celah untuk menjadikanku sebagai tersangka. namun buktinya tidak cukup jelas.
setelah 2 hari itu aku dilepaskan, namun aku tetap di bawah pengawasan kepolisian dan pengadilan tindak pidana korupsi.
" Naha jadi na kayak gini Kha??" kata Azis kepada ku.
" Duka lah Zis, simkuring Lier??" jawab ku sambil mengacak rambut ku yang belum sempat ku potong.
" Maneh butuh Cekakan? Pang urang teangkeun nyah??" katanya.
( Kamu butuh Pegangan/ Jimat. aku cariin ya?"
" Teu usah ahh... teu kosi Zis, da urang mah nte salah. kur ngabaturan Atasan bareto nemuan jelma. Ceunah bayar utang, Kur kaos kitu masa arek si penjara??"
( Gak usah ahh...gak perlu Zis, Aku nya gak salah. cuma nemenin atasan ku dulu nemuin orang. katanya bayar utang, cuma seperti itu masa mau di penjara?)
Kataku sambil meminum kopi yang di sodorkan oleh penjual keliling itu. Kami duduk di tepi taman, yang memang ramai di kunjungi.
Azis sengaja menjemput ku, setelah pemeriksaan. Dia menyempatkan diri setelah mengantar Boss nya ke apartemen Simpanannya itu.
" Yaa hallo Ko??" kataku sambil berdiri dan berjalan menjauh dari Azis.
__ADS_1
" Surat apa lagi??" tanya ku.
" Kamu sudah buka??" lanjut ku.
" Iya buka aja, terus baca??" pinta ku.
" Kenapa mesti kamu kirim lewat gambar saja, ada apa emangnya??" tanyaku penasaran.
" Kok maaf sihh, emangnya kenapa??" kataku. dan sambungan telfon ku terputus dengan nya.
Tak lama notifikasi pesan masuk.
Sebuah gambar. aku klik dan ku baca isi surat pada gambar tersebut.
Aku diam, sedikit tak percaya.
Astaghfirullah haladzim. Memang ini semua akibat dari Dosa dosaku?? pikirku mencoba positif.
Aku di berhentikan dari pekerjaan ku. dengan alasan seringnya aku tersandung kasus Korupsi. Aku harus bagaimana ini?? pikirku. seketika Aku Merasa Dunia ku makin Runtuh, Runyam dan Membelit nya Segala Masalah kepada ku.
" Kha ada apa??" teriak Azis kepada ku. Aku hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun.
***
Setelah Rudi memakan Nasi Padang dengan lauk favorit nya itu, kemudian dia bersendawa dengan keras di hadapan ku. aku sedikit mengibaskan tangan ku, menghilangkan bau nafas dari mulutnya.
Dia hanya tertawa terkekeh.
" Makasih ya Broo, masih inget aja loe sama makanan favorit gue??" katanya sambil membersihkan sela-sela makanan di giginya.
aku hanya diam sambil menaikkan kedua alisku.
" Kenapa Lo??" tayaknya penasaran.
" Enggak, gue capek aja baru nyampe semalam??" jawabku menghindar.
dia hanya tertawa.
" Selebihnya, cuma keluarga gua, om Vanus sama adik gua Richard. lu masih inget dia kan?? katanya. Aku hanya mengangguk.
" Lu Pernah di tanyain sama om Vanus baru baru ini lohh??" katanya. Aku sengaja tak merespon nya.
" Tapi Broo, muka lu kelihatan Suntuk, susah banget ada apa sih??" tanyanya penasaran.
Aku menatapnya hanya diam, lalu kutarik nafasku dalam-dalam.
" Apa yang pernah lu omongin ke gua dulu, sama pengacara lu omongin ke gua. sekarang terbukti??"
kataku berbicara kepadanya. Rudi kemudian diam.
" Lu tahu siapa tersangka nya sekarang?" kataku padanya.
Dia seperti tak bergeming, dan mengetahuinya lebih daripada aku sendiri.
" Garcia Rubiandini kan??" jawabnya tak disangka-sangka. mataku sedikit terbelalak menatapnya heran. bagaimana dia bisa tahu, pikirku.?
" Sudah gue duga dari awal Kha, dia itu terlibat lebih banyak daripada kasus yang gue alami??"
" Lu tahu, lu kan pernah nemenin dia nungguin seseorang yang katanya bayar hutang kan??" katanya. aku hanya mengangguk cepat kepadanya.
" Dia sedang terima suap pencucian uang, dia itu makelar kasus di departemen tempat kita bekerja. enggak cuma suap dia korupsi di pembukuan uang yang harus sama suku dalam pajak negara?!" katanya sedikit memelankan suaranya.
" mungkin aja suatu hari gua bakal dipanggil jadi saksi dia, sampai itu terjadi? aku ambil sumpah mau ceritain semuanya.!?" katanya dengan nada kesal.
" Maaf nih Kha, mantan mertua lu. pak kardiman juga pasti terlibat.??" katanya.
Aku menatapnya diam.
" Lu tau gak Broo, gue di pecat dari kantor?" kata ku sedikit sedih dan berkaca kaca di depan nya.
__ADS_1
" Jujur, gue bingung Rud?? gue mesti apa, baru aja gue mau mulai usaha. rintangannya kayak gini??"
" Anak gue 2 masih kecil-kecil butuh susu, ini itu. gue malu kalau sampai nggak bisa nafkahin mereka??" kata ku jujur.
" Gue bingung mau ngadu sama siapa. temen gue yang tahu gue apa adanya cuman elu. gue punya kakak tapi mereka nggak peduli sama gue. punya saudara lelaki satu-satunya dianya gila. dan sekarang nggak tahu ada di mana!?" kataku sambil tertunduk memegang kepalaku di hadapannya.
" sabar Broo, kata lu ujian setiap manusia itu berbeda-beda. dan gua pernah dengar dari lu kalau Tuhan itu ngasih cobaan enggak melebihi batas kemampuannya, ya kan?" kata ya sambil memegang pundak ku. aku menatapnya.
" Mungkin sekarang waktunya lu menyingkir dari lingkungan yang korup Dan gak baik buat lu.?"
" Masalah lu, di singkirkan secara kasar atau halus itu cuman cara Tuhan??"
" Kata lu kita harus percaya Tuhan, dia maha penolong setiap hambanya dengan caranya sendiri??!"
Pas!! Kena Banget omongan si Rudianto ini. Pikirku.
lalu aku bercerita panjang lebar kepada Rudi tentang rencana aku dengan Pak Subandi. menjabarkan setiap ide yang aku miliki kepadanya.
" Gampang itu?, Kalau masalah nya cuma uang. gue masih bisa nolongin lu Broo??" Katanya seperti angin segar yang tak disangka-sangka.
Aku menatapnya tidak percaya.
kemudian dia hanya tertawa.
" Gue serius ini, nanti kalau urusan lu di pengadilan udah kelar, datangin gua lagi??" katanya.
" lu datangin aja Richard di tempat dia kerja, dia general manager di Bank m biru pusat. lu tau kan??" katanya.
" Lu ada kertas gak, kalau nggak minta sama sipir selembar biar gua tulis surat buat dia. Minta Dia nemuin gua??" Katanya.
Aku masih menatap nya dengan curiga. kemudian dia menatapku dan kembali tertawa.
" Tenang Broo, uang yang gua punya ini jauh dari kata uang haram setiap bulan dulu Gue masih sempet nabung sedikit buat dijadiin deposito. lu masih invest juga kan main saham??" tanyanya. aku hanya mengangguk pelan.
" Tapi gua jarang invest soalnya dananya nggak ada??" jawab ku
" Yaa gak masalah yang penting nilai saham nya nggak turun aja?!"
Kemudian, dia menuliskan surat untuk adiknya itu.
" Kapan lo ada waktu Sampain aja ke dia.!?"
" Gak harus besok kan juga gak apa apa??" katanya lagi.
" Broo... nggak kuatir gue tipu??" kataku padanya.
" Kalo lu mau Nipu gue juga, ikhlas ikhlas aja anggap aja gua buang sial Ke elu.?" katanya sambil sedikit tertawa.
aku hanya menarik nafas ku perlahan.
" Gue tahu lu orangnya gimana, mudah-mudahan sekarang sifat lu nggak berubah."
" Gua yakin sih lu enggak berubah juga, masih tetap sama."
" Malah sekarang mungkin lebih taat walaupun masih brengsek??" katanya sambil tertawa puas.
" Thanks ya Broo?!" kata aku merasa sangat bersyukur mendapatkan jalan keluar lewat dia.
" Ehh, iya. Serius, om Vanus pengen ketemu lu kapan-kapan??" katanya lagi.
" Udah, gua udah ketemu dia. masalah hubungan gue sama Livia kan??" kataku.
" Iya kali?? Terus jawaban kamu gimana??"
" Yaa... gua udah nggak ketemu Livia lagi, udah ilang kontak juga??" jawab Ku.
" Maksudnya??" tanyanya belum mengerti.
" Yaaaa, Om Vanus ngelarang gua buat berhubungan lagi sama Livia??" Katanya. Dia menatapku bingung.
__ADS_1
" Oohh.. Dia ngomong seperti itu ke kamu??"
Aku hanya mengangguk.