Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 69


__ADS_3

Karena Mira masih di rumah Estu saat mendengar kabar itu, mau tidak mau aku menjemput nya di sana.


Ketika Aku berusaha menenangkan nya. Livia pun mencoba membantu dan menenangkan Tangisan Mira.


Estu hanya diam berdiri di depan kami.


" Barang punya kamu mana, hayu sekalian dibawa..!" kataku sambil berjalan mau masuk kedalam rumah. tetapi Estu sudah menyodorkan Tas milik Mira.


Aku langsung menaruhnya di bagasi. Dan Ketika Akan menyuruh Mira Segera naik kedalam mobil, tak di sangka? Estu juga menaikan tas kecil, seperti pakaian anak anak. aku menatapnya Bingung.


" Aku ikut!" katanya terdengar jelas. Tak lama aku menatap Livia yang sedikit Cemberut. Pandangan ku Serasa menjadi kabur, aku merasa Pening.


Setelah semuanya naik, Aku meminta Mira untuk tenang. Aku tahu jika Livia atau Estu saling memandang tidak suka. Kami saling diam.


" Sudah Mira jangan nangis, Ada teteh ini. Doa saja supaya Abah gak kenapa Napa?" kata Estu kepada Mira dengan suara yang jelas kami dengar.


" Iya Mira, lebih baik kamu tenang. Berdoa saja." tambah Livia.


Kulihat dari spionase ini, Estu sedikit sinis menatap Livia.


" Hari ini kamu gak kerja mbak, Bukan nya kamu pegawai kan yaa??" kata Livia Sambil bergumam kecil.


" Aku ambil cuti dari kemarin kok, Biasa anak anak ngajak jalan mumpung ada Papa nya!?" balasnya.


Livia sedikit melirik Kesal Kepada ku. Yaahh, ketahuan? Pikirku sambil menghela nafas.


" Eh, iya. kata Sakha Mama mu Sakit juga ya?? kamu tinggal begini apa gak riskan!?" kata Estu Dengan nada sedikit menyindir.


" Lah, mau gimana lagi ya mbak! Sempet bingung, tapi Puji Tuhan. Mama Ku sudah membaik keadaan nya, Jadi bisa nemenin suami nengokin Mertua!! gak apa-apa lah kalau cuma sebentar?" jawab Livia.


Ganti Estu yang geram menatap ku.


" Terus Adik nya Lio, siapa namanya kok gak di bawa. kamu tinggal dimana?!" Sindir Estu pada Livia.


Livia hanya tertawa sinis.


" Ohh, Kylie ada kok sama sepupu aku. kebetulan lagi dibawa dia pulang ke Jawa Maklum mereka sangat dekat.!?" Jawab Livia.


" Bisa ya anak di titip titipin sama saudara?!" kata Estu membalas nya.


" Iya mbak, ya kayak Si Danesh aja yang ikut eyangnya biar gak kesepian?!" balas Livia lagi menyindir Estu.


Aku menarik nafas ku panjang. Setelah menahan rasa kesal yang tak menentu dari tadi.


" Bisa gak mulut kalian itu diam. bukannya bikin tenang malah bikin otak panas!!"


"Lihat itu si Mira, Sampai lupa kalau Lagi sedih. dia bingung ngikutin omongan kalian berdua?!" kataku.


" Sekali lagi ribut yang gak penting, menye-menye gak karuan mending kalian turun deh?!"


" Pusing aku!!' kataku kesal.


" Apa mau aku banting ini stir Biar ilang Sekalian!!" kataku marah.


Mereka hanya diam.


" Aa... istighfar." kata Mira mengingatkan di tengah sedih nya.


aku menatapnya sedikit dari spion yang ada di hadapanku ini.

__ADS_1


***


"ieu saha na anjeun Sepp?" kata Abah lirih Kepada ku.


Aku menatap Livia yang baru saja bersalaman dengan Abah ku. Aku menarik Nafas sebentar.


" Anjeun na pamajikan abdi Bah." kataku, Abah menatap ku lalu tersenyum kecil.


" Iraha anak anjeun dibawa ka dieu, Kumaha anjeunna séhat?" Aku hanya mengangguk kecil.


" Neng ini Orang Mana?" tanya Abah Kepada Livia


" Saya dari Solo Pak,Bah." Jawabnya sambil meralat kata katanya. Dia terlihat sedikit Tegang.


Abah hanya tersenyum.


" Kalau sama Si Sakha mah, Harus banyak banyak Sabar sama Istighfar." katanya sambil menatap keduanya.


" Abah sih enggak memaksakan Harus mengerti Si Sakha. tapi Apa adanya dia seperti itu. Jalan hidupnya." Kata Abah.


" Kamu juga Sepp, Harus lebih menghargai yang ngaran na Bikang. entong Gampang murag asih Kana Awéwé." Tambahnya lagi di hadapan ku dan kedua nya


Aku hanya bergumam kecil.


" Terima kasih kalian sudah mau nengokin Abah di sini, jauh jauh datang dari Jakarta." kata Abah.


" Abah sudah gak kenapa-napa lagi sekarang. yah namanya juga sudah tua." tambah nya sambil sedikit tertawa kecil.


***


Aku menatap ke sekeliling Tempat tinggal orang tua nya itu. Tempat tinggal mertuaku.


Memang kali pertama aku kesini, Bukan inginku jika disaat keadaan yg seperti ini aku menemuinya.


Namun keadaan seperti di percepat, aku bertemu dengannya saat keadaan begini. ya sudahlah, mungkin takdir Tuhan juga pikir ku.


Jika melihat kondisi orang tua nya, Abah nya Sakha. Seperti tak percaya jika Sakha adalah Anaknya.


Sedikit tadi aku melihat Foto Keluarga yang lusuh diatas Buffet tadi.


Sakha tampak nya anak lelaki Abah satu satunya, Ada kakak dan dua adik perempuan nya.


Ada sih satu lelaki yang sepertinya mirip dengan Sakha namun aku tak tahu pasti itu siapa?


Ada juga Foto Saat Orang tua nya masih muda. Antara Ibu kandung Sakha dan Ibu Tiri nya terlihat tak begitu berbeda.


Abah muda sangat jauh dengan penampilan Sakha saat ini.


Seperti tak dapat di percaya jika, lelaki tua dengan Wajah yang biasa biasa dan potongan sederhana. malah terkesan Kampung itu adalah Cikal bakal dari Sakha.


Bagaimana mungkin dia membesarkan Anaknya itu dengan Sangat Baik, walaupun ada sebagian dari nya yang buruk.


Dari keseluruhan, Sakha adalah pria dengan pribadi yang menyenangkan, lembut, Sabar, Humoris,Taat, Family man, berkharisma dan banyak lainnya yang menjadikan nya seseorang dengan paket komplit.


Aku memang belum tahu terlalu banyak tentang na, Sakha.


Namun selama ini, Hanya kebaikan nya lah yang selalu melekat di ingatan ku.


Yah meskipun yang lain juga banyak. Aku bersyukur mengenal dan mencintai nya.

__ADS_1


" Mau aku buatkan teh?" katanya tiba-tiba sambil menggendong anaknya itu.


Aku tersenyum menatap nya sambil menggelengkan kepalaku perlahan.


Kemudian dia duduk di samping ku.


" Yahh, keadaan keluarga ku seperti ini Livi. biasa saja." katanya sambil menatap ke sekeliling.


Ada kebun jagung yang tampak menghijau di samping rumah, sedikit miring. mungkin rumah ini ada di atas lereng.


Aku hanya tersenyum sambil menatap nya.


" Tapi mereka berhasil membesarkan kamu dengan baik." kataku.


Dia menatapku tajam penuh arti.


Dia menarik nafasnya sedikit panjang lalu perlahan lahan menghembuskan nya.


" Maaf ya atas semua kekurangan ku selama ini sama, memang akulah yang tidak bisa menteladani orang tua ku. Akulah yang salah." katanya penuh makna.


Aku meraih pinggang nya itu yang tampak kekar. sambil sesekali mencubit pipi Anak Nya.


***


Ada kecemburuan memang dalam hati ku yang harus ku tahan, Panasnya Seperti membakar seluruh Dada ku. Meletup letup seperti Bunyi Panci Presto.


Namun sekarang aku bisa apa? Apa sih yang bisa kulakukan sekarang selain menahan segala amarah, Kesal dan lain nya?


Dan juga aku, tak mungkin melakukan keributan disini, di rumah orang tua nya.


Aku memandang nya sedikit iri, bisa berdekatan dengan Sakha. Dengan penuh kasih dia berbicara dengan Lio, Membelai nya atau sekedar membersihkan sesuatu di Muka anak ku itu.


Kelembutan nya terlihat tulus tak di buat buat. Dia Seperti bisa menerima Akan Danesh dan Lio sebagai anak Sakha dari ku.


Ataukah mungkin juga karena Naluri nya Sebagai ibu, bisa memahami Anak anak.


" Besok kalian pulang yaa, aku antar sampai Jakarta.!" katanya terdengar jelas Dari ruang tamu kecil ini.


Kemudian dia memanggil ku.


Aku pun keluar Untuk Menemui nya yang masih duduk bersama dia.


Sesaat aku dan dia saling pandang, Namun saling Diam.


" Besok kalian pulang ya. Aku antar sampai Jakarta." katanya mengulang.


Kami berdua hanya Diam, sama sama menatap Sakha.


" Sakha, Kamu gak ngajak aku ke makam Ibumu Dulu?" katanya kepada Sakha.


Sakha tampak mengangguk dan langsung berdiri.


" Sekarang aja, Mumpung Masih Sore." katanya sambil menatap ku.


" Mau ikut apa enggak?" tawarnya Lembut.


Aku hanya diam. Berfikir Sebentar, Harus ikut atau tidak.


" Sekalian saja Mbak, mumpung Masih disini." tawar nya sambil tersenyum.

__ADS_1


Entahlah, itu fake atau tidak.


" Mira, tolong petikin Bunga!" teriaknya Kepada Adik perempuan nya itu kemudian.


__ADS_2