Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 88


__ADS_3

Aku memarkirkan mobil ku di halaman rumah Estu. tak lama suara anak anak yang riuh memanggil nama ku. Aku tersenyum sambil bergegas menghampiri nya.


" Jagoan Papa nih?" kataku sambil mencium keduanya.


Tak lama kemudian Estu juga keluar, menghampir ku.


" Loh, kamu gak kerja?" tanya ku. Dia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya perlahan.


" Aku ambil Cuti Kha?" jawab nya.


" Dalam rangka apa cuti?" kataku sambil menggendong kedua anak ku itu masuk kedalam rumah.


" Ngabisin cuti?" katanya. Aku hanya mengangguk kecil


" Kamu kapan nengokin Bapak? Salam ya dari aku?" kataku.


" Nanti lah, seminggu sekali juga Ibuk nengokin Bapak." jawab nya.


" Gimana Panji? Dimana dia sekarang?" tanyaku lagi.


" Ada di rumah Istri nya.?" jawab nya.


" Masih sama Reni apa gimana?' potong ku.


Dia hanya mengangguk kecil.


" Alhamdulillah kalau dia rujuk mah?" kataku sambil menatap Estu.


Namun seolah tatapan ku itu mengingatkan tentang masa lalu, Dia menatap ku dengan artian Seperti itu. Aku jadi sedikit canggung Sambil menelan ludah ku.


" Kemarin kamu ketemu siapa sih?" tanya nya kemudian berganti topik.


" Aku ketemu orang kantor yang Kerja sama dengan CV furniture punya ku.?" jawab ku.


" Siapa? perempuan?" katanya menyelidik. aku menatapnya.


" Bukan, laki laki kok. nanya Pak Winata?' Kataku.


" Udah tua emangnya?" katanya lagi. Aku menatapnya Seperti menangkap sesuatu dari tiap kata kata nya.


" Seumuran sih kayak nya, aku biasanya manggil dia dengan nama Winata?" Jawab ku.


" Kenapa emangnya? kamu kenal apa Tau Estu?" jawab ku balik bertanya. Dia hanya Diam.


" Yaa Dia sih kelihatannya baik, ramah sopan gitu. yang jelas nanti harus baik Sama anak anak?" Kataku yang membuat nya tercengang.


" Sakha? Kamu??" katanya terbata. aku cuma tersenyum Kecil sambil mengambil krayon yang menggelinding di kaki ku.


" Sudahlah, Aku juga capek pura pura gak tau sama kamu."


" Aku seneng kok kalo kamu bisa buka hati sama seseorang. yang terpenting dia baik sama kamu dan anak Anak." kataku. Estu Menatap ku diam sambil sedikit tertunduk.


" Aku sengaja merahasiakan nya dari kamu, karena aku ada urusan sama dia. Takutnya kalau dia tahu siapa aku, kita. bisa berantakan urusan usaha ku."


" Maaf yaa.." Kata ku lagi. Dia hanya diam.


" Jujur, aku tahunya gak sengaja waktu dia main ke rumah kamu, ngajak kamu sama anak anak belanja terus gak sengaja dia telepon kamu." kataku. Dia masih diam.


**


" Oohhh iya Estu, besok aku mau pulkam ke Jawa. Aku pamit yaa, Aku titip anak anak lagi sama kamu. kalau di ijinkan, Danesh atau Lio Aku bawa?" kataku.


" Gak ada yang boleh kamu bawa?" katanya memotong. Aku menatapnya sedikit menahan nafas ku.


" Yaa, baik nya kamu aja. Aku terima aja baiknya dari kamu." Kataku.


" Pah, ayo beli Crayon lagi Pah?" Ajak Danesh. Aku menatapnya.


" Kan itu masih bagus Sayang. kok beli lagi sih" kata Estu.


" ini tuh warnanya cepat pudar Mama?" katanya beralasan.


" Ya udah ayok?" kataku.


" Sakha, gak bisa dong kamu manjain dia seperti itu?" kata Estu seperti keberatan.


" Udahlah, gan apa-apa. Kan aku jarang ketemu dia."


" Tapi gak bisa gitu juga Kha!?" katanya kesal.

__ADS_1


Aku hanya sedikit tertawa.


" Estu, bisa saja itu alasannya. Sebenarnya dia pingin main keluar atau makan di luar sama aku. biarin ajalah. aku juga masih tau batasan batasan?" kataku.


Dia hanya diam sambil menatap ku.


**


Aku menunggui Danesh dan Lio yang sedang asyik bermain mandi bola itu di dalam ruangan khusus anak anak.


Mungkin sebentar lagi Danesh atau Lio sudah enggan bermain main disana. aku menikmati pemandangan kedua anak ku tersebut.


kulirik Estu yang sepertinya sedang sibuk membalas pesan dari seseorang.


" Kalau mau ketemu dia, ya gak apa-apa. aku bisa jaga anak anak. nanti aku antar?" kata ku.


" Apa sihh kamu! sok tahu amat?" katanya. Aku menatapnya sambil tersenyum sedikit.


Tak lama kemudian terdengar suara telepon masuk. Estu sedikit melirik ku, Aku pura pura saja tak melihat. dia pergi sedikit menjauh.


Aku menarik nafas ku dan menghembuskan nya berat.


Entahlah, Sekarang apa yg aku rasa terhadap nya? Seperti rasa akan kehilangan, Sayang ataukah cemburu.


Aku menyadari nya, sudah banyak yang terjadi diantara kami berdua. tentang Rasa Bahagia ataupun sakit. sesudah atau sebelum kami bercerai.


Dan mungkin Sekarang saatnya, aku merelakan Estu untuk bahagia bersama orang lain.


" Sudah?" kataku sambil tersenyum kepadanya.


" Sudah apa?" katanya sedikit Datar. Aku menatapnya seperti seseorang yg tak nyaman. mungkin dia sedikit berselisih dengan Haris.


" Ya Sudah Nelfon nya? Atau kamu mau kemana sekarang?" tanyaku.


" Anak anak bisa sama aku?" kataku.


" Maksud kamu?"


" Ya kalau kamu mau pergi ya gak apa-apa?"


" kamu nyuruh aku pergi!?" katanya terdengar tinggi. aku menatapnya, menatap raut wajahnya yang sudah berubah. Nafasku terasa Berat.


" Kan belum beli Krayon Pah?" katanya aku tersenyum sambil memegang tangan kecilnya.


" Danesh, kan tadi 7dah janji sama mama gak ada beli Krayon. yg dirumah kan masih bagus?" kata Estu. Anaknya hanya diam sambil menatap nya.


" Gak usah beli, langsung makan aja terus pulang?" katanya lagi terdengar memerintah.


Aku menatap Estu.


" Udah sih, kan ini sudah kita bahas. nggak usah bikin bad mood anaknya lah?" kataku.


dia menatapku tajam.


" Kamu jangan terlalu memanjakan dia Kha? kamu mah enak kesini aja jarang-jarang. ngadepin Dia juga gak sering. nanti kalau kamu turutin, Setelah kamu pulang ke Jawa akunya yang bakal kewalahan ngadepin dia?" katanya terdengar jengkel.


" Tapi kan tadi aku udah janji sama dia mau beliin crayon. masa sih sekarang udah di tempatnya nggak jadi beli!" balasku.


" ya gak usah aja kamu kan bisa beliin dia yang lain!?" jawab nya ketus. terus terang aku merasa jengkel.


Ni Estu kenapa ya? pikirku.


Dan Tampa terduga, Danesh tiba tiba menangis, berguling di lantai Mall. Dia tantrum.


Aku jadi Malu dan berusaha menenangkan nya. namun usaha ku di larang Estu yg memintaku untuk membiarkan nya. Orang orang memperhatikan kami.


Aku jadi merasa jengkel terhadap Estu.


" Aku urus saja dia lah, aku sama Lio mau makan?" kataku. Estu menahan tangan ku.


" Gimana sih, Gini aja bikin kamu nyerah?" katanya marah. Aku menatapnya sambil membuka kedua telapak tanganku, mengekspresikan rasa kebingunganku.


" Danesh mah apa?" kataku sambil mendekati anakku itu yang masih menangis.


" Papa nggak bisa dengar kamu kalau kamu berbicara sambil menangis.?" kataku.


" Sekarang Danesh Diem dulu, ngomong maunya apa?Jangan bikin orang-orang latin Danesh,


Malu dong?" kataku.

__ADS_1


" Stttttt.... kataku sambil meletakkan jari di depan mulutku dan menatap anak ku.


Aku menunggu nya sambil sedikit tenang.


" Kalau mau ke restoran duluan gak apa-apa. nanti aku susul." kataku pada Estu. Dia hanya diam.


Aku pikir, setelah Danesh selesai menangis. tidak ada masalah yang timbul, tetapi ternyata aku salah.


Estu seperti meributkan hal-hal yang menurutku sepele. cara memegang sendok anak, Danesh ataupun Arcelio yang makanannya tumpah. cara duduk yang tidak benar dan banyak hal lainnya yang dia permasalahkan.


Aku menatapnya terus tetapi masih diam.


" Yaa Hallo Livi?" kataku menjawab telepon dari Livia.


" sebentar lagi aku pulang Ini mau nganterin anak-anak dulu ke rumah." kataku.


" Eehh, pergi ke toko buku mau beli crayon buatan Danesh?" jawab ku lagi.


" Kamu mau di beliin apa sama Kylie?" tanyaku.


" Hmmm, Pampers aja sama susu nya. yaudah?" Kataku sambil menutup Ponsel ku.


aku menatap Estu yang sepertinya memperhatikanku.


" Kenapa?" tanyaku. tetapi dia hanya diam. Sepertinya dia marah.


**


" Aku tuh nggak suka kamu terlalu memanjakan anak-anak, Dia minta apa kamu kasih! tiap anak salah kamu Bela! gimana sih kamu?" kata yang dengan nafas sedikit memburu. Estu tampak Marah.


Aku masih diam menatap nya.


" Kamu, boro boro mau beliin Susu apa Pampers ke Anak kamu yg ini, Tanya kebutuhan yg kurang aja gak pernah!?" katanya dengan nada menyindir.


" Lok kok kesitu situ?" tanyaku.


" Ya iya lah. semuanya saling berhubungan.!" katanya ketus.


" Yang kamu urusin anak dari dia Aja. Kamu jaga, kamu Rawat, kamu Tungguin!!" katanya dengan nada tinggi.


Aku menarik nafas dalam-dalam.


" Aku loh... gak ada sengaja niat gak tanggung jawab sama anak anak?"


" Dulu, saat pertama pindah ke Jawa pun aku sudah nawarin diri. Lio apa Danesh yang boleh aku bawa.?" " tapi kamu jawabnya apa? nggak boleh kan! nggak boleh Ada anak yang dibawa sama Aku?!"


" Aku tau aku miskin Estu, kekurangan. kerja aku berantakan, Tapi aku berusaha waktu itu Tanya baik-baik ke kamu, masalah anak-anak.!?"


" Kata kamu nggak usah, simpan aja duit aku. jatahnya anak-anak!"


"namanya uang? aku hidup gak mudah Disana, gimana caranya uang itu ke putar.!?"


Sesaat kami saling menatap sengit.


" Terus sekarang aku harus apa!!" kataku sambil memukul dadaku dan menatapnya tajam.


" Terus sekarang mana Jatahnya anak-anak?!" katanya sambil menyodorkan tangannya seolah meminta.


aku bengong menatapnya. ada perasaan tidak percaya, cepat sekali dia berubah dan kenapa dia secepat itu berubah terhadap ku. Aku menelan ludah ku.


" Kamu hitung ada berapa total semuanya selama 2 tahun ini. berapa juta atau berapa puluh juta yang harus aku bayar ke kamu, sebagai ganti uang kamu yang dipakai untuk kebutuhan anak-anak.!" kataku dengan nada yang jengkel.


" Siapa tau mau kamu pakai dulu sebagai modal buat pernikahan kamu sama dia? bisa kan!!" kataku kesal.


"Dia itu gak semiskin kamu, yang ngandalin apa-apa dari perempuan.?" katanya sinis dan mencibir.


Jleebbbb!!! Rasanya seperti menusuk kata-katanya itu.


" Oh Jelas?! dari Tampilan nya dia lebih baik dari gue yang miskin ini!!"


" tahulah kalo selera kamu kan selalu tinggi! gue kalau dulu Enggak Ngerjain kamu, mungkin kamu juga nggak bakal mau nikah sama gue!!" kataku sambil tertawa sinis.


" Gue mah cuma 0,00000 sekian persen dari dia yang Sempurna? Apa lagi yang mau kamu perjelas!?" kataku kesal.


" Dengar ya Estu, Gak masalah kalau kamu ada masalah sama orang lain terus kamu marah marah sama aku. Asalkan jangan sama Anak-anak!"


Dia hanya diam dengan tatapan yg Dingin dan penuh amarah.


" Terus sekarang kamu Minta Di hargain!!" Katanya terdengar kasar dan Arogan.

__ADS_1


__ADS_2