Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 79


__ADS_3

" Ooo... itu maksudnya!"


" Perkataan nya yang inginkan Adik nya dapat lelaki baik walaupun dia sendiri bukan lelaki baik.!?"


" Emang munafik dia, pinter akting dimana mana, sampai semuanya ketipu!!" Katanya sambil meludah.


" Sudah Baik hidup nya punya istri anak orang kaya, di cerai terus ...Tiba tiba bawa anak Penyakitan yang nggak tau Dia kawin nya Kapan sama ibunya si anak.!"


Katanya sambil tertawa sinis.


" Bisa bisanya dia ngomong, nganggap Ayu itu Adik nya, Pake segala nasehati aku harus ini itu....lah dia sendiri juga bukan lelaki baik baik!!"


" Bilangnya adik lah kok dicium juga, cium bibir lagi!"


" Kan Asw !!" katanya kesal.


" Dia gak pernah ngelarang Noval atau ngelarang Irfan sama Tiwi tidur sekamar waktu itu.!"


" Sekarang mereka berdua sudah menikah karena hamil duluan.?!"


" masih mending aku, bayar cewek. enggak ada resiko? yaa nggak??"


" Reputasiku juga masih baik, Gak akan menghamili anak orang.!?" katanya sambil tertawa.


" Bisa-bisanya dia bilang seperti itu! Seolah olah, malah jelas jelas melarang aku deket sama adiknya!!" " Kenapa coba Apa bedanya aku sama dia, Yaa nggak!?"


" Kan kalau dia merasa dirinya sekarang bisa lebih baik, aku juga pasti bisa Baik. gak ada yang enggak mungkin kan yaa!?" katanya sambil tertawa sinis


" Sebentar lagi juga dia bakalan pindah sini, dari hadapan kita!!"


"Hahahaha..... kita tinggal tunggu kebangkrutan dan keruntuhan karirnya di sini!!" katanya nya penuh amarah.


" Kalau dia jauh dari sini, pastinya dia nggak tahu kelakuanmu lagi kan ka.?" katanya sambil menghisap rokok yang berada di mulutnya itu.


" Memang Ide mu itu sungguh Brilian mas!!"


lalu terdengar suara tertawa mereka bersama-sama dengan yang lain.


***


" Dengar dengar pernikahan kamu diundur sebulan lagi Ay??" tanyaku padanya, dia hanya melirikku sebentar.


" Aku turut berduka cita ya atas meninggalnya kakek mertua kamu."


" Mas Bandi ngasih taunya telat, katanya waktu itu mau ngasih tahu lupa. Meninggal nya Pas aku lagi sibuk sibuk ngurus Gudang yang kebakar.?" kataku sambil terus mengemudi.


" Iya, meninggal nya satu hari setelah Gudang nya mas terbakar?" katanya


Aku hanya menarik nafas ku panjang.


" Mas ini dari mana?" tanya nya kemudian.


" Aku, dari Ninjau lokasi baru buat gudang. Rencananya mau pindah. gak di tempat semula lagi?" kataku.


" Emang gudang yang kemarin Kalau diperbaiki nggak bisa mas.?" tanyanya kemudian.


aku tersenyum menatapnya.


" Yaa masih bisa sih Kalau diperbaiki."


" Garis polisi juga sudah diangkat, tapi kayaknya aku lebih baik pindah nggak mau di situ lagi!" jawab ku.


" loh emangnya kenapa mas?" tanya nya lagi.


" Yaaa nggak mau aja!! di situ kan kemarin gudangnya kebakar, nggak tahu dibakar apa kebakaran sendiri?"


" jadi istilahnya kayak tolak bala Aja, pindah ke tempat baru.!" kataku


" Kalau pindah ke tempat yang baru, makin jauh dong Mas dari rumah?" katanya. aku hanya tersenyum


" Biar nggak jauh, rumahnya yang dideketin sama Gudang.!" kataku kemudian


" Maksudnya, Mas juga pindah kontrak kan rumah?!" katanya


" Sepertinya lebih baik seperti itu?" kataku sambil menoleh kepadanya sebentar.


matanya seperti menerawang menatap sesuatu di ujung jalan. Dia diam.


kemudian aku tertawa kecil.


" Loh Bukannya, kalau lokasi gudangku yang baru itu itu lebih dekat sama rumah mertua mu Ay??" kataku kepadanya. dia menoleh dan menatapku.


" Iya sih mas, Tapi aku nggak mau tinggal sama mertua setelah menikah." katanya kepadaku.


" Loh kenapa, bukannya istri itu harus nurut sama suami?? masa kamu yang nentuin harus Gimana gimana nya." kataku.


" Iya sih Mas, memang seperti itu. tapi kemarin aku sama Mas Linggar sudah bikin kesepakatan Kalau setelah menikah itu kami pisah dari rumah orang tua." " Kalau nggak ngontrak sebelum punya rumah sendiri.?"


Aku manggut-manggut kecil lalu tertawa.


" Apa karena takut teriakannya kedengeran sama mertua??" kataku Sambil tertawa terkekeh-kekeh.


"Apa sih maksudnya Mas?" katanya dengan wajah yang memerah.


Aku masih menertawakan nya.


" Yaa nanti kalau sudah nikah, kamu nggak bisa berteriak nolak lagi si Linggar dong ya!?" kataku Sambil tertawa


Dia hanya menunjukkan ekspresi muka kesal nya kepadaku sambil menggerakkan rahangnya itu.


" Oppsss... maaf, maaf. harusnya Aku nggak ngomong seperti itu yaa... maafin, candaan ku yang barusan?" kataku buru-buru meralat.


Dia hanya diam.

__ADS_1


" Mas Linggar itu sudah sering memaksa sebelum hari itu, tapi masih bisa aku tolak dan kami bicarakan secara baik-baik.!" katanya.


" Entah Kenapa dia datang malam itu sambil mabuk, baru sekali nya itu dia datang ke rumah ku Memaksa sambil mabuk Mas??"


Aku hanya bergumam kecil.


" Eehhh, sebenarnya itu urusan kamu sama Linggar Ay, kenapa kamu ceritain nya sama aku?" kataku kepadanya.


" Yaa Aku capek Sendiri, mau cerita sama siapa? kalau sama Mira dia masih terlalu polos, sama Mbak asih aku malu apalagi sama Mas Bandi??" katanya.


" Terus kalo sama aku Aku, kamu gak malu?" tanyaku sambil tertawa kecil. Dia menatapku Sebentar.


" Terserah anggapan kamu aja mas. Rasanya beda aja kalo cerita sama kamu?" katanya Tampa melihat ke arah ku.


Aku hanya menunduk kecil, sambil mengeluarkan suara dehaman ku kecil.


" Yaaaa, aku sih nggak bisa menyalahkan sepenuhnya perbuatan Linggar sama kamu itu!?"


" Dia ibaratnya....Eemmm, gimana sih kalau kita itu udah sangat cinta sama pasangan - terus menginginkan sesuatu yang lebih seperti mencari kepuasan atau semacamnya lah... ya memang yang cara terbaik seperti itu?"


" tapi sebaik-baiknya hubungan itu yang didasari oleh agama maksudnya pernikahan." kataku lagi. Dia hanya Diam.


" Tapi Akan lebih baik lagi kalau hubungan tersebut terjadi atas dasar sama suka kan mas??" katanya kepada ku. aku menoleh padanya.


" Maksudnya kamu?" kataku.


" Bisa saja kan mas, sudah sejak kapan aku melakukannya sama Mas Linggar kalau Semisal aku mau dan aku suka!?"


" Tapi masalahnya aku sama Mas Linggar tidak suka dan aku merasa Jika hubungan aku ini Harusnya Gak ada.!"


" Aku Seperti terjebak dalam hubungan yang tidak aku sukai.?"


" Hahaha... Aneh kamu Ay. hubungan kamu sudah sejauh in.i Kamu baru menyadari kalau ini kesalahan?"


" Begitu maksudnya kamu??"


dia hanya diam.


" Harus nya sejak kapan itu kamu menolaknya secara tegas."


" tidak sampai ada perkenalan diantara dua keluarga." " Kalau sudah seperti ini harus gimana coba?? mau nggak mau kamu harus melanjutkannya atas dasar nama baik keluarga.!?"


" Katanya dia lama lo ngejar Kamu, Sampai akhirnya kamu mau dan suka sama dia.!"


" Kamu mau diajak ketemuan sama keluarga, terus dia ngelamar kamu, sampai sekarang dia mau nikahin kamu.?"


" Iya Mas semuanya benar, tapi aku seperti belum siap !"


" Waktu itu sempat mau aku akhiri. tapi kok malah ada yang bilang ini itu segala. katanya nama baik keluarga lah, Sayanglah?! katanya seperti kesal.


Aku memandang nya Sebentar.


" Sampai saat ini aku merasa, aku belum siap Terima dia sebagai calon suamiku.!"


" Kamu mau mampir dulu nggak sebentar ke warung tenda samping jalan.?" kataku kepadanya.


" aku masih kenyang Mas." jawabnya kepadaku.


" Yaa makan roti bakar atau pisang bakar, sambil minum susu atau wedang jahe."


" sekalian kita bisa ngobrol santai. kamu enggak sibuk kan malam ini?" tanya ku.


Dia menatapku.


**


" Besok Aku mau ke Jakarta, aku nitip Mira sama anakku ya ke kamu, tolong diawasin.?" kataku sambil menyeruput STMJ yang ada di hadapanku itu.


" Ada urusan apa lagi Mas nengokin anakmu atau istrimu?" katanya, aku hanya tertawa kecil.


lalu aku mengeluarkan laptopku dan menunjukkan kepada Ayu.


" Aku besok mau mengajukan pinjaman sama ritel atau Bank disana dan mengajukan kerjasama.?"


" Istilah nya, mau cari modal dana segar buat CV yang baru ku Bentuk."


" Tolong kamu baca lagi kata-katanya, apa ada kata kata yang terlihat aneh, mengganjal atau nggak nyambung di bacanya.?" kataku sambil memperlihatkan tulisanku itu.


Sesaat kami saling berdekatan. Tangan kiri ku dan tangan kanan nya saling menempel satu sama lain.


" Kata kata yang ini sepertinya harus dihapus. Kata kata meminta menjadi memohon." katanya sambil menoleh ke arahku yang sepersekian inci dekat dengannya.


kami Saling pandang sesaat, dan bergeser sedikit kemudian.


" Yang ini Yaa?" Kataku sambil meralat tulisanku tersebut.


Tak lama kemudian hujan turun deras. mukanya seperti mengkhawatirkan sesuatu.


" Kalau mau pulang sekarang, ayo kita pulang?" kata ku mengajaknya.


" Nanti kita kehujanan dong Mas, basah kuyup?" katanya. lantas aku tertawa kepadanya. dia memperhatikanku sambil mengingat-ingat. kemudian dia ikut tertawa karena ke linglungan nya itu.


" Kan Hari ini aku naik mobil, bukan naik motornya Hakka??" kataku kepadanya. dia tertawa sambil menatap kepadaku.


Tertawa nya masih sangat manis, lekukan kecil di dekat Dagunya itu mempermanis caranya tertawa.


salah satu tangannya yang lentik itu menutupi mulutnya. Gerak mata dan Bibir nya yang tampak Indah??


Sesaat aku seperti terkesima olehnya lagi.


Aku menatapnya tajam, mungkin karena saking tajamnya tatapanku, dia menyadari perlakuanku itu.


dia berguman kecil sambil merapikan rambut di wajahnya.

__ADS_1


Aku langsung tersadar dan memalingkan wajahku darinya.


" Ehhh, Ay. kalau mau pulang sekarang ayo kita pulang tawarku kepadanya.


" itu STMJ kamu sama rotinya belum habis Mas, lebih baik dihabiskan dulu Sayang?" katanya pelan.


" Sayangnya siapa??" kata aku bercanda kepadanya.


" Sayang nya gak dianggap Mas!?" katanya terdengar serius.


Oooo... kataku sambil menahan senyum. melipat bagian atas bibirku.


tatapan dan senyumnya yang misterius itu Semakin menjadi, seolah-olah kembali.


Apakah Dia sengaja membawa busur dan panah di senyuman nya itu. Pikirku.


Dan aku akui jika dadaku sedikit berdegup kencang karenanya. aliran darahku mendadak menjadi deras.


Sederas hujan yang turun.


tiba-tiba ponselnya berbunyi dan dia mengangkatnya sepertinya dari Linggar.


" Yaa Hallo mas, Kenapa?" jawab nya


" Iya Mas, ini sudah sampai?" katanya lagi.


" Sekarang mas dimana?? tanyanya.


" Ohh, masih di Klaten. salam ya mas buat keluarga Disana?" katanya kemudian.


" Iya Mas di luar hujan deras aku belum tutup pintu kamarnya.?" katanya berbohong.


" iya mas?" katanya lagi sambil tersenyum seraya menutup ponselnya itu.


" Mau pulang sekarang?" tawarku kepadanya.


dia menatapku sambil sedikit menggeleng.


" Linggar sekarang usaha nya apa?" tanyaku pada Ayu


Dia menatapku, lalu kembali duduk di hadapan ku.


" Sekarang lagi Jual beli Gabah. makanya sekarang lagi ke Klaten, kan masih panen padi disana?" kata Ayu menjawab ku.


Namun suara petir yang menyambar itu mengisyaratkan, seolah olah hujan akan turun lebih lama. Sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.


" Kita pulang sekarang Saja Gimana?" tawar ku. Dia menatapku dengan sorot tajam matanya.


" Nanti Kalau aku sudah masuk mobil, kamu nyusul yaa?" kataku pada nya. dia hanya mengangguk.


Lalu aku berlari, sedikit berjinjit menghindari aliran air di jalan yang sedikit banjir.


Tak lama kemudian dia masuk juga kedalam mobil.


" Maaf tadi mobilnya masih ku kunci, tau tau kamu sudah ada di samping. kamu basah kehujanan ya??" tanyaku sambil tertawa.


Tampak dia sedang mengkebas-kebas kan bajunya menggunakan tangan nya itu.


Dia juga tertawa kecil.


" Basah sih mas, tapi cuma Dikit?" katanya sambil merapikan Celana nya itu.


" Maaf Ay, ini pintunya belum rapat.?" kataku sambil membungkukan badan ku kearah nya sambil meraih pintu mobil.


Tak sengaja tangan ku menyentuh punya nya setelah merapikan pintu mobil ini.


Kami saling bertatapan, Kata kata maaf ku katakan lirih tadi Kepada nya.


Dia seperti mendekatkan wajahnya ke wajahku. aku sedikit Menelan ludah ku sedikit.


Aku tak menghiraukan nya. lalu ku hidupkan mesin Mobil ku lalu pergi dari depan warung tenda itu.


Sepanjang jalan kami hanya diam. Dia tampak memalingkan wajahnya ke luar.


Aku sesekali melirik nya, Entah kata kata apa yang mesti ku katakan.


Aku menghentikan mobil ku di pinggiran jalan. Di dekat areal persawahan yang sedikit sepi.


" Ayu... kataku pelan. dia pun tak menoleh.


" Ayu... kataku lagi sambil sedikit mendekati nya. Bahu nya ku pegang. Dia seperti malu Menatap ku. wajahnya tertunduk.


" Ay.. Kataku pelan Sambil mendekatkan wajah ku kepadanya. Aku mencium bibirnya perlahan, dan dia hanya diam Sampai beberapa saat.


Aku membalikkan badannya itu menggunakan kedua tangan ku agar kami saling berhadapan.


Kami saling berciuman, kali ini Saling membalas beberapa kali. kami saling bertatapan dengan wajah yang saling mengisyaratkan.


Ciuman itu terasa Hangat, dibawah derasnya guyuran hujan. Darah kami mendidih, seolah menginginkan lebih.


" kita harus pulang?" kataku lirih, dia hanya tersenyum sambil memeluk tubuh ku.


Kami keluar kota malam ini. Mencari suatu tempat yang mungkin kami singgahi.


Entahlah. Entah pikiran yang seperti apa yang sudah menutupi akal sehat ku. aku seperti tak memikirkan apapun, hanya terobsesi kepada Nya. secepatnya dan hanya ingin secepatnya.


Beberapa kali kucoba paksakan, Namun Seperti nya dia masih benar benar baru dan Merasa kesakitan.


Walaupun akhirnya Kami merasakan ******* tak terkira di temaram nya lampu malam.


Aku bergetar menyaksikan erangan nya itu. Kali ini aku beneran melakukan nya Dengan Ayu.


Hanya berciuman lagi dan lagi setelah nya. kami berdua tak memikirkan Nanti atau besok.

__ADS_1


Hanya memikirkan terselesaikan malam ini secara tuntas.


__ADS_2