Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 48


__ADS_3

Estu tampak mendekap kedua anak nya itu, dia menangis sejadi jadinya.


Mungkin di fikirkan nya, tak ingin jauh dengan anaknya itu. baik Danesh ataupun Arcelio.


Anak anak terlihat sedih melihat mamanya menangis.


Aku hanya diam.


Apakah ini yang dinamakan sebagai, Anak anaklah yang menjadi korban jika kedua orang tuanya bercerai.


Bisa saja kami sebagai orang tuanya pun berkorban, kehilangan anak yang dicintainya yang seharusnya bisa diasuh dan tumbuh bersama kami. orang tua nya.


Bukan hanya anak yg terpisah dari orang tua, kami orang tuanya pun merasa tak rela terpisah dengan anaknya.


Sudah, Lusa aku tetap pulang ke Jawa??" kataku kemudian kepada Estu.


" Mau kamu izin atau enggak Aku membawa Lio. Aku hargai keinginan kamu??"


" Aku mengerti perasaan kamu yang tiba-tiba harus berpisah dengan Lio. tapi tolonglah, aku juga orang tua mereka yang berhak mengasuh nya??" kataku.


"Yaa, Hallo?? kataku menjawab telepon dari Ayu.


" Maaf ya Ay, sekarang aku lagi sibuk. Ada urusan yang perlu dibicarakan secara serius dengan seseorang??"


" Nanti aku telepon lagi ya??" jawabku cepat.


Aku menatap jam jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.


lantas aku berpamitan kepada Estu, untuk kembali ke rumah kontrakan milik si Azis.


Tiba-tiba ponselku berdering kembali, kali ini dari nomor telepon milik adik iparku. Atmaja.


Ada apa ya pikirku??


" Assalamualaikum Ja, aya naon nelepon peuting wayah kieu??" Kata ku bertanya kepada nya.


#( assalamualaikum Ja, ada apa menelfon malam malam jam segini )


" Kumaha... Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un??"


Kata ku kaget mendengarnya memberitahukan berita kematian Ambu ku.


Aku terdiam sejenak, kemudian tak sadar aku menangis sesunggukan sejadi jadinya.


Kemudian Estu meraih ponsel yang berada di tanganku, menanyakan kepada Atmaja. ada apa.


Aku masih menangis sesegukan ketika Estu memelukku.


aku masih terus menangis, mengingat-ingat pertemuanku dengannya kemarin. menangis Haru sekali lagi, karena kehilangan seorang ibu.


walaupun Ambu hanya sebagai ibu sambung bagiku


Estu nampak berusaha menenangkan sambil mengusap-usap pundak aku.


aku diperintahkannya untukmu ucapkan istighfar berkali-kali.


aku memandangnya dengan berderai air mata. aku lantas memeluknya pikiranku kosong tidak tahu harus berbuat apa yang kuingat hanya wajah Ambu ku.


Mungkin setelah 20 menitan aku Puas meratap dan menangis, aku berdiri dan bergegas hendak pergi meninggalkan rumah milik Estu ini.


Aku menatapnya.


" Aku mau pulang ke kampung ku dahulu, Baru nanti kita selesaikan ini??" kataku sambil bersiap melangkah meninggalkannya.


" Sakha, kamu mau ke mana??" tanyanya kepadaku. aku sedikit menatap heran kepadanya.


" Aku mau siap-siap pulang ke kampung malam ini juga??" kataku menjawabnya.


" Naik Apa??" tanyanya lagi.


" Aku mau minta tolong Azis Carikan rental mobil, Aku mau pulang bersama nya malam ini??" kataku.

__ADS_1


" Pakai saja mobil kamu dulu??" katanya tanpa terduga. aku memandangnya dengan serius.


" aku ikut dengan kamu??" katanya kemudian yang membuatku terkejut.


" nggak usah Estu, cukup kamu kirim doa saja buat Ambu?"


" Aku nggak mau kamu bertambah repot. ikut aku segala pulang ke kampung Apalagi kamu harus kerja besok??"


" Itu urusanku bukan urusanmu. Aku mau kerja atau tidak aku bisa handle.!"


" Hak apa kamu melarang aku untuk bertakziah sama ibu kamu. Aku ini masih manusia walaupun aku sekarang cuma mantan menantunya??" katanya terdengar tegas.


Aku hanya diam. kemudian dia menyuruhku untuk membantunya membereskan pakaian kedua anak kami.


setelah mengantar aku ke kontrakan Azis terlebih lalu untuk mengambil sedikit Pakaian milikku.


Aku , Estu, dan anak anak ku pulang ke Purwakarta.


***


Kami tiba di kampung sekitar pukul tiga pagi.


Aku di sambut tangis oleh kerabat ku di kampung. Tangisan adik ku yang pecah membuat ku kembali menetes kan air mata.


Namun aku harus kuat dihadapan mereka. aku tak ingin menangis seperti tadi di rumah.


Aku mendekati tubuh Ambu yang sudah terbujur kaku itu. Kucium pipi dan keningnya yang sudah terasa dingin itu.


Berkali kali aku menahan air mata ku yang akan jatuh berderai.


Aku tak mampu berkata kata lagi. mulut ku kelu dan terasa kaku.


Aku tak memperhatikan lagi siapa yang datang dan menyalami tanganku.


***


kulihat tubuhnya yang tampak letih itu harus tetap Kuat berdiri.


Bibirnya yang terlihat kering, harus tetap mampu tersenyum kepada setiap orang yang datang untuk bertakziah ke rumahnya ini.


tatapan matanya kosong, dari semalam Dia terlihat letih. dia tidak menangis atau berbicara kepada siapapun. hanya berdoa di samping tubuh mendiang istrinya


Sakha tampak berada di paling depan memikul keranda, Ambu nya itu.


Berkali kali dia menahan tangis. menyeka Air matanya yang mau jatuh.


Dia kuatkan Suaranya ketika membaca " laa ilaaha illallah” Saat mengangkat keranda, ke tempat peristirahatan terakhir Ambu nya.


Aku menggendong Lio, sedangkan adiknya itu menggandeng Danesh. Adiknya yg satunya pun turut serta. menggendong anaknya yang tampak masih balita.


setelah kupikir-pikir cucu dari ayah mertuaku itu lelaki semua. hanya satu cucunya yang perempuan anak dari teteh nyai yang di Bekasi.


Kakak iparku itu datang tadi pagi bersama dengan suaminya. kedua anak-anaknya pun ikut, Iqbaal dan Nissa.


Sakha tanpa membacakan komat kepada mendiang ibunya in tersebut.


sesekali suaranya terdengar parau seperti mau menangis.


kami, terlebih aku merasakan kesedihan nya dan hampir-hampir Ikut menangis Lagi karenanya.


Tangisannya kembali pecah, setelah tanah menutupi tubuh ibunya tersebut.


Aku mendekati nya sambil mengusap punggung nya.


suaranya yang Parau terdengar bergetar, berkata kepada para takziah yang menghadiri pemakaman mendiang ibunya tersebut.


Dia meminta maaf atas nama Almarhum dan keluarga Jika pernah berbuat salah baik disengaja atau tidak Disengaja.


serta mengingatkan kembali untuk menagih, jika ada Sangkut hutang piutang yang pernah dilakukan oleh mendiang ibunya Tersebut.


Teh nyai, kakak perempuan Sakha tampak berpamitan untuk kembali ke Bekasi setelah Prosesi pemakaman selesai.

__ADS_1


" Estu, kalau kamu mau. kamu ikut pulang saja ke Jakarta, bawa anak anak??" kata Sakha kepada ku.


Aku menatapnya.


" Biar Iqbal yang bawa mobil , Nanti dari rumah teteh kamu bisa kan bawanya??" tambah Sakha lagi.


" Nanti aku bisa pulang Sendiri ?" kataku.


" Nanti bagaimana dengan kerjaan kamu?" tanya nya lagi. Aku memandang nya tajam sekali lagi.


Dia menatapku lalu diam.


Hari kedua aku di rumah mantan mertua ku itu, mulai merasakan kesulitan beradaptasi.


Di kampung nya ini, apa apa masih memasak menggunakan kayu.


kamar mandi yang biasa dipakai pun masih berupa. " Open air". Udara terbuka, Sungguh, aku tak biasa menggunakan nya.


" Kan aku udah bilang kemarin ke kamu. ikut pulang saja sama teteh. karena kupikir kamu pasti bakal susah buat ini itu??" katanya meledek ku.


Aku hanya diam menatap nya, yang baru saja bangun pagi dari tidur nya.


Sarung yang berada di pundak nya pun kembali dia pakai.


" Anak anak mana Estu??" tanya nya kepada ku.


" Itu , Mainan Air sama Azzam anaknya Elis??" kataku sambil menunjuk mereka.


Dia tampak memanggil kedua anak nya itu beserta keponakan nya. Dia sedikit tersenyum sumringah kepada mereka.


Rasanya, senyum nya bahagia sekali. Aku sangat senang memandang nya, setelah seharian kemarin tak melihat sedikit pun senyum di wajah nya.


" Aku titip anak anak ya Kha?" kata ku kemudian.


Dia menatapku heran.


" Kamu mau kemana??" tanya nya kemudian.


" Aku mau ke pasar sama Mira sama Eli?" jawab ku.


" Ngapain ke pasar? Aku saja yang antar yaa??" Katanya.


" Gak usah, Kamu di rumah aja sama anak anak. jagain Abah.??


" Lagian bakalan lama juga kalo cewek udah ke belanja mah??"


Sakha tampak melebarkan bibir nya itu, seolah mengejek ku.


***


" Eteh meuni hebat bisa bawa mobil sendiri Euy?" kata Mira memuji ku. aku hanya tersenyum.


Kemudian Mira dan Elis tampak membawa barang belanjaan yang tadi kami beli di pasar.


Wajah polos mereka tampak sumringah, Rasa bahagia terpancar jelas lewat sorot mata dan tindakan nya kepada ku.


Padahal aku hanya membelikan mereka sepotong Kain daster serta Baju untuk Azzam yang harganya tak seberapa itu bagi ku.


Memang, Kebanyakan Orang kampung Kebahagiaan nya lebih sederhana dibandingkan dengan yang hidup di kota.


Aku merasa mereka masih menganggap ku sebagai kakak ipar mereka. tetapi memang ternyata mereka tak mengetahui jika aku dan Sakha sudah bercerai.


Aku mencari cari Sakha dan anak anak ku yang tak terlihat itu?? Kemana perginya pikirku.


" Eteh nyariin siapa??" tanya Mira Kepada ku.


" Aa kamu mana sih??" kata ku kemudian.


" Itu teh di bawah. mainan air di Walungan??" jawab nya.


" Haah!! Apa Walungan sih??" tanya ku tak mengerti.

__ADS_1


kemudian Mira dan Elis menertawai ku yang Tampak heran.


" itu loh teh, kalo bahasa Indonesia nya Walungan itu ledeng. ada di bawah. gak jauh kok dari rumah??" jawab Elis.


__ADS_2