
" Kamu Apa kabar?" sapa Livia pelan kepada ku. aku hanya tersenyum kecil.
" Seperti yang kamu lihat lah." kataku sambil mengangkat bahu.
" Masih di Kutoarjo?" tanya nya. Aku masih mengangguk kecil.
" Terus sekarang di Jakarta lagi apa?" tanya nya.
" Eee... kemarin diminta jadi saksi di pengadilan lagi sama sekalian nengokin anak-anak!"
" Mungkin, besok atau lusa aku balik lah!" kataku.
Dia hanya mengangguk.
" Kamu di Jakarta lagi?" tanya ku.
" Eee, iya. aku mau cari kerja lagi Di sini." jawab nya.
" Oohh...kamu resign?" kata ku. dia hanya mengangguk.
" Terus, kamu tinggal di mana? Masih di apartemen itu?" tanyaku. Dia menatapku dengan tatapan penuh arti.
" Enggak, aku tinggal di salah satu rumah milik Richard. aku tinggal sama om Vanus juga." Jawab nya. aku mengangguk
Aku sungguh tak tahan dengan ke basa basi an ini yang tampak kaku.
" Oke deh, Salam aja buat om Vanus." kataku Sambil Menatap nya yang sedikit mengangguk Kepada ku.
" Aku permisi ya, ada urusan lain." kata ku padanya dengan menahan perasaan yang seperti menusuk menggetarkan hati ku.
Lalu melangkah pergi meninggalkan nya.
" Sakha!!" teriaknya memanggil ku, aku menoleh kepadanya dengan perasaan yang masih bergetar.
" Yaa.." kataku pelan. Dia sedikit mendekat, tetapi aku mundur sedikit.
Dia menatapku mengerti.
" Maafin aku yaa." katanya lirih. aku tersenyum.
" Enggak masalah, aku udah maafin kamu. dan hak kamu juga, bebas untuk berbuat semaunya kamu." kataku sambil tersenyum.
"Sakha, I need time to talk to you?" katanya.
" okay, no problem. why?"
" something you should know?" Katanya.
" What's? what else to talk about.?" jawab ku.
Tiba-tiba om Vanus datang. dan itu membuat ku sedikit panik. aku mencoba tersenyum kepada nya.
Menundukkan kepalaku sedikit.
Dia tampak memandang ku dengan Livia.
" Tadi gak sengaja ketemu Om, tadi saya bermaksud menengok Rudi. sebelumnya saya tidak tahu kala ada Livi?" kataku dia hanya tersenyum datar.
Lalu aku cepat cepat berpamitan.
***
Sebenarnya om Vanus sudah tau aku seperti apa, dia juga tau Sakha Bagaimana.
" Kamu ada hubungan lagi sama dia?" tanya om ku itu.
Aku menggelengkan kepala.
" Enggak om. Sebesar apapun perasaan saya sama dia atau dia terhadap saya. saya tau akan sia sia pada akhirnya. iyakan?" kataku.
**
" Ngapain kamu datang ke rumah saya?" katanya ketus. Aku berusaha mencoba tenang dihadapan Estu.
__ADS_1
'' Aku cari Sakha Kesini." jawab ku.
" Dia enggak ada, dan enggak ada disini lagi!" jawab Estu sekenanya.
" Tolong, jangan bohong. tadi pagi kami ketemu di rumah sakit, dia sempat bilang kalau dia sedang nemuin anak anaknya?" kataku.
" Iya kemarin, tapi sekarang dia enggak ada di sini. gak tau perginya aku. bukan urusan ku lagi!" katanya.
" Kalau kamu punya Nomer telfonnya. boleh aku minta?" kataku bertanya.
" Aku udah gak pernah punya Nomer nya. Udah gak aku simpan!" katanya ketus.
Aku menghela nafas ku sebentar.
" Ya sudah, tolong nanti kalau dia datang. sampaikan saja aku mencari nya." kataku sambil mau pergi.
Tapi tiba-tiba Dia berkata.
" Apa Sih yang menarik dari dia itu buat kamu, sampai sampai kamu mencari nya kesini??" kata Estu ketus Kepada ku.
Aku memandang nya.
" Dia tidak menarik apapun, aku datang kesini karena ingin ketemu sama dia. ada hal yang penting yang harus aku bicarakan sama dia." jawab ku.
" Haaahh!! Sepenting apa sih pembicaraan kamu sama dia selain urusan check in di Hotel!!" katanya sinis.
Aku tertawa kecil yang datar sambil memandang nya.
" Sepenting kamu mengetahui peranan Bapak kamu di hubungan Kami. Campur tangan nya yang memang ingin menghancurkan pernikahan kalian??" jawab ku Kesal tak kalah sinis.
" Heii!! yg sopan kamu, jangan asal tuduh sembarangan!!" katanya tersulut emosi.
" Ha..hahh!!, kamu pikir lelaki seperti dia saja yang suka main perempuan lain. lelaki Badjingan itu gak cuma dia!! Yang terlihat baik dan sayang keluarga pun ternyata sama!?" kataku mengejek.
" sekali kali kamu juga mesti tau, seperti apa lelaki macam bapak Kamu itu!!" kataku lagi .
" Apa nggak cukup puas kamu hancurkan Pernikahan kami dulu, gak usah Menuduh dan bawa bawa bapak ku. Apa kamu juga ingin Hubungan kami Hancur, Iya!?" katanya.
Aku tertawa sinis. Semakin Lama semakin Ingin aku meladeninya.
" Tanyakan sama dia. apakah pernah kenal sama yang namanya Aldes, Dan menyuruh nya Sengaja Mengenalkan ku sama Sakha." Kataku sambil sedikit tersenyum sinis.
" Walaupun, Akhirnya kami benar-benar jatuh cinta!!"
Kataku yang membuat nya terlihat murka.
" Asalkan kamu tahu, Aku Sengaja di Peralat sama Bapak mu Itu. dialah yang sengaja menjadikan aku sebagai tumbal di pernikahan kamu.!!"
" Jangan kurang ajar kamu!!" katanya bersiap untuk menamparku.
" Heeiii!!! apa apaan ini!!" kata Sakha yang menarik tubuh ku menjauh dari Tangan nya yang satu lagi menghalau Estu
Estu semakin nanar menatap ku, matanya sangat marah.
" Masih saja kamu belain dia di depan aku!!" teriaknya kepada Sakha.
" Belain apaan!!! aku cuma cegah kamu berbuat kasar sama orang lain!" kata Sakha membela diri.
" Aku gak akan kasar kalau orang itu berbuat sopan sama aku!!" teriaknya lagi.
" Haaahh!! Aku juga sependapat sama kamu kali ini Estu. aku gak akan berbuat kasar sama seseorang kalau dia bisa Menghargai ku!" katanya sambil mendekatkan dirinya kepada Estu.
" Allah Huakbar.... Aa Sakha!! Istighfar Aa." kata seseorang dari dalam rumah sambil menghalanginya dari Estu.
Sakha menghindari Estu lalu menghampiri ku.
" Kamu mau apa lagi sihh!?" katanya kepada ku sedikit keras sambil menatap ku.
" Aku sudah bilang, aku mau bicara sama kamu. kenapa kamu main pergi saja tadi!"
" Mau bicara apa lagi Sekarang? bukannya sudah final diantara kita!" katanya.
" Belum!! ini Belum berakhir karena kamu belum tahu alasan dari aku!" kataku.
__ADS_1
" Alasan apa lagi? Sudahlah Livia- sudah gak ada yang perlu kita bicarakan lagi sekarang. kamu nggak ingat pesan om mu itu.!!"
" Kita ini cuma....? bagaikan Air dan minyak yang tak bisa bersatu!" katanya.
Aku menatapnya tajam.
" Seharusnya, kamu telfon aku dulu. gak harus datang ke sini cariin aku." kata nya.
" Aku gak punya nomer telpon kamu?!" Kataku.
" Kamu bisa tanya sama Richard, kalau kamu kesini cuma mau nemuin aku, kamu malah nemuin masalah yang lain.!?" katanya.
" Biar.. biar saja, aku sudah pertimbangkan resikonya!" jawab ku.
Dia menatap Estu Sebentar, lalu mengajak ku pergi.
***
" Apa maksud nya perempuan itu tadi?" kataku sambil mengusap air mataku.
Rasanya seperti tergores kembali. terbuka lagi luka lama ku terhadap nya!
Apa yang dia inginkan? apa yang tadi dia bicarakan tentang Bapak, benar benar membuat ku semakin membenci nya.
Apalagi Sakha, dengan Terang terangan membela Perempuan itu di hadapan ku.
" Mira.. Mirasih!?" terdengar suara Sakha memanggil nama adik nya itu.
" Geus beresan barang maneh ncan? Hayu Urang indit ti imah Iyeu??" katanya keras.
" kamu gak boleh bawa Lio ataupun Danesh!" kataku sambil keluar dari dalam kamar ku. dia menatapku tak bergeming.
" Sakha!! Aku bicara sama kamu?!" kataku kepadanya.
" Iyaa, Aku gak akan bawa siapapun Anak anak kamu itu. Anggap saja Papa nya bukan aku, bilang saja sama mereka Papa nya gak tanggung jawab atau sekalian bilang kalau Papa nya itu udah mati??!' katanya.
" Mau sampai kapanpun juga aku gak ada hak nya kan sama anak anak. iyakan itu mau kamu!?" katanya.
" Aku gak Sudi anak anak ku di asuh sama perempuan ****** yang kamu pilih!"
" Haha!! perempuan ****** pun lebih punya hati dibandingkan kamu Estu!" katanya keras.
" Pantas!! pantas saja kamu dapatkan dia karena kamu sama dia itu memang sama sama ****** nya!!" kataku.
Kemudian dia mendekat. terdengar lagi teriakan Mira memanggil kakak nya itu.
Dia memandang nya Tajam, seolah menyuruh nya diam dan terus mendekati ku.
" Kalau aku Badjingan, Aku ******!! Lalu apa cerita nya ibu kamu yang punya suami macam Kardiman Rahardjo itu!?" katanya dengan suara menekan.
" Bagaimana kabarnya Adik lelaki kamu yang sama seperti aku Hahh!!" katanya terdengar jelas.
" Kalau ini masalah kita, gak usah bawa bawa keluarga aku!" kata ku.
" Apa pernah aku jelek kan keluarga kamu Sakha!?" Kataku.
" Siapa yang bawa bawa keluarga kamu Haaahh!!"
" Ini cuma masalah Lama, kenyataan yang baru kamu ketahui!!" Katanya terlihat marah dan kesal.
" Keluarga aku itu gak Sejelek Keluarga kamu Estu, cuma miskin di mata kamu!" kata nya Lagi Keras.
Kata kata nya Seperti Pantulan Bola basket yang mengenai muka ku.
" Mamaaaa... teriak Danesh sambil menangis menghampiri ku. tubuh kecilnya memeluk ku.
Aku memeluk nya, badan nya yang terasa panas itu membuat ku panik di hal yang lain.
" Sayang kamu kenapa!!" kataku sambil menangis.
Sakha memegang kening Danesh yang terasa panas itu.
" Danesh kenapa Nak? kita ke rumah sakit!!'' katanya sambil berlari menggendong Danesh menuju mobil.
__ADS_1
Seketika Mukanya terlihat panik, Sambil berteriak dia meminta kunci mobil. berteriak lagi kepada Mira untuk menjaga Lio.
Wajah nya terlihat gusar, memperhatikan Danesh.