
Pukul setengah lima Sore,saat aku terbangun dari tidurku. Disebelah ku ada Estu yg masih tertidur pulas dan Memeluk ku.
Setelah ada kesempatan tadi, Kami tak memikirkan apapun selain menumpahkan segala keinginan Kami di kamar ini, kamar milik kami dulu saat menjadi suami istri. Gairah kami Seketika meredup setelah mencapai titik tujuan utamanya.
Aku berkali kali mencium nya. apapun yang terlihat aku cium. dan Estu menjadi sedikit terusik. dia terbangun dan tersenyum menatap ku.
Kami berciuman kembali. dan merasakan kembali gairah yang mulai terbakar. Again and Again.!!
" Estu aku ingin kita nikah lagi, Meskipun sekarang kita harus menikah Siri." Kataku. Dia hanya diam.
" Lalu Dia?" katanya pelan. kini giliran aku yang diam.
" Yang terpenting kita harus menikah. masalah yang lain biar aku yang fikirkan." kataku.
" Kamu yakin Kha?" tanyanya.
" Kenapa? kamu masih mikirin Haris?" kataku sambil Bangkit dari tempat tidur. Dia menatapku diam.
" Kamu tinggal bilang mau atau tidak Estu."
" Kalau kamu bilang mau, ayo segera. kalau kamu masih mikirin ini dan itu, aku gak bisa begini terus sama kamu.?"
" Kasih aku waktu Kha?" katanya.
" Waktu apa? Udah sejak kapan aku pernah bilang ini sama kamu Estu.?!" jawab ku sambil menggunakan baju ku.
" Aku mah pulang nanti malam kalau enggak besok pagi. orang yg berhubungan dengan ku di Jawa sudah menelfon terus.!" kataku. Dia menatapku sambil menyandarkan tubuhnya di bantal yang di tumpuk.
" Aku gak bisa mutusin nya sekarang KH" katanya pelan. Aku menatapnya bingung. secepat ini kah dia Berubah pikirku.
" Aneh kamu? Gak ngerti aku sama jalan pikiran mu Estu??" Kataku.
" Apa kamu butuh aku buat begini doang?!" Kataku kesal.
" ya nggak seperti itu Sakha, Cuma aku memang butuh waktu. Setidaknya sampai aku memutuskan Haris?" katanya.
" Oohh, kamu sudah pacaran sama Haris?" tanyaku.
Dia menatapku keras.
" Aku gak seperti kamu yaa?! Yang bisa langsung berhubungan Seperti ini?"
" Haris selalu mengungkapkan nya sama aku, tapi belum aku jawab.?"
Aku hanya tersenyum sinis.
" Terserah lah, Aku gak mau nanyain lagi ke kamu. aku nungguin jawaban dari kamu?" kataku sedikit kesal. dia menatapku.
" Aku pulang dulu, aku titip anak anak sama kamu lagi." kataku.
" Ohh iya, nanti sekalian kasih kabar ke aku. berapa jumlah uang yg harus aku kasih buat Anak anak?" kataku lagi.
Dia memelototi ku. aku balas menatap nya tajam.
" Apa?" kataku.
" Sakha! kamu mau mulai berantem lagi sama aku!" katanya. Aku diam, menahan senyum ku. lalu aku mendekati nya.
Dia mendorong tubuhku..
" Sakha! udah. kalau kamu lanjutan, kamu gak akan bisa pulang?" katanya. Aku tersenyum.
" Sekali lagi?" pinta ku.
__ADS_1
" Enggak!?" katanya sambil menarik selimut nya. Aku tersenyum sambil menarik selimut yang menutupi nya itu.
****
" Kamu dari mana sih! Lama Amat pulang nya?!" kata Livia terdengar marah.
aku hanya diam sambil menatapnya, kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam.
" Katanya mau pulang ke Jawa malam ini aku mah udah beres-beres pakaiannya Kylie. ehh kamu nya gak pulang pulang.!" katanya dengan nada yang masih kesal.
Aku lhoo bolak-balik telepon kamu nggak diangkat, sebenarnya kamu pergi kemana sih, nengokin anak kamu apa nengokin yang lain?!" katanya .
aku ada salah satu urusan tadi aku selesaikan? jawabku
sama siapa!? Estu. urusan apa lagi kamu sama dia? kamu sama dia belum selesai? nggak usah Berdalih anak-anak deh. katanya mulai curiga. aku hanya menatapnya. siaga 1 pikirku.
" bisa-bisa ya kamu bilang waktu itu kerja tapi apa kamu janjian kan sama dia. kemana ajab setelah pergi sama anak-anak? check in. katanya terus mencerca.
Apa sih kamu Livia, ngomongnya kok ke situ-situ. aku itu memang benar-benar nggak tahu kalau Estu ngabisin cuti tahunan nya.
ya nggak salah tuh emang aku nggak janjian sama dia. kalau aku jalan sama dia sama anak-anak Ya wajar dong Dia kan ibunya sedangkan aku ayahnya
tapi kamu sama dia itu udah mantan. usah seolah-olah Kamu masih sama papa sama dia deh!! katanya kesal.
berkali-kali ditelepon sengaja enggak kamu angkat kan kamu matiin data seluler kamu mu mu, kenapa!! gak mau diganggu? katanya memarahi ku.
Apa Sekarang kamu lagi perencana membalik posisi aku sama dia seperti dulu hanya saja sekarang tukar posisi. kamu masih sakit hati sama aku masih dendam gak terima sama semua masalalu aku!!
Aku gak pernah ya mikir seperti itu. kataku.
Engga usah berkilah deh, banyak omong. kamu n**** kan sama dia kamu check-in kan sama dia.
aku diam sedikit bingung . bagaimana dia bisa menduga nya.
" Livia, kamu ngomong apa sih??" kataku membentaknya.
Livia, tuduhan kamu itu nggak beralasan.!" kataku.
" Nggak beralasan gimana!! kamu aja yang tukang bohong. coba cium bau baju kamu itu wangi parfum siapa!!"
" kamu lupa enggak periksa cupangnya dia yang ketinggalan! kamu lupa nyembunyiin dari aku.!!" katanya Terdengar benar-benar sangat marah.
Aku kaget dan merasa terpojok telat sekali aku menyadarinya. Aku hanya diam.
" Tega banget kamu berbuat gitu sama aku!! balas dendam sama aku.!!" katanya sambil mulai menangis.
Livia..., aku??" kataku berusaha mendekati nya tapi dia buru buru menjauh.
" ingatkah kamu punya anak perempuan yang sakit-sakitan, jantungnya lemah!"
" Nanti kalau dia dewasa ketemu laki-laki macam kamu otomatis mati.!!" katanya keras.
" kamu itu sedang nulis karma buat anak-anak kamu, selain buat kamu sendiri.!!" katanya marah dengan wajah yang memerah.
" harus dengan Apa sih kamu berhenti untuk mempermainkan perempuan seperti itu.?!"
" apa aku harus jadi sugar baby lagi?! simpanan om Om lagi hahh!! Iya apa aku harus gitu sama kamu.!!" katanya menyindir ku. Aku menatapnya tajam.
" Kalau gini caranya, aku nyesel. benar-benar nyesel sudah mau nikah sama kamu.!!" katanya sambil menyeka air matanya.
" Aku pikir kamu nggak bakal berhubungan lagi sama mantan kamu itu sampai sejauh ini.!!"
" Aku pikir kamu selesaikan hubungan kamu sama DEDEK GHEMES kamu itu yang di Jawa.!?" Katanya dengan aksen yang di tekan.
__ADS_1
" Tapi nyatanya apa!? kenyataannya gimana, kamu nggak sadar berapa hati kamu permainkan Kha?!"
" Anak kamu ada yang perempuan, adik kamu perempuan juga. nggak takut kalau mereka ketemu laki-laki macam kamu!?" katanya yang masih marah.
" Aku kecewa sama kamu Kha? aku sakit hati kamu perlakukan seperti ini.!!" Katanya aku hanya diam.
" Apa cuma kematian yang bisa menghentikan kamu itu Kha.!!"
" Berapa banyak air mata yang harus tumpah karena kamu.?"
" Kamu bisa melambungkan perasaan, lalu seketika kamu melempar kan ke bumi sampai hancur tak tersisa.!?" katanya terdengar terisak.
" Aku gak mau diginiin Kha, aku gak mau??" katanya sambil memegang dadanya sambil terus menangis.
aku berusaha memeluk nya. namun dia memberontak mendorong tubuhku menarik bajuku dan mencakar tangan dan wajah ku.
" Livia, stop. hentikan Livia... berhenti!! kataku membentaknya dengan suara yang keras.
" Aku tahu aku salah, tapi aku nggak ada maksud sebelumnya atau merencanakan ini semua. ini terjadi begitu aja!?" kataku.
" Begitu saja kata kamu, begitu saja!! gampang banget kamu bilang nya.??"
" Enggak mungkin terjadi begitu aja Kha kalau kamu merasa belum selesai sama dia. masih punya perasaan sama dia!!"
" Sama saja seperti kamu memberikan harapan sama dedek kamu yang di Jawa itu!!" katanya sambil menunjuk ku. Aku lagi lagi diam.
" Aku minta maaf Livia...?" kataku sambil mendekatinya.
" Jangan mendekati!!" teriaknya
" Aku sudah gak mau kamu sentuh!!" katanya keras.
" iya Livia,tapi aku minta maaf?" kataku sambil terus mendekatinya dan berusaha memeluk tubuhnya.
dan kami seperti berkelahi lagi. Dia yang menyerang dan aku hanya bertahan.
Aku terus berusaha untuk memeluknya, dia terus-terusan memberontak itu buku cakar dan mengoyakkan kaos yang ku pakai.
" Pergi kamu An****, dasar ba****** be*****!! Aku Benci sama kamu, pergi!!" teriaknya. kata-katanya yang kasar terlontar juga dari mulutnya.
Dan aku merasa hilang kendali mendengar yang berbicara kasar terhadap ku. aku mendorong tubuhnya sampai jatuh di atas kasur. abu-abu enakan lehernya dengan tanganku. dia memberontak berusaha melepaskan tanganku dari yaitu berteriak semampunya. aku terus menekannya dengan penuh rasa benci yang ada dalam dadaku.
Brakkk!!! suara pintu kamar yang didorong terdengar keras.
" Aa Istighfar Aa...!!" kata Mira berlari mendekatiku lalu menarik tanganku dari Livia sekuat tenaga.
saat aku lengah, Mira menarik tangan ku sekuat tenaganya hingga aku jatuh.
" Astaghfirullah Aa Sakha.... istighfar Aa... kasihan Abah yang baru meninggal tah kelakuan anaknya seperti Aa.!!" teriaknya.
" Istighfar Aa... Salah apa Cece Sampai Aa Tega seperti itu. Dia ibu Anak nya Aa!!"
" Aa mah bikin Kylie jadi anak Piatu!!" katanya masih dengan suara yang keras.
" Apa gak ada sedikitpun kebaikan Cece yang Aa ingat. hingga Aa tega berbuat keji!!" katanya marah.
" Inget Aa... tanpa keluarganya Cece... itu nggak bakal punya usaha seperti sekarang ini. Kalau aku nggak kenal Cici sekarang ada di kampung lagi Tani!!" katanya mengingatkan ku.
" Inget Aa... Mira juga perempuan, kylie juga perempuan!! apa Aa tega kalau Mira sama Kylie diperlakukan seperti Aa memperlakukan Cici!!" katanya sambil Menangis.
Aku terdiam, dan sedikit mundur dari tempatku berdiri.
Ada perasaan menyesal dan sesak jadi satu dalam dada ku. aku menutup wajah dengan kedua tanganku.
__ADS_1
Astaghfirullah haladzim... Apa yg Aku terbuat pikirku.
aku menatap Livia yang memegangi lehernya sambil terbatuk-batuk kecil. terlihat bekas nya memerah.