
Aku segera berlari setelah sampai di rumah sakit ini. nafasku sedikit memburu karenanya. aku langsung menanyakan kepada salah seorang perawat yang melintas. dimanakah ruangan UGD nya.
Segera aku menuju ruangan yang di maksud tadi.
Dengan perasaan yang sedikit takut dan Cemas aku menungguinya di depan UGD ini.
" Maaf Bu, apa ibu kerabat dari korban?" tanya salah seorang perawat yang datang menghampiriku.
Aku menatapnya.
" Iya mas, saya sepupunya?" kataku menjawab.
" Maaf mbak? kalau bisa keluarga intinya segera dihubungi. orang tuanya atau istri dari korban.?"
" sepertinya dari rumah sakit menganjurkan untuk mengoperasi korban, Karena kemungkinan terjadi pendarahan di kepalanya?" katanya menjelaskan.
aku sedikit Ternganga dan merasa kaget, Pendarahan di Otak?" pikirku.
Lalu harus Siapa orang yang dapat ku hubungi? pikirku lagi.
dengan cepat aku memeriksa nomor kontak yang ada di ponselku. aku mencari-cari nomor milik Mira atau Arya.
namun aku bingung harus berbicara dengan siapa dengan Mira Ataukah Arya?.
" Mas.. Mas? Apa benar ada pasien yang bernama saka diruangan ini??" tanya seseorang yang baru saja datang. Dia mengenakan setelan Jas dengan postur tubuh yang tinggi.
" Maaf, bapak Siapa nya?" tanya perawat itu kepadanya.
" Saya sepupunya!?" jawabnya yang terdengar cukup jelas.
kemudian si perawat tadi memperhatikanku juga orang itu.
" Ibu ini juga bilang kalau sepupunya?" katanya pelan namun jelas terdengar.
Kemudian kami Saling pandang, aku dengannya.
" Maaf.. anda Siapa?" tanyanya padaku.
" Saya kerabatnya yang ada di Jawa?" jawab ku sekenanya. Dia hanya diam.
" saya sepupu dari istrinya, Livia?" katanya balik memberitahuku. aku terdiam dan tertegun karenanya.
" Maaf bapak ibu... sebaiknya kalian cepat memberitahu keluarganya. entah itu orang tua atau istrinya Soalnya ini harus segera di lakukan tindakan?" kata perawat itu.
Kami kembali saling pandang.
setelah perawat itu pergi kami kembali saling memandang satu sama lain.
kalau aku mencoba menekan nomor milik arya.
" Maaf, mbak mau hubungi siapa?" tanya kepada aku.
" Saya mau menghubungi Arya suami dari Mira?" kataku padanya. lantas dia sedikit mengangguk pelan.
" Ya..yaaa... itu ide bagus?" katanya padaku.
Segera aku mengatakan kepada Arya dan memberi tahu kondisi mas Sakha kepadanya.
dia terdengar sedikit panik namun sesaat kemudian dia memberitahuku jika aku aku harus tetap tenang dan jangan memberitahu siapapun. termasuk kedua istrinya yang sedang hamil.
aku baru mengetahui jika keduanya sedang hamil sekarang. mbak Estu dan Cece Livia.
Mas Arya mengatakan, Bahwa nanti dia akan menghubungiku lagi.
Dia akan menghubungi teman nya yg sesama dokter juga untuk memeriksa keadaan mas Sakha.
Mungkin nanti siang atau sore dia akan datang.
**
" Jadi mbak nya adalah kenalan Sakha?" katanya kepada ku setelah kami saling berjabat tangan
Aku hanya tersenyum sambil mengangguk kecil Kepada nya.
terdengar suara Helaan nafasnya.
" Saya kakak sepupu nya Livia?" katanya.
" Kalau boleh tahu Mbak kenal Sakha di mana?" tanyanya kemudian
halo aku menjelaskan hubungan ku dengan mas Bandi yang juga rekan kerja Sakha.
" Oohh...iya? Sakha pernah bercerita kalau dia mempunyai partner yang mengajarinya ilmu furniture.?"
" Namun kemarin Sakha juga sempat bercerita kalau hubungan mereka sekarang kurang baik?, Apa benar Mbak??" tanyanya Kepada ku.
Aku sedikit mengangguk.
kemudian aku mendengarnya tertawa sambil sedikit bertolak pinggang.
kemudian dia menatapku lekat.
" ternyata... enggak menyangka juga aku bisa ketemu mbaknya disini. seseorang yang pernah diributkan oleh orang lain sampai-sampai dia tega membakar gudang milik Sakha?" katanya kemudian.
" Lalu kenapa sekarang mbaknya ada di sini?" Tanyanya kemudian.
" Saya kerja di sini Mas, kebetulan saya kerja di hotel tempat mas Sakha menginap kemarin. Jadi Secara kebetulan kami bertemu.?"
" Tadi pagi sebelum dia pergi pun masakan sempat berpamitan kepada saya?" kataku menjelaskan.
" Yaa... yaa, pertemuan yang direncanakan oleh Tuhan rupanya?" katanya pelan sambil menarik nafas.
lantas dia menatapku.
" Kalian Pernah dekat??" katanya tiba-tiba bertanya.
Matanya Sedikit tajam menatapku.
Aku menatapnya Sebentar lalu terdiam.
kemudian terdengar Tawa nya yang kecil.
" sebenarnya saka sudah pernah menceritakan semua sama saya. hubungan kalian, dan keterlibatan mbak nya?"
__ADS_1
" bukannya Livia juga sempat cemburu sama mbaknya kan??" katanya lagi.
" saya sih bukan bermaksud ikut campur, itu terserah pada kalian semua lah."
" Tapi sebagai saudaranya Livia, saya akan tetap Membela dan melindungi nya". Katanya kepada ku.
Aku hanya diam.
" Tapi yaa... Maaf, seharusnya saya tidak mengungkit nya disini?"
" Yang paling penting sekarang Sakha bisa sembuh?" katanya.
" Saya tidak bisa memberitahukan keadaan Sakha kepada Livia yang sedang hamil.?"
" apalagi kondisi kehamilannya, kata Sakha sedikit riskan?" katanya.
Tak begitu lama, Sakha di pindahkan ke ruangan ICU dengan kondisi Koma.
Aku menatapnya, ada rasa sedih yang mendalam karena nya.
Rasanya aku ingin menangis. namun aku sadar kalau aku bukanlah se siapanya.
***
" Yaa Hallo Helmi??" kataku berbicara dengan teman ku yang juga dokter di Surabaya.
dia masih kerabat jauh dari mantan pacarku.
" maaf nih sebelumnya aku ganggu kamu?" kata aku setelahnya kami berbasa-basi.
" Helmi... Aku sedang kesusahan dan minta bantuan kamu?" kataku. kemudian terdengar suara terkejut dari nya.
" Maaf Helmi, kakak iparku sedang dirawat di rumah sakit Soetomo, tadi pagi dia mengalami kecelakaan di depan hotel tempat check in.
" beberapa hari yang lalu dia ada seminar di Hotel itu. Tadi pagi aku mendengarnya Jika dia ditabrak oleh pengendara yang mabuk.?" kataku.
" Aku sedang bersiap-siap menuju ke sana, Tapi aku minta tolong sama kamu kalau bisa kamu tolong cek keadaannya?" kataku.
" tadi Dokternya bilang sama aku kalau ada pendarahan di otaknya dan harus segera dioperasi. sementara ini Kakak ipar ku masih dirawat di ruang ICU. mereka menungguku untuk datang??" kataku padanya.
Lalu Helmi mengatakan jika mantan pacarku tersebut juga bertugas di rumah sakit itu. Kenapa aku tidak meminta bantuan nya saja katanya.
" Aku sudah nggak pernah berhubungan dengannya. lagi pula aku merasa nggak enak sama dia?" kataku Kepada Helmi yang Tengah tertawa.
" Aku nggak mau lah?" jawab ku.
" Aku nggak mau ngerepotin dia, apalagi kalau sekarang hubungan kita sudah menjadi Canggung?" kataku.
Tak begitu lama, aku mengakhiri panggilan ku tersebut.
**
" Siapa yang menelpon kamu?" kata ibu tiba tiba. aku menatapnya.
" Mas Sakha mengalami kecelakaan di Surabaya?" kataku memberitahunya.
" Innalilahi... Lantas bagaimana?" tanya ibu menutup mulutnya sedikit dengan jemari tangannya.
" Arya harus segera pesan abu Kesana Bu?" kataku kemudian. Dia hanya diam.
" Enggak mungkin juga Mira yang kesana, apalagi keadaanya yang tengah hamil?"
" Lahh...!! belum apa-apa keluarga nya itu sudah bikin repot?!" katanya terdengar mencibir.
" astaghfirullah... Ibu?!" Kataku.
" Kok ibu bisa bilang begitu sih?" kataku.
" Lah memang iyaa kan?" katanya menjawab ku dengan nada yang tidak mengenakkan hati.
" Belum juga kalian resmi menikah dia sudah seenaknya saja menyuruh kamu ini itu. belum lagi ngerepotin kamu saat Pabrik nya itu kebakaran!" katanya.
" Sesudah kalian menikah juga, dia malah hidup menumpang. sekarang malah nyusahin begini!!?" katanya dengan nada yang penuh kebencian.
" Astaghfirullah ibu... kok bisa sih ibu bilang begitu?!"
" Kan Arya udah menikah sama Mira, jadi mas Sahka itu juga keluarga nya Arya.?!" kataku Sedikit keras kepadanya.
" Lahhh.... keluarga baru kenal juga!?" katanya menjawabku dengan nyinyir.
" Arya nggak ngerti deh sama ibu? kenapa Apa rasa benci ibu malah merembet kemana-mana?' kataku.
" sebentar lagi Mira melahirkan lohh, anak dari Arya. bakal calon cucu ibu.?"
" Bisa bisanya Ibu masih saja berpikiran buruk tentang Mira dan keluarganya?" kataku.
" Apa sih kurangnya Mira di mata Ibu??" kataku.
" Yaa banyak banget lahh... dibandingkan dengan pacar pacar kamu sebelumnya!?" katanya dengan nada yang congkak.
" Kamu kok yaa... cari istri nggak lihat dulu Bagaimana Bibit Bobot Bebet nya. asal Comot?!" katanya lagi mengulangi perkataan yang sama tentang Mira.
Lalu aku tersenyum sedikit Sinis kepada ibu.
" Suka nggak suka, Sekarang Mira itu yang menjadi istrinya Arya. Calon ibu dari anak nya Arya?!"
" suka nggak suka, kenyataannya Arya cinta banget sama mira... mau Ibu jodohkan Arya dengan anaknya menteri juga kalau tidak berjodoh Ibu mau bilang apa??"
" Belum lagi Arya yang belum tentu mencintainya. Mau Tinggi dan sebagus apapun bibit bobot bebet nya, kalau bukan jodohnya Arya Ibu bisa bilang apa!!?" kataku sedikit kesal kepada ibuku.
" sudahlah Bu, nggak usah mencampuri urusan arya. kalau Ibu nggak suka Ibu Lebih baik diam dan jangan memperkeruh keadaan?"
" Arya butuh ketenangan apalagi Mira dengan kondisinya seperti itu??" kataku.
" Bisa bisanya kamu selalu membelanya ketimbang ibu yang sudah melahirkan dan Mendidik kamu!?" Kata nya dengan nada yg Seperti nya akan naik pitam.
" Ini bukan urusan Bela membela ibu, ini urusannya kemanusiaan!, menghargai hubungan kekeluargaan yang sudah terjadi.!!"
" Mana bisa Arya menikah dengan Mira dan mengabaikan keluarganya.!" kataku sedikit kesal.
" Ibu Jangan berpikiran picik, hanya karena ibu membenci Mira?" kataku.
" Sudah lah... Arya nggak mau jadi anak yang durhaka sama ibu. rasanya percuma Arya menceritakan hal tadi sama ibu. yang malah membuat masalah Baru. sesuatu yang membuat masalah jadi panjang seperti ini!?" kataku sambil pergi sambil merasa kesal.
__ADS_1
***
" Mira... Mas mau ke Surabaya sekarang?" kataku Kepada Mira.
" loh mendadak sekali mas?" katanya kepada ku. aku menatapnya.
" Mas tiba tiba ada panggilan untuk membantu pasien yang harus segera dioperasi?" kataku.
Dia menatapku.
" Biasanya kamu bilang kalau ada hal seperti itu, Kenapa ini mendadak sekali?!" katanya sedikit curiga kepadaku.
Aku hanya diam.
" Sebenarnya Siapa yang harus kamu operasi Mas?" katanya sedikit mengintrogasi ku.
Tiba-tiba, rasanya dadaku sedikit sesak menatapnya.
" Mas ada apa!?" Tanya nya semakin curiga.
Aku masih diam Menatap nya.
" Mas?!" katanya sambil mengguncang kan tubuh ku.
Aku menatapnya lekat.
Lantas aku memegang bahunya.
" Sayang?" kataku pelan.
" Tolong kamu jangan panik Dulu yaa..?" kataku.
Dia menatapku sambil sedikit berkaca-kaca.
" Mas ada apa... siapa?" katanya terus mencecar ku.
Aku menatap nya tajam sambil menarik nafas panjang.
" Mira, Aa Sakha tadi pagi kecelakaan di Surabaya. dia ketabrak sama mobil, sekarang sudah di rumah sakit ada di ruangan ICU. mas harus segera ke sana?" kataku.
" Aku ikut Mas??" katanya sambil memekik dan menangis. Aku menggelengkan kepalaku perlahan.
" Kamu di sini aja nunggu kabar dari aku?!" kataku.
" aku harus ikut Mas?!" katanya lagi terdengar memaksa. aku menatapnya.
" Aku harus tahu keadaan Aa bagaimana, dia orang tua bagiku Mas. tolong aku harus ikut??" katanya memohon kepadaku sambil menangis.
Aku hanya diam.
" Mira... Aa harus segera di operasi. kata dokternya terjadi pendarahan di otak Aa?" kataku pelan.
Mira semakin menangis menjadi-jadi. Aku memeluknya perlahan.
" Kita harus segera memberitahukan ini sama mbak Estu?" Kataku.
" tapi adik subuhnya Cece Livia menelponku meneleponku, Katanya biar nanti dia saja yang memberitahukan Cici. mengingat keadaannya yang sedikit Riskan?" kataku.
" Siapa yang memberitahu Mas tadi Kalau Aa kecelakaan?!" tanyanya kemudian.
" Ayu... Ayu yang memberi tahu ke Mas?" kataku.
Dia sedikit menatapku. ada banyak tanya Seperti nya yg tersimpan di benak Mira.
Aku menghela nafas ku.
" Kenapa baik jika kita menanyakan ya Nanti secara langsung aku tinggal kita sampai di Surabaya?" kataku.
" sekarang kamu tenang dulu. Mas sudah meminta bantuan Helmi teman mas di sana?" kataku kemudian.
***
" Yaa Hallo om, ini Richard?" katanya terdengar berbicara dengan seseorang.
" kabar baik Om sekarang Richard ada di Surabaya?" katanya.
" Maaf om mau memberitahukan sesuatu, tetapi Richard minta agar Om yang menyampaikannya langsung kepada Livia?" katanya terdengar hati-hati.
kemudian dia terdiam, mendengarkan seseorang di teleponnya itu.
" begini Om, beberapa hari yang lalu kan bank tempat Richard kerja mengadakan seminar. salah satu peserta dan motivator nya itu Sakha. suaminya Livia?"
" Seharusnya, hari ini dia kembali ke tempat kerjanya di Kutoarjo.?"
" tapi kejadian Malang menimpa dirinya, tadi pagi dia mengalami kecelakaan. Dia tertabrak kendaraan saat menunggu taksi di pinggir jalan.?" katanya.
" sekarang kondisinya koma Om, dan ada di rumah sakit Soetomo.?"
" yang jadi masalah buat Richard sekarang adalah, dokter meminta persetujuan keluarganya agar saka bisa segera dioperasi?"
" tapi kan Om tahu kondisi Livia sekarang bagaimana. lagi pula dia tinggal hanya berdua dengan anaknya?" katanya sedikit cemas.
" Sekarang sih Richard sedang menunggu adik nya datang. Richard meminta tolong sama Om agar bisa membujuk Livia dan menenangkannya nanti?" katanya.
" secepatnya. dokter meminta secepatnya ada persetujuan dari keluarganya si pasien. agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan?" katanya lagi.
" oke baiklah om Richard tunggu kabar dari om nanti ya. ya mungkin setelah ini, Richard baru bisa kembali ke Jakarta?" katanya yang tak lama menutup ponselnya tersebut.
Lalu setelah itu, dia menatapku dan aku juga menatapnya. Lalu dia duduk di samping ku.
" kira-kira perjalanan dari Kutoarjo ke Surabaya memakan waktu berapa lama?" tanyanya kemudian.
" Bisa sampai lima sampai tujuh jam mas?" jawab ku pelan.
Lalu terdengar suara helaan nafasnya.
" semoga saja mereka cepat sampai. dan Bukannya saya tidak mau menunggui Sakha. Terus terang saya juga masih banyak kegiatan?" katanya.
Aku hanya diam.
" Kalau masnya mau pergi atau menghadiri suatu acara biar saja saja yang menunggui mas Sakha di sini?" tawar ku.
Dia hanya diam menatap ku.
__ADS_1