Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 55


__ADS_3

Aku Hanya diam sepulang dari Dokter, memeriksakan Danesh yang Demam itu.


Anak ku sendiri Sudah terlihat tenang di pangkuan ibunya, duduk di kursi belakang. Sesekali aku meliriknya dari kaca spionase.


Terlihat mata Estu yang sembab itu, sesekali masih mengusap air mata nya. Bola matanya terlihat memerah.


Teringat lagi kata kata Livia kepadaku tadi:


" Iyaa.. Aku memang jual diri sama lelaki lain. tapi aku gak pernah jual diri sama kamu!!" katanya sambil menekan Dada ku dengan telunjuk nya.


" Kamu taunya aku Ingin hidup mewah Tampa bersusah susah, Bergaya Hedonis seperti yang kamu bilang. Terus apa lagi? Apalagi yang mau kamu tambahin ke aku!?" Katanya sambil mengusap air mata nya.


" Apa pernah kamu tanya aku Baik baik, kenapa aku sampai melakukan nya?" katanya.


" Kamu gak perduli Sakha! Yang kamu perduli kan cuma Badan aku janganlah terbagi sama orang lain?!"


" Iya kan? Kamu gak perduli aku, hidup aku!! Yang kamu perduli kan cuma Tubuh aku, Sama ************ yang aku punya." Katanya Sambil Menangis.


Seketika hati ku serasa Tertusuk mendengar nya.


Aku hanya diam. tak menyentuh nya meskipun ingin.


Namun semakin lama tangisan nya Terdengar semakin pilu. Aku memeluknya, dan tangisannya semakin pecah.


Apakah aku masih mencintainya, Perempuan yang bernama Livia itu. Pikirku.


" Sakha! Kita mau kemana?". Suara Estu Yang tiba-tiba Membuyarkan lamunanku itu terdengar. Aku menatapnya dari spion.


" Kita mau kemana, Rumah ku sudah kelewat tadi. kamu harus putar balik?!" Katanya.


Lalu aku memandang ke sekeliling. Oohh, ternyata aku terlewat sudah cukup jauh. ku arahkan mobil yang ku kemudikan ini kembali menuju Rumah Estu.


**


Entahlah, apa yang di pikirkan nya kini. Dia terlihat sangat kusut, lelah dan banyak pikiran.


Ada perasaan kasihan aku terhadapnya, Ya perasaan kasihan saja. tetapi entah kasihan yang seperti apa.


" Mira, hayu Milu Aa." katanya kepada adiknya itu, yang tampak memperhatikan ku juga.


" Geus Peuting Aa, Arek kamana?" Tanya nya terlihat bingung.


" Nyak indit wae Heula ti Imah Iyeu. Arek kamana boa geh Asal kaluar ti Imah!"


" Gera beresan barang barang maneh." Katanya.


Aku memandang Mira, Yang terlihat bingung itu.


" Kalau mau pergi, Kamu aja dulu. biar dia disini." Kataku memberanikan berbicara.


Dia terlihat menarik nafas nya. Diam menatap ku.


" Dia itu adik aku, tanggung jawab aku. mau aku bawa kemana juga pastinya aku jaga." katanya terdengar kesal.


" Iya tau! Dia adik kamu. tapi ini sudah malam, mau ajak kemana dia. ke kontrakan temen kamu." kata ku.


Dia menatapku tidak suka.

__ADS_1


Terdengar suara tangis Danesh yang memanggil nama ku. Aku menghampiri nya.


Ku pegang lagi kening nya yang tertempel koyo kompres itu. Badannya terasa panas lagi. Dia masih merengek dan menangis.


Lio yang Terbangun dari tidur nya juga menangis. dia memanggil Papa nya berulang kali. meskipun sudah di tenangkan oleh Mira.


Memang, Lio terlihat lebih dekat dengan Sakha.


Sakha yang datang menghampiri, tampak langsung menggendong Lio. menenangkan dalam pelukan nya.


Dia berusaha memenangkan nya, Sabil menepuk-nepuk kecil Bokong mungil Lio.


Mungkin sekitar lima belas menit kemudian, Anakku itu sudah terlihat tenang.


dan Baru saja meletakkan Lio di tempat tidur nya itu


Dia memandang sebentar lalu keluar dari dalam kamar.


**


"Psssttt,,, Estu.. Estu!" panggil Sakha pelan Kepada ku. Aku menatapnya Datar.


" Kita harus bicara malam ini, sekarang." katanya meminta. Sambil mengisyaratkan keluar kamar.


" Apalagi?" kata ku pelan.


" Aku ingin masalah ini cepat selesai, aku mau pergi Besok." katanya. Aku hanya diam.


" Aku udah gak mau ribut sama kamu, sekarang terserah kamu. Masalah anak anak.!" katanya terlihat Serius. Aku hanya diam.


" Aku mau bawa Lio Besok, sekarang aku tanya ke kamu Boleh atau tidak?" Katanya seperti menodong.


" Intinya boleh apa enggak?" tanya nya.


" Enggak!! kalau sekarang enggak Boleh!?" kata ku.


Dia menarik nafasnya yang panjang.


" Yaa sudah, Aku Tetap pergi besok. Aku percayakan mereka sama kamu?" Katanya.


" Maksud kamu Apa!?" kataku.


" Iya, Aku Percaya kan mereka sama kamu. Aku harus pergi.!" Katanya sambil berjalan menuju kamar Mira.


Aku mengikuti nya.


" Aku percaya kamu mampu menjaga mereka?" katanya sambil menyuruh Mira berkemas kemas.


" Terus, masalah tanggung jawab kamu bagaimana?" kataku sedikit Kesal. kesal karena mengetahui nya yang ingin pergi secara tiba-tiba.


Dia menatapku.


" Kamu bisa telepon aku Masalah anak anak. seharian, 24 jam aku terima telfon dari kamu kalau menyangkut anak anak??"


" Hahh!! 24 jam. seharian? Apa iya?" kataku sinis.


" waktu kamu buat pacar kamu ke ganggu dong. belum lagi buat perempuan itu?!" maksudnya Livia pikirku.

__ADS_1


Dia tampak mendesah, mengeluarkan Napas nya dari dada kuat.


" Terus Aku harus gimana!! Mau kamu, Aku mesti gimana!!" katanya sambil memepetkan badan ku ke tembok.


" Bener bener kamu yaaa... Mau nyiksa aku!?" Katanya kesal.


" Bukannya itu memang masalah kamu sendiri, kenapa juga harus nyalahin aku!?" jawab ku tak kalah Kesal nya.


Tiba-tiba saja kedua tangan ku di pegang nya kuat. memojokkan ku kembali ke dinding. kami saling berhadapan dekat. wajahnya didekat kan Kepada ku, sepertinya hendak mencium. Aku memalingkan wajah ku. Dia diam, tangan ku masih sedikit meronta.


" Aku gak tau mau nya kamu apa Estu, makin hari kamu semakin gak jelas..semakin kasar!?"


" Aku gak mau terus terusan diam atau terus berbuat Dzolim sama kamu. Aku juga ingat, kalau aku masih punya adik perempuan." katanya.


" Jadi tolong, jangan hambat aku dengan akting kamu yang terlihat baik namun ujung ujungnya selalu membanting dan menjatuhkan perasaan ku"


" Aku ingin Hidup sebagai lelaki, yang dihargai oleh perempuan, oleh istri nya meskipun sekarang aku gak tau siapa Jodoh ku."


" selama ini, yang ku lakukan serasa percuma sama kamu. sama anak anak juga di mata kamu. Aku adalah sesuatu yang salah dan selamanya Akan Salah Dimata kamu, iya kan!"


" jadi, rasanya percuma kalau dulu aku bertahan, memintamu tinggal di hati aku. Dulu, Semata mata aku tak ingin cerai itu karena anak anak. Sekarang kamu tahu kan, posisi mereka sekarang bagaimana karena kita!"


" Cara terbaik bagi kita sekarang adalah saling menjauh, Tak ikut campur masalah pribadi lagi. Kita tetap berhubungan sebatas Anak!?' katanya tegas.


Hatiku bergetar, seolah-olah akan Di tinggalkan. perasaan ku Seperti Kayu yang tiba-tiba di patah kan nya. hidungku terasa Sengau, dan ingin mengeluarkan Air mata. Aku berkaca kaca menatapnya.


Dia menatapku tajam.


" Aku sadar, aku bukan lelaki yang baik buat kamu Estu. Semua Anggapan kamu sama aku itu benar. semuanya tuduhan Bapak kamu dan keluarga kamu juga benar. Aku bukanlah lelaki baik ataupun Baik baik.!"


" Aku percayakan anak lelaki ku sama kamu, karena aku yakin kamu mampu mendidik mereka dengan baik. jauh baik dari sifat Aku.!" katanya terlihat serius.


Kemudian dia melepaskan tangan nya yang menahan ku tadi.


" Aku minta maaf sama kamu, Aku minta maaf sudah hadir di hidup kamu Estu!'' katanya. dan aku mulai menangis lagi.


" Kamu berhak mendapatkan lelaki yang lebih baik dari aku nanti nya.!" katanya sambil menyangga kan satu tangan nya ke Dinding. kemudian satu tangan nya menyeka air mata di pipi ku. aku semakin sesegukan karena nya.


Dia mencium kening ku, lalu sedikit memundurkan badan nya. Aku menatap nya dibalik tangisan ku itu. Lalu memeluk tubuh nya.


***


Aku diam saja ketika Estu memeluk ku. Dia masih menangis.


" Maaf kan aku Sakha. Aku gak bisa menahan Rasa kesal ku sama kamu. Rasa cemburuku masih ada Dan aku masih Cinta sama kamu." katanya berbicara sambil mendekap ku.


" Maaf in kata kata kasar aku sama kamu Sakha. aku gak tau bagaimana cara nya menyembunyikan Rasa kesal ku sama kamu." katanya lagi.


" Iya aku mengerti Estu, Tapi di sisi lain aku ingin di hargai juga sama kamu walaupun itu rasanya gak mungkin."


" Maaf in tindakan aku yang gak senonoh sama kamu. Aku gak bisa menahannya. keinginan itu tak bisa ku bendung." Jawab ku.


" Semakin kesini, aku merasa semakin gak baik buat kamu. Hubungan kita semakin Toxic. itu gak baik buat anak anak dan kita sendiri!?" kataku lagi.


" baik aku atau kamu lebih baik sama sama pergi. Cari kehidupan yang baru." kataku sedikit bergetar.


Dia semakin mengeratkan pelukannya itu.

__ADS_1


Aku tak mengerti.


" Aku mau balikan sama kamu Sakha." katanya pelan yang menggetarkan hati ku.


__ADS_2