Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 22


__ADS_3

" Tolong sih mbak, Nasehatin Mas Panji??" kata Reni adik ipar ku itu sedikit terisak menangis.


" Harus pake cara apalagi sih mbak biar dia berhenti begitu??"


" Apa aku harus ngomong kelakuan nya itu ke bapak sama ibu?" katanya.


" Apa dia gak mikirin anaknya mbak??" katanya terdengar sedih.


Aku coba menenangkan nya.


" Udah sering mbak dia itu begitu, kumpul sama gendik'an nya.!"


" Aku mau ngomong sama bapak tetapi selalu gak ada bukti. Cara main nya itu licin sekali dia??"


" Apa iya, aku akan tetap di bela Bapak kalau aku gugat cerai Panji dengan tuduhan selingkuhan??" katanya sambil memandang kepada ku.


" Seperti saat itu, Bapak belain kamu buat ninggalin Mas Sakha??"


" Apa mungkin bapak akan tetap menyalahkan siapa yang pertama berselingkuh.??" Katanya.


Aku hanya terdiam


***


" kamu dijamin gak akan bahagia kalau ketemu lelaki yang seperti ini!"


" Pertama, lelaki yang suka judi."


" Kedua, Lelaki yang suka minum..suka mabuk!?"


" Ketiga, lelaki yang suka main perempuan.!"


" Lelaki seperti ini cuma menghancurkan hidup Perempuan. kamu harus tau yaa Estu, Reni.!".


Kata bapak kala itu masih terngiang di telinga ku, Saat mengetahui jika Sakha berselingkuh.


Sedangkan yg terjadi sekarang?? Adik lelakiku Panji juga berselingkuh.


Padahal usia pernikahan nya masih 2 tahun.


Apa Iya Bapak tetap Membela Reni sebagai korban.??


Pikir ku.


Aku tau perasaan dan posisi nya di rumah ini. Baru saja melahirkan, dan masih ikut dengan mertua. ehhh suaminya berselingkuh.


Apa yang di ucapkan Reni mulanya aku tak percaya. tetapi setelah aku di kirimi foto juga video, Panji dan selingkuhan nya dari Sakha kemarin itu.


Aku Jadi Percaya Kepada Reni.


Lalu, saat Panji pulang dengan luka memar itu??


Yang katanya dia di pukul oleh Sakha, apa benar?? Pikir ku.


Kenapa aku tak pernah bertanya kepada nya langsung.


Lalu kecurigaan ku kepada bapak tua itu tempo hari. orang yang pernah bertemu dengan ku saat Sakha berada di rumah sakit karena kecelakaan. Apa ini semua ada hubungannya dengan Panji juga bapak? pikir ku keras.


Namun saat ini belum tepat jika ku ungkapkan semua. aku masih butuh bukti.


******


" Kamu sudah berapa kali sih saya peringatkan jangan dekat-dekat dengan Livi!!"


" Bukannya di agama kamu melarang jika Pacaran beda agama!!"


" Kamu mau maksa,Iya?!"


Kata Om Vanus - Stephvanus , terdengar sangat marah.


Yang ku tahu, dia ini adik dari Ibunya Rudi dan almarhum Ayahnya Livia.


" Tolonglah kamu cari yang sama dengan Kamu. Pilih lah Yang memiliki iman yang sesuai sama kamu.!"


" Kamu bisa mencintai dia, Tapi jangan Rebut dia dari Tuhan nya!?" katanya mengingatkan.


"Jangan menggoda goda ponakan saya terus.!?"


Katanya sambil menahan Nafas yang Terengah karena marah.


" Kamu juga livi!!" Katanya kemudian.


" Livi berapa kali harus Om ingatkan sama kamu! Kamu ini mau jual iman buat dia atau bagaimana!?"


" Bukannya kamu dulu yang berjanji gak akan dekat dekat dengan dia lagi?!"


" Kenapa sekarang malah kamu balik kepadanya apa yang membuat dia begitu istimewa bagi kamu Livi??"


" Apa sempurna nya dia bagi kamu?!" katanya setengah mengejekku.


" Di bandingkan kamu, dia punya apa sekarang?!"


" Harta..., Jabatan..., Tahta.., apaa!!?"


Katanya terdengar menyindirku.


" Jangan kamu kira Om gak tau siapa dia, Om tahu persis bagaimana dia sekarang.!?"


" Dia bisa bertahan di Jakarta juga pasti karena Bantuan kamu Livi... Uang kamu!?" Katanya yg membuat kupingku panas.


Aku sedikit meliriknya


Livia tampak terusik dengan perkataan Om nya itu.


" Om Livia ini sudah besar! Biarkan Livi memilih jalan sesuai keinginan Livi!!" jawab Livia terdengar kesal.


" Tapi jalannya kamu itu salah!! kewajiban dari Om adalah mengingatkan kamu. kamu itu bagian dari keluarga besar kita apalagi dulu ayahmu menitipkannya padaku. ?!"


" kamu lupa !!"


katanya dengan nada yang masih marah


" Ingat kita siapa, latar belakang keluarga kita!"

__ADS_1


" Kamu sudah dibaptis seharusnya iman kamu lebih kuat. Keyakinan kamu, Cinta kamu sama Allah harus lebih kuat dibandingkan ke dia?!"


" Seharusnya kamu sadar dari awal kalau kamu itu beda dengan dia!!"


" Apa susahnya sih cari yang seiman, yang satu keyakinan. Apa perlu kita yang Carikan?"


" Kalau kamu terus-terusan begini susah dibilangin - siap-siap kamu dibuang dari keluarga besar kita.!!"


" Urus hidup kamu sendiri !! "


" Kamu itu kayak kacang lupa kulitnya.!!"


" Kamu Bisa jadi orang seperti sekarang ini, siapa yang membiayai, siapa yang membimbing dan mendidik kamu Kalau bukan kita-kita!!"


" Keluarga kamu !?"


"Apa keluarga dari Ibu kamu itu Bela sama kamu, Bela sama Ibu kamu, sama Adik adik kamu!!"


Katanya terdengar membentak sambil terus marah-marah.


" Coba kamu berpikir realistis, kita nggak menuntut apa-apa dari kamu. kita nggak minta semua yang Pernah kita berikan ke kamu, untuk kembalikan ke kita kita - cuma minta kamu tetap teguh Sama iman!!"


" Apa susahnya sih jadi tetap Jadi anak tuhan - bersama-sama dengan iman yang sama, melindungi kerajaan Allah!?"


" Kamu tidak kasihan dengan orang tua kamu ??"


" Tolong Baca Alkitab kamu lagi Livi.!"


" Ingat Korintus Ayat 14-15 : “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan?


Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?”


Aku Hanya diam mendengarkan nya.


" tapi Pak saya serius dengan Livia biarkan kami menikah dan hidup bersama walaupun dengan keyakinan yang berbeda!?"


" Banyak contohnya, mereka bisa menikah walaupun beda agama dan bahagia?"


" Bukankah inti dari pernikahan adalah bahagia.??" kataku menyela nya.


Dia malah semakin marah tampaknya terhadapku.


" Sudahlah Mas. tak akan pernah berhasil pernikahan beda agama itu.!?"


" lebih baik Buat mas-nya tolong Segera tinggalkan Livia.!"


" Tolong mas-nya cari jalan sendiri cari perempuan lain, jangan Livia?!"


" Dan bukannya masnya pernah belajar di pesantren, Pernah besar dan di didik di pondok.? harusnya lebih paham tentang ini.?"


" Janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. "


Surat Al-Baqarah ayat 221.


" Begitu kan kira kira bunyi nya??"


" Tidaklah boleh bagi seorang muslim menikah dengan seseorang yang beda agama. Begitu juga dengan ajaran kami.?"


" Harus nya dari dulu sudah jelas, mas-nya dan Livia itu gak bisa bersama.!"


" Sudah cukup lah keributan yang terjadi karena hubungan kalian ini.?"


" Tolong jangan Acak acak hubungan keluarga kami!" katanya sambil membukakan pintu apartemen itu untuk ku.


Secara tidak langsung, dia mengusir ku.


Aku menatap Livia sebentar yang tertunduk. kami kemudian saling pandang dengan rasa kaku


Dan aku pun pergi meninggalkan mereka.


*******


#


Hayya 'alashshalaah


Hayya 'alalfalaah


Qad qaamatish-shalaah, Qad qaamatish-shalaah


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Laa ilaaha illallaah.....


Aku berdiri setelah mendengar iqomah Shalat Ashar ini, Di satu mesjid yang Sepulangnya dari apartemen milik temannya Livia itu.


Perasaan ku kacau tak karuan, kepalaku pusing Terlalu banyak Beban. Alhamdulillah nya aku masih punya Tuhan.


Alhamdulillah nya aku masih dekat dengan nya. meskipun sering melakukan Dosa.


Sungguh, aku ingin Di ampuni nya.


***


Untuk beberapa saat aku tak beranjak, masih duduk bersila di sini. Aku berdoa sesuai dengan yang ku bisa, sedikit berzikir memanjatkan nama nama terbaiknya.


Sungguh aku meminta ampun.


" Jangan uji aku ya Allah melebihi batas kesanggupan ku."


" Ampunilah segala dosa dosa ku, bimbang lah aku menjadi pribadi dan manusia yang lebih baik lagi. akhlak,ke imanan dan Takwa ku kepada mu. hanya kepadamu?"


Kataku pelan Sambil menangis Dan menghiba kepada nya.


Sungguh aku merasakan teramat sangat lelah menghadapi segala persoalan hidup ku.


Sedari aku belia sampai sekarang aku selalu sendirian menghadapi hidup, jika pun ada seseorang - mengapa selalu sebentar. Keluarga ku, Abah yayi dan ustadz ku, istri atau kekasih ku.


Sungguh aku merasa sendirian.


Aku menangis dalam diam ku menyebut nama mu Allah.


Aku memakai sandal yang tadi aku pakai, Beranjak hendak meninggalkan masjid.

__ADS_1


" Sakha??" teriak seseorang kepada ku. Aku menoleh mencari asal suara tersebut. Kudapati seseorang yang sangat aku kenal meskipun sudah lama sekali kami tidak bertemu.


Aku tersenyum kepada nya, kami saling menghampiri dan memeluk erat satu sama lain Sambil tertawa.


" Aziz...!" kataku sambil memeluk dan menepuk nepik pundak nya. diapun sama seperti itu terhadap ku.


" Ti tadi Urang teh arek ngageroan maneh Kha, mimiti ti wudhu tea??"


( dari tadi,saya mau manggil kamu Kha, sejak dari Tempat wudhu )


" Naha nteu ngageroan zis??" kataku sambil tertawa.


( Kenapa gak manggil zis?)


" Sien Salah jalma urang??"


( Takut salah orang saya)


" Kumaha kabar na??" tanya ku.


( bagaimana kabar nya)


" Alhamdulillah, nya kaos kiyeu kiyeu bee??" kata nya sambil tertawa.


( Alhamdulillah,ya gini gini aja)


Kami berdua berjalan ke pinggiran trotoar, Disitu ada beberapa gerobak yang tampak berjualan makanan.


Aku memesan dua piring batagor dan dua botol teh dalam kemasan.


" Maneh teh ti mana emang zis?" tanya ku.


( Kamu tuh dari mana emang zis?")


" Nganterkeun Eta Boss urang??"


( Nganterin Boss gue?)


" Lah terus, Boss maneh mana??" tanya ku


( Lah terus Boss loe mana?)


" Ker Ketemuan Jeung kabogoh na,Tah ka apartemen eta... ??" katanya sambil menyebutkan nama apartemen tempat aku pergi tadi.


( Lagi ketemuan sama pacarnya,itu ke apartemen itu?)


" Oohh...?? " kataku Biasa


" Naon ngaran na teh Mun ayena, Sugar baby apa naon?"


( Namanya apa ya kalau sekarang, Sugar baby atau apa?)


" Saha??" Kataku.


( Siapa?)


" Nya Boss urang lah, boga baby baby an??" kata nya sambil tertawa kecil. aku hanya tersenyum.


( Ya Boss gue lah, punya Sugar baby sugar babyan)


" Masih ngora apa kumaha??" kataku.


( Boss masih muda apa gimana?)


" Euhhh...lain ngora ngora deui Kha. geus Bau taneh??" katanya sambil tertawa. Dan aku terpingkal karena nya.


( Euhhh, bukan muda muda lagi. udah bau tanah?)


" Boss urang mah pinter Kha, Mun geus jam 3 mah buru buru balik. lain ka Imah, tapi mampir ka Simpenan na heula?" Cerita nya..


( Boss gue mah pinter Kha, kalau sudah jam 3 sore Buru buru pulang ngantor. bukan ke rumah, tapi mampir ke rumah simpenan/pacarnya dulu.)


" Ngke balik ka Imah jam 7 apa 8 ngomong macet apa Aya makan malam Jeung Patner Bisnis ka pamajikan na.?" tambah na.


( nanti pulang ke rumah jam 7 apa 8. bilang macet apa ada makan malam sama partner bisnis ke istrinya.)


" Pamajikan na juga Tara curiga, asal di penuhin pikahayang , jalan jalan atawa shopping?"


( istrinya juga nggak pernah curiga, asal di penuhin kemauan nya , jalan-jalan atau shopping.?)


" Nya kajeun atuh Zis, kumaha atuh??"


( ya biarin aja zis, Bagaimana coba )


" Nya He'eh.. urang mah KUR Carita. Pabelit Mun pipiluan, jelema sugih mah loba mudarot na Mun nteu eling ka iman??" katanya


( iya iya, gue mah cuma cerita. ruwet kalau ikutan. orang kaya mah banyak mudharat kalau enggak ingat sama iman.)


Aku cuma tertawa kecil.


" Terus maneh ayeuna di mana, anak maneh aya Saberaha.?" tanyanya


(Terus sekarang kamu di mana, anak kamu ada berapa)


" Anak urang Ayah 2 . ayeuna mah urang Geus di Jawa. Ayena keur ka Jakarta Aya kaperluan?"


( Anak gue ada 2 . sekarang mah gue udah di Jawa.Swkarang ke Jakarta karena ada keperluan)


" Pamajikan jeung anak di Jawa.??" tanyanya


( Istri sama anak di Jawa)


" Heunte.. pamajikan jeung anak aya didieu.?"


( Enggak, istri sama anak ada di sini)


" Lah bisa kitu??" katanya heran


( Lahh, bisa begitu?)


aku cuma tertawa kecil


" Pan urang anggeus cerai jeung pamajikan.?" jawab ku

__ADS_1


Dia Hanya Diam.


( Kan gue udah cerai sama istri)


__ADS_2