
" Ya Hallo." jawab ku padanya.
" Sakha, Kamu kok Pergi gak pamitan atau sekedar untuk ngucapin terima kasih sama aku." katanya.
aku menelan ludah ku.
" Maaf Estu, ada yang harus aku kerjakan di sini. jadi aku buru buru." Jawab ku berdalih.
" Sekedar telepon pun kamu enggak, atau ngasih tau kamu mau pergi atau sudah sampai. Apalagi nanyain kabar anak kamu."
" Belum apa apa kamu sudah bohong. katanya 7x24 jam. mana??" katanya serak.
Aku kembali menelan ludah ku.
" Kenapa sih aku selalu kamu gitu in sama kamu? Kenapa aku selalu kamu manfaatin. sekarang aku yang butuhin kamu, kamunya malah lari."
" Aku gada maksud apa apa Estu, apalagi sampai kamu beranggapan bahwa aku cuma manfaatin kamu Aja. Ga ada maksud sampai ke situ." jawab ku.
" Aku cuma Ngerasa cara ini yang terbaik. Aku pergi diam diam dari kamu. Aku cuma ingin menghindari pertengkaran, atau sesuatu yang bikin kamu nangis." kataku lagi.
" Sudahlah.." katanya Sengau. sesaat dia seperti membuang cairan yang ada di hidung nya itu. Aku tau dia menangis.
" Anak anak nanyain kamu, nanyain Mira. kalau ada waktu sesekali tolong video call mereka." katanya.
" Sekarang anak anak dimana?" tanya ku.
" Mereka sudah tidur." jawab nya.
" Ya sudah, kamu yang hati hati disana ya Kha." katanya lagi.
" Estu... Estu." kataku sedikit keras sebelum dia menutup ponselnya.
" Iya Kha, ada apa lagi?" katanya.
"Estu... aku minta maaf untuk semuanya ya." kata ku lirih.
" Maaf, aku sering buat kamu nangis, sedih ataupun marah." kataku.
" Aku... Maafin aku sudah bicara yang gak perlu ke kamu. malah seolah olah aku ngadu domba kamu sama pak kardiman?" kataku.
" Sudah lah, bukan cuma kamu yang bilang kok. dia juga bilang begitu sama aku." katanya.
Aku sedikit terkejut.
" Tapi Estu, walaupun kamu sudah mengetahui nya. Sudahlah, ikhlas kan saja. semua sudah terjadi." kataku.
Dia hanya diam.
" Aku hanya butuh waktu Kha. biar waktu yang hapus semuanya." Katanya.
Aku terdiam, sedikit melamun kan dirinya itu. Ada rasa sesal yang terselip dan kata kata seandainya terhadap Estu.
Namun aku juga lebih tau, siapa sebenarnya aku.
Memang baiknya begini mungkin, Aku jauh dari nya.
Menata Hidup ku yang sekarang berantakan.
" Yaaaa, Hallo Ay?" jawab ku.
" Oh, tadi maaf. aku ada telfon, belum sempat baca pesan kamu lagi. kenapa?" kata ku.
Aku sedikit mengerutkan dahi ku.
" Yaaaa sudah sih, sekarang kamu ngomong langsung sekalian ada apa. kenapa mesti aku kamu suruh baca segala." kataku sedikit kesal.
Aku sedang malas bermanja-manja. pikir ku. Pikiran ku sedang suntuk.
" Yaa udah kalo kamu gak mau ngomong, gak usah telepon!" kataku
" Siapa yang marah, aku cuma minta kamu ngomong langsung aja. Apa sih susahnya? malah kamu minta aku baca pesan nya. emang serahasia apa sih!" kataku.
" Ya udah, tutup aja telepon nya!" kataku.
Tak lama beneran dia tutup telpon nya.
Bodo amat lah, pusing aku!
***
" Iya, jadi kita letakkan kayu nya dulu disini. terus tambahkan material lain sesuai gambar atau ide kita. terus seting ukuran jangan sampai cairan resin yang dituang itu kurang. nanti tebalnya gak sama pak?"
Kataku menjelaskan kepada pak Bandi.
" Sepertinya, kita juga butuh karyawan baru pak, buat bantu bantu. tapi orang yang ngerti masalah kayu dan adukan resin?" kataku.
__ADS_1
" iya mas, tadinya saya mau bilang begitu ke mas nya?" katanya lagi.
Aku mengangguk.
" Cari saja pak, yg pas menurut bapak. besok saya mau urus urus berkas pembuatan CV." kataku.
" iya mas." jawab nya.
Tak lama kemudian, Ayu Datang menghampiri kami. Mukanya yang Tampak sedikit asam menatap sekilas Kepada aku.
Tatapannya dingin, seolah olah menunjukkan rasa kesalnya. Aku mencoba biasa saja. Sesekali aku mencuri pandang ke matanya itu.
Dia tampak sedang membicarakan sesuatu dengan pak Bandi. dan aku menepi, menjauh sedikit dari mereka.
Ada perasaan menggelitik. ingin sekali aku menyapa atau meledek nya. Namun ku urungkan.
" Mas," panggil pak Bandi kepadaku. aku lantas mendekati nya.
" Iya pak, ada apa?" kataku.
" Ini, ayu bilang barusan dia dapat info kalau yang punya kontrakan di belakang itu mau nyewain rumah nya." katanya.
" Yang mana sih pak?" tanyaku sesekali menatap nya yang dingin kepada ku
" Lah, yang berhadapan pas sama kost-an nya si ayu ini loh. yang itu rumah nya." katanya sambil menunjuk ke belakang.
" Cuma terhalang tembok pagar rumah saya ini." Katanya.
" Pertahun mintanya berapa ya mbak?" tanya ku sambil menatap Ayu.
Dia hanya diam memandang ku.
" Ya Mbak, pertahun nya minta berapa yang punya kontrakan." ulang ku lagi.
" Lebih jelasnya lagi, mas tanya langsung saja sama bapak kontrakan nya." katanya datar.
Aku tertawa kecil.
" Ohh,kirain mbak nya udah tau pasti. nanti saya tanya kalau rumahnya gak di kontrakan gimana?" kataku.
" Ya memang mau dikontrakkan. tapi biar lebih jelasnya, mas tanya sendiri langsung." jawab nya ogah ogahan.
Aku menatap pak Bandi. lalu menarik nafas ku perlahan. kemudian menatap nya.
" Iya nanti lah kapan kapan, saya tanya langsung. sambil cari cari informasi lain." kataku.
" Iya sih pak, ingin nya. tapi saya kan gak punya kendaraan. terus saya mau masuk kan Mira ke kursus salon. biar dekat saja dia berangkat nya." kataku sambil melirik ke arah nya.
" Makasih ya infonya mbak." kataku sambil tersenyum kepadanya.
Dia menatapku seperti Merasa tambah kesal.
" Yaa Hallo??" kataku sambil mengangkat Telepon dari Livia.
Aku melirik nya, lalu menepi sedikit menjauh dari mereka.
Aku memang sengaja melembut kan gaya bicara ku, sambil senyum dengan ekspresi wajah yang senang.
Dia menatapku seolah olah menunjukkan ketidak sukaan nya.
Kemudian dia pergi, dan Tampak marah.
***
" Loh, kamu kenapa Tho Yu. dari tadi aku tanya kok jawabannya ketus gitu?" kata Linggar padaku. Aku menatapnya.
" aku cuma gak enak badan ini mas." jawab ku beralasan.
" Udah minum obat, apa mesti ke dokter?" kata nya sambil berusaha memegang dahi ku. aku langsung menepis nya.
Dia menatapku curiga.
" Aku gak apa apa mas, butuh istirahat aja?" kataku buru buru mengalihkan kecurigaan nya tersebut.
" ooo,ya sudah cepetan istirahat sana. kamu mau aku belikan sesuatu?"tanya nya.
" Gak usahlah mas. aku mau tidur saja." jawab ku padanya.
" Yowes, aku pulang dulu Yaa. kamu istirahat, biar besok Kerja nya semangat." katanya sambil tersenyum.
Dia membelai rambut ku pelan. Sungguh, aku jadi merasa risih sendiri tapi tak bisa berbuat apa-apa. Aku takut nanti nya dia akan semakin curiga. lalu dia mencium keningku sebelum pergi.
Rasanya kesal, harus terus berpura pura kepada Linggar. Rasanya susah mempertahankan Hubungan kami, ingin rasanya aku berterus terang bahwa Perasaan ku padanya kini memudar. Namun tak semudah itu aku mengakuinya.
Bagaimana dengan keluarga ku dan perasaan keluarga nya jika kami putus?
__ADS_1
Dan semakin kesal jika aku mengingat nya. Sakha- Dasar wong Edan, umpat ku.
Dia gak tau apa kalau aku bertaruh untuk nya. Aku saking Cintanya sama dia, dan aku gak tau alasannya Kenapa? Kenapa coba, kenapa sih harus dia.
Udah jelas-jelas dia Duda, Punya dua anak pula. Mantan istrinya Cantik kek Ratu, mantan pacarnya seperti bidadari. Yaa kok bisa bisanya aku nekat mencintai nya. Aku gak ngaca atau gimana Yaa?
Rasanya kesel banget kalau udah dia cuekin. ini ni, yang di dalam dada mangkel nya bikin sesek. pingin nangis Rasanya.
Apa susahnya sih merhatiin aku dikit, wong aku mintanya gak banyak kok. Pikirku kesal sambil tiduran menghadap ke tembok.
Samar samar aku mendengar orang yang sedang berbicara. Suara dari Rumah ibu kontrakan ku, memang dia berencana pindah ke rumah nya yang lebih besar. dan rumah nya yg berada di depan kost ku mau di jual atau dikontrakkan juga.
Aku sedikit mengintip dari balik jendela.
***
" Lah mas nya tau dari siapa rumah ini mau di kontrakan?" tanya bapak pemilik kontrakan ini yang aku lupa siapa namanya.
" Itu pak Haji, kata saudara pak Bandi." Kataku.
" Oh, si indah Tho?" katanya. aku hanya tersenyum.
" Ini istrinya atau Siapa nya mas?" tanyanya kemudian sambil menunjuk Mira.
" Adik saya Pak, saya ada kartu keluarga nya kok kalau dia benar-benar adik saya." jawab aku.
" Ya.. ya..ya..yaaa, Saya percaya kok Mas. tapi kok butuhnya satu rumah enggak yang lebih kecil saja. saya ada kok kontrakan yang biasa di sana lebih dekat sama jalan." katanya.
" Wah, jangan dekat jalan lah pak.nanti saya mau bawa anak saya yang kecil kesini?" jawab nya.
" Sama ibunya?" tanya nya lagi.
Aku hanya tertawa kecil.
" Enggak pak, Saya belum dapat ganti nya?" jawab ku.
" Loh? Mas ini duda Tho. Saya pikir bujang e?" kata nya sambil tertawa. Aku juga tertawa.
" Mau saya Carikan ganti nya apa Mas, mau yang gimana? Janda apa perawan." katanya sambil tertawa keras.
" Lah, mana ada pak yang mau sama saya perawan mah. sudah punya anak." kata ku.
" Yaa sudah, sama janda saja ya biar imbang. saya pilihkan yang gini.!" katanya sambil mengacungkan kedua jempol nya.
Kami berdua pun tertawa sedikit keras.
" Ihh, Aa!" kata Mira sedikit memprotes ku.
" Kamu kenal Ayu kan Mir, itu loh kost-an nya. kamu Kesana saja dulu. nanti Aa jemput." kataku.
" Nanti ganggu dia Aa." Jawab nya.
" Enggak lah, Cuma sebentar ini. nanti Aa jemput." kataku.
**
" Assalamualaikum... mbak...mbak Ayu. ini Mira mbak, mbak udah tidur belum Yaa?" terdengar suaranya dari luar kamar ku. Aku pura pura saja seperti baru bangun tidur langsung membuka pintu.
Tampak Mira berada di hadapan ku.
" Ganggu ya mbak? Maaf Yaa." Katanya sambil berdiri di depan pintu kamar ku. aku tersenyum.
" Enggak Mira, Ayo masuk. sama siapa kesini?" kataku sambil pura pura melihat ke luar pintu. Tampak orang itu masih tertawa-tawa sama pak haji di beranda Rumah.
" Sama Aa, lagi lihat lihat Rumah." jawab nya. Aku hanya tersenyum.
" Terus, gimana? Cocok." tanya ku lagi.
" belum tau Aa mah. tadi sih baru lihat lihat dalam rumah nya." jawab nya.
" Ya kamu suka Gak Mira sama rumah nya pak Haji?" tanya ku penasaran.
" Kayak nya kegedean sih mbak. kamar nya ada empat, ruang tamu,ruang tengah, terus dapur sama ruang makan jadi satu. kamar mandinya di luar yang bikin Serem Mbak." katanya.
" Kenapa emangnya Serem. kan ada Aa kamu?" tanya ku.
" Mbak, Aa bilang katanya bakalan sering pergi cari kayu. biasanya katanya nginap. kalau aku cuma sendiri, berdua sama anaknya Aa yang masih kecil ya takut." katanya.
Aku tertawa kecil.
" Nanti aku temenin kalau kamu sendirian di rumah?" kataku Modus.
" Lah, mbak nya kan kerja. Nanti saya ganggu dong." katanya lagi.
" Bisa di atur itu." kataku berlagak santai.
__ADS_1
" Iya sih, Tapi terserah Aa juga sih. kata Aa tadi kalo kemahalan mau cari yang lain." katanya yang sedikit mematahkan semangat ku.