Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 125


__ADS_3

" Sebenarnya, maunya kamu apa dari aku Haahh!!"


" Aku juga nggak mau datang ke sini cuma Buat berantem sama kamu!!"


" Aku tahu aku salah sama kamu. tapi, setiap perbuatan orang salah pun masih ada alibi di dalamnya!?" Kataku.


" sekarang aku lebih sering di rumahnya Estu bukan berarti aku mau ng*** sama dia!"


" Aku punya anak dari dia, dan kamu tahu sendiri kalau mantan mertuaku juga habis meninggal!!"


" Tampa campur tangan pak kardiman. kita itu nggak akan pernah bertemu!!" kataku.


dia menatapku Sengit.


" kamu tenang aja, mulai besok aku enggak ke sini. nggak akan ganggu Ganggu kamu?!" Kataku sambil melangkah meninggalkannya.


" Papa...??" teriak Kylie dari pintu kamar sambil Menangis memanggil ku.


seperti agak berlari menuju diriku, tetapi langsung di tahan oleh Livia.


Kylie terus menangis sambil meronta dan memanggil namaku.


" Papa mau kerja Sayang, gak usah sama Papa?" kata Livia sedikit keras.


Aku hanya diam menatap anak ku dan dirinya yang terlanjur Benci dan marah terhadap ku.


Aku mendekati Mereka.


" Livia, kamu Kenapa sih??" bentak ku sambil berusaha mengambil Kylie dari nya.


Anakku itu terus Menangis.


Aku memaksa Livia untuk melepaskan nya. Aku sedikit menekan keras tangan Livia hingga ia membuka pegangan tangan nya terhadap Kylie itu.


Livia sedikit berteriak kesakitan, aku langsung merebut Kylie dan Menggendong nya.


Anakku itu terus Menangis dalam dekapan ku. Livia meringis kesakitan sambil memegang pergelangan tangan nya.


" Sakit setan!!" katanya mencaci. dia masih terlihat geram Kepada ku.


" Aku bisa berbuat lebih kasar daripada itu, kalau kamu berbuat gila!?" kataku sambil mengelus-elus rambut Kylie dan menenangkannya.


Livia menatap ku. dan bersiap akan memukul ku.


sebelum itu terjadi dia berteriak seperti menahan sakit. dia memegangi perutnya itu.


Aku menatapnya sedikit terkejut.


Dan, wajah Livia tiba-tiba berubah menjadi pucat. Aku sedikit panik.


" Livia.. kamu Kenapa?" kataku sambil memegangi nya.


tapi dia berusaha melepaskan tangan ku.


namun dia terlihat semakin kesakitan dan tubuhnya hampir jatuh ke lantai. Aku menopang nya.


Di tambah Kylie yang masih menangis.


Sekarang dia Memanggil nama mama nya.


Aku berteriak, memanggil pengasuhnya anak ku.


" Mbak, tolong pegang Kylie dulu?" kataku panik.


" Sakha sakit..?" kata Livia lagi sambil meringis dan


memegangi perut nya.


Aku memapah nya ke sofa lalu mengambil kan nya air hangat.


" kata-kata sakit lagi!?" kataku Panik sambil mengusap rambutnya yang menutupi keningnya itu.


Dia menatapku lemah sambil menggelengkan kepalanya.


" enggak usah?" katanya pelan.


" kamh kesakitan begini. akun takut kamu kenapa-napa?" kataku sambil membelai nya panik.


" obat yang dari rumah sakit kemarin juga masih ada?" katanya pelan


" Tolong ambilkan yang di kamar?" katanya kepadaku lantas Aku berlari masuk ke dalam kamar dari rumah sakit kemarin.


Aku menyerahkan nya Sambil memberinya air minum.

__ADS_1


" yang mana yang harus diminum?" Tanyaku sambil menatap nya.


" Yang mana? Yang ini... sama yang ini ??" tanyaku sambil menatap nya lagi.


tidak begitu lama Aku menyerahkan obat yang dimintanya untuk diminum.


aku menatap Livia cemas.


Beberapa kali aku mengusap keringat yang keluar di keningnya itu.


sungguh aku takut jika terjadi apa-apa dengannya, juga anakku yang tengah dikandungnya itu.


Livia terpejam sambil duduk di sofa. hampir sekitar setengah jam aku menunggu in ya. persis bersimpuh di hadapannya yang tengah duduk itu.


berangsur-angsur kondisinya sudah sedikit tenang.


namun badannya terasa hangat.


sepertinya kandungan yang tadi mengalami kontraksi. dan sudah pasti akulah penyebabnya pikirku menyesal.


" kamu mau apa?" tanya khusus saat Olivia membuka matanya.


" Aku mau tidur?" katanya lirih.


" perut kamu gimana?" tanyaku masih cemas.


" Aku mau tidur?" katanya lagi.


" ke rumah sakit aja ya??" kataku Kepada Livia.


Dia menggeleng perlahan.


" Aku mau tidur?" ulang nya.


" Tapi kandungan kamu gimana?" tanyaku lagi.


Livia Tampak memejamkan mata nya Sebentar kemudian menatap ku.


" Sudah mendingan, sekarang aku mau tidur?" katanya lagi.


" tapi aku takut kamu kenapa-napa Livia?" kataku lagi.


" Berbisik..! aku udah Baikan. sekarang aku mau tidur?" katanya Sedikit membentak ku.


Merebahkan tubuhnya itu di atas kasur milik nya, lalu menyelimuti badan nya.


Dan menunggui nya meskipun harus duduk di kursi.


Aku memandangi Livia yg berangsur-angsur mulai tenang. mungkin obatnya itu membantu menenangkan nya juga.


Sesaat aku teringat kepada Kylie, lalu aku menyusul nya ketika Livia sudah mulai tertidur.


***


Ternyata sudah pagi saat aku membuka mataku.


Semalam aku mengalami kontraksi lagi. tapi kata dokternya kemarin, jika cuma sakit biasa minum obatnya. kalau sampai ada flek, aku di haruskan kembali ke rumah sakit.


Aku menatap ke sekeliling kamar. ternyata Sakha tengah tertidur bersama Kylie di lantai menggunakan kasur busa yang digelar.


Teringat aku dengan kejadian semalam.


memang aku sendiri yang mencari gara-gara dengan nya, yang berujung dengan kontraksi pada kandungan.


gara-gara dia tetapi untung juga ada dia? pikirku.


Aku sedikit mengangkat badanku, halo mulai menurunkan kaki ku bersiap untuk berdiri.


" Kamu sudah bangun?" tanyanya pelan sambil memaksa membuka matanya itu. Dia Terlihat mengucek mata nya itu, lalu bangun mendekati ku.


Tangan nya langsung meraba kening ku lalu menatap ku kemudian.


" masih anget ini badan nya, kamu tiduran aja?" katanya pada ku.


" Kamu pusing enggak? Mau aku buatin susu?" katanya menawarkan.


" Aku mau ke toilet, aku kebelet pipis." kataku yang membungkam semua tanya nya itu.


setelah aku selesai dan keluar dari toilet, Sakha terlihat meringkuk di sisi tempat tidur ku.


Aku sedikit bergumam kecil dan itu langsung membangun kan nya.


Dia berjalan ke arah ku, lalu megang tangan. seolah hendak memapah ku.

__ADS_1


" Kamu tiduran aja hari ini, bedrest. nanti aku panggil dokternya untuk ke rumah?" katanya sambil nyuruh ku kembali ke tempat tidur.


Aku hanya diam.


" perutnya masih sakit nggak?" tanyanya pelan. aku hanya menggeleng kecil. dia melipat bibir nya.


" Aku ke toilet dulu ya? nanti kalau ada apa-apa. kamu teriak aja?" katanya sambil menatap ku lekat.


Aku hanya diam.


Dari tadi aku hanya Diam saat diajaknya berbicara.


hanya mengangguk, menggeleng, dan menatap nya.


Sepertinya sikap ku ini tidak fear terhadap nya yang terlihat khawatir dengan ku.


Dari semalam memang aku lah yang menyebabkan kekacauan.


wajar saja dia marah, malu aku Aku megangi pergelangan tanganku yang semalam di tekannya kuat kuat.


" Apa itu Sakit? maaf yaa??" katanya sambil reflek memegang tangan ku juga.


Aku menatapnya dan dia menyadari tindakan nya itu barusan.


" Maaf." katanya sambil melepaskan pegangan tadi itu.


Aku hanya diam sambil memandang nya Sebentar.


Aku masih terasa kaku dan canggung terhadap nya.


Rasanya, dari tadi di dadaku ada desiran desiran yang terasa aneh dan sedikit sakit menusuk.


" Kamu biasanya sarapan apa? Aku buatin susu yaa?" tawar nya sambil menggendong anaknya itu yang baru saja terbangun.


Kemudian dia dan Kylie keluar dari kamar ku, dan aku Mulai merebahkan tubuh ku.


tak lama kemudian dia kembali sambil membawa segelas susu dan dua potong roti lapis selai.


" tampaknya kamu kalau pagi sarapan yang begini?" ini aku buatin buat kamu. nanti kalau kamu pengen makan bubur atau nasi bilang aja ya?" katanya sambil menyerahkan nampan itu kepadaku.


" taruh dulu di meja Nanti aku makan. sekarang aku belum mau?" kataku pelan. Dia sedikit mengangguk.


" aku mau mandiin Kylie dulu ya. Katanya dia mau berangkat ke sekolah?" katanya sambil sedikit tersenyum.


" tapi dia minta aku Nanti yang jemput?" kata nya seperti senang.


Aku hanya diam lagi. lalu aku tertidur kembali.


**


Saat aku membuka mataku lagi, ternyata sekarang sudah pukul setengah sembilan pagi. jadi tadi aku tidur lagi sekitar satu jam lebih.


Aku menatap Sakha yg juga tengah tertidur di kasur busa yg di letakkan nya di lantai. dekat dengan tempat tidur ku.


Ada perasaan yg menusuk ku, rasanya sedih dan sakit aku melihat nya begitu.


tapi aku perlakukan dia dengan tidak baik. Aku meneteskan air mata ku, rasanya aku menyesal telah berbuat seperti itu kepadanya.


Dia tertidur, sedikit memelintir kan tubuh nya kesamping. wajahnya terlihat lelah.


mendadak, aku Merasa kasihan kepada nya. Aku sedih dan menangis kecil menatap nya.


Dengan keberaniannya ku. aku mendekati nya, dan berbaring di samping nya itu.


Tak begitu lama terbangun dan sedikit kaget melihat ku berada di samping nya.


" Kamu kenapa?!" tanyanya sambil meraba kening ku. dia menatapku sedikit heran. Aku menatapnya, lalu memeluk tubuh nya itu sambil menangis.


Aku sudah tak tahan memendam kesedihan karena nya.


" Kanu kenapa?" katanya ulang.


Aku Hanya menggelengkan kepala ku di dadanya. Dia membelai lembut Rambut ku berkali-kali.


Aku masih menangis sedih karena nya.


" Livia kamu kenapa? Aku salah lagi ya sama kamu??" katanya pelan sambil membelai ku. dan aku masih saja menggelengkan kepala ku.


terdengar suara tarikan nafas nya,lalu dada nya sedikit membusung kemudian helaan nafas nya yang sedikit panjang.


Lantas dia memeluk ku dan mencium kening ku itu.


Ada perasaan Sebegitu leganya di dadaku. Aku makin memeluk nya masih menangis, kali ini rasan tangisan ku ada bahagia nya.

__ADS_1


__ADS_2