
" Mbak Estu kok tega sih melakukan itu sama saya? Apa Mbak sengaja membalas dendam atas perbuatan saya dulu sama mbak?" kataku berusaha menahan emosi saat berbicara dengan nya.
" Kalau dahulu Mbak belum selesai sama Sakha kenapa Mbak nggak mau saat dia mengajak Mbak rujuk atau Tidak ingin bercerai.!?"
" Sekarang saat dia sudah sama saya, Mbak deketin Sakha lagi, dengan alasan anak-anak!!"
" Mbak itu licik banget ya!?" kataku kepadanya yang sedari tadi hanya diam.
" Sungguh merugi saya menikah Sama dia, disini dia masih bermain dan belum selesai sama masa lalunya. disana dia tergoda sama perempuan muda.!?" kataku mengumpat.
" Kalau saya tidak terlanjur punya anak sama dia, lebih baik saya gak menikah sama dia Mbak.!?' kataku.
Hampir saja menangis.
" aku nggak ada maksud seperti itu Livia sama kamu, yang terjadi itu sangat cepat dan tidak direncanakan.?" katanya membela diri.
" enggak ada niatan dari aku sedikitpun untuk membalas dendam sama kamu itu terjadi begitu aja?"
" terjadi begitu aja Mbak kata kamu?! aku nggak yakin kalau kamu tidak punya niat atau tidak punya hati sama dia!!"
" Mbak masih suka kan sama Sakha, masih cinta atau masih berharap hidup berdua bersamanya lagi? iya kan!". kataku terdengar marah dengan suara yang sedikit lebih tinggi.
" Livia sulit bagi aku menanyakan pada diriku sendiri, aku masih suka sama Sakha Atau tidak! yang terjadi kemarin di luar kendali kamu berdua?!" katanya terdengar menyangkal.
" Maksudnya kalian berdua kesurupan gitu, ***** dan pengen n******!! Bullshit lah omongan kamu itu Mbak!kalian berdua itu sama saja.!" kataku marah marah.
" Aku tahu, dulu aku salah sama mbak dan aku sengaja menyingkir dari hidup kalian berdua meskipun pada saat itu Sakha mengajakku untuk menikah.!"
" Aku masih mikirin nasib Mbak sama anak-anak mbak. masih mikirin perasaannya Mbak?!"
" Aku nggak mau jadi pengrusak di hubungan kalian berdua Terus terusan.?!"
" Seandai Mbak sudah merasa berdamai dengan masa lalu, seharusnya Mbak tidak sekalipun dekat dengan Sakha atau memiliki perasaan yang seperti itu!!"
" Aku sakit Mbak! aku nggak terima sama perlakuan Mbak sama aku?!" kataku sambil menangis.
dan dia hanya diam.
" Livia maaf, kalau kamu inginnya seperti itu biar aku menyingkir sama anak-anakku. menjauh dari Sakha?" katanya kemudian.
" Percuma Mbak, kalau mau seperti itu. harusnya sejak dari dulu bukan setelah aku tahu kamu serong sama dia.?"
" Kalaupun Mbak menjauh dari Sakha, sama anak-anak mbak. Apakah Sakha sekonyong-konyong melupakan Mbak dan anak-anak begitu saja?" tanyaku padanya.
" Mbak Estu Pasti tahu jawabannya secara pasti. Sakha tidak mungkin melakukan itu Terhadap kalian."
" Sakha tipikal lelaki yang lebih milih berantem sama pasangannya daripada harus berpisah dengan anaknya!"
" Mbak tahukan kerasnya Sakha seperti apa. Apalagi itu menyangkut kewajibannya.!" kataku sedikit membentaknya.
" Kalau mbak mau menikah lagi sama Sakha, silakan. Lebih baik aku yang mundur sama anakku.!"
kata ku menangis sedikit terisak
" Livia nggak harus seperti itu juga, kalau Sakha tidak bisa dipisahkan dengan arcelio dan Danesh, itu juga berlaku terhadap Kylie.!" katanya.
" Dia sangat mencintai anak-anaknya. setelah anaknya lahir, kamu tahu kan kan siapa yang paling dicintainya sekarang?" katanya kepadaku.
aku menatapnya dengan mata yang tergenang air mata.
" Tapi nggak bisa Mbak, aku atau kamu berbagi hati untuk Sakha atau Sakha terhadap kita. Aku nggak pingin merasakan cinta yang timpang!!"
__ADS_1
" Sakit Mbak. aku rasa kamu juga pernah merasakannya meskipun itu karena aku.?"
" Levia, tolong kamu jangan mundur. Biar aku saja karena aku yang salah sekarang.?"
Sesaat kami saling terdiam.
" Sejujurnya Mbak, Bagaimana sih perasaan kamu sama Sakha? Aku nggak pingin menduga-duga nya.!"
" Aku pingin tahu dan dengar langsung dari kamu kataku.!"
Dan tatapan matanya terhadapku seperti tersudut.
" Tanpa menjelaskannya, kamu tahu Secara pasti Livia. Aku tidak ingin berbicara terus terang sama kamu, itu malah menyakiti hati kamu!" katanya kepadaku.
" Aku berencana akan mengambil Kylie darinya." kataku kemudian.
" Livia Tolong jangan lakukan itu terhadapnya, itu malah memicu masalah yg lain.?" kataku.
" Kamu kan tahu dia selalu membutuhkan support dari anak dan istrinya. Jangan biarkan dia merasa hancur kembali.!" katanya lagi kepadaku.
Namun aku tidak bergeming dan berfikir mungkin itu alasannya saja. mana mungkin Sakha seperti itu. ketika dia menemukan perempuan baru pun dia akan lupa pada yang lain.
" Kalau mbak gak bisa berpisah sama anak-anak mbak, bukankah sama jika saya tidak ingin berpisah dengan anak Saya?" kataku menjawabnya.
Sesaat kami berdua pun saling diam kembali.
" Dia masih membutuhkan support dari kamu Livia, sebagai istri nya?" katanya pelan.
" Setelah dia bercerai dari aku, kamu pasti tahu betapa Susahnya dia bangkit untuk kembali hidup?"
" Cobaan Hidup nya datang bertubi-tubi. Tolong lah, meskipun itu hak kamu, Jaga dahulu tindakan kamu untuk saat ini. Aku janji akan jauh dari dia?" katanya pelan dan Terasa sedih.
Yaaa... aku tahu pasti jika dia masih mencintai Sakha meskipun sekarang caranya salah.
***
" Tahan Dulu Sebentar, aku Kesana sekarang!!" kataku Sambil bergegas masuk ke dalam mobil.
Aku buru-buru menyalakan mobilku itu dan menga gasnya segera untuk menghampiri Ayu di kontrakan milik temannya di tempat yang sedikit jauh dari kontrakannya yang dulu.
Aku buru-buru menelpon Arya.
" halo Arya Kamu tahu nggak klinik bersalin terdekat di sini di mana?" tanya ku.
" kamu nggak usah tanya dulu untuk siapa Aku buru-buru ini keburu orangnya mati!" kataku kemudian.
Tak lama kemudian dia mengatakan suatu klinik bersalin milik temannya yang letaknya agak lebih jauh dari kota.
" Arya, Tolong kamu rahasia kan ini dari Mira atau siapapun. dan Tolong kamu telepon teman kamu itu yang punya klinik bersalin, bahwa aku teman kamu.!!"
Kataku sedikit menekan nya.
" Dengan langkah yang terburu-buru aku mendatangi kontrakan di mana Ayu berada.
Setelah kubuka Pintu, Terlihat Ayu dengan wajah yang pucat menahan rasa sakit sambil menekan perutnya itu.
Aku membopongnya, membawanya ke dalam mobil Segera. Tanganku Seperti menyentuh cairan yang keluar dari tubuhnya yang berbau amis.
yang ternyata darah.
" Tolong bertahan Ayu, sabar. Sebentar lagi kita Sampai ke rumah sakit kataku panik padanya.
__ADS_1
" Sakit mas..." katanya berulang-ulang sambil menggenggam wajahnya semakin pucat, aku gemetaran.
berulang-ulang aku memperhatikannya dengan rasa yang cemas, namun aku harus tetap berkonsentrasi membawa mobilku yang melaju ini.
Setelah sampai di tempat tujuan aku berteriak untuk meminta tolong. Tak lama kemudian perawat datang dan membawa Ayu segera untuk dilakukan tindakan.
Aku mengikutinya sambil menggenggam tangan Ayu.
Aku menatap wajahnya yang semakin pucat tangannya terasa dingin menggenggam kuat tanganku.
" Sakit mas...." katanya berulang-ulang Sambil menahan rasa Sakit.
sungguh aku tidak tega terhadapnya dan hampir menangis.
kemudian Aku diminta untuk menunggu di luar Ruangan.
" Pak,?" kata salah seorang bidan yg menghampiri ku.
" Ibu Bagaimana keadaan dia?" kata ku Panik.
" Bapak ini suaminya? tanyanya lagi. aku buru-buru mengangguk meyakinkannya.
" Iya Bu saya suaminya, Bagaimana keadaan istri saya?" kataku.
" Maaf Pak, tadi istri Bapak mengalami keguguran. dan kami melakukan tindakan kuretase terhadap kandungannya tersebut." katanya menjelaskan.
Seketika aku menelan ludah dan Merasakan rasa gugup yg hebat. aku takut sekali jika terjadi apa-apa dengan Ayu.
" Lalu bagaimana keadaannya sekarang Bu?" tanyaku.
" Sekarang istri Bapak Sudah kami pindahkan ke ruangan. dan untuk Proses kuret nya berjalan lancar, Sekarang tinggal menunggu pemulihan istri Bapak!" katanya lagi.
Ada perasaan sedikit lega dan takut yang teramat sangat dalam dadaku. lalu aku mengusap wajah ku dengan tanganku.
" Apakah sekarang istri saya sudah boleh dijenguk?" tanyaku kepada bu bidan.
" Ooh, silahkan. tapi terlebih dahulu Bapak menyelesaikan administrasi di Kasir untuk pengobatannya.?" katanya kemudian.
aku hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada bu bidan tersebut.
Aku melangkah kan kaki ku yang terasa berat menuju ruangan dimana Ayu beristirahat.
Aku memikirkan semua tindakan ku yg pernah ku perbuat terhadap nya?
Ayu sudah mengandung Anakku, Aku tahu pasti.
Lalu apa sekarang yang harus aku perbuat terhadap nya, terhadap perempuan yang pernah mengandung anakku dan hampir mati tadi karena kandungan nya tersebut?
Aku duduk di sebuah kursi panjang, memikirkan kejadian yang barusan terjadi. Aku coba menenangkan Diri. Mencoba menarik nafas dengan tenang.
Aku menundukkan kepalaku, menyembunyikan tangis yang keluar dari mata ku.
Aku teringat kembali kepada perkataan Estu itu??
Pertanggung jawaban seperti apa kini yang akan aku beri kepada Ayu dan keluarganya.??
Bagaimana jika mas Bandi tau masalah ini, atau bahkan seluruh keluarganya. Dan Keluarga dari Linggar.
Aku merasa bersalah, Aku benar benar Seseorang yg Luar biasa Badjingan nya.
Yaa Tuhan? aku merasa sangat berdosa terhadap semua orang yang telah aku kelabui dengan tindakan ku ini.
__ADS_1
Aku merasa sangat bersalah terhadap Livia dan juga anak Anak ku.
Aku sangat bersalah terhadap mereka. seandainya mereka tahu masalah ini. Aku harus Bagaimana pikirku??