
Aku mendengar dari Mira bahwa arya, iparku itu berencana untuk kuliah S3 lagi. mungkin di Jakarta atau di luar negeri.
katanya, agar bisa mengajar dan mengedukasi dokter-dokter muda yang ada di Indonesia. sesuai dengan keahliannya, spesialis bedah jantung.
Aku sedikit berfikir Apakah benar sih Mira mendapatkan suami yang begitu hebat nya? seseorang yang hebat itu memanggilku dengan sebutan Mas dan menuakan ku walaupun umurku sendiri terpaut beberapa tahun darinya.
kadang aku merasa bersyukur atas takdir yang Mira dapatkan.
sesuatu yang kebetulan dan tidak sengaja berakhir menjadi sebuah keluarga.
lalu aku membandingkannya dengan diriku, seseorang yang biasa, kadang lupa bersyukur atas kehidupan yang sudah Tuhan berikan.
lelaki yang banyak tingkah, mungkin sok ganteng dan sok yes? lalu aku tersenyum sendirian.
Mungkin memang hidupku harus aku rubah sendiri.
namun tetap saja aku memikirkan perempuan, perempuan, perempuan itu di hidupku.
dan aku masih penasaran, kemanakah Ayu sekarang?
meskipun Livia belum mengetahui jika aku menikah dengan Estu. itu tak membuat perasaanku menjadi tenang, Aku seperti sedang dikejar masalah yang sewaktu-waktu akan meledak.
usia kandungan mereka berdua sudah berumur 5 bulan sejak aku tinggalkan ke Jawa.
mungkin sudah waktunya aku menengok mereka ke Jakarta.
mungkin minggu depan aku akan ke Jakarta.
" Mira, Apa kamu sudah terima email dari Kantor. berapa banyak item permintaan mereka untuk bulan depan?" tanyaku pada Mira.
" sudah A.. semua sudah Mira berkas kan tinggal Aa cek.?" katanya kepada ku.
aku menganggukkan kepalaku perlahan.
" Mira, kalau minggu depan ke Jakarta Boleh?" kataku padanya. dia menatapku.
" loh Aa... katanya diundang seminar bulan besok ke Surabaya apa ke mana itu?" katanya.
" Iya, masih bulan depan??" jawab ku padanya.
" Aa kan harus nengokin mereka berdua?" kataku pada adikku itu yang masih hamil muda. dia menatapku lagi, aku menatapnya sambil tersenyum
" Kamu suka pingin kan Kalau perut kamu itu tilu sama arya?" kataku.
" Aa juga pingin mengelus-ngelus perut istri Aa yang sedang hamil?" Kataku sambil tersenyum geli.
" Ihhh.. enggak kok. Mira mah enggak manja?" katanya terlihat penyangkal.
" Halahhh... Emang aku nggak tahu, kalau kamu itu cemberut kalau Arya lupa mengelus perut kamu?" kataku sambil menirukan mimik mukanya yang jengkel dan menggerakkan kedua kakiku.
kami berdua tertawa
" ihhh,, enggak! enggak seperti itu juga Aa?" katanya seperti malu. Aku tertawa kecil karena tingkahnya itu. lantas aku memeluknya.
" Aa.. nanti kalau pulang ke Jakarta. mampir ya ke kampung. Tolong tengokin teteh Elis.?" katanya kemudian. Aku hanya mengangguk.
" Aa lagi mikirin, apa sebaiknya Usaha kita pindah yaa mir?" kataku.
" Loh.. ngapain pindah Aa? Nanti Mira gak bisa bantuin Aa?" katanya sedikit cemas.
" Justru itu.. Aa gak pingin nyusahin kamu sama Arya terus terusan." kataku sambil menatap nya.
" Mira gak keberatan Aa... apalagi mas Arya juga sudah ngijinin Mira?" katanya. Aku menatapnya lagi.
" Kalau Aa butuh rekan kerja laki laki... Ajak Aja pak Bandi lagi Aa, Atau Aa cari rekanan kerja yang lain?" katanya.
" Aa pingin kamu punya Salon?" kataku.
" Iya, Mira juga ingin nya seperti itu. tapi nantilah... nungguin Mira lahiran?" katanya.
" Aa jangan jauh-jauh dari Mira. Mira gak mau Aa tinggalin?" katanya Cemas. Aku menatapnya lagi, kemudian memeluknya Erat.
" Iya..?!" kataku pelan.
***
Aku hentikan mobil ku di pelataran Rumah yang dulu sering aku kunjungi. Aku menatap bekas kontrakan ku dulu tinggal bersama dengan para mahasiswa yang kini sudah pada lulus dan mencari karirnya di luaran sana.
__ADS_1
Aku berjalan berdua dengan pak Arifin, pengacara ku.
Aku mengunjungi Rumah pak Subandi.
Dia merasa kaget ketika menatap ku. Aku tersenyum tipis Kepada nya.
Aku menjulurkan tangan ku, mengajaknya bersalaman. Dia menyambut ku dingin.
Setelah berbasa-basi, dia mempersilakan kami berdua duduk.
" Tumben mas kesini. Ada apa yaa?" katanya sedikit kaku. Aku hanya tersenyum.
" begini pak, Maksud tujuan saya datang kesini selain untuk bersilaturahmi juga mau menyampaikan kejelasan tentang hubungan kerja Sama kita?" Kataku.
" Maksud nya Bagaimana yaa?" katanya.
" Pak, dulu kan kita memulai bisnis ini sama sama. setelah berjalan sekian lama sampai sekarang kan banyak Modal pribadi dari bapak yg di pakai sama saya?" kataku
" Lantas?" tanyanya kemudian.
" Saya tidak ingin ini menjadi persoalan yang membelit pikiran saya pak?" kataku.
" Maksud nya Bagaimana mas?" katanya.
" Saya ma yg memulangkan Yang pak Bandi yg sudah saya pakai?" kataku. kemudian dia tertawa.
" Mas lupa, kalau dulu pernah nutup utang bank saya sekitar 80juta ke Bank?" katanya.
" Mas gak perlu lulangin lagi ke saya, Malah saya yang seharusnya yg pulangin Uang Mas itu?" katanya.
" Apa sebenarnya tujuan Mas Sakha datang ke sini itu untuk mengingatkan saya akan Hutang yg belum saya bayar!?'' kata nya Curiga.
Aku buru-buru menggelengkan kepalaku.
" Bukan seperti itu pak?" kataku buru-buru.
" Kan memang ada uang mas yang dipakai untuk menutup hutang saya ke bank!" katanya.
Aku Menatap pengacara ku, pak Arifin.
setelah terjadi percakapan yang sedikit alot, akhirnya dia memahami omonganku tersebut.
" Saya tidak akan menuntut apapun lagi dari Mas Sakha. hubungan kita kan sudah Selesai?" katanya dengan nada yang sedikit sinis.
" Dan juga ini mas, kemarin keluarga nya Linggar memaksa saya untuk menerima uang ini.?" kataku lagi sambil menyerahkan ikatan uang kepada Pak Subandi.
" Mas saya nggak mau terima, jangan dibakar itu kan CV milik Mas Sakha. bukan punya saya?" katanya kemudian.
" tapi sayalah yang mencabut tuntutan sama Linggar, tanpa persetujuan Mas Bandi terlebih dahulu?" kataku.
" Untuk masalah itu, saya sudah lepas tangan. yang terpenting bagi saya, dia tidak mengganggu kehidupan keluarga saya lagi?" katanya.
" Tetapi ini terlalu banyak buat saya mas?" kataku.
lantas kemudian dia tertawa kecil.
" Anggap saja ini rezekinya mas Sakha?" katanya.
" Saya tidak mau menerima apapun lagi dari Mas Sakha!?" katanya terdengar tajam. Aku hanya mengangguk kecil.
" Ya sudah kalau begitu Pak, kalau bapak tidak mau menerima apapun lagi dari saya - setidaknya terimalah permintaan maaf saya yang sebesar besarnya, Sama bapak dan keluarga Bapak?" kataku kepadanya.
dia menatapku tajam, seperti seseorang yang ingin memaki.
" Saya sadar telah membuat banyak kerugian immaterial sama keluarga Bapak dan juga bapak. terutama menyangkut Ayu?" kataku.
dan dia terlihat emosi ketika aku mengatakan itu.
" Saya gak suka kalau Mas masih menyebut nama adik saya itu?" kata nya. Aku terdiam.
" seharusnya mah sadar diri, Mas itu udah punya istri sama mantan yang masih cinta sama mas. kenapa sampai mau menanggapi Cinta dari anak kecil!" katanya kemudian.
" Saya ngaku kalau saya salah Pak. Oleh karena itu saya datang kemari untuk minta maaf, selain Ada hal lain yang perlu saya sampaikan kepada bapak?" kataku Sedikit pelan.
" Sekarang kan sudah disampaikan semua, sudah jelas. baik dari saya ataupun dari mas Sakha sendiri?' katanya terdengar seperti mengusir kami berdua.
Aku menatapnya yang seperti benci melihatku.
__ADS_1
kemudian aku mengangguk kecil kepadanya.
" maafkan saya pak, andaikan saja saya Dulu bisa menahan diri. tidak melukai perasaan Ayu dan keluarga Bapak, mungkin ceritanya tidak seperti ini."
" Tetapi Bapak juga mesti harus tahu, Saya tidak pernah merencanakan itu semua. saya tidak pernah sengaja suka sama Ayu. perasaan itu datang tiba-tiba dan begitu saja?" kataku kepadanya
" Apapun Mas Sakha... yang sudah terjadi biarlah terjadi tetapi untuk kedepannya saya dan keluarga saya tidak ingin berhubungan dengan Mas Sakha lagi!?" katanya terdengar jelas dan sangat tegas.
aku kembali mengangguk. selalu tersenyum sebelum akhirnya kami pergi meninggalkannya.
**
" Pak, kok kamu menolak uang bagian kamu sih?" kata mbak asih kepada mas Bandi.
lantas Mas Bandi memandang istrinya tersebut.
" Buat apa Bu? itu akal-akalan nya saja supaya dibaikin sama aku!?" katanya menjawab istrinya.
" malah seharusnya kita yang bayar utang sama dia?" katanya lagi.
" tadi kan dia sudah jelas, mau membaginya sama kamu dan tidak mempermasalahkan masalah utang bank yang dibayarin sama dia??" kata mbak Asih terdengar sedikit ngotot.
" Lagian Pak, coba lihat dia sekarang. usahanya berkembang pesat, coba kamu masih sama dia usaha bareng dan nggak ninggalin nya. kamu enggak harus capek-capek memulainya dari nol. lqgi?" kata Mbak Asih yang terdengar seperti mengungkit.
" Tapi ini masalahnya berhubungan dengan keluargaku Bu!?" jawab mas Bandi yang sedikit sewot.
" Harusnya kamu bisa membedakan antara masalah keluarga dan diri kamu sendiri. yang terpenting sekarang kan keluarga kamu Mas. aku sama anak-anak yang harus kamu pikirkan masa depannya!?"
" Keluarga kamu itu Guyub kalau pas ngumpul aja.!"
" apa mereka Guyub saat kamu tertimpa masalah?" katanya.
" Yaa mereka bantu kamu tapi akhirnya akan jadi ungkitan yang nggak selesai-selesai seumur hidup!!" katanya sambil pergi.
***
" Hallo Mira, mir??" kataku dengan nada yang terburu-buru.
" Mira, Aa mau ke Jakarta hari ini. kamu Kamu sekarang ada di mana?!" tanyaku kepada Mira adikku.
" Ya sudah Aa langsung pulang ke rumah ya.?" kataku kemudian.
" Apa Arya masih ada di rumah?" tanyaku lagi.
" Tolong kalau bisa dia jangan berangkat dulu ke rumah sakit, Ada hal yang penting yang harus ceritakan sama dia?!" kataku.
15 menit kemudian aku sudah sampai di rumah milik Arya.
" Mira, Aa mau berangkat ke Jakarta sekarang. bapaknya Estu kritis?" kataku.
" Tolong kamu bantu Aa handle CV yaa?" kataku.
" Dan mas Dokter, saya minta maaf ya kalau nyusahin Mas dokter lagi?" kataku.
" Apa sih Mas ngomongnya kok begitu.?" katanya
" gimanapun juga kan Mira adiknya Mas, berarti saya juga adiknya Mas?" katanya. aku hanya tersenyum Bias.
" Terus, baju Aa yang mana aja yang mau dibawa. Biar Mira Pulihin?" tanya adikku itu.
" kamu nyuruh mbak Ropiah aja, tapi kamu awasin?" kataku.
" Aa harus tenang!?'' teriak Mira dari kamarku sambil memanggil Mbak ropiah sebagai pembantu di rumah milik Arya.
Tak begitu lama ada telepon lagi dari Estu.
" Kamu udah di mana?" katanya.
" Iya Aku lagi siap-siap mau berangkat ke Jakarta?" kataku.
" Kamu naik kereta aja biar cepet?" katanya.
" iya?" jawab ku.
" Bapak dari kemarin Nanyain kamu aja. kamu cepetan datang ke sini.?" katanya terdengar seperti menangis.
" Iya Estu, kamu doain aja aku biar cepet datang. kamu nggak usah nangis, bikin orang panik aja?!" kataku sedikit Gusar.
__ADS_1
" jangan nelpon nelpon terus. aku juga lagi siap-siap mau ke sana.!?"kataku jengkel sambil mensudahinya.