Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 15


__ADS_3

" Jadi gimana mas??" kata pak Subandi yang baru saja mengatakan keinginan nya. Aku hanya tersenyum dan tertawa kecil kepadanya.


" Waduh pak, saya gak ada duit sebanyak itu ??"


" Apalagi beli Panglong ini??" Kataku lagi.


" Saya udah mentok ini Mas... Pusing saya sama Utang saya itu??"


" Rasanya berat banget mikul beban ini, apalagi yang saya punya sekarang tinggal rumah sama Bengkel kayu ini??" katanya kemudian sambil menggeleng kan kepalanya perlahan.


" Ada sih yang mau beli rumah saya, tapi nanti istri sama anak anak saya mau tinggal dimana??" katanya terdengar mengeluh. aku hanya diam.


" Bukan gak mau bantu sih pak, tapi saya memang gak punya uang segitu juga belum begitu paham sama Bisnis perkayuan ini??" kataku.


" Aku sih masih punya Nomer telfon beberapa toko mebel yang Dulu terima Barang dari sini??"


" Yaa Semisal kalau mau belajar lebih dalam nya ya mungkin bisa tanya tanya kenalan ku itu??" kata nya lagi.


Aku hanya mengangguk kecil.


" jujur, Toko langganan ku itu mau terima Furniture dari sini. Tapi ya itu titip dulu."


" Sedangkan saya gak bisaa kalau titip barang. butuh nya di bayar langsung buat bayar kayu dan material lain. belum lagi bayar orang??" katanya.


" Mungkin begini saja pak, Bapak bikin barang sesuai model yang saya minta, saya bayar ke bapak. tapi tolong bantu saya untuk menitipkan nya di toko Furniture langganan bapak??" kataku.


Dan pak Subandi sedikit mengembang kan senyum nya.


" Juga, saya mampunya bayar dua model dalam satu bulan. itu juga mungkin tergantung dari barang furniture yang laku di jual??"


" Gimana pak??" tanyaku Menawarkan solusi dan kerja sama dengan nya..


Dia menjabat tangan ku. sedikit kurasa rasa kegembiraan dari nya.


Tak lama kemudian,datang seseorang yang seperti nya aku pernah melihat nya, tapi entah dimana.


Dia membawakan dua gelas kopi dan sepiring ubi Manis.


" Ini masih keponakan saya, anak kakak sepupu saya dari Salatiga. kerja di sini, itu loh di minimarket yang di depan??" cerita nya.


Oohh...pantas. pikir ku sambil menatapnya yang tersenyum kepada ku. Aku membalas senyuman nya.


" Tapi kok gak pernah kelihatan di sini pak??" tanyaku.


" Dia indekos di rumah belakang??" katanya sambil tersenyum lebar.


" Ohh...iya, mbak nya yang pernah minta mangga yaa??" kataku sambil menunjuk nya.


Dia hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.


" Yaa..yaa..yaa??" kataku.


" mandiri sekali dia itu, gak mau menyusahkan siapa-siapa.??" kata Pak Subandi memujinya.


Aku hanya tersenyum menanggapinya.


" lulus sekolah itu dia kuliah sambil kerja di toko.?"


" biaya sendiri nggak pernah minta sama orang tuanya.?"


" yah mungkin karena anak dari perceraian dia bisa tangguh seperti itu.??"


Aku kemudian mendehem pelan, sambil meminum kopi yang ada di hadapanku.


" Harusnya Ayu tahun ini menikah, tapi ndilalah gak jadi. mungkin belum jodoh??" lanjut pak Subandi.


" Apa mas Sakha sudah punya pacar??" tanya nya kemudian yang mengagetkan ku.


" Barang kali kita bisa jadi saudara??" tambah nya lagi


Dan Aku sedikit tersedak karena nya.


" Kenapa mas, pelan tho??" katanya sambil tertawa.


" Gak pak, gak apa-apa??" elak ku.


******


" Bapak ini ngawur, Main jodoh jodohkan mas Sakha Sama Ayu??" Kata mbak asih


" Ya gak apa-apa kan yu??" kata Mas Bandi kepada ku.


Aku hanya tersenyum.

__ADS_1


" Ya gak enak tho Pak, Siapa tau dia punya pacar. dan pacarnya lebih dari Ayu??" kata mbak Asih lagi.


" Ya namanya guyon, siapa tahu aja lah buk??"


" Mas Sakha itu orang nya baik, sopan. punya kerjaan tetap lagi??" katanya.


" Syukur syukur jodoh sama Ayu, kan gak usah jauh-jauh Ayu cari lelaki??" katanya sambil tertawa.


" Apa tho mas Bandi Iki??" kataku sedikit merona karena nya Sambil pergi ke Dapur.


*******


" Katanya Indah masih saudara nya pak Bandi ya mas??" tanya Noval kepadaku.


" Indah siapa??" tanyaku balik kepada nya.


" Lah... bukan nya kemarin jalan bareng sama dia Mas??"


aku semakin bingung karenanya.


" lah Mas ini baru sehari sudah lupa, kebanyakan nama perempuan di pikiranmu ya Mas??" katanya sambil tertawa. disusul tawa Eko, Hakka dan Ikmal.


" sembarangan. " kataku sewot.


" lah wong beneran aku enggak tahu siapa indah itu??" bela ku.


" mbak Kasir minimarket loh massa??" kata Noval.


" Ooo...Ayu??" kataku.


" Cieeeee,udah punya panggilan sayang??" ledek nya kepadaku yang disambut tawa oleh mereka semua di sini.


"Apaaaa... lah wong Aku tahunya namanya Ayu??" kataku sambil menarik senyum panjang.


" namanya indah Mas, indahhh..??" kata Noval Sambil tertawa.


" lahh wong Aku tahunya Ayu??"


" gimana sih..??" kataku sambil mengikuti tawa mereka.


" nama di name tag nya itu indah, gimana ceritanya bisa jadi Ayu??" katanya dengan nada meledek.


" Yaa mungkin saja namanya indah Ayu atau siapa gitu??" kataku membela diri.


tapi tetap saja mereka menertawakan ku, memojokkan, dan meledek ku terus menerus. seolah-olah ada sesuatu padaku.


sesaat aku memperhatikan nomor telepon asing yang tidak ada di daftar kontak ku.


kemudian Aku beralih ke teras depan menjauh dari teman satu kontrakan ku.


" Yaa hallo..??" ulang ku.


" Maaf ini siapa ya, dari mana??" tanya aku.


" Sakha??" katanya terdengar familiar. Sesaat aku berfikir, itu suara siapa. lalu raut wajah ku berubah setelah menyadarinya.


" Livia??" tanyaku pelan.


" kamu belum simpan nomorku ya??" tanya nya.


" maaf kemarin belum sempat aku simpan terlanjur draft panggilan terhapus di HP ku.??" jawabku cepat.


" masaaa??" katanya dengan nada tak percaya.


" beneran, buat apa aku mereka-reka??" terangku kepadanya.


" gimana kabarnya kamu??" kataku merubah topik pembicaraan.


" Alhamdulillah Baik, kamu gimana??" tanya nya kepadaku. kemudian aku tersenyum.


" Alhamdulillah baik. gimana kerjaan mu di sana??" tanya ku.


" Baik, gimana kamu. kapan ada kerjaan lagi di Jogja??" tanya nya.


" Belum tau.?" kataku.


" Kenapa, kangen yaaa??" ledek ku sambil tersenyum.


Tak Lama terdengar suara ledekan dari teman teman kontrakan ku, riuh tawa menertawakan ku.


" Hiihh... siapa cuma tanya??" kata Livia dari sana.


" Rame amat??" tanya nya kemudian. aku hanya tersenyum.

__ADS_1


" itu teman teman se kontrakan. tau pada kenapa??" kataku beralasan.


*******


" Sudah pak, ini saja??" kataku kepada pelanggan Tampa memperhatikan nya.


" Iya mbak, tapi debit yaa? Bisa kan??" katanya.


" Bisa pak, maaf debitnya apa??" kataku sambil terus menghitung belanjaan nya di Komputer.


Hmm...apa ini, dia beli ****** juga pikir ku. aku menatapnya yang sedang memperhatikan sesuatu. kemudian dia berbalik menghadap ku.


Mas Sakha. pikir ku.


Dia tersenyum RaMah kepada ku dengan.


" Debit ya mbak??" katanya sambil mengeluarkan kartu ATM nya.


" Sekalian tarik tunai gak mas??" tawarku.


" Gak usah lah mbak??" jawab nya.


" Totalnya semua 132.500 ya mas.?" kataku. dia tampak mengangguk, lalu menyodorkan kartu ATM nya itu.


Lalu tersenyum, seraya mengucap Terima kasih kepada ku dengan lembut. lalu pergi meninggalkan ku.


Hanya sebatas itu, dan selalu begitu pertemuan ku dengan nya.


Lelaki yang Baru ku ketahui namanya Sakha itu.


Entah sejak kapan aku mulai memperhatikan nya, dari sekian pengunjung toko tempat ku bekerja.


Lelaki yang Tak biasa tetapi sederhana saja, Sedikit tinggi dan tegap. Mungkin Terlihat seperti om om saat memakai kemeja kerja nya.


namun masih tampak muda ketika memakai kaos dan celana Pendek.


Kadang terlihat gayanya kasual santai, Lain waktu dia terlihat sangat modis seperti anak muda lainnya atau sering juga kudapat i dia hanya memakai kolor dan kaos dalam saja.Atau menggembel bersama teman satu kontrakannya.


Dari atas sini, jendela kamar kost ku yang kebetulan menghadap ke rumah kontrakan nya.


******


" baru pulang Mbak??" Sapa ya tiba-tiba. Aku buru-buru menoleh, mencari asal suara tersebut. kemudian tersenyum kepada.


" Iya Mas, lagi beli apa??"tanyaku kepadanya.


" ini??" katanya sambil mengacungkan bungkusan kresek kecil kepadaku.


" beli siomay sama chicken??" jawabnya sambil tersenyum kepadaku. Dan aku membalas senyumnya itu.


" mau pulang bareng??" tawarnya kemudian kepadaku.


" enggak lah Mas jalan saja??" kata aku pura-pura menolak.


" enggak apa-apa, sekalian saja. kan arah rumah kita sama??" tawarnya lagi.


" Sampai sini saja Mas??" kataku pelan sambil menepuk pundak nya perlahan.


Motor yang di kendarai nya berhenti di persimpangan tempat tinggal kami.


Lalu aku mengucapkan terima kasih kepada nya sambil tersenyum, dan dia membalas nya.


" Oya mbak..maaf nih mau tanya?" katanya tiba tiba.


" Ya mas ada apa??" tanyaku.


" Mbak ini namanya Ayu apa indah??" tanyanya sambil senyam senyum.


" Emang kenapa mas??" tanyaku sambil menatap wajah nya.


" Kata si Noval mbak namanya Indah, tapi waktu itu Pak Subandi manggilnya Ayu??" tanyanya lagi. Aku hanya tersenyum sambil mengeluarkan Name tag ku.


" Oowh,, Indah Rahayu P.??" katanya. aku hanya tersenyum.


" P nya apa??" tanya nya lagi


" Puspayogi??" Jawab ku.


" Oowhh, kirain Punyaku??" katanya sambil mengulum senyum nya.


Aku kemudian tertawa kecil.


" Boleh??" Jawab ku cepat.

__ADS_1


Matanya tampak mendelik di iringi tawanya yang ringan. kami saling beradu pandang, Dan tertawa.kemudian terdiam dan saling berpamitan.


Terasa manis momentum kali ini. pikir ku.


__ADS_2