
" Kha ada telfon??" kataku sambil menyerahkan ponselnya itu.
Dia menatapku sedikit tidak enak. kemudian pergi keluar rumah untuk mengangkat nya.
Dari Ayu.. pasti ada apa apa diantara mereka berdua.
Jika tak terjadi apa-apa, mengapa banyak sekali foto perempuan itu di galeri di ponsel Sakha.
Hanya saja, aku tak bisa membuka brankas file Ponselnya itu, menggunakan sidik jari untuk membuka.
Pasti nya, banyak sekali foto yang entah bagaimana Pose nya itu?? pikirku curiga.
Dan tak sadar aku merasakan Cemburu.
Aku menatapnya tajam.
" Teh, katanya mau mandi? itu Aa Maja udah selesai Pakai kamar mandi nya??" kata Elis kepada ku.
" Iya Lis tolong Bilang Mira. teteh titip Anak anak yaa??" kata ku kemudian.
" Itu Handuk sama Basahan nya teh??" kata Elis menunjukkan nya.
" Aku bawa Handuk kok??" kataku sambil senyum dan berjalan ke tempat Mandi itu, yang "Open Air"?
Aku memakai kain sarung sebagai basahan nya,menjadi kemben. Mandi memakai sarung?? Sangat tak biasa bagiku yang biasa mandi dengan telanjang bulat.
Tampak Sakha sedikit tersenyum kepada ku,Saat Selesai mandi.
" Kenapa senyam-senyum pak?!" kataku sedikit ketus dari hati.
Dia hanya menggelengkan kepalanya.
" Kalau udah pakai Basahan, jangan di buka dulu selesai mandi? Kamu sematkan dulu handuk nya di badan. baru handukan?? katanya seraya tertawa kecil.
" Kamu ngintip?!" tanyaku kesal.
" Gak sengaja??" katanya sambil tertawa.
Aku memicing kan mataku Kepada nya. seraya berlalu, Pergi masuk kedalam rumah.
***
" Teh besok mau bawa singkong sama Mantang??" tawar Elis kepadaku. Aku menatapnya.
" Mantang?? Apa Mantang??" tanya ku tak faham.
mereka kemudian tertawa.
" Ituloh teh, yang seperti singkong tapi daunnya menjalar??" kata Elis.
" Maksudnya si teteh mah, ubi jalar Teh??" kata Mira menjelaskan.
" Ooo, ubi jalar?? gak usah ahh. gak usah repot-repot??" kataku menolak.
" ini mah manis teh, Ubi Madu??" kata Mira kemudian.
" Enggak usah lah. Repot, aku bawa anak kecil besok??" kataku beralasan.
" Apa, Aya Naon??" kata Sakha tiba tiba menyahut.
" Nanti Aa kamu aja yg bawa, Lis. jangan teteh, repot?" kataku lagi.
" Repot Apa?" tanya nya lagi.
" Ini, besok kan teteh kan besok pulang ke Jakarta. terus teh Elis nawarin singkong sama Mantang??"
" Iya bawain Aja??" kata Sakha. Aku sedikit melotot Kepada nya.
" Besok si Maja suruh ambil singkong sama mantang nya. teruskan bawain itu, kan ada Nanas. di kardusin aja??" katanya tanpa bertanya kepadaku terlebih dahulu.
" Yaaaa Aku nya ribet lah Pah??" kata tanpa menyadari.
dia terdiam sebentar. sedikit senyum kepadaku.
" Aku kan besok bawa anak segala, ribet di dalam bassnya??" kataku.
" Yaaaa enggak lah. kan yang bawa bus-nya. bukan kamu. kamu tinggal duduk manis, nanti kalau turun dari bus kamu tinggal pesan taksi online terus beres sampai rumah. nggak ada ribet-ribet nya kok??
Katanya Tampa berdosa.
__ADS_1
Aku memandang nya sedikit kesal.
" Iya teh, kata Abah juga tadi siang suruh bawain teteh beras hasil panen, katanya buat dicobain. beras pulen ini mah teh??" kata Elis lagi kepadaku.
Ampun, ke beras beras?? pikir ku. Aku melepaskan nafasku yang tampak berat ini.
" Sekalian, kalo ada pete sama jengkol nya. sekalian cabe-cabe, daun singkong sama pepayanya bawain aja.? lumayan biar Teteh Estu kamu ini enggak usah belanja. bisa hemat seminggu!?" katanya sambil tertawa kecil
" Iya, sampai sana aku sekalian jualan.??" kataku kesal sambil menatapnya. sedangkan yang lain tampak tertawa.
***
kami berdua duduk di luar Jolopong. Si sebelah sana Maja sedang membakar Kayu, seperti api unggun. kemudian Elis datang membawa Singkong dan Mantang, Yang di berikan nya kepada Suaminya itu.
Sepertinya akan di bakar.
Tampak juga beberapa kerabat lain yang berkumpul setelah Tahlilan ke 3 harian Almarhum selesai.
" Mun Aya neang Kadu Ja. di beuleum??" teriak Sakha pada Adik ipar nya itu.
" Aya sih Aa.. sigana tadi mang Cahem tas ngala Kadu na di kebon??"
#( - Kalau ada cari duren Ja, Di bakar??")
#( - Ada sih Aa.. sepertinya tadi mang Cahem habis ambil duren nya di kebun??)
" Yeuh, meuli. Tawar nyah??" kataku sambil menyerahkan dua lembar uang kepadanya.
" Loba teuing Aa.. katanya??"
" Da NU ngadahar geh lobaan Ja. Tah Aya si usep jeng Dadang Sagala??" katanya.
" Nyak Geus Aa.. ka Ten mang Cahem Hela Kula Nya??" katanya sambil mengajak Dadang pergi membawa motor bodong nya?
" Tadi, Siapa yang telfon??" kata ku menyelidik.
" Kapan??" tanya. Sakha sambil menatap ku. kalau nya yang terjuntai sedikit ke tanah itu di gerak gerak kan nya. Uncang uncang, Bahasa Sunda katanya dulu.
" Ayu...siapa lagi yang telpon kamu??" kataku.
" Rajin banget ya Miss call kamu. sampe Belasan panggilan tak terjawab.?" kata ku menyindir.
Aku sedikit kesal jadinya.
Bukan nya langsung di jawab, lah kok ya malah mainin rasa penasaran ku. pikirku.
" Ayu yaa??" katanya mengambang.
Aku hanya diam, kemudian dia memandang ku sebentar lalu mengalihkan pandangan nya.
" Siapa Ayu? Baru tuh kek nya??" tanyaku dengan rasa penasaran yang ku tahan.
" Eee...Ayu, eeeee dia itu..Eeee...??"
Aee...Aee..Aee..Aee Segala. pacar Lu kan??" kataku kesal di dalam hati.
" Hiihh!! udahlah kalo gak mau jawab!?" kataku kesal.
Dia hanya diam sambil menatap ku.
Lalu aku berjalan menuju api unggun yang sudah ada singkong yang dibakar oleh saudara nya itu.
Sakha tampak mendekati ku, namun aku tak bergeming.
Aku pura pura ikut menghangatkan di dekat bara api.
Setelah dia membersihkan singkong bakar dan membukanya, kemudian dia menyerahkan nya kepada ku.
" Nihh, makan. keburu dingin nanti?? Tawar nya.
Aku meletakkan singkong bakar tadi di Samping ku yang kembali duduk di bale Jolopong.
Sakha kembali mendekati ku. Seakan mengikuti ku kemanapun pergi nya.
Aku hanya diam. pura pura memakan singkong bakar itu.
" Ayu, kita cuma baru Dekat??" katanya kemudian.
" Seperti kamu sama Erwin lah?" katanya.
__ADS_1
" Kalau aku sama dia memang sudah dekat dari dulu. dia kan memang teman ku??" kata ku langsung menyahut.
Dia tampak sedikit nyengir.
" Baru dekat sih. dia adik sepupu rekanan usaha ku??" jawab nya.
" Ingat, jangan cari orang Jawa! Nanti Nasibnya sama lagi sama aku?!" kataku sedikit ketus sambil pura pura memakan singkong bakar.
" Yaaaa, Mau gimana lagi. Disanakan namanya Jawa, ya isinya orang Jawa. masa orang Batak!?" katanya kemudian.
" Serah kamu aja deh Kha.?!" kataku padanya.
Sesaat kami saling Diam.
" Lalu kamu sama Erwin Gimana??" tanya nya.
" Gimana apanya??" jawab ku sambil memandang nya.
" Wong kita memang temenan aja, Wajarlah kalo dia main ke rumah ku??" kataku membela diri.
" Emangnya, kamu gak ada rencana gitu??" tanya nya.
" Rencana apa??" Kataku.
" Yaaaa... ke Hal yang lebih serius. menikah misalnya??" katanya tampak hati hati
" Enggak, aku mah belum? Emangnya kamu??!" kataku kesal sambil berdiri dari tempat ku.
" Mau kemana??" tanya nya.
" Mau tidur lah, besok aku mau pulang?? Jawab ku.
" Kali mau anterin aku besok jangan subuh subuh tidur nya??" kataku sambil pergi meninggalkannya nya.
***
Aku terbangun dari tidurku. ketika mendengar suara kasak kusuk. Rupanya di luar hujan. Aku mencoba melihat ke sekeliling Kamar kecil milik Mira yang ku pakai. sedangkan dia tidur bersama Elis. Atmaja sendiri tidur di ruang tengah.
Sepertinya Sakha sedang mencari sesuatu.
Mungkin selimut, pikirku.
" Ngapain kamu??" kata ku lirih.
" Selimut, diluar dingin banget.??" katanya.
" Ini ada tiga, ambil satu nih??" kataku sambil menarik dari bawah bantalan kepalaku kemudian menyodorkan nya.
" Pakai ini, biar anak anak barengan saja selimut nya.??" Kataku.
Dia mengambil nya dari tangan ku.
dia kemudian mendekati ku. Dan mengambil selimut itu.
Tampak dia membenarkan posisi tidur Anak nya yah tidur di ranjang kecil milik Mira. sedangkan aku menggunakan kasur kapuk yang di taruh di lantai.
Sakha kemudian mendekati ku.
" Estu??" katanya pelan.
" Hmmhh??" jawab ku lirih.
" Bisa gak sih kita rujuk aja?" katanya.
tercium nafasnya yg bau anggur itu, sepertinya tadi dia minum alkohol pikir ku.
Aku hanya diam. Antara kantuk dan sadar.
Sakha mendekat kan wajah nya kepada ku yang kemudian aku sadar dengan membuka mataku.
" Jangan lah kamu artikan kedatangan ku kesini sebagai sinyal bahwa aku mau balikan sama kamu??"
Kata ku pelan kepadanya.
Dia terus menatap ku dan terdiam. kemudian dia berdiri hendak meninggalkan kamar.
" Papa??" kata Lio yang tiba-tiba terbangun sambil merengek . Dia mendekati nya, kemudian menepuk-nepuk pantat Lio. menenangkan nya kembali untuk tidur.
Aku biarkan dia berada di samping ku, menjuntai di pinggir ranjang. namun seperti dia juga tertidur.
__ADS_1