
" Estu, kalau boleh. aku mau pinjam rumah untuk beberapa hari??" kataku pelan kepada nya yang tampak datar terhadap ku.
" rumah sudah ada yang mengontrak Kha??" jawab nya. Aku hanya mengangguk kecil.
" Kan kamu masih ada keluarga di sini??" katanya
Aku memandang nya lekat Seraya tersenyum sedikit.
" Kamu kok kayak gak tau hubungan keluarga ku??" jawab ku sambil menghela nafas.
" Mana kutahu sekarang, mungkin saja sudah membaik??" jawab nya acuh tak acuh. aku hanya diam.
" Kenapa kamu mau pinjam rumah. bukanya kamu Senin harus kerja??" tanya nya.
" Aku ada panggilan dari KEJARI, buat saksi teman ku?? jawab ku.
" Siapa, dia korupsi??" Tanya nya, aku hanya diam.
" Rudi??" jawab ku.
" Oohh, Rudy yang masih saudara pacarmu itu??" katanya terdengar sinis. aku hanya menatapnya.
" Pantaslah, kesandung kasus korupsi. gaya nya sana sini gak karuan??" katanya bernada mencela.
" Mungkin dia korupsi, atau mungkin dia melakukan tindakan yg menurut orang lain itu salah.!?"
" Tapi kita gak berhak menghakimi nya Estu??" kataku.
Dia tampak tersenyum sinis.
" Jelas aja kamu bela, temen mu kan dia... Hobby nya sama lagi??" sindir nya.
" jangan-jangan selama ini kamu juga korupsi kayak dia??!" katanya pedas.
"Jangan jangan Selama ini, anak anak kamu kasih uang hasil korupsi?!" katanya dengan nada menyindir serta melirik sedikit kepada ku.
" Astaghfirullah haladzim, Estu. tega banget kamu gitu sama aku.?"
" aku tahu pernah salah sama kamu, tapi aku nggak mungkin ngasih makan anak aku dari uang hasil korupsi??" kataku membela diri.
dia hanya diam memandangku dengan muka yang masih terlihat sinis.
******
" Ya kalau dia masih kerja di Jakarta ya pasti kena dia jadi tersangka!?" kata Bapak sedikit Geram.
" Lah tersangka utamanya,itu temen akrabnya. teman main ya!?"
" ya pasti sama kelakuannya!?" kata bapak menghakimi.
" Untung wae udah nggak jadi mantuku, udah pindah jauh dari sini??"
" kalau nggak, apa ya Aku nggak malu!?" katanya lagi.
Aku hanya diam mendengarkan dia bercerita atas kasus yang menimpa Rudi.
Bapak sendiri tau cerita tersebut dari rekan kerjanya yang masih berada di kantor, di mana Sakha pernah mengabdi.
" pantesan aja hidupnya susah, wong dia makan hasil korupsi!?" katanya terdengar mengejek.
" cucuku jangan makan duit dari dia, aku masih sanggup membiayai kedua anakmu tanpa bantuannya.!?"
" mulai bulan depan, jangan terima lagi uang dari nya ya.!" kata bapak.
kembali aku hanya diam.
*****
" Aku memang Pernah pakai uang itu Kha, tapi berapa sih??" kata Rudi sedikit pelan berbicara kepada ku setelah persidangan tadi.
" Ibarat nya itu uang Bir??" katanya sambil memandang ke sekitar.
Aku tajam memandang nya.
" Mata lu, uang bir!?" kataku sedikit kesal.
Dia tampak sedikit tersudut.
" Aku tau aku salah Kha??!"
" Tapi tuduhan nya melebih lebih kan??"
" Kamu bisa baca di berkas ini, tuntutan terhadap ku.?"
" Saudara Ignatius Rudianto dkk Dengan Sengaja Merencanakan Dan menggelapkan Uang milik negara.dan negara di rugikan sebesa 7,3M. !!" katanya sambil menunju nunjuk berkas tuduhan itu kepada ku
" Rud, aku memang teman kamu. tapi maaf, aku gak bisa membela kamu dalam urusan ini.!?"
Terangku. dan dia hanya mengangguk.
" Aku tau, tapi setidaknya kamu bisa menjadi saksi agar aku tak seburuk yang di tuduh kan!?"
" Maksud kamu apa Rud??!" tanya ku heran.
" Kamu tau, semua ini memang sudah di rencanakan untuk menjebak seseorang petinggi di atas kita yang kebal hukum.!?"
" Aku ini korban, berapa sih uang yang aku makan. mungkin gak lebih dari 300 juta??!" katanya membela diri.
" Matamu, cuma 300 juta!! hehhh itu uang negara, uang rakyat?!" kataku semakin jengkel kepada nya.
" Iya maaf, aku tau aku salah. tapi aku bisa mengganti nya kalau cuma segitu. kan yang paling penting Reputasi ku Kha??" katanya.
" Kenapa baru sekarang kamu mikirin Reputasi Rud... kemarin kemana aja!?" kataku sedikit membentak.
Dia hanya diam.
" Pokoknya, aku gak bisa bantu belain kamu Rud, aku cuma mengatakan apa yang aku tau sesuai kapasitas ku??" kataku tegas.
" iya aku tau itu, Tapi percayalah. aku minta kamu sebagai saksi itu buat narik semuanya Sampai ke akar akarnya.??"
" Masih inget gak uang yang aku bawa satu koper itu."
Katanya.
" Itu upeti, buat seseorang. tugasku untuk mencucinya sebelum dia terima!!"
" Mana mungkin aku diam Kha.?"
" Aku cuma di jadikan tumbal untuk menutupi segala kebusukan mereka?!"
__ADS_1
" Kenapa hanya aku yang di buat susah sama mereka!?" katanya terdengar geram.
" Hehh!! loe gak sadar. loe juga sedang buat gw susah!!?" bentak ku.
Dia hanya tertawa kecil.
" Maaf Kha. tapi kamu itu perisai terakhir ku. mungkin aku gak bisa Bales kamu sekarang. aku tahu kamu orang baik. aku berdoa sama Tuhan agar kebaikan kamu di balas oleh nya??" katanya terdengar bijak.
" Baru sekarang kamu berdoa Rud,?" kataku menyindir nya lagi.
" Baru ketemu susah kamu ingat sama tuhan kamu??"
'' ya namanya manusia Kha, banyak salah sama khilaf??" katanya sambil sedikit tersenyum yang aku tahu artinya. tentang perempuan.
" kamu tuh gak khilaf, aku juga dulu gak khilaf. tapi sengaja.!!" balas ku kepada nya. Dia hanya tertawa kecil.
" Lihat, sekarang bagaimana cara Tuhan agar kita kembali ingat sama dia??"
" Pernikahan aku hancur, karir aku tersendat. kamu kesandung kasus korupsi, istri kamu sekarang gugat cerai ditambah Kondisi kamu yang sekarang gak sehat. kamu penyakitan!!?" kata ku.
Dia memandang ku sedikit keras dan terbelalak.
" Sudah saatnya.setelah ini semua selesai kita kembali kejalan Tuhan. masing masing dengan iman??" kataku.
" Baik ustadz!?" katanya sambil nyengir.
" Aku mau tanya sama kamu Rud, siapa yang menolong kamu sekarang selain aku??"
" Keluarga mu kan??" kataku. dia hanya diam.
" Lalu dimana semua dedek gemash yang kamu punya??" kataku dengan nada meledek.
Dia tertawa cukup keras.
" sudahlah Bro...Akan ada masanya aku meninggalkan dunia seperti itu. mungkin ini awalnya??" katanya.
" Syukur kalau kamu sadar.
******
" Ya hallo Ko...?" kataku di saluran telpon kepada Eko teman sekantor ku.
" Hmm... ko tolong ya kamu Bantu urus Absensi ku hari ini, mau di potong Cuti atau ijin asal ada keterangan??" kataku.
" Makasih ko.?" kataku.
" Ouhh iya, tolong jangan ceritakan kasus ku kepada teman sekontrakan yg lain ya Ko.?"
" Kalau bisa,Jangan sampai Cerita ini kedengeran Dulu sama mereka.??"
" Biar nanti aku yang menjelaskan??" lanjut ku.
" Ya kalau ibu kontrakan tanya, bilang aja lagi di tugaskan ke Jakarta??" kataku.
" Kamu juga kan tau, aku baru mau mulai usaha sama pak Subandi??" kataku menambah kan.
" Mungkin hari Jumat aku balik ke sana??" kataku.
" Oke.. makasih ya Ko atas bantuan nya??" kataku seraya menutup sambungan dari ponsel ku.
Aku menarik nafas ku perlahan, memikirkan segala permasalahan yang sedang menimpaku.
Ya Allah, aku memohon ampunan kepada mu. Mohon kuat kan lah Diri ini, serta iman & Takwa ku.
Jadikanlah aku manusia yang lebih berakhlak lagi. lebih baik lagi dari sebelumnya.
Pikir ku sambil mengusap wajah ku.
Tak lama ada panggilan masuk dari Eko, temanku satu kantor.
" Yaa hallo ko??" jawabku.
" apa ada surat pemberitahuan tentang apa tolong kamu buka dan kamu baca in lagi??" pintaku kepadanya
dengan nada yang sedikit heran.
" Apaa!!" kataku sedikit keras dan tidak percaya.
" Surat pemberhentian sementara untukku!!"
" Sampai kapan!?" tanya ku lagi.
" Astaghfirullah haladzim.?" ucapku.
" sampai waktu yang tidak ditentukan??"
" sampai jelas statusku di pengadilan?"
" Yaa Allah??" kataku dengan perasaan yang campur aduk.
Pikiran ku melayang memikirkan segalanya. satu-satunya mata pencaharian ku adalah sebagai pegawai di kantor. jika aku diberhentikan kan sementara, gaji ku juga akan dipotong sekian persen.
lalu bagaimana aku membaginya dengan anakku,uang sewa, akomodasi, uang makan, bayar ini itu atau belanja ini itu, dan juga bisnisku yang baru saja dimulai masih butuh banyak modal tambahan.
seketika kepalaku pening, bagaimana ini pikirku.
berulang-ulang Aku mengucapkan kata-kata istighfar.
Aku tak mungkin terus-terusan tinggal di hotel. sudah 5 hari aku menginap di sini, biaya yang keluar sudah seharga uang sewa 4 bulan di rumah yang kami kontrak bersama.
Aku harus Cari tempat tinggal lain, tapi di mana? aku tidak mungkin tinggal di rumah teteh di Bekasi sangat jauh dari sini.
Atau Entahlah pikiranku buntu.
*****
Sudah 2 minggu ini aku tak pernah melihat Mas Sakha, pikirku.
sebenarnya aku ingin bermain ke rumah Mas Bandi, menanyakan keberadaannya yang mungkin dia tahu.
tetapi, aku tidak ingin perasaanku diketahui oleh mereka.
Mungkin aku munafik, di satu sisi aku tidak ingin memilikinya. di sisi yang lain Aku tidak ingin dia ada yang memiliki.
namun perasaan ku sepertinya tidak bisa dibohongi.
Aku jatuh cinta kepadanya.
Entah kenapa, aku seperti menemukan sosok lelaki yang sempurna dalam dirinya.
__ADS_1
" Ngelamun mbak??" ledek Syam kepada ku yang sontak mengagetkan dan membuyarkan lamunanku.
Refleks aku memukul kepadanya.
Dia hanya tertawa. aku pura pura cemberut kepada nya.
******
" Kalau cerita awalnya Jerene dia pulang ke Jakarta karena anaknya mau operasi.?"
" lah pas sampai Jakarta dia malah dapat panggilan dari pengadilan korupsi??" kata mbak Asih berbicara dengan gaya mulut nyinyir tetangga.
" Lah mosok mbak??" kataku pura pura tak percaya.
"Heee ehh??" katanya dengan mulut dimiringkan.
" aku di ceritane langsung sama ibu kontrakannya kok wingi??!" katanya dengan nada menye menye.
Sesaat aku hanya diam.Ada perasaan tak percaya dari dalam hati ku.
" Opo mobile sing pas kae iku, hasil Korupsi yaa??" katanya menduga-duga.
" Lahh mosok Sih mbakk??" kataku dengan nada kaget
" Yaa gak menutup kemungkinan kan? dia bisa punya mobil sebagus itu! pastikan mahal??" katanya dengan nada ibu ibu yang julid.
" Gak tau itu mas mu, udah masuk uangnya berapa dari si Sakha??" Katanya.
" Takutnya itu uang dari hasil korupsi. Malah nggak berkah buat usaha??!" katanya dengan nada sedikit gusar.
" Duit apa lho mbakk??" tanya aku penasaran.
" Kemarin kan rencananya masmu sama si sakha itu mau join usaha. ya usahanya mas mu bikin furniture?"
" Lah yang pas kemarin itu mereka naik mobil, kan mau mau datengin toko langganan yang biasa masmu nitipin furniturenya??" terangnya.
Hmmm... rupanya Mas Sakha Menanam kan modal di usaha milik Mas Bandi yang mati suri ini. pikirku.
aku hanya diam dan terus mendengarkannya Berceloteh.
" Yaaa.. belum tentu dia terbukti bersalah loh Bu.?"
" Jangan ngomong seperti itu dulu, lah wong putusan sidang nya belum ada.?"
" Mas Sakha juga baru sebagai saksi.??"
" gak usah ngomong macem-macem dulu, mbok kesalahan??"
kata Mas Bandi yang tiba-tiba keluar dari kamar.
" Iya pak... tapi mungkin saja kan??" katanya dengan nada seperti tak ingin disalahkan.
" Yaa mungkin saja, tapi kan tetap kita harus menunggu hasil keputusan pengadilan.?"
" Wong kita nggak tahu duduk persoalannya kok langsung menghakimi. Yaaa salah!?" katanya mengingatkan.
Mbak Asih tampak memalingkan mukanya.
" sebenarnya aku mau tanya sama dia, tapi aku nggak enak hati mau telepon mas Sakha. takut nanti malah makin membebani pikirannya?"
Kata mas Bandi.
Aku hanya diam, sebenarnya perasaanku bergejolak tak menentu memikirkan Mas Sakha.
Semoga saja semua ini tak benar, semoga mas Sakha bebas dari segala tuntutan dan masalah yang melilitnya.
Dan kami segera dipertemukan secepatnya,
Mungkin juga Aku berharap, bisa berjodoh dengannya kelak.ðŸ¤
*******
Aku berjalan pelan menuju pintu kamar hotel ini, berencana untuk pergi keluar.
Kalau bisa Aku ingin menemui kedua anakku di suatu tempat.
mencoba membuat janji dengan Estu.
Aku memencet tombol pintu lift hampir Bersamaan dengan mbak mbak muda yg ada disampingku, sesaat kami saling berpandangan Dan tersenyum. dia sepertinya salah satu tamu hotel juga sepertiku.
Kami sama-sama keluar di lobby Hotel. Namun dia sepertinya Menunggu seseorang yang akan datang ,jadi dia duduk di sofa ruang tunggu.
Aku sendiri Tengah Sibuk berbicara dengan Estu.
mencoba meminta izin kepadanya agar aku bertemu dengan kedua anakku.
Namun dengan sejuta Alasan, dia tak bisa di temui.
Namun tiba-tiba. mataku tertuju kepada seseorang yg tidak asing dimataku.
Seorang lelaki masih muda dengan potongan rapi menghampiri perempuan yang bersamaku tadi di lift.
Setelah saling menghampiri, mereka cipika-cipiki. lalu kembali ke lift untuk kembali ke kamar, mungkin.
aku tak menyia-nyiakan momen ini, dan langsung memvideokan nya. memotret zoom secara sembunyi.
Untung saja hasilnya bagus, resolusi gambarnya tidak pecah.
Terlihat nyata itu adalah seseorang yang sudah sangat aku kenal. dulu adalah bagian dari keluargaku.
Namun,sayang kami tak berjodoh sebagai keluarga.
******
" Hallo Estu, kita harus ketemu??' kataku sedikit memaksa.
" Gak bisa Sakha??" jawab ku terputus...
" Hallo..hallo..hallo??" kataku sambil memandangi ponselku.
Taklama kemudian ada pesan yang masuk, sebuah gambar dan video.
Sesaat aku terdiam tak percaya melihatnya.
Jadi selama ini yang iparku ributkan ternyata benar.
Reni pernah berkata kepadaku, kalau adik lelakiku Panji sudah berselingkuh.
Dan tanpa sengaja Sakha memergoki nya secara langsung.
__ADS_1
Jujur, aku tak mampu berkata-kata karenanya.