Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
episode 110


__ADS_3

Aku mencoba menghubungi nomor Ayu. bermaksud untuk menelepon nya. tetapi nomornya tersebut sudah tidak aktif lagi.


Pesan yg ku kirim juga tak di Baca nya, melalui akun sosial nya pun sudah tak bisa. Ada apa ini? pikirku.


" Bingung amat kayaknya? mau nelpon siapa!?" tanya Livia Kepada ku sambil meletakkan secangkir teh hangat yg tadi dia tawar kan.


Aku menatapnya bias.


" Mau nelpon Ayu??" katanya seperti menyindir. aku hanya diam.


" kontak kamu udah diblokir kali? kalau nggak dia memang sudah ganti nomor!?" katanya seperti puas mengatakan itu kepadaku.


" Bisa jadi?" jawab ku pelan.


" Emang kamu beneran, mau serius sama dia!?" tanyanya mengintrogasi. aku kembali menatapnya, dari raut wajahnya sepertinya memang sengaja. dia sedang mencari gara-gara denganku.


aku tak menjawabnya, sengaja menghindari topik pembicaraan itu dengannya.


" Kha!?" katanya kemudian beberapa saat setelah dia menanyakan hal itu kepadaku yang sengaja tak ku jawab.


" Apa?" kataku lirih.


dia menatapku sambil menggerak-gerakkan rahangnya yang seolah-olah tampak kesal.


" kamu tadi denger enggak aku tanya apa?" katanya lagi. Aku hanya menatap nya diam.


" Heehhh... terdengar suara helaan nafas nya yang panjang.


" orang tanya serius sama kamu malah dicuekin, Siapa coba yang gak kesel!?"


" kalau nggak Serius, ngapain aku capek-capek?" jawab ku.


" Ouhh!?" katanya singkat.


" di minum tehnya nanti keburu dingin, nanti kalau sudah nggak hangat kamu tanya lagi kenapa dingin?!" katanya.


Lantas aku meminum nya sedikit.


" Kylie mana?" tanyaku.


" Ada di kamar nya lagi minum susu.?" jawabnya. aku hanya mengangguk.


" aku permisi ya udah malem?" kataku kepadanya.


" buru-buru amat? udah kangen ya sama Estu!?" sindirnya.


" Ya bukan gitu? aku kan mesti siap-siap membereskan barang bawaan ku?"


" seberapa banyak sih emangnya barang bawaan mu? Emang ada satu truk??" katanya yang seperti memulai pertengkaran.


" nggak satu truk sih, tapi lebih baik aku pulang dari pada aku capek di sini denger sindiran kamu.!?" kata ku.


" Siapa yang Sindir kamu, kamu PD amat sih. kan aku cuman tanya?"


" cuman tanya, tapi kamu ngarepin kan jawaban yang bikin hati kamu puas.!!"


" Aku capek Livia, Aku pengen tidur cepat, pengen istirahat. minimal diajak ngobrol sesuatu yang enggak bikin capek perasaan sama hati?" kataku kepadanya.


" baru segitu aja kamu udah bilang capek hati?! kamu enggak mikir gimana perasaan aku, Capek nya aku ngadepin kamu?" katanya.


Kan.. kan.. kan..? sudah ku duga, tujuan utamanya akan begini.


" Apa yang ingin kamu tahu dari aku sih? semenarik apa aku Dimata kamu sekarang selain Cela dan kekurangan aku sama kamu?!" kataku. matanya menatapku tajam.


" enggak usah sok dramatis, aku tanya sama kamu juga cuma pertanyaan yang biasa? kamu mau jawab jujur apa bohong itu terserah kamu??" katanya.


aku menatapnya sedikit geram.


Sebenarnya dia mau apa sih dari aku sekarang, pikirku?!


aku menarik nafas panjang kemudian meminum teh yang ada di hadapanku itu.


" terkadang minuman yang hangat pun belum tentu cocok di lidah, kalau yang minum menginginkan sesuatu yang dingin?" kataku kepadanya.


lalu terdengar tawanya yang bias.


" Bisa aja LU Kha?" katanya.

__ADS_1


" aku sih nggak masalah kalau dulu atau nantinya. Setelah semua ini selesai, kamu nggak sopan sama aku ataupun nggak respek sama aku.!"


" tapi setidaknya sekarang, seharusnya aku masih Kamu hargai sebagai suami kamu?"


" kamu loh Livia, sering banget nggak sopan sama aku!?" kataku sedikit mengungkit.


" Oohh, jadi Kamu pingin aku sopan di depan kamu? yang kayak sikap Ayu atau Estu itu yang sama kamu?" katanya yang malah terdengar mengejek.


jujur aku kesal kepadanya, aku sedikit menatapnya tajam sambil menahan rasa marah.


" udahlah aku pulang aja, aku nggak mau kita bertengkar. Terserah kamu mau mikir aku bagaimana. aku nggak ada harganya lagi kan di mata kamu.!" kataku sambil beranjak dari tempat dudukku.


Dia menatapku nanar. seolah-olah ingin menahanku lebih lama untuk dipermainkan nya.


" kamu nggak tanya bagaimana nantinya kita mengurus Kylie? apa yang ada dipikiran Kamu itu cuma anak dari Estu??" katanya menahan ku.


" Aku bakal mengiyakan Apa kata kamu Livia, percuma aja aku pengen begini begitu kalau kamunya sudah punya rule sendiri buat Kylie?"


" Aku tahu dia akan baik-baik saja di rawat kamu, dan cara kamu itu pasti benar!?" Kataku yang membuat nya berdiri juga di Depan ku.


" Kamu kenapa nyebelin sih Kha? nggak bisa apa sekali aja, kamu dengerin apa yang aku pikirkan.?" katanya terdengar Geram.


Aku diam.


" Mau kamu apa sih? Aku tuh capek berantem sama kamu...?" kataku sedikit pelan menahan suara yang bergetar.


Dia diam menatap ku.


" Aku kamu salahkan... aku terima, kamu menganggap aku begini begitu... aku terima, kamu bilan aku b******* aku kamu anggap binatang, bodoh dan tolol dan kamu sedikitpun enggak ada penghargaan sama aku... aku terima!?"


" aku tuh udah capek sama kamu Livia, Aku nggak ngerti apa yang kamu pikirkan sekarang. kamu tuh udah nggak sama seperti Livia yang aku kenal dulu sebelum aku menikah sama kamu?" Bahkan saat kita nikah siri dulu. kamu tuh nggak seperti ini??"


" Kamu nggak menyebalkan, kamu nggak bikin aku pusing, kamu nggak bikin aku tertekan?!" kataku mengungkapkan isi hatiku tentangnya.


Dan Aku melihat dia menangis sambil menatapku, air matanya mengalir di pipinya.


Aku menatapnya Bergetar. merasa tersudut dan bersalah. lantas aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya.


Kalau begini, aku lagi kan yang salah? pikirku.


" Kalau kamu hargain aku, kamu jangan menekan aku dengan hal-hal yang aku nggak mau. contohnya percakapan yang gak penting. yang malah menjadi biang keributan di antara kita.?"


" Aku hanya ingin hubungan kita yang dulunya bermula baik. maka jika harus berakhir, juga baik!?"


" Apa pernah sekalipun kamu Sakha. mempertahankan aku. dengan tegas menolak perceraian ini!?"


Katanya setengah berkata keras kepada ku yang membuatku kaget.


Aku menatapnya tak mengerti. Apa maksudnya? pikirku.


" ya buat apa aku nahan nahan kamu, kalau keinginan Kamu tetap seperti ini!"


" kamu yang bilang sama aku berkali-kali kalau kamu ini rugi nikah sama aku, Apa kamu gak mikir perkataan kamu itu maknanya luas buat aku,!?"


" Bagi aku, pernikahan kalau dijalanin sudah nggak sehat. akan terjadi kedzaliman, antara suami dan istri untuk saling menyakiti. baik itu fisik dan mental. lebih baik dihentikan!?" kataku kepadanya.


" dituntutan Cerai kamu itu mengatakan, kalau Aku sudah KDRT sama kamu, ngomong kasar ke kamu, selingkuh di belakang kamu. dan aku akui itu benar!?


" Apa pernah kamu Tanya dulu sama aku.. sharing, kenapa aku sampai KDRT sama kamu, kenapa aku sampai ngomong kasar sama kamu dan sebagai istri apakah kamu bertanya sama diri kamu sendiri, kenapa aku bisa berselingkuh di belakang kamu


" kamu berselingkuh karena memang itu udah sifat kamu!!" katanya menghardik ku.


" nah itu kamu tahu! ingatkan, kalau kita awalnya bertemu gara-gara aku selingkuh sama kamu Dulu!!"


" Plakkkk!!! tamparan nya keras mendarat di pipiku.


" Aku Tau, aku salah sama kamu. selain selingkuh, tuntutan kamu itu nggak ada artinya bagi aku. Aku tidak akan KDRT, berkata kasar kalau kamu nggak memulainya duluan!?"


" kalau aku menahan kamu. jangan meninggalkan aku... tetap sama aku, Apakah aku punya jaminan dari kamu, Jika kamu nantinya enggak akan mengungkit nya suatu saat!?" Kataku membungkam nya.


Kemudian terdengar suara Kylie yg Seperti nya menangis. lantas aku menghampiri nya ke kamar untuk menenangkan nya.


Aku menggendong nya, kulihat Livia sedang tertunduk sambil menangis.


Kalau begini jadinya, aku lagi yang salah.


Mungkin sekitar 30 menitan kemudian, Kylie sudah lelap tertidur di pelukan ku. Livia masih di tempat nya tadi duduk. menangis.

__ADS_1


" Livia, tolong ambilkan baju Kylie. dia harus ganti bajunya, ini kotor?" kataku padanya sambil menggendong Kylie yg tertidur. Livia menatap ku, lalu Berjalan ke kamar. Aku mengikutinya, lantas perlahan menidurkan Anak ku itu.


Dengan hati hati, aku melepaskan pakaian anak ku itu. dan menggantinya dengan baju tidur Milik nya.


" Lihat dia, manyun nya kayak kamu yaa?" kataku sambil sedikit tersenyum menatap anak perempuan ku itu. Lalu aku menatap Livia dengan hidung yg memerah sehabis menangis.


Sejenak aku merasa iba menatapnya, bukan kah dia tidak punya siapa-siapa lagi setelah ibunya meninggal kemarin.


yg dia punya hanya Kylie jika aku bercerai darinya. Livia tidak punya saudara kandung, dan dia nanti akan benar-benar sendiri. ada rasa iba yang mendalam aku terhadapnya.


Aku lantas merebahkan tubuh ku di atas Kasur tempat Kylie tidur.


" setelah dipikir-pikir, kamu sadar atau enggak. kita enggak pernah punya momen bertiga seperti ini?" kataku sambil menatap Livia yg juga menatap ku.


" Kita sama-sama nemenin Kylie tidur?" kataku sambil tersenyum.


" Kasihan juga dia, Kamu kepikiran gak sih sampai Kesitu?" tanyaku.


" kamu aja yang baru kepikiran?" jawab Livia. Aku kemudian mengangguk pelan.


" Yaa udah, sini? tidur di sebelah sana?" kataku Kepada nya sambil tersenyum, yang langsung ditanggapi nya dingin.


Aku lantas tertawa kecil.


" Nanti malah jadi masalah baru yaa?" kataku kemudian sambil beranjak dari kasur Kylie. Aku menghela Nafasku sambil menatap nya.


" Maaf ya. Lagi lagi aku bikin kamu nangis?" Kataku sambil mendekati nya yg masih berdiri di samping tempat tidur. Dia hanya diam menatap ku Sebentar.


Lalu aku keluar kamar dan meminum teh ku tadi


tak begitu lama Livia menghampiri ku. dia duduk di depan ku.


" Aku mau cari kerja?" katanya pada ku.


" Maksud kamu, aku Boleh bawa Kylie?" Kataku sambil sedikit tersenyum.


" Tolong, kamu Carikan aku pengasuh untuk Kylie?" katanya pelan.


" Bukan lebih baik dia sama aku dulu? sementara. sambil kamu cari kerja, nanti kalau kamu sudah kerja. aku Carikan kamu pengasuh?" kata ku.


" Kylie disana sama siapa? kamu lupa kalau Mira sudah menikah??" katanya. Aku menatapnya, iya juga ya pikirku?


" Aku bisa jaga dia kok?" kataku kemudian, meyakinkan nya. lantas dia tertawa kecil.


" Kamu sering Kesana sini, pergi keluar kota beberapa hari. anak ku itu gak bisa capek-capek Kha? Kamu lupa Kalau dia??" katanya terhenti. tidak melanjutkan perkataannya itu.


Sesaat kami saling terdiam.


" Livia?" kataku pelan. dia menoleh kepada ku.


" Kita serius ini mau cerai?" kataku menerawang.


" Kamu Serius mau gugat cerai aku??" kataku sambil menatap nya. dia menatapku lekat. lalu Seolah membuang muka dari ku.


lantas aku tertawa.


" kalau dipikir-pikir, sepertinya yang terjadi sama kita ini cuman cerita. semacam cerita ringan lah. mungkin cerpen atau novel pendek??" kataku sambil tertawa kecil lagi.


" kalau di rangkum ceritanya, dari awal mula kita ketemu sampai kita punya anak itu cuman sedikit banget ya kata-katanya?"


" ujungnya cuman begini?"


" Emang sih cerita itu kan enggak semuanya happy ending. tapi Kenapa cerita yang kita buat itu mesti cerita yg berakhir sad ending?" kataku sambil tertawa.


" Aku pasti yg jadi tokoh antagonis nya.. yaa??" kataku.


" Kamu pasti tokoh Protagonis yg tersakiti. semacam bawang putih gitu yang selalu teraniaya? iya gak sih??" kata ku sambil tertawa dan menyandarkan kepalaku di sofa seraya menatap nya.


" Iya gak sih kamu teraniaya?" tanyaku pada Livia.


" Tauk ahh?" katanya ketus yg membuat ku semakin Tertawa.


" mungkin kalo digambarkan kamu itu sebagai tokoh yang mempunyai mata sendu, selalu berkaca-kaca dengan rambut panjang yang terlihat lugu.? iya gak sihh kamu begitu?" kataku sedikit bercanda padanya.


" sedangkan aku memerankan tokoh yang berbadan besar,tinggi, hitam dengan taring yang panjang dan mata yang melotot? seperti Rahwana, atau ogoh-ogoh itu??" kataku sambil tertawa.


" Lucu yaa kalau kita mikir begitu, seolah ini candaan?"

__ADS_1


__ADS_2