Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 85


__ADS_3

Mobil berwarna Coklat itu berhenti persis di depan Jolopong milik Abah. tak lama kemudian keluarlah seseorang dari balik kemudi nya.


Lelaki paruh baya yang menggunakan kopiah putih.


Mungkin seseorang yang sudah berhaji pikirku.


Aku tersenyum kepadanya dan seseorang seperti ajudannya itu.


" Assalamualaikum?" katanya memberikan salam.


" Waalaikum salam?" jawab ku sambil berdiri bersama Ardi. Kami berdua menyalami nya.


" Teman nya si Asep ya?" katanya. aku dan Ardi saling tatap. dia tertawa kecil.


" Maksudnya, si Sakha?" katanya. kami berdua mengangguk.


Tak lama kemudian, teh Elis keluar dan menyalami nya sambil cium tangan. lalu berbahasa Sunda. Dia menyebut nyebut nama Mira.? Haduh... apakah ini calon suaminya atau calon mertua nya pikirku panik.


" Mas, tau gak mas Sakha kemana?" tanya Elis.


" Sepertinya tadi ke bawah situ.?" kataku menunjuk. Dia hanya mengangguk dan bermaksud menyusul nya.


" Teh... biar saya yg menyusu" tawarku. dia hanya mengangguk.


" Titip pesan mas. kalau Aa rahman sudahlah datang?" katanya. aku hanya mengangguk.


**


" Mas, ada yang mencari?" kataku sambil mendatangi nya yang sedang mencabut singkong itu. dia berhenti lalu menatap ku.


Sambil sedikit terengah, dan mengusap keringat nya itu dia sedikit menengadah kan mukanya pada ku.


" Siapa?" tanya nya.


" Katanya Aa Rahman?" jawab ku. dia hanya terdiam sebentar. kemudian berjalan pulang.


" Mas..mas Sakha?" panggil ku. Dia menoleh.


" Apa mas?" katanya. Aku mendekati nya.


" Saya mau berbicara sesuatu sama mas?" kataku memberanikan diri.


" Dirumah saja?" katanya.


" Enggak mas, disini saja. saya gak ingin yang lain tau?" kataku. dia menatap tajam.


" Mas, saya mau nikah sama Mira!?" kataku.


Sesaat dia diam lalu Tertawa.


" Mas Dokter bilang apa?" tanya nya lagi.


" Saya mau menikahi Mira mas, saya cinta sama dia?" kataku sedikit lantang.


Dia menatap dan mendekati ku.


" Mas Dokter, Kalau mau main-main jangan sekarang Bukan saatnya katanya pelan.


" Saya Serius mas. Saya mau nikahin Mira, Saya mau dia jadi istri saya.!" kataku lagi. Dia kembali tertawa.


" Saya Serius mas,Saya suka sama dia!" kataku. dia menatapku tajam.

__ADS_1


" Mas ini pernikahan loh mas, bukan mainan!?" katanya lagi.


" Iya mas. Saya tau. tapi saya juga seriusan!" kataku lagi.


" Saya suka sama dia, dan saya rasa dia juga suka sama saya?"


" Saya kurang nya apa sih mas Dimata mas?" kataku sedikit Ngotot.


" Bagaimana dengan Restu orang tua mas?" katanya.


" Saya rasa gak masalah mas, rasa coklat sering meminta saya untuk segera menikah. kalau saya putuskan untuk menikah sekarang pasti mereka tidak keberatan.?" kataku. Dia hanya tertawa.


" Saya tidak ingin menyiksa batin adik saya Mas.?"


" Saya tahu kalau dia juga suka sama Mas tapi Siapa lah kami di mata keluarga kamu Mas?" katanya.


" Saya akan jadikan dia berharga Mas!" jawab ku.


" Oke. kalau itu janji mas, nikahi dia Nanti malam.!"


" Tapi dengan syarat, sebelum Mas Dapat Restu dari keluarga Mas. Ayah atau Ibu mas, saya tidak perbolehkan Mira bersama dengan Mas?" Katanya.


" Saya hanya ingin memastikan kalau pernikahan Mas direstui oleh orang tua mas. Biarlah saya menggantung pernikahan kalian terlebih dahulu sebelum semuanya keadaan menjadi baik.??" katanya.


Aku hanya diam. lalu menatap nya.


" Gimana mas?" Tanyanya.


" Tapi, bagaimana mungkin suatu Pernikahan terjadi tetapi kami tidak bisa tinggal bersama.?" jawab ku. dia hanya tertawa.


" Loh, Bagaimana saya bisa memastikan niat Mas itu tulus cuma bermodalkan ijab dan Kabul.?"


" iya Kalau di kemudian hari niat Mas itu benar-benar tulus, iya kalau restu dari kedua orangtua Mas itu benar-benar ada. Kalau semuanya gak ada?" katanya.


" Janji dari saya, Saya perbolehkan kalian Ketemu. tapi tidak bersama. Selama saya yakin kalau nanti pernikahan mas di Restui.!"


" Kalian boleh bersama setelah kalian menikah resmi. Bagaimana?"


Masuk akal sih, dia bermaksud melindungi adiknya itu.


Aku mengangguk, serta menyalami tangannya.


***


Sampai malam setelah isya ini memang Mira belum mengetahui siapa calon suaminya itu. Dia masih mengurung dirinya di kamar.


Selepas percakapan tadi siang aku segera menyuruhnya mempersiapkan untuk acara malam ini. membeli seserahan sebagai mas kawin. mungkin Mira mengira jika Arya sudah kembali ke Jawa.


Aku hanya Diam sampai Semua keluarga terdekat datang untuk menyaksikan.


Dengan Berkebaya putih sederhana, Mira duduk di depan meja kecil dan penghulu. Disampingnya ada Abah yang duduk dengan lemah.


Dia masih belum tau, siapa calon suaminya. mukanya seperti di tekuk.


Aku menyuruh nya untuk senyum.


Tak lama Arya datang dengan menggunakan setelan kemeja putih yang sepertinya baru, kopiah hitam. sederhana sekali. tak sekalipun Mira menengoknya.


" Sudah hapal ya tadi bacaan nya, kita mulai saja sekarang ya Aa?" kata pak penghulu nya. Dia mengangguk.


" Sodara Arya Prasetyo bin Muhammad Sakur. Apakah benar anda Bersikap menerima Ananda Mirasih Nurmayanti binti Jajang Sukmara menjadi seorang istri?" kata pak penghulu sambil menggerakan jabatan tangan nya.

__ADS_1


" Saya Terima nikah dan Kawin nya Mirasih Nurmayanti binti Jajang Sukmara dengan mas kawin tersebut secara Tunai!" katanya tegas.


" Pelan pelan ya Aa... Di bayar tunai, Bukan secara yaa?" kata penghulu nya sambil tersenyum. terlihat ekspresi grogi di wajahnya. kemudian terlihat dia menarik nafasnya.


" Saya Terima nikah dan Kawin nya Mirasih Nurmayanti binti Jajang Sukmara dengan mas kawin tersebut Di bayar Tunai!" ulang nya tegas.


Mira masih tertunduk saat semuanya mengatakan Sah. Setelah semuanya berdoa. kemudian mereka saling bertatapan. Mira dengan tangis bahagia mencium tangan Arya.


Alhamdulillah. pikirku.


***


Riuh terdengar suara tangis Mira serta teteh nya dan kerabat yang lain menangis.


Setelah setengah jam aku mengucapakan Ijab kabul. mertuaku berpulang.


Aku Tak banyak berbuat terhadap mertuaku tersebut yang tiba-tiba Drop.


Masih mengenakan kebaya putih. Istriku Mira tampak Memanggil manggil Bapak mertuaku tersebut. Tubuhnya di tenangkan oleh salah satu kerabat nya.


Mas Sakha Tampak menangis tertahan Sambil memegang Dadanya. teteh nyai dan teh Elis pun tampak berangkulan.


Kakak iparku Sakha seperti kehilangan Cahaya di Sorot matanya.


Aku mendekati Mira, ku raih pundaknya. dia menatapku, matanya yang berair itu langsung di pendamkan di dadaku.aku Memeluknya. menenangkan nya sedikit dengan kata kata.


***


Aku langsung turun dari mobil begitu sampai di depan rumah milik mertua ku tersebut. Bendera kuning sudah terpasang di depan rumah.


Tampak orang-orang memperhatikan ku.Satu dua diantaranya aku seperti familiar.


Mbak Estu Berada di belakangku. Dia bersama kedua anaknya.


Semalam, setelah aku mendapatkan kabar dari Elis jika mertuaku Meninggal Dunia. Aku langsung menghubungi nya. Ternyata dia pun dikabari oleh Elis.


Aku berbasa-basi mengajak nya namun ternyata dia mau ikut dengan Ku. Tampa Supir penunjuk jalan, Hanya kami berdua yang coba mengingat ingat Jalan nya.


Kami menghampiri Teteh nya,Elis dan Mira yang tampak menangis. Tak ku dapati Sakha di sana. hanya saja, Seperti nya ada Arya? Pikir ku. kami saling berpelukan. dan menguatkan.


Tampak Lio yang Menangis, dan sedang di tenangkan oleh mbak Estu.


" Capek kali mbak. Istirahat saja?" kataku. Dia menatapku.


" Sepertinya Begitu.?" jawab nya.


Aku juga letih. pikirku, namun kan ku tahan sampai selesai. pikirku.


Tak lama kemudian Sakha datang. kami berdiri menghampiri nya. dia memeluk anak anak nya itu.menciumnya. Matanya tampak memerah, Tersirat rasa letih di diri nya. Dia menatapku dan mbak Estu Bergantian.


Aku memeluk, Berganti dengan mbak Estu. Hanya Senyum Datar dari Bibir nya itu.


Sedari tadi mataku tak berhenti melihat Sakha yang mengantarkan jenazah Ayah nya itu sampai liang lahat.


Dia menggotong keranda bersama Arya, Atmaja dan A Rahman. suami teh nyai itu, serta di bantu Dengan yang lain.


Untuk terakhir kalinya, dia mengadzankan Jenazah Ayah nya itu dengan suara bergetar. Beberapa kali terhenti karena dia menangis. Dikuatkan oleh kerabat kerabatnya yang lain.


Bajunya Hitam nya terlihat sangat Kotor dan lusuh. Namun pancaran Cinta dan hormat nya terhadap mertuaku itu membuat nya terlihat Gagah.


Makam Ayah mertuaku berada dekat dua makam ibu mertua ku juga.

__ADS_1


__ADS_2