
Sekali lagi aku terbangun dari tidurku. dan di luar tampak nya masih hujan.
Suaranya air hujan yang ber gemericik tampak jelas.
kadang terdengar suara angin yang sedikit kencang menerpa Jolopong.
Mungkin karena letaknya yang dekat gunung, dan berada di dataran yang lebih tinggi inilah yang membuat angin nya terasa kencang.
Sakha sudah tergeletak tidur di samping ku.
Aku hanya biasa saja.
Namun tiba-tiba tangan nya memeluk ku. mungkin dia tidak menyadari nya. Aku hanya membiarkan nya dan lanjut tidur.
Namun tak lama rasanya, terdengar pelan suara puji pujian orang mengaji dari Toa surau yang entah dimana itu.
Tangan Sakha masih berada di pinggang ku.
Aku berusaha bergeser dari nya yang malah membangun kan nya itu.
Dalam lampu yang redup, kami saling menatap sesaat, lalu aku membelakangi nya Merasa biasa.
Suara hujan dan angin pelan terdengar kembali.
Kadang angin nya pun masuk kedalam kamar melalui celah celah dinding papan.
Entahlah, mungkin karena itu. Sakha memeluk ku Erat, menempel di punggung.
Hembusan hangat dari Hidung nya itu seakan membakar Dingin nya pagi.
Aku menikmatinya nya. dan sejurus kemudian kami sudah saling berhadapan. dia mencium ku pelan dan pelan.
Gelora kami yang mulai terbakar itu, Tak mampu untuk di bendung.
Hasrat ku saat di Walungan tadi sepertinya terjawab oleh nya yang juga menginginkan ku.
Perlahan namun pasti, secara pelan dan sangat hati-hati dia melakukan itu, sesuatu yang harus tersembunyi. Dibalik Kamar, menyembunyikan Suara yang tersamar kan oleh hujan dan angin.
Dia mencium ku lagi. Aku seperti terhipnotis karena sesuatu yang baru saja terjadi.
****
Setelah semuanya di kemas, Singkong dan ubi yang di janjikan pun sudah terbungkus di karung kecil.
Beras, nanas dan yang lainnya ada di kardus mie yang sudah terlalu rapi.
Aku tak bisa menolak nya lagi kalau sudah begini.
Serapi seseorang disampingku yang menutupi kejadian beberapa jam yang lalu.
Aku berpamitan kepada mantan mertua, dan adik nya itu. kemudian kami meninggalkan Jolopong milik Abah.
Di dalam mobil yang melaju, kami saling terdiam.
Dia tampak sedikit Gelisah namun tetap tenang mengemudi kan mobilnya dulu.
Sesaat dia seperti memandang ku. Keraguan Nya sungguh tak bisa di sembunyikan.
" Kenapa ?" kataku membuka pembicaraan.
" Ehmm, Aku." katanya.
" Mau minta maaf." kataku kemudian. sejenak dia memandang ku.
" Boleh?" tanya nya. kami berpandangan lalu saling diam.
Sesaat dia bergumam kecil.
__ADS_1
" Seharusnya, aku bisa menahan nya semalam." katanya.
" Nahan apa!" kata ku ketus. Dia memandang ku.
" Bukannya udah kamu tahan seharian kemarin?' kataku. dia memandang ku kembali.
" Coba aku gak ikut minum Semalam yaa." Katanya.
" Lahh, emang kamu bisa jamin diri kamu sendiri?" kataku lagi.
" Gak usah cari alasan deh untuk membenarkan Kesalahan kamu.!"
" Terus, selain minta maaf aku harus apa ke kamu Estu?" katanya.
" Bukannya kamu juga membalas ku?" Katanya terdengar tegas.
" Tauk ahhh...!" Kataku.
" Mungkin aku yang salah tangkap sendiri sama Kamu. Padahal akulah yang bilang sama Abah kalau kamu datang cuma untuk bertakziah, bukan karena."
Lalu dia berhenti sesaat.
" Aku sadar sih, percuma saja aku ngomong begitu sama kamu. tapi kan gak ada salahnya aku coba."
Katanya.
" Coba apaa?" sahut ku. dia memandang ku lagi sebentar.
" Coba ajak kamu buat balikan." katanya sedikit lirih.
" Aku yang semalam tadi memang menginginkan nya sama kamu Estu, kamu benar. aku cuma menahannya!"
" Bukan maksud aku merendahkan kamu atas tindakan ku, tapi?"
" Udahlah, gak usah bahas lagi. yang jelas, yang perlu kamu ingat. bukan berarti aku Yaaa.!" kataku.
**
" Ya udah, hati hati Di jalan ya.barang ada di Bagasi bawah mobil. jangan lupa di ambil." katanya sambil mencium pipi ku dan mencium kedua anak nya sesaat sebelum bus berjalan.
Dia tersenyum, kemudian memberikan Nasehat kepada kedua anaknya itu.
Entahlah, aku juga bingung dengan perasaan Ku sendiri.
*******
" Kamu tau kan anak nya lek kasno itu kan Yu? yang rumahnya Deket rumah pakde Panijo. siapa namanya Gutri apa Fitri itu kan yaa?'' kata Mbak asih Kepada ku. Aku hanya sesekali mengangguk mengiyakan nya.
" Suaminya kan orang mana itu, Serang Atau manalah itu. kan sekarang Cerai. katanya suaminya itu gak mau nafkahi."
" Lah beda lagi sama si Sono, siapa Wicaksono anak nya lek juminten malah katanya di tinggal selingkuh sama istrinya yang orang Garut atau apa itu?"
" Belum lagi si kastadi ,dulu cerai sama istrinya karena berangkat ke Saudi. kok ya disana istrinya kawin lagi sama orang Arab sana."
" Lah, pokoknya kalau kawin sama nama orang Sunda itu itu rata-rata jaminannya cerai." katanya kepadaku.
Sambil memperhatikan nya, aku hanya diam.
" Orang Sunda, nggak lelaki atau perempuan nya sama-sama doyan selingkuh. rata-rata yang lelaki itu nggak tahu jawab. yang perempuannya ya kerjanya cuma dandan menor, bajunya Harus nyetil. ra tau masak, Weslahh Ra genah genah!?" Kata Mbak asih.
" Untung aja kamu Sudah sudah kenal Linggar, insyaallah juga bakal nikah sama dia. emang kalau orang Jawa lebih baik nikah sama orang Jawa! bisa sih sama suku lain asal jangan sama orang Sunda.!"
" Kenapa Mbak?" tanya ku.
" Yaa itu tadi, jaminannya cerai. lah wong nikah itu harusnya sekali seumur hidup kok malah senangnya buat mainan.??"
" Senengnya kok yaa kawin Cerai, kawin Cerai!" katanya sambil sedikit tertawa sinis.
__ADS_1
" Yaaaa, mungkin gak semuanya mbak." kataku
berbicara sambil terus mengupas bawang merah untuk memasak.
" Lah itu, nggak usah jauh-jauh. Kamu tahu kan Sakha? Dia kan orang Sunda, mantan istri orang Jawa. Yaaa nasibnya cerai cerai juga!" kata nya sedikit mengejek.
" Yaa nggak tahu juga sih alasannya mereka bercerai, tapi kayaknya sih, Mas Sakha ini Playboy.! lah wong Teman 1 kontrakannya pernah cerita kalau dia pernah booking cewek yang kayak gituan buat senang-senang!"
" Apa enggak Playboy namanya!?" katanya beranggapan.
" Lah Mbak Asih tahu dari mana?" tanyaku kemudian. dia sedikit tertawa kepadaku.
" Namanya hidup di kampung satu mata yang melihat 1000 mulut yang berbicara!!" katanya tertawa puas.
" Pokoknya semisal ada temen kamu yang mau menikah sama orang Sunda. kamu ceritain aja Lebih baik orang Jawa kawin sama orang Jawa. jangan maksa maksa nikah sama orang Sunda kalau nggak mau cerai-berai.!"
" Lah wong Nasib nya orang beda-beda Tho yaaa Mbak, namanya jodoh. emang kita bisa tahu siapa Jodoh nya?"
" Hak orang juga mau menikah sama siapa." katak ku membela.
dia tampak sedikit memperhatikanku, seperti tak senang jika tak sependapat.
" Mas Sakha itu orangnya baik, tapi sebaik-baiknya orang pasti punya kelemahan atau keburukan.!" katanya.
" Lah itu katanya mau join bisnis sama Mas Bandi, malah pergi ke Jakarta nggak pulang-pulang. terus gak ada kabar lagi. kayak nggak serius, Padahal di sini bener-bener pengen ngajakin usaha Jati."
" Mana dia sempat bikin sampel meja resin, model seperti itu yaaa gak bakal Laku disini!" katanya.
" Namanya juga baru mulai merintis Mbak, Pastinya dia juga Belajar ini itu, tahu prospek nya. Dia itu orang Pinter kayak nya mbak??" kataku membela nya.
" Kemarin sih temennya bilang, kalau dia mau pulang ke sini tapi ibunya malah meninggal dunia jadi ditunda?!" kataku.
" Innalillahi wa innalillahi roji'un, ibunya meninggal ?mesak no Yo ( Kasihan) kok mas-nya nggak cerita ya."
aku hanya diam
" Bu, Ibu..... Bu!! teriak Mas Bandi memanggil istrinya itu.
" Apa toh Pak? aku di sini di dapur!". kata Mbak asih Sambil berteriak.
" Ibu...," kata mas Bandi yang tampak sumringah.
" Ada apa toh Pak ?" tanya Mbak asih.
" Barusan mas Sakha telepon, Kalau minggu depan dia mau pulang Kesini. Terus tadi dia nanyain nomor rekening ku."
" Aku di suruh nya membuat meja yang ada di gambar. katanya, ada ada pembeli yang udah ngasih panjer.?!"
" Terus dia bilang nanti separuh biayanya mau dikirim ke aku." matanya tampak sumringah. kemudian aku memandang Mbak asih. seolah ingin mengatakan jika anggapan nya itu tidak benar.
****
Setelah tujuh hari mendiang Ambu berpulang kemarin, Aku mengajak Abah serta adik adik ku untuk bersilaturahmi ke rumah uwak ku yang di Tasikmalaya, Serta kerumahnya bibi, adik ibuku yang ada di Kabupaten Bandung.
Aku singgah ke bekas pondok pesantren ku dulu, Dimana aku pernah menuntut ilmu. berziarah ke makam Kyai dan ustadz yg dulu membimbing ku.
Napak tilas kehidupan kecil ku.
Aku antar kan Abah Untuk pergi kerumahnya teteh nyai di Bekasi. lalu pulang kembali ke Purwakarta.
Total semuanya, 17 hari aku pergi menggunakan mobil milik Estu.
Akhirnya, di hari ke 20 aku kembali ke Jakarta. sambil membawa adik ku serta. Mirasih.
Aku membawanya ikut dengan ku, Sesuai permintaan Almarhum Ambu yang memintaku untuk memberikan nya pendidikan lagi.
Rencananya aku akan memasukkan nya dalam program paket C. yang setara dengan SMA. lalu mengkursuskan nya di pembelajaran Salon Kecantikan.
__ADS_1
Karena di Jakarta aku tidak punya tujuan, aku membawanya ke rumah Estu. sebelumnya aku meminta izin dari nya terlebih dahulu.