
" Kamu udah beberes Kha buat berangkat besok?" tanya Ade kepada ku. aku menatap nya sambil mengangguk kecil.
" Jadinya rumah mu mau di gimanain??" tanya nya lagi.
" hmm...aku sudah tanya agen pemasaran buat posting rumah ku itu. kalau ada yg mau beli ya aku jual.atau mau sewa ya bisa??" jawabku sambil masukkan berkas kerja kedalam tas ku.
" Kamu serius mau jual rumah itu??" tanya nya lagi. aku hanya mengangguk.
" ya gimana gimanapun itu harta Gono gini kami berdua. sudah sepatutnya itu aku bagi dengan Estu?" kataku.
" Aku serahkan semua ke dia. kalau dia mau bagi hasil rumah itu sama aku ya aku terima. tetapi mungkin aku kasih ke dia lagi buat anak aku??" kataku menjelaskan.
" kamu baik baik saja kan Kha?" tanya Ade tiba tiba,bernada aneh.
" ya aku baik baik aja de...kenapa??" balik aku yg bertanya sambil berhenti berkemas dan menatap nya.
" bagi aku ini aneh Kha?"
" Pertama kamu mengiyakan gugatan cerai Estu,Kamu mau menandatangani perjanjian setelah cerai sama dia.sekarang rumah pun kamu serahkan ke dia?"
" Perjanjian setelah cerai yang aku anggap gila?!"
" bisa bisanya kamu mau menafkahi anak kamu sepertiga dari gaji kamu??"
" Buat kamu apa?!" katanya heran dan sedikit bernada gusar.
aku hanya tersenyum.
" Lah..emang aku bawa apa sih pas nikah sama Estu?"
" Aku bukan siapa siapa,kalau pun kemarin aku bisa jadi seseorang ya karena Estu ?!"
" Iya kan?" kataku menjelaskan.
" Tapi ini gila Kha.?"
" Masak tak satu barang pun kamu bawa dari rumah itu, kamu keluar cuma bawa koper baju kamu?!"
Aku hanya tersenyum menatap nya.
" Menurut ku ini lebih baik de. sudahlah,aku yakin masih punya rejeki buat bangun kehidupan yang baru?" jawab ku pelan sambil tersenyum simpul.
Ade tampak hanya menggeleng gelengkan kepalanya.
kembali aku tersenyum.
********
" Ya hallo Estu??" lalu kemudian terdengar suara Estu dari ponselku.
" Sebentar lagi aku pulang, kenapa?" tanya ku.
" Oo..iya ada nanti aku di rumah. Oo mau ambil barang milik kamu, iya aku tunggu nanti di rumah?" jawab ku.
" Mungkin jam tujuh atau delapan malam aku sudah sampai.biasanya macet ??"
" Iya kalau gitu nanti aku kabarin deh kalau sudah sampai di rumah?!" kataku lagi.
Kemudian tak lama aku menutup ponsel ku.
Iya. aku menyetujui permintaan cerai Estu. aku lelah dengan proses cerai yang bertele-tele. setelah hampir delapan bulan,baru empat hari yang lalu hakim mengetok palu nya di pengadilan. Kami resmi bercerai.
Untuk hak asuh jatuh ke tangan Estu,karena anak anak masih balita.
Perbulan aku diwajibkan menafkahi anak ku. ya kira kira sepertiga dari gaji yg aku terima.
Untuk rumah,siapa yang menempati. kewajiban untuk membayar uang pengganti.
karena rumah menjadi milik anak anak ku.
__ADS_1
kendaraan yg aku miliki pun, seperti mobil dan motor di uangkan.di bagi empat,aku Estu,dan juga anak anak ku.
Aku iya in semua apa maunya Estu. Aku tak memikirkan Harta ataupun harga diri. semuanya kulakukan agar bisa menjenguk anak-ku sewaktu waktu.
******
Bel berbunyi. saat aku yang tengah men dadar telur untuk makan malam ku kali ini. segera ku bergegas ke ruang tamu, untuk membuka pintu rumah ku.
Tampak Estu dengan dua orang temannya. nampaknya sepasang suami istri.
Dia tersenyum bias terhadap ku.
" Maaf ganggu Kha?" katanya sambil masuk ke dalam rumah.aku hanya tersenyum sesaat kami setelah bersalaman.
" Ini Alia teman sekantor ku yang sedang cari rumah?" katanya. aku hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.
" Silahkan duduk?" kataku kemudian sedikit canggung.
" Kami mah melihat lihat dulu mas??" kata suaminya.
" Oh iya gak apa-apa, silahkan?" jawab ku.
" Tapi maaf agak berantakan?!" kataku lagi sambil sedikit tersenyum.
" Aku ambilkan minum dulu ya..?" kataku sambil berjalan ke arah dapur.
" Aku ke kamar ya. mau ambil barang ku??" kata Estu setengah kencang kepada ku.
" OHH..iya ?" jawab ku dari dalam dapur.
******
" Minimalis modern kata marketing perumahan sin sih nyebutnya mas?" kataku sambil menemani dua orang tadi melihat lantai dua rumah ku.
" Untuk lahannya,saya kurang paham berapa ukuran nya. tapi memang rumah ini sebagian sudah di renovasi?" kataku menjelaskan. dua orang tadi hanya manggut-manggut.
" Masalah harga ya sama mbak Estu saja?" kataku lagi .
" Mas ini siapa nya mbak Estu ya kalau saya boleh tahu?" tanya istrinya kepada ku.
" Oh,saya Kerabat jauhnya Estu. kemarin saya di persilahkan mengisi rumah ini sama dia.?"
" Sayang kalau tidak di tempati?" jawab ku.
" lalu mbak Estu tinggal dimana,bukannya dia sudah berumah tangga?" tanya nya lagi.
Aku tertawa kecil.
" Di rumah orang tuanya. rumah pakde nya saya.?" jawab ku sekenanya.
" Ooo...?" kata mereka hampir bersamaan.
****
Setelah mereka ber berpamitan pulang kepada aku dan Estu. aku kembali ke dapur sedangkan Estu kembali ke kamar untuk membereskan barang milik nya.
" Estu..kamu mau aku goreng kan telur atau aku buatkan mie instan buat makan??" tawarku mengejutkan nya dikamar.
" Eeeee..gak usah lah Kha. biar nanti aku langsung pulang?" jawab nya. aku hanya mengangguk.
" Hari hari kamu makan malam begitu Kha??" katanya sambil membuka kulkas yg kosong.
" Minum nya ada di plastik itu Estu..aku belum sempat masukin ke kulkas?!" kataku cepat.
" Ya ini lagi males keluar aja aku cari makan.ya seadanya aja?" jawab ku.
kemudian Estu duduk di hadapan ku .
" Gimana anak anak? Sehat." tanyaku kepadanya.
__ADS_1
Dia hanya mengangguk sambil meneguk minuman kotak itu.
" Mau aku buatkan kopi apa teh gak Estu?" Tawarku.
" Boleh?" jawab nya.
" aku rebus airnya dulu ya?" kataku sambil berdiri dan menyiapkan nya.
" mau teh atau kopi?" tanya ku.
" Teh?" jawab nya pelan.
" Oke." kataku
Tak berapa lama kemudian aku menyodorkan teh itu kepada nya.
" Apa rencana kamu setelah ini Kha?" tanya nya sedikit menyelidik kepada ku.
" Hmm.. mungkin aku cari kontra dulu ya sebelum keluar dari rumah ini?" kataku sambil menyeruput kopi yang ada di hadapanku.
" Kantor mengirimkan aku ke daerah. tapi aku masih belum tau kemana akan di tugaskan?" kataku lagi
" hmm..kamu di mutasi?" tanya nya.
" Mungkin seperti itu, tapi ya sudahlah?"
" Bukan alasan kamu buat menghilang kan Kha??" tanyanya sinis. aku hanya tertawa.
" Ya enggak lah, aku masih punya tanggung jawab sama Danesh dan Arcelio. aku juga gak mungkin terlalu lama jauh dari mereka?" kataku sambil menatap wajahnya.
Dia hanya sedikit tersenyum menyeringai.
" Hmm.. Estu. tapi tolong ya,kamu suatu hari jangan menghalangi aku ketemu sama anak anak?!" pinta ku. dia hanya diam.
" Aku minta maaf atas kejadian yg telah lalu, dan walaupun kamu gak maafkan aku - gak lupakan salah ku. aku gak jadi masalah. hanya saja aku masih mau dekat sama anak-anak ku?" kataku lagi.
Dia kembali diam menatap ku sambil tersenyum kecil.
" Apa iya kamu tahan hidup sendiri Kha?!"
" Kamu paling gak lama menikah sama orang lain dan punya anak sendiri?!" katanya bernada menyindir.
" Gak tau juga Estu, kalau aku punya Rezeki masih, punya jodoh menikah ya mungkin aku di pertemukan dengan seseorang.?" jawab ku sedikit diplomatis.
" Tapi aku juga gak mah buru buru lah ambil tindakan. masih banyak urusan?" kataku lagi sambil berdiri.
" Aku mau mandi dulu ya.biar aku antar kan kamu nanti ke rumah mu?" kataku sambil menatap nya.
" Gak usah, aku nanti naik taksi online saja?" katanya sambil meminum teh nya.
Aku hanya mengangguk dan meninggalkan nya.
******
" Brakkk!!". suara kami yang tak sengaja karena sama sama membuka pintu kamar.
Seketika kotak barang yang di angkat Estu jatuh. tubuhnya terhuyung hampir jatuh.
Dengan sigap aku menahan bahu nya,namun sayang.tangan Estu menyambar handuk yang terlilit di pinggang ku hingga terjatuh.
Mata kami saling bertatapan sangat dekat untuk sekian lama tak sedekat ini. Aku mendekapnya.
Apalagi setelah dia melayangkan gugatan cerai terhadap ku.
Memang aku masih menggunakan kamar mandi di kamar utama kami. dulu. karena pakaian yang sudah ku kemas berada di ruang tamu,aku berniat untuk mengambil nya untuk ganti.
Namun sayang,disaat bersamaan aku membuka pintu yang sudah dibuka sebelumnya oleh Estu,dia menggunakan bahunya untuk mendorong daun pintunya karena tangan nya tengah membawa kotak kardus berisi barang barang miliknya.
*****
__ADS_1
Opss....Aku sudah menatap nya tak sengaja, dan dia mendekap ku sekarang. tatapan mata tajam, aku tahu pasti tatapan seperti itu terhadap ku. aku coba melepaskan dekapannya yang semakin terasa kencang.
Apa yang mau dia lakukan, kenapa dia malah mengunci pintu kamar ini dan membuang anak kuncinya.