Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 129


__ADS_3

Aku berfikir, memang bener apa yang dikatakannya tadi. semua arah pembicaraan ku berakhir dengan keributan yang baru atau sama dengan sebelumnya.


Aku seolah-olah menggoreng terus kesalahannya itu. dan entahlah, seakan aku ini mempunyai dua sisi yang berbeda. mungkin masalah hormonal karena aku sedang hamil atau memang pembawaan ku saja.


disaat aku dekat dengannya, ada perasaan tidak ingin ditinggalkan olehnya. dan juga ada perasaan sangat mencintai nya yang sangat mutlak.


Aku tidak ingin berpisah atau jauh dengannya. apalagi sampai dia dimiliki oleh orang lain lagi.


sudah cukup rasanya jika di hidupnya itu hanya aku dan Estu yang boleh memiliki hatinya.


tetapi kembali lagi pada kenyataan, Jika ternyata masih ada satu hati perempuan lain yang selalu diingatnya.


Ayu... gadis muda yang Umur nya terpaut sedikit jauh dariku itu.


entah apa yang pernah Sakha lakukan bersamanya. sampai-sampai dia sulit untuk melupakannya, setidaknya itu asumsi ku..


Jika ingat itu semua diriku menjadi benci terhadap Sakha.


Bagaimana mungkin dia bersenang senang dengan mempermainkan perasaan ku yang benar-benar tulus mencintainya??


Ataukah, Apa Sebenarnya dia yang tulus mencintaiku?


Aku menatapnya sedikit sengit. Sakha Kemudian menatap ku sedikit heran. Aku buru-buru merubah roman di wajah ku itu.


" Ada apa?" Tanya nya pelan.


" Enggak ada Apa apa?" jawab ku.


" Kok mukanya aneh?" katanya kemudian.


" Kamu tuh yang aneh! enggak jelas?!" kataku sedikit ketus. Dia tersenyum sambil menaikan rem tangan dan memberhentikan mobil ku di pelataran parkir sekolah Kylie.


" Lima menit lagi sekolah nya selesai?" katanya sambil menatap jam di tangan nya itu..


Lalu kami keluar dari dalam mobil dan duduk di kedai batagor Bandung yang ada di dekat ya.


" Bapak Sakha?" kata seseorang menyapa nya. lalu kami berdua menoleh kepada pemilik suara tersebut.


lantas Sakha tersenyum sambil menjabat tangan lelaki itu.


" Ehh Mas Surya kan? gimana kabarnya?" kata saka terdengar sambil tertawa kecil.


" Baik pak??"jawabnya.


" ngapain kemari Pak?" tanya orang tersebut sambil menatapku.


" Ehh... saya mau jemput anak saya?" jawab Sakha.


" Lohh... anak bapak ada yang sekolah di TK ini?" katanya dengan nada yang heran.


Sakha kembali tersenyum kecil sambil mengangguk.


" Mas sekarang mengajar juga Disini?" tanya Sakha.


" Enggak mengajar Sih pak, tapi saya kerja di sini di bagian Kantor nya?" jawab nya.


Sakhat terlihat mengangguk kecil. dan mengajaknya untuk duduk.


" Mau saya pesankan batagor juga mas?" tawar Sakha.


" Enggak usah pak, Terima kasih?" katanya menjawab.


Lantas Sakha meminta satu teh botol untuknya.

__ADS_1


" Jadi, Anak Bapak ada yang bersekolah di sini? siapa Pak... apa adiknya Danesh?" tanyanya penasaran.


" Iya.. Adiknya Danesh. Dia perempuan, namanya Kylie... tau gak?" kata Sakha.


" Ohh... Kylie yaa?" katanya sambil tersenyum.


" Tapi, bukannya Danesh dulu sekolah di TK Islam pak? Kenapa adik nya sekolahnya harus di yayasan milik agama lain?" tanya Mas itu penasaran.


Sakha kembali tertawa kecil.


" Ohh iyaa, memang Danesh Islam. tapi adiknya kebetulan beragama lain?" jawab nya.


" Ini istri saya, ibunya Kylie?" katanya mengenalkan ku.


dia menatapku sedikit kaget. lalu kemudian mantap Sakha.


" Ohh maaf pak, saya enggak tahu kalau?" katanya terputus.


" Enggak apa-apa?" kata Sakha sambil tersenyum kepadanya.


" Wajarlah, Sudah lama sekali Kan kita nggak bertemu? pastinya sudah banyak yang terjadi di hidup kita??" kata Sakha.


" Danesh Sendiri sudah kelas 4 SD. kita nggak ketemu hampir 5 atau 6 tahun yang lalu?" katanya.


" Apa mas Surya sudah menikah?" tanya Sakha kemudian.


mas yang tadi itu hanya tersenyum.


" Belum pak?" jawabnya pelan.


Sakha hanya tersenyum.


" Kenapa? Susah menentukan pilihan yaa?" katanya terdengar bercanda. Mas itu menatap kami sambil tersenyum juga.


" Bukannya dulu Saya dengar kalau mas Surya ini ada Crush sama pengajar di TK nya Danesh? kalau nggak salah namanya miss Rahma??" kata Sakha.


" sudah lama sekali itu Pak, kok bapak bisa tahu?" tanyanya kepada sakha.


" Yaa ada aja yang cerita Mas?" jawab nya sambil tersenyum.


" dua tahun setelah Danesh lulus, Saya sempat mendengar kalau miss Rahma itu menikah. Saya pikir sama Mas ya?" kata Sakha.


" Bukan Pak?" katanya pelan.


" Saya cuma kebagian nungguin jodohnya orang??" katanya sambil tertawa lebar dan Sakha pun ikut tertawa karenanya.


aku hanya diam dan sedikit tersenyum melihat mereka yang tengah asyik mengobrol.


" Jangan khawatir Mas. apa yang sudah dituliskan untuk kita akan tetap menjadi milik kita."


" cuma masalah waktu yang kadang-kadang kita tidak sabar menjalaninya.?" kata Sakha yg terdengar menasehati Mas itu.


Aku memalingkan wajah ku, sambil sedikit menahan senyum di bibir ku karena nya.


" Iya sih Pak, benar. Tapi tetap saja kan ya itu bikin kepikiran?" keluh mas itu.


" Gak usah mikirin omongan orang Mas, nikah itu bukan sesuatu yang harus dipaksakan. akan lebih baik jika Mas mantap dan mapan terlebih dahulu?" katanya sambil tertawa.


" Bisa aja Bapak ini?" katanya kemudian.


" Saya pernah dengar, kalau bapak sudah tidak tinggal di Jakarta lagi?" kata mas nya bertanya kepada Sakha. Sakha hanya mengangguk.


" Iya mas, sementara ini saya sama istri saya ldr-an?" katanya sambil tertawa.

__ADS_1


" Saya kerja di Kutoarjo Mas, di CV kecil?" katanya.


" Oo... begitu... yaa enggak apa apa Pak. enggak usah khawatir kalau soal rejeki mah. kan Tuhan juga sudah atur?" katanya.


" Nahh, sama kan? Tadi saya ngomongin Mas nya masalah jodoh sekarang mas-nya ngomongin saya masalah rezeki??" kata Sakha sambil tertawa.


Setelah mereka berdua bertukar nomor telepon. lantas aku dan Sakha segera menunggu Kylie di depan gerbang sekolah nya. tak lama kemudian, Kylie muncul dengan pengasuh nya itu.


" kamu kok bisa kenal sama dia?" tanyaku pada Sakha.


" Hmmm... siapa? Surya??" tanya Sakha balik.


" Ooo.. dulu waktu Danesh masih TK aku sering sempatin jemput Danesh di sekolah nya. aku dulu sering ngobrol sama dia.?"


" Dulu dia kerja di bagian TU di sekolah Danesh?"


" waktu dulu dia baru lulus kuliah, dia kerja di sekolah yang kebetulan yayasan milik orang tua pacarnya si Rahma itu?" kataku.


" Anaknya baik sih... tapi mungkin karena berbeda status. jadi orang tua si Rahma ini nggak setuju sama Surya?" katanya.


" lohhh, kok Kamu tahu?" kataku kepada nya. dia hanya tersenyum dan tertawa kecil.


" Kan aku sering ngobrol sama penjaga sekolahnya, satpam, apa sama yang jualan di depan sekolah nya Danesh dulu?" jawabnya.


" Tukang gosip juga ya kamu?" kataku kemudian


dia tertawa.


" Aku sih niatnya nggak mau gosip. tapi masa iya kalau ada orang ngajakin ngobrol, ceritain sesuatu terus Enggak aku dengerin??" katanya terdengar berkilah Sambil tertawa.


" Apa aku sopan kalau begitu??" katanya lagi, sekarang dia tertawa terkekeh.


" Alasan aja kamu?" kataku sambil tersenyum dan mencubit lengannya. Dia masih tertawa dan menatap ku.


***


" Tadi Aa udah email ke kamu Mira? Coba kamu buka terus kamu baca isinya. kalau perlu kamu edit kata-katanya biar terdengar sedikit pantas?" kataku di sambungan telepon dengan Mira.


" Iya besok siang pulang?" kataku padanya. lalu tersenyum mendengarnya yang protes kepada ku.


katanya dari kemarin aku bilang pulangnya besok siang, pulangnya besok siang tapi tak kunjung datang.


" Kalau besok mah beneran Mira? Aa juga kan harus latihan pidato?" kataku sambil tersenyum mengajaknya bercanda. Lantas aku tertawa kecil mendengar kan celotehnya itu.


" Iya sudah Aa sampaikan salam kamu sama Cece?" kataku kemudian.


" bagaimana keadaan kamu, apa Arya Sudah menentukan bakal kuliah di mana?" kataku.


" Hhmmm... kalau di Australia? Apa enggak kejauhan?" kataku berpendapat.


" iya sih cuma sebentar, tapi kan kalau jauh sama kamu?" kataku.


" masa iya, Aa lagi yang harus jagain kamu?" kataku Sambil tertawa.


" Bukan Aa nggak mau, Tapi kan kamu tahu kalau istri Aa sekarang Dua... kalau nungguin kamu juga? berasa punya istri 3 dong Aa??" kataku pelan Sambil tertawa terkekeh kepadanya.


" Iya.. iya.. jangan marah, Aa kan cuma bercanda sama kamu Mira?"


" Sampai kapanpun, Aa bakal nungguin kamu kalau kamu masih mau Aa tungguin?" kataku lagi.


" Kamu, Elis sama teteh Nyai kan memang milik Aa yg paling berharga?" kataku sambil tersenyum.


Setelah aku menutup pembicaraanku dengan Mira. Aku menoleh ke samping, yang ternyata sudah ada Livia didekatku. dia memandangku sambil bergumam kecil. Aku lantas tersenyum.

__ADS_1


" kok tiba-tiba ada di sini, sejak kapan?" tanya ku kemudian.


" sejak kamu berasa punya istri 3 !?" katanya terdengar sedikit sewot, aku lantas menahan senyum dan hampir tertawa karenanya.


__ADS_2