Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Terciduk


__ADS_3

Setelah mengantar Hanum, Malik kembali ke apartemennya. Di perjalanan dirinya sudah merangkai banyak kata untuk menghibur istrinya yang saat ini pasti sedang di rundung duka. Meski bukan kehilangan yang tidak bisa berjumpa lagi, Ayuna pasti merasa sangat bersalah atas apa yang membuat Hanum pergi dari kediamannya.


Langkah nya terhenti sejenak di toko bunga langganannya. Ayu paling suka dapat perhatian kecil yang bisa mengobati sedikit luka nya. Malik berusaha sebisa mungkin mengurangi sakitnya dengan hadiah kecil yang dirinya bawa.


Malik membawa bunga mawar putih yang begitu cantik, sudah dirinya siapkan agar gundah di hati kesayangannya bisa berkurang meski hanya sedikit.


Kini mobilnya sudah terparkir dengan apik di parkiran apartemen. Malik menghela nafas panjangnya, dirinya tidak siap melihat wajah sedih kekasih hatinya. Sungguh Malik paling sakit melihat wajah sedih nya. Sakitnya sampai membuat Malik merasa tidak berdaya.


Dengan langkah tegapnya Malik memasuki apartemen yang sangat sunyi. Hanya ada Jofan dan Sandra di ruang keluarga. Itu pun Sandra tertidur di sana.


“Mana istriku Fan?” Jofan masih menatap wajah damai istrinya yang kelelahan.



“Ada di kamar, adik ku Bobo Kak. Anak-anak dan Riyan yang temani." Kini Jofan mendudukan dirinya. "Perutnya apa sering kram? Apa tidak sebaiknya kita bawa ke dokter?” Malik meletakkan mawar putihnya di atas meja.


“Sudah aku bujuk, tapi dia terus menolak. Kata buku yang di bacanya itu hal wajar. Selama tidak berbahaya sepertinya Kakak mu ini harus percaya Fan.” Jofan sudah duduk berhadapan Malik.


"Kau pasti kesulitan menghadapinya ya Kak?" Malik hanya menjawabnya dengan senyuman.


Dirinya berusaha menjaga nyaman nya, tidak mau ketakutanya malah membuat kesayangannya merasa tertekan.


“Bagaimana Hanum? Kak Anna sampai mengirimi ku pesan berulang kali. Dia bahagia sekali Kak.” Tapi ada kesedihan karena Ayu harus mengalah.


Jofan melihat dengan mata kepala nya sendiri bagaimana Ayu banyak menyalahkan dirinya sendiri karena kepergian Hanum. Meski berulang kali mereka mencoba menjelaskan jika semua bukan salah dirinya, akal sehatnya tetap tidak bisa menerima. Ayu tetap menyalahkan dirinya sendiri.


"Hanum merasa hadirnya membuat kami semua terancam. Baskoro masih meneror Hanum Fan. Aku sudah meminta Aldo memperketat penjagaan. Aku tidak tahu pasti Baskoro senekad apa." Jofan mengangguk paham.


"Aku akan pastikan Hanum aman, Kakak fokuslah pada anak-anak dan Adik ku." Senang sekali tugas Malik ada yang membantu.


"Tetap saja aku mengawasi kalian semua. Jadi jangan macam-macam." Malik memang selalu memantau mereka semua diam-diam.


"Jadi bagaimana Hanum?" Malik menyandarkan kepalanya di sofa. "Kak Anna pasti menyambut nya dengan full senyum ya Kak?" Malik tersenyum begitu banyak arti. Wajahnya sudah menjelaskan bagaimana keadaan rumahnya.


“Iya, dia sudah siapkan semuanya bahkan Fan. Aku jadi merasa langkah kita ini sangat tepat." Malik terlihat sangat bahagia. "Nanti aku packing barang-barang anak ku biar kamu bawa ya Fan.” Jofan mengangguk.


"Siap Kak." Jofan tidak kalah bahagia, akhirnya setelah sekian lama Anna punya kesempatan mengurus seorang anak meski tidak lahir dari rahimnya.


“Ini ngomong-ngomong kenapa kalian tiduran di luar? Kenapa tidak tidur di kamar anak-anak?” Malik merasa kasihan melihat Sandra tidur di sofa. Lelap sekali.


“Tertidur dia Kak. Sandra sedang bolak balik kamar mandi, perutnya tidak nyaman katanya. Dia bilang sudah biasa jika mendekati menstruasinya.” Malik mengangguk paham. Ayu juga begitu jika mau menstruasi.

__ADS_1


"Selimutnya naikin Fan, kasihan Sandra kedinginan." Jofan menurut dan langsung menaikan selimut menutupi tubuh Sandra. “Ya sudah, Kakak siapkan makanan dulu yah. Kita makan sama-sama, buat semestaku lupa sedihnya ya Fan.” Jofan ikut beranjak. Ingin membantu Malik menyiapkan makanan bersama.


“Berat kah?” Tanya Jofan tiba-tiba yang membuat Malik menghentikan langkahnya. “Apa sangat berat melepaskan Hanum tinggal dengan kami?” Malik tersenyum getir.


“Aku merasa sesak Fan, ternyata aku sudah mencintai Hanum seperti anak-anak ku yang lain. Tidak mudah, aku akan membiasakan diri. Jadi tolong jaga Hanum untuk ku Fan.” Jofan menepuk pundak Malik dengan lembut.


“Aku akan lakukan yang terbaik. Percayalah padaku.”


“Ayo cepat, panaskan makanan sebelum mereka semua bangun.” Mereka berdua berkutat di dapur yag cukup luas. Melupakan sejenak masalah yang sedang mereka hadapi.



“Woaahhhhhh.....Bunga mawar siapa ini?” Sandra meraihnya dan menciuminya gemas. “Cantik sekali mawarnya.”


“Kau suka? Ambil lah San.” Teriak Malik dari dapur. “Untuk mu.” Sandra memicingkan matanya.


“Apa aku terlihat seperti tidak pernah menerima bunga mawar?” Jofan meminta Malik tidak melanjutkan argumennya. Sandra sedang sangat galak hari ini.


“Sayang, bawa ke sini mawarnya. Taruh di pot biar tidak layu.” Dengan langkah malas Sandra mendekat. Menyerahkan bunga pada Jofan.


Sandra membawa Mawar Putih yang sangat cantik berdiri di pot di pojokkan meja makan. Indah sekali sampai Sandra menciuminya berulang kali.



"Mmmmmmmm......." Malik tahu Sandra sedang ada maunya.


“Tolong buatkan aku es jeruk.” Sandra memang suka sekali es jeruk buatan Malik. Tapi dia tidak pernah meminta selagi bukan atas keinginan Malik sendiri untuk membuatnya.


“Aku saja yang buatkan sayang.” Sandra menggeleng.


“Kau lupa! Aku Bos mu San.” Tapi Malik tersenyum. Lucu sekali wajab Sandra jika dirinya godai.


“Ini di rumah, dan kau Kakak Ku. Please......Kak.....” Wajah nya terlihat sangat sungguh-sungguh. Memelas dengan sungguh-sungguh.


“Tidak pakai es ya sayang, perutmu sedang tidak enak.” Sandra menacungkan kedua ibu jarinya. “Duduk di sana, tunggu sebentar.” Sandra menuruti perkataan Malik. Duduk manis di sofa ruang keluarga.


“Sorry merepotkan Kak, dia memang sedang agak rewel hari ini.” Jofan sendiri merasa kewalahan. Sandra sedang sangat sensitif da semua permintaanya harus di turuti.


“Dia juga adik ku Fan. Dan dia sudah sering merepotkan ku asal kau tau Fan.” Mereka berdua tertawa, Sandra dengan keras kepalanya memang sering membuat mereka berdua kepusingan. Apalagi kalau sudah ada maunya.


Jofan membawa jeruk hangat yang sudah selesai Malik buat. Menuangkannya di gelas agar Sandra tinggal minum saja.

__ADS_1



“Sayang, sini minum jeruk hangatnya.” Sandra brdiri ingin mendekat, karena tidak hati-hati kakinya tersandung ujung meja yang cukup tajam.


Awwwww.....


Jofan lari menghampiri Sandra yang mengaduh berteriak kesakitan. “Kenapa tidak hati-hati sayang.” Jofan menuntun Sandra untuk duduk kembali.


“Tidak papa Fan, Cuma sedikit lecet.” Padahal kakinya masih terasa kebas karena benturannya cukup keras.


“Apanya yang tidak apa-apa. Kau ini ada-ada saja, bisa-bisanya tidak hati-hati.” Wajah Sandra terlihat sangat sedih. "Lain kali tidak perlu lari, jalan saja pelan-pelan sayang." Sandra jadi terbawa emosi, kesal karena dirinya kesakitan tapi malah mendapat omelan.


“Hmmmmm.....Hmmmmm.” Jofan menatap Malik yang memberikan kode untuk Jofan menatap wajah Sandra yang sudah berkaca-kaca.


“Aku tidak marah sayang. Aku ketakutan karena kaki mu terluka.” Sandra menunduk, sedih sekali seolah Jofan benar memarahinya. “Sorry sayang, aku tidak bermaksud membuatmu sedih.” Jofan memeluk Sandra yang sudah mulai bisa tersenyum.


“Lain kali jangan marah begitu, aku kan kesakitan.” Lirihnya yang membuat Jofan ingin terbahak. Istrinya seperti anak kecil saat ini. Jofan harus ekstra sabar menghadapinya.


“Ya sudah, maaf sayang. Sekarang ayo kita minum jeruk nya.” Sandra dan Jofan berjalan beriringan. Malik yang melihatnya senyum-senyum sendiri.


Seperti itu lah dirinya dulu, sering sekali memperdebatkan hal kecil yang berujung membuat Ayuna nya menangis. Kesal dan bahkan mendiaminya karena inginnya tidak kunjung terpenuhi. Kekanakan sekali dulu dirinya.


“Yacchhhhh....yachhhh...yahhhh.....”Teriak Riyan yang baru saja keluar dari kamar. “Gawat Kak, Mas.....Gawat!” Teriaknya membuat yang lain ikut panik.


“Ayu....kenapa istiku?” Riyan menggeleng. Meneguk jeruk hangat yang ada di tangan Sandra.


Plakkkkk......


“Punyaku.” Merebut kembali jeruk yang tinggal separuh.


“Pelit sekali Kakak ini.” Riyan duduk dengan gelisah.


“Apa sih Yan, jangan bikin kita kesal ya Yan.” Malik mengacungkan pisau yang sedang dia pegang.


“Kak.....pisau itu.” Malik melemparnya ke wastafel.


“Gawat......!!!!! Fofo ku dan Melan tersebar di internet. Aku tidak bisa menghubungi Melan sekarang.” Malik meraih ponselnya.



Wajah panik Riyan yang mondar-mandir membuat Sandra merasa pusing. Sandra memijat pelipisnya yang pening.

__ADS_1


“Aku ke kamar Abang ya Fan. Aku sepertinya harus tidur.” Merasakan mual yang datang tiba-tiba sejak pagi tadi.


“Aku antar San, tunggu ya Dek. Mas antar Kakak mu dulu.” Riyan mengangguk, sudah tidak waras Riyan saat ini, ditambah lagi Melan tidak bisa di hubungi.


__ADS_2