Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Mengakui


__ADS_3

Melan sedang duduk dengan damai menikmati gorengan yang sangat dirinya rindukan. Sudah sangat lama tidak menikmatinya dan setelah perdebatan sengit dengan Malik, akhirnya Melan bisa merasakan lagi kenikmatan gorengan pinggir jalan.



“Setelah itu minum yang banyak. Kalian ini kenapa suka sekali makan makanan tidak sehat seperti itu.” Melan tidak meladeni. “Mel! Dengar kan Kak Malik bilang apa?!”


“Iya Bapak Malik yang terhormat. Kalau semua orang seperti Kak Malik, siapa yang beli dagangan mereka? Makan apa anak-anaknya?” Melotot mata Malik di buatnya.


“Ohhhhh.....pintar sekali bicara yah sekarang.” Melan kesal sekali, hanya gorengan saja dirinya harus perang dingin dulu dengan Malik. “Cepat makan dan tidak ada bau yang di tinggalkan, nanti yang lain jadi ikutan.”


“Iya bawel.....” Melan masih menikmati dengan seksama. Malik menunggu dengan sabar sampai melan benar-benar bisa di ajak bicara dengan baik.


Bisa dibilang Melan sedang merajuk, Melan selalu meminta permintaan aneh dan yang Malik larang keras jika hatinya sedang tidak baik. Seolah sedang melawan, padahal Melan hanya ingin melampiaskan marahnya tapi kesulitan.


Malik sangat paham dan akan mengikuti permainan Melan sampai adik nya ini benar-benar sudah bisa mengendalikan emosinya. Malik sedang bermain dengan ponselnya, bersikap seolah tidak ada yang terjadi dan membiarkan Melan melakukan semua keinginanya.


Sreeekkkkkkk.....


“Kak satu lagi please.” Melan berebut plastik dengan Malik karena masih menikmati gorengannya tapi di ambil paksa oleh Malik.


“Melampaui kesepakatan, aku ijinkan makan lima buah dan kau kelebihan.” Melan menyipitkan matanya, kesal dengan ulah Malik. “Cukup, tenggorokan mu bisa sakit MELANI.” Malik keluar dari mobil dan membuang sisa gorengan yang tingal tiga buah ke dalam tong sampah.


“Jahat sekali! Kan sayang buang-buang makanan.” Malik merapihkan rambut Melan yang berantakan. Menyemprot nya dengan minyak wangi agar wangi gorengan hilang. Tidak mau lagi mendengar keluhan Melan yang memakinya karena kesal.


“Nakal sekali kau ini. Kau itu adik Kak Malik yang paling penurut dan baik hati. Katakan jika ada yang mengganjal di hati mu dan jangan diam saja. Katakan Melani.” Mata Melan berkaca-kaca. Dirinya sedang gundah gulana dengan hubungannya bersama Riyan.


Berita yang beberapa saat lalu menggemparkan jagat raya sudah lenyap, tapi masih menyisakan ketakutan dalam diri Melan jika Riyan sampai ter ekspose dan mengganggu hidupnya. Melan khawatir dengan keselamatan Riyan.


“Kau mengkhawatirkan Riyan atau karir mu sayang?” Melan merosot, tubuhnya lelah sekali seharian ini di kejar-kejar banyak wartawan.


Malik yang akhirnya berhasil menjemput Melan setelah drama panjang yang mereka lakukan untuk mengeluarkan Melan dari galerinya dengan cara penyamaran. Jika tidak, Melan tidak akan bisa bergerak sedikit pun dari galeri miliknya.


“Apa akan berakhir semua yang aku bangun jika aku memutuskan memilih Riyan daripada semua yang sudah aku miliki saat ini? Aku di tuntut tidak punya hubungan apapun dengan pria manapun di dalam kontrak kerjaku dengan perusahaan asal Korea. Aku harus bagaimana?” Melan sedih karena tidak berpikir panjang saat akan menandatangi kontrak karena dirinya tidak memiliki kekasih saat itu.


“Berapa yang harus kau bayar jika membatalkan kontraknya?” Melan memijat pelipisnya.


“Jangan gila Kak, jumlahnya cukup besar untuk menguras semua harta benda ku dan menjadikan ku gembel.” Ucap Melan terdengar getir.

__ADS_1


“Kak Malik yang urus. Jadi apa beritanya mau di buka kembali dan kau mau memperkenalkan Riyan pada media atau bagaimana? Kakak bingung sekali Dek, coba Kakak mu ini harus bagaimana?” Melan juga ikut pusing, hubungan mereka sangat rumit membuat Malik merasa tidak berdaya.


“Aku juga bingung harus bagaimana? Aku takut Riyan terbebani jika aku jujur tentang Riyan. Aku harus bagaimana Kak?” Tanya Melan balik yang membuat Malik menghembuskan nafasnya kasar. “Aku cinta sekali dengan Riyan Kak.” Lirih membuat Malik sedih mendengarnya.


“Kalau begitu, sekarang kita pulang dulu. Aku antar ke rumah Mas Jofan, di sana lebih aman dan Riyan juga sudah menunggu di sana.” Melan mengangguk, Malik memutuskan untuk berdiskusi dengan yang lain.


Riyan tipe orang yang tertutup dan tidak suka dengan kebisingan. Jika dirinya di perkenalkan dengan dunia Melan, Riyan harus menanggung resiko dengan segala hingar bingar dan drama dimulai, menjadi kekasih selebriti yang cukup populer.


Begitu lah kehidupan Melani, menjadi pelukis internasional membuat dirinya memiliki banyak kontrak kerja dengan berbagai perusahaan hiburan di dalam dan luar negeri.


Karir nya melejit karena Melan memang berbakat di bidang nya. Dirinya sudah memiliki puluhan iklan dan beberapa kontrak film yang cukup panjang. Sedikit melenceng memang dari dunia lukisnya, tapi darah seni Melan mengalir dan tersalurkan dengan baik. Melan sesibuk itu dunianya sampai Malik saja sering meminta manajer nya mengosongkan jadwal untuk sekedar pertemuan keluarga atau liburan bersama-sama.


Melan di sambut dengan hangat, ada dua laki-laki yang menunggunya dengan penuh kesabaran. Terlebih Riyan, kekasihnya itu tidak banyak bertanya dan tidak banyak protes, padahal nomornya di blokir karena Melan merasa tidak siap bicara dengannya.



“Kenapa senyum-senyum tidak jelas begitu kalian berdua.” Melan masuk tanpa menatap mata Riyan yang menusuk jantungnya.


“Sabar ya Dek, Melan sedang sangat bingung.” Riyan hanya tersenyum. Lega setelah meilhat Melan datang dalam keadaan baik-baik saja.


Melan duduk di temani Anna dan Hanum. Mereka bertiga sedang menikmati puding buah yang baru Anna keluarkan dari dalam kulkas.



“Enak Kak, nanti ajari aku ya Kak.” Anna mengangguk.


“Jangan An, nanti rumah nya kebakaran.” Cela Malik yang mendapat tatapan tajam dari Melan.


“Nanti aku yang ajari sayang.” Melan tersipu malu, Melan tidak tahu jika puding yang dirinya nikmati adalah hasil kerja keras Riyan.


“Adek....genit sekali yah.” Rey geli sekali melihat mereka berdua yang sudah tidak malu-malu lagi memberi perhatian di depan banyak orang. “Itu pacar mu yang buat Mel.”


“Benarkah? Enak Yan, kita bisa buat sama-sama nanti yah.” Ucap Melan yang di balas senyum manis dari Riyan.


Setelah bercengkerama dan membuat Melan nyaman, kini mereka sudah duduk dengan nyaman dan aman di ruang keluarga. Hanum dan Anna memilih menepi, pembicaraan mereka akan menyita banyak emosi. Anna sedang tidak mau merusak bahagia di hatinya.


Melan juga merasa bisa mengatasinya dengan Riyan. Tidak perlu banyak perhatian, dirinya sudah cukup tahu apa yang harus di lakukan.

__ADS_1


“Hey....kenapa menunduk. Look at me.” Riyan mengangkat sedikit dagu Melan yang sejak 10 menit tadi hanya termenung di tempatnya.


Yang lain dengan sabar menunggu keduanya bicara. Rey, Malik dan Jofan sepakat hanya mengawasi dan meluruskan.



“Yan, sudah siap kalau setiap hari di kejar-kejar wartawan?” Riyan tersenyum. “Selama berita ini belum mereda meski sudah terhapus dari jejaring sosial, banyak dari mereka yang sudah tahu aku punya hubungan dengan seorang laki-laki, mereka akan cari sampai dapat apa yang mereka mau Yan.” Riyan membelai surai hitam Melan yang indah.


“Siap.” Jawabnya singkat.


“Mereka akan memperlakukan kamu seperti selebriti Yan, hidup mu akan berisik seperti dunia ku saat ini. Tidak masalah?” Riyan mengangguk.


“Selama dengan mu Mel. Aku baik-baik saja.” Ketiga Kakak nya sedang kegemasan melihat keduanya.


“Jantungku mau copot Kak.” Bisik Jofan yang baru kali ini melihat Riyan sangat manis sebagai pria dewasa.


“Jadi kalau aku katakan jika aku punya hubungan dengan Riyan Putra adik dari pengusaha muda kaya raya Malik Saputra kau tidak keberatan?” Riyan meraih tangan Melan dan mengecupnya.


“Apa tidak cukup baik untuk aku memperkenalkan diri sebagai pasangan mu?” Melan mengibaskan tangannya dengan kuat.


“Adek.....kau punya kami di sini. Melan sudah lebih dari cukup bersanding dengan mu. Jangan punya pikiran merendah seperti itu. Kau harus berdiri dengan bangga.” Sela Malik yang tidak suka dengan ucapan adiknya.


“Setuju. Bangga dengan apa yang sudah Adek capai. Kau hebat sayang.” Imbuh Rey yang sedang tersenyum manis padanya. Jofan hanya menyimak kegemasan mereka.


“Aku juga bangga bisa di cintai laki-laki sebaik Riyan.” Ucap Melan yang sedang tersipu malu. Riyan jadi tertawa melihat tingkah kekasihnya.


“Apa yang harus aku lakukan untuk menyatakan pada dunia jika kau ini milik ku.” Meleyot hati Melan. “Katakan sayang, aku siap.” Melan memeluk Riyan dengan hangat, lega sekali Riyan mau menerima dirinya dan pekerjaannya.


“Mungkin setelah pengakuan ku, aku akan menjadi miskin Yan. Aku gak papa yah numpang hidup dengan mu Yan.” Riyan terkekeh.


“Aku sudah cukup mapan untuk memberi mu nafkah.” Malik ikut memeluk keduanya.


“Ya Tuhan.....kenapa kalian sudah besar. Menikah lah, aku siap jika kalian menjadi beban ku. Harta ku cukup banyak.” Teriak Malik yang membuat mereka semua tertawa.


Dear para penggemar ku di mana pun berada. Benar jika saya saat ini tengah menjalin asmara dengan laki-laki yang berhasil mencuri hatiku, mampu memberikan warna baru dalam jalanku dan mampu menjadi tempat ternyaman untuk ku pulang, namnaya Riyan Putra.


Setelah memberikan pernyataan resmi di akun media sosialnya. Melan menyerahkan kelanjutannya pada Malik seperti permintaannya. Malik yang mengurus sisanya dan memberikan ruang untuk adik-diknya menikmati damai dalam cinta.

__ADS_1


__ADS_2