Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Manja


__ADS_3

Hormon kehamilan membuat Ayu benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya. Dadanya sesak namun dirinya tidak mungkin meminum obat yang biasa dirinya konsumsi. Ayu mencoba mengatur nafasnya dengan benar, menarik dengan sangat dalam dan mengembuskanya secara perlahan, berulang kali sampai Ayu mulai merasa relaks. Berangsur-angsur membaik, Ayu lega akhirnya bisa menguasai emosinya.


Ayu membelai lembut perut ratanya, kasihan sekali kalau Baby sampai ikut stress karena Mommy sedang banyak pikiran saat ini. Ayu tidak mau hal buruk kembali terjadi, cukup sekali kecerobohannya yang membuat dirinya hampir saja kehilangan malaikat kecil yang sedang nyaman di dalam perutnya.


“Sorry Nak, Mommy janji akan lebih santai. Percaya pada Daddy, Abang dan Kak Mahes. Mommy tidak akan ragu lagi.” Ucapnya seolah bicara dengan buah hatinya.


"Sayang...." Malik sedikit terkejut melihat wajah Ayuna begitu merah, Malik memeluknya memberikan ketenangan, tau Ayu sedang menahan amarah atau sakit, entah apa yang jelas Malik tau istrinya tidak baik-baik saja. "Kenapa? Apa sakit perutmu?" Ayu menggeleng. "Aku bisa minta dokter datang kalau Ayu merasa tidak nyaman."


"I'm fine. Peluk saja Dad. Aku tidak butuh yang lain." Malik membetulkan posisi duduknya agar Ayuna lebih nyaman.


“Wangi sekali rambut mu Mom. Aku paling suka.” Malik memilin ujung rambut Ayuna, membiarkan Ayu memeluk tubuhnya sesuka hatinya. Nafasnya terdengar tidak nyaman di telinga Malik.


“Aku tadi tiba-tiba sesak nafas, sepertinya karena aku tegang Kak.” Mata bulatnya berkaca-kaca. Malik menciumnya dengan lembut.


"Ok, Baby....jangan buat Mommy tegang ya Nak." Ucap Malik sambil membelai perut rata Ayuna. "Yang tenang Nak, Mommy jangan sampai kesakitan ya Nak." Ayu tersenyum. Tingkah Malik cukup menghiburnya. Ayu tidak jadi marah, menguap sudah amarahnya.


"Kenapa sudah pulang? Bukannya makan malam nya harusnya selesai satu jam lagi?" Malik merasa keputusannya pulang cepat tidak salah. Dirinya memang sedang tidak diperbolehkan meninggalkan Ayu seorang diri.


"Kangen kalian, Daddy jadi tidak napsu makan." Ayu menyipitkan matanya. Mencubit pipi Malik yang menurutnya menggemaskan.


"Jadi Daddy belum makan?" Malik menjawabnya dengan senyum. "Daddy nakal. Bagaimana kalau masuk angin!." Ayu bersedekap seolah sedang marah, hanya acting agar suaminya terhibur.


"Ingin makan ditemani kalian, Daddy beli banyak makanan." Malik meraih tubuh Ayu, menggendongnya ke ruang makan. “Ayo sekarang ikut Daddy makan.”


"Nak.....Ayo makan dulu, Daddy beli makanan untuk kalian." Panggil Ayu pada kedua Putra nya yang Ayu yakini ada di kamar game mereka. “Tolong lihat mereka Kak, tidak mungkin keluar tanpa ijinku Dad.” Ayu tahu arti tatapan mata suaminya yang membola, curiga kalau anak-anaknya pergi tanpa ijin.


"Apa mereka sudah berani pergi tanpa ijinku begini?" Malik membuka pintu kamar yang memperlihatkan keduanya sedang menelisik sebuah artikel dengan sangat serius. Pintu terbuka saja mereka tidak sadar, Malik mendekat.


"Baca apa kalian!" Mata Malik membelalak tidak percaya, mereka mencari latar belakang Baskoro. Malik meraih Ipad dan laptop keduanya, menghapus semua riwayat pencarian mereka. "Jangan berulah dan jangan membuat Daddy marah." Keduanya hanya mematung. Takut melihat Mata Daddy yang seolah menyala.


"Sorry Dad." Ucap Mahes mewakili.


Melik menutup pintu kamar, menguncinya dari dalam. Ayu lagi-lagi dipaksa untuk tidak ikut campur. Dirinya memutuskan untuk menyiapkan makanan dalam wadah, perutnya masih kencang tapi Ayu tidak bisa diam saja, dirinya harus berusaha bergerak agar tubuhnya terbiasa. Sepertinya kehamilannya kali ini akan membutuhkan perjuangan yang lebih dari sebelumnya.


"Siapa kasih ijin kalian melakukan pelacakan seperti ini. Apa penting nya kalian melakukan semua ini. Mau buat Daddy jantungan? Mau buat Mommy kalian terguncang! Hah....jawab Daddy!" Anak-anak nya tidak berani membalas.


Hening beberapa saat.


"Sorry...." Ranu memeluk Malik. "Kasihan Kak Mah...." Ucapannya terpotong.

__ADS_1


"Adek tidak salah. Semua salah Abang yang meminta bantuan Abang Ranu menyelidiki siapa laki-laki bernama Baskoro. Dia menyakiti Hanum." Malik akhirnya sedikit kewalahan mempunyai anak-anak yang luar biasa pandai.


Ranu memang punya kepandaian melacak, meretas dan mencari data orang dari kecanggihannya belajar IT. Mahesa tidak semahir Ranu, dia mahir dalam ilmu umum layaknya pelajar pada umunya, kemampuan Mahes juga di atas rata-rata. Keduanya sangat membanggakan.


"Apa Daddy ajarkan kalian untuk salah gunakan kecakapan kalian dalam bidang IT?! Daddy meminta kalian belajar untuk gantikan Daddy menjadi pemimpin perusahaan, menjadi orang bermartabat." Kicau nya lagi yang membuat anak-anak nya semakin menunduk.


"Hanum Dad...." Mata Mahes berkaca-kaca.


“Bukan berarti kalian melangkahi Daddy seperti ini. Kalian masih anak-anak dan masih harus minta ijin pada Daddy untuk semua yang kalian lakukan. Dengar tidak!” Marahnya Malik semata-mata karena takut sekali anak-anaknya akan terluka. Malik tidak akan sanggup jika anak-anaknya dalam bahaya.


"Aku cuma ingin tau." Mahes menangis dalam diam, suaranya bergetar. “Aku ingin menyelamatkan Hanum, dan nama itu yang mereka sebutkan saat aku mencari keberadaan Hanum.” Malik mencengkeram pundak Mahesa kuat.


“Kalian berdua! Ke tempat Baskoro!” Mahes mengangguk. “Kalian tahu sebahaya apa Baskoro itu Kak! Daddy tidak sedang bercanda yah!” Keras sekali Malik bicara.


“Sorry Dad. Kakak bahayakan Adek tanpa pikir panjang, Kakak janji tidak akan ulangi.”


“Kalau sampai kalian terluka, kalian tahu dengan benar siapa orang yang akan sangat sakit melihat kalian. Jangan sampai Daddy tidak memberi lagi kalian kebebasan, jangan sampai Daddy merebut kebebasan kalian kalau tingkah kalian membuat Daddy takut.”


“Please Dad, kami hanya menyelidiki dari jauh. Tidak benar-benar ke tempat Baskoro tinggal. Kami tau itu sangat beresiko.” Bela Ranu yang tidak mau dibatasi kegiatannya.


“Tetap saja kalian sudah melanggar aturan Daddy. Bicarakan apapun yang akan kalian lakukan, apalagi tindakan berbahaya yang bisa mengancam nyawa kalian.”


Tok...tok....tok...


Tok...tok....tok...


"Dad....ayo makan, Mommy lapar." Ayu tidak mau Malik marah terlalu lama, kasihan dirinya dan anak-anak nya. Suaminya sudah cukup kerepotan mengurus banyak masalah di keluarganya, Ayu takut Malik sakit karena terlampau kelelahan.


"Selamat kalian, Daddy minta kalian jaga Mommy tapi malah melakukan hal tidak berguna." Mahes memeluk Malik , rasa terimakasih nya tidak bisa di ungkapkan karena ucapan nya tentang Hanum membuat dadanya berdegub kencang.


"Thanks Dad. Aku tau Daddy tidak akan diam saja." Malik membalas pelukkan Mahes. Mana bisa Malik marah pada mereka, anak-anaknya selalu bisa meredam amarahnya.


"Sekarang cepat makan." Keduanya berjalan mendahului Malik.


Mereka memeluk Ayuna bergantian, Mommy nya selalu memperlihatkan wajah bahagianya meski tidak dengan hatinya. Lega sekali melihat mereka baik-baik saja.


"I love u Dad." Malik hanya senyum-senyun tidak menanggapi ucapan manis Mahesa. Tapi pipi nya merona. Ayu menatap mereka bertiga bergantian, penasaran apa yang telah mereka bahas. Kenapa mereka terlihat sangat manis.


“Cepat makan, nanti makanannya ikut manis lihat tingkah kalian. Hehehehe.....” Mereka tertawa bersama, senang sekali Ayu bisa melihat kesayangannya saling memberikan perhatian. Meski dirinya tidak di ajak tahu tentang apa obrolan mereka, Ayu tetap ikut haru melihat mereka.

__ADS_1


Ayu memegangi perutnya yang terasa keras, entah karena dirinya terlalu banyak pikiran atau apa penyebabnya. Ayu mencoba tidak memperlihatkan kepanikannya. Sudah jengah dirinya keluar masuk rumah sakit, bosan sekali sampai mual saat mendengar rumah sakit.


"Mom...." Ranu menyambar tissue, menyeka butiran keringat yang mengucur di kening Ayuna. "Mommy butuh kipas? AC nya sudah maksimal loh Mom." Ayu menggeleng. “Mommy ok Mom?” Ranu mencium tangan Ayu sedikit takut.


"Dad....aku ingin tiduran Dad.” Suara Ayu terdengar lemas. Malik segera meraih tubuh Ayu membawanya ke dalam kamar. Malik ingin sekali melesat membawa nya ke rumah sakit, tapi Ayu menolak karena merasa bosan berada di rumah sakit. Malik tidak mau Ayu malah merasa tersiksa karena dirinya memaksa.


"Yakin Mom, tidak mau ke rumah sakit saja Mom?"


“Aku ok Dad, hanya ingin rebahan saja Dad.” Malik mencoba meyakini apa yang Ayu ucapkan.


Malik meraih selimut membenahi agar tubuh Ayu kembali hangat. Sungguh perasaan Malik tidak karuan saat ini. Dirinya tidak bisa membantu meringankan beban yang Ayuna nya rasakan. Malik merasa tidak berdaya.


“Sini Dad, peluk aku.” Malik meraih tangan Ayuna, menciumi tangannya sebelum ikut merebahkan tubuhnya memeluk kesayangannya. “Daddy jangan salah kan diri terlalu banyak, aku sangat beruntung punya kalian semua. Kalian mencintaiku begitu besar.” Ayu tersenyum dengan sangat indah. Malik mengecup bibir Ayuna sekilas.


“Andai saja sakitnya bisa Daddy yang tanggung, aku akan dengan senang hati menggantikan mu Mom.” Mata Ayu berbinar, sungguh dirinya sangat beruntung. Wanita manapun akan iri dengan dirinya yang memiliki suami sebaik Malik. Ayu mencium kening Malik, memeluknya erat sekali merasa nyaman. “Sehat ya sayang, aku mohon.” Ayu mengangguk.


“Anaknya sedikit rewel Dad, apa dia tahu ya kalau Daddy nya akhir-akhir ini sangat sibuk dan suka tidak punya waktu untuk Mommy nya.” Ayu tertawa ringan, sedikit menyindir suaminya yang super sibuk.


“Daddy akan minta Aldo kurangin jadwal kerja Daddy.” Ayu menyodorkan jari kelingkingnya, Malik yang tahu segera menautkan jari kelingking besarnya dengan jari milik Ayuna.


“Nyaman sekali seperti ini.” Ayu mencium wangi tubuh Malik yang membuat perut tegangnya menjadi lebih nyaman. Matanya entah kenapa sulit sekali terpejam, biasanya Ayu sangat mudah tidur dimanapun dan dalam keadaan apapun.


“Kenapa tidak juga tidur Mom?” Ayu mengedikan bahunya. “Masih tidak nyaman perutnya?” Ayu menggeleng, dirinya merasa sangat nyaman saat ini, tapi matanya enggan terpejam.


“Aku sudah baik-baik saja, Baby sudah sangat tenang. Tapi aku tidak bisa tidur.” Malik mendudukkan tubuhnya.


“Mau nonton?” Malik membantu Ayu untuk duduk.


“Bolehkah?” Tumben sekali, biasanya Malik akan memaksa dirinya untuk segera istirahat. Ayu cenderung mudah sakit jika jadwal istirahatnya tidak teratur. Malik berusaha sekeras tenaga agar selalu bisa menjaga sehatnya Ayuna.


“Bonus, karena sudah berjuang untuk selalu menerima apapun segala keadaan yang ada.” Malik mengusap dengan sayang perut rata Ayuna, mencium puncak kepala wanita yang selalu ada di sisinya suka dan duka.


“Thanks Dad.” Menirukan suara anak Bayi. Malik menggendong Ayu menuju ruang keluarga. Kedua Putra nya masih terlihat bercengkerama di ruang keluarga.


Mata mereka menatap penuh tanda tanya, jelas sekali mereka khawatir karena seharusnya Mommy nya saat ini sudah tidur.


“Mommy ok kid, cuma ingin nonton karena Mommy sulit tidur.” Senyum mereka merekah, lega mendengar Mommy baik-baik saja.


Malam mereka habiskan dengan menonton drama korea kesukaan Ayu berjudul Weightlifting Fairy Kim Bok-joo. Meski tidak mengerti, mereka ikut menikmati saja asal Mommy nya nyaman.

__ADS_1


__ADS_2