
Sarah bersikeras tidak mau pergi, dirinya harus menyiapkan operasi yang akan dia lakukan besok sore. Sarah takut melewatkannya, pasiennya sudah cukup lama menunggu untuk operasinya ini.
Asuransi yang dimiliki tidak memungkinkan untuk pasien Sarah ini mendapatkan pengobatan yang cepat. Dia harus rela menahan sakitnya demi kesembuhannya, menungu giliran untuk mendapatkan perawatan.
Malik menatap Sarah penuh harap, dia ingin sekali membawa semu orang berlibur bersama, sudah lama mereka tidak punya momen berlibur seperti ini semenjak anak-anak SMA. Malik rindu menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang di sayanginya.
"Aku Dokter Al, aku sudah cukup tau bagaimana mereka menahan rasa sakitnya. Aku tidak mau gegabah karena tidak punya persiapan yang matang. Bagaimana jika aku gagal." Sarah menolak menatap mata Malik yang sedang membujuknya.
"Besok pagi aku antar pulang Sar, please. Hanya sebentar saja, kita sudah lama tidak melakukan liburan seperti ini." Sarah kesal sekali dipaksa seperti ini. Menggaruk tengkuknya yang terasa kaku.
"Kau mau tanggung jawab kalau pasien ku tidak di operasi dengan benar karena dokternya kelelahan? Dokternya liburan sebelum melakukan pekerjannya! Jangan gila Al." Masih tidak mau pergi.
"Kita naik kendaraan yang hanya memakan waktu beberapa menit. Kita istirahat di sana." Malik ingin semuanya ada di sana. Meraih tangan Sarah dan menggenggamnya erat.
"Kalau aku kenapa-napa dalam perjalanan bagaimana? Aku tidak mau, kalian saja yang pergi. Aku tetap di rumah." Adam hanya menyimak, seperti yang lainnya. Membujuknya sama saja dengan mencari masalah, biarkan jadi tugas Malik.
Ayu jadi tidak enak hati, suasana ribut ini terjadi karena dirinya yang memaksa ingin menemui anak-anaknya. Malik ingin membawa dokter Adam dan Dokter Sarah karena untuk jaga-jaga kondisinya pasti. Ditambah Malik memang sudah lama tidak melakukan perjalanan menyenangkan, pekerjannya menumpuk.
Malik terdiam, keras kepala Sarah memang sulit sekali di kalahkan. Dia akan bersikukuh dengan pendiriannya. Suasana menjadi sunyi, tidak ada yang berani bersuara dan malah semakin memancing keributan yang sudah terjadi.
Sarah tidak tega sekali melihat wajah Ayu yang menunduk tidak berani memperlihatkan kesedihannya. Lagi-lagi dirinya tidak akan bisa menolak permintaan Ayuna. Wanita yang sudah banyak berkorban dan membantunya mengurus Mahesa.
"Kau bisa jamin keselamatan ku sampai bisa ke rumah sakit besok?!" Malik tersenyum, mengangguk penuh keyakinan. Akhirnya usahanya membuahkan hasil, sarah pasti tidak akan bisa menolak jika sudah berurusan dengan Ayuna.
"Aku janji." Semua tersenyum ke arahnya. Sarah menyerah karena tidak tega dengan wajah Ayu yang sudah begitu bersemangat menjadi redup. Dia sepertinya ingin sekali menemui anak-anaknya, melakukan liburan bersama.
"Ok ... fine, aku ikut." Malik spontan memeluk Sarah penuh haru. Senang sekali akhirnya semua mau mengikuti inginnya. Berlibur singkat tapi semua bisa datang.
"Terimakasih Dokter." Ucap Ayu dengan binar mata bahagia. Sarah memeluk Ayu setelah Malik melepaskan pelukkannya, semua Sarah lakukan demi Ayu. Sarah sudah menganggapnya seperti adik nya sendiri. Bagaimana bisa hanya liburan sebentar saja dirinya menolak.
Malik membawa mereka menuju lapangan tempat helikopter nya akan mendarat. Menggandeng tangan Ayuna memberikan kehangatan. Padahal suasana sore ini cukup panas. Cuaca akhir-akhir ini sedang panas membara.
Atap Apartemen nya tidak memadai karena helikopter yang Malik kendarai berkapasitas lebih besar.
"Anak-anak pasti suka sekali kita datang. Mereka pasti tidak menyangka." Wajah Ayuna berseri-seri, senyuman yang selalu membuat Malik nyaman. Hanya itu yang Malik harapkan setiap saat, melihat wajah bahagia semestanya.
"Aku membayangkan wajah mereka yang berseri." Timpal Sandra. Sandra sudah tidak sabar ingin menikmati udara sejuk khas pegunungan.
Mereka sudah sampai di lapangan landas yang akan membawa mereka naik helikopter. Perjalanan mereka akan memakan waktu lebih lama karena tidak bisa langsung ke Villa. Tidak ada landasan untuk mendaratkan helikopter. Sedang Malik pikirkan untuk membangunnya segera.
__ADS_1
"Berapa lama dari sini ke Villa Pak?" Tanya Malik pada supir yang aka membawa mereka ke villa.
"Hanya 15 menit Tuan. Jalanan sedang macet karena akhir pekan." Jawabnya sopan dengan wajah ramahnya.
"Jalan perlahan ya Pak, jangan sampai ngebut dan membahayakan kita ya Pak." Sang sopir mengangguk penuh rasa hormat pada permintaan Sarah.
"Kak, mampir beli kue bolu dulu yah." Ayu suka sekali bolu lapis khas Bogor. Malik tentu saja mengiyakan keinginan istrinya. Makanan yang tidak pernah absen saat mereka berada di puncak.
Tidak lama mereka sudah sampai di depan Villa. Suasana villa di penuhi lampu-lampu indah saat mereka membuka pintu gerbang. Pintu utama Villa terbuka dan menampakkan tiga laki-laki kesayangan mereka.
“Jangan lari Mom.” Ranu segera menghambur ke arah Ayu yang lari ke arah mereka berdiri. Mommy nya memang suka bertingkah menggemaskan.
“Sudah Om marahi dari tadi karena lari-lari begitu Bang. Mommy nya tidak mau dengar.” Ayu hanya tersenyum merasa bersalah, dirinya tidak sadar kalau di dalam perutnya ada anak bayi yang mungkin bisa terkejut saat dirinya lari.
"Yahhhhh......bagaimana bisa." Sambut Ranu yang kesenangan kesayangannya datang.
"Dad....apa kalian tidak pikirkan kesehatan Mommy?! Mommy melakukan perjalanan sejauh ini, bahaya Dad." Mata Mahesa menajam.
"Daddy sudah konsultasi dengan dokter kesayangan mu." Mahes berganti menatap wajah Sarah dan Adam. Bagaimana bisa mereka mengijinkan Mommy nya datang jauh-jauh ke sini. Berbahaya sekali untuknya.
"Tidak mau peluk Mommy?" Ayu merentangkan tangannya. "Mommy rindu sekali." Keduanya memeluk Ayuna. Mengecup kepala Ayu bergantian penuh kelembutan.
Bukan melarangnya datang, Mahesa hanya khawatir karena kondisi kesehatan Mommy nya tidak menentu, tubuhnya sedang lemah.
"Mimpi apa aku ini. Kita akhirnya bisa berkumpul seperti ini. Lengkap." Rey terharu melihat mereka semua ada di depan matanya.
"Oh iya....ada aunty Melan juga." Mata Ayu berbinar bahagia. Mahes mengangguk memberikan keyakinan kalau ucapannya bukan bercandaan.
"Dimana Bang." Mahes menahan langkahnya yang ingin masuk ke dalam Villa. Pertemuan mereka menyakitkan siang tadi.
"Kita bicara dulu sebentar ya Mom. Mommy boleh kan tunggu di ruang keluarga sebentar, dengan Aunty Sandra dan Mamih. Aunty melan juga sedang istirahat, kasihan kalau dibangungkan." Pinta Mahes.
Serius sekali mereka ini. Ayu menatap Rey yang juga nampak kebingungan. Entah apa lagi yang mereka sembunyikan kali ini. Tapi Ayu tidak mau lagi ambil pusing, biarlah mereka melakukan apapun yang mereka yakini terbaik untuk dirinya.
"Apa aunty Melan sakit? Mommy ingin melihatnya." Ayu penasaran dengan keadaan Melan. Sampai Putra nya melarang menemuinya dulu.
"Iya Mom, sedikit demam tadi. Nanti Mommy temui yah......Tapi setelah Kakak bicara dengan yang lain dulu. Boleh Mom?" Mencium tangan Ayuna, merayu.
__ADS_1
“Kakak Mohon.” Ayu akhirnya mengalah. Sepertinya penting sekali.
Mahes, Ranu dan Rey memeluk semua kesayangannya bergantian. Sambutan yang seharusnya mereka terima dengan hangat.
"Ok lah, Mommy tunggu di dalam yah. Jangan lama ya Kak." Sarah menggandeng Ayuna masuk ke dalam. Di ikuti Sandra yang berjalan di belakang mereka.
Jelas sekali Ayu, Sandra dan Sarah tidak nyaman. Pasti ada yang sedang mereka sembunyikan.
Sandra yang sudah berjalan cukup jauh berbalik menatap Jofan yang masih memperhatikan langkahnya. Senyum terukir di bibir laki-laki kesayangan, Sandra kembali melanjutkan langkahnya memasuki villa bersama Ayu dan Sarah.
Mereka duduk di taman dekat kolam renang yang terdapat kursi-kursi untuk bersantai."Pertama Daddy ingin tanya kenapa aunty Melan bisa ada di sini?!" Malik sangat penasaran. Manajernya menginformasikan jika jadwal Melan saat ini seharusnya sedang bertemu kliennya sampai sore nanti. Entah bagaimana bisa jadwal yang diberikan padanya tidak sesuai dengan kegiatan yang Melan kerjakan seperti ini.
"Kakak tidak tahu jawabannya kalau itu pertanyaan Daddy, Kakak menemukan aunty ku sedang duduk di cafe degan laki-laki kurang ajar yang berusaha melecehkannya." Malik mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Pantas saja Mahes tidak mau para wanita dengar.
"Dia sendirian?" Mahes mengangguk. Malik menelan salivan nya membasahi tenggorokannya yang kering.
"Bagaimana bisa aunty pergi tanpa pengawasan?" Tanya Jofan yang juga penasaran. “Apa sudah tidak ada lagi pengawasan di sekelilingnya?” Malik hanya bisa diam, dia kecolongan kali ini, orang-orang yang ada di sisi Melan sepertinya tidak sesuai melakukan pekerjaannya.
"Aku tidak tahu detailnya, aku rasa ini tugas orang dewasa mencari tahu. Yang jelas aku menemukannya menangis, tangannya gemetar sekali saat aku genggam, aku kesal sekali ingin menghajar pria itu. Tapi aunty melarangku." Rahang Mahes mengeras.
"Tentu saja, Kakak tidak boleh melakukan kekerasan." Malik bingung kenapa Melan bisa sendirian. Dia menempatkan beberapa orang untuk menjaga Melan dari kejauhan.
Mereka saling tenggelam dalam perasaan kesal mereka masing-masing. Bagaimana Melan kesayangan mereka di ganggu laki-laki hidung belang dan berakhir Melan ketakutan.
"Apa Om Riyan tidak bisa nikahi saja aunty ku? Jaga dia dengan baik Om." Permintaan Ranu membuat semua orang menjadi tersenyum, suasana menegangkan berubah menjadi haru. Tentu saja Riyan juga tersenyum, pemintaan Ranu begitu terdengar menggelitik ditelinganya.
"Akan Om usahakan secepatnya." Jofan memegang bahu Riyan, dia tahu adiknya sedang menahan emosinya.
Dia pasti sangat marah mendengar Melan nya di perlakukan dengan tidak sopan oleh orang lain.
“Mom....ayo Kakak dan Abang antar ke kamar aunty. Aunty nya juga sudah bangun, sedang cuci muka.” Ayu berdiri mendekat ke arah Putranya. Tentu saja mereka pasti sudah bicara dulu dengan Melan untuk menutupi semuanya dari dirinya.
“Sedang apa di sini sayang? Kenapa sendirian?” Jofan melingkarkan tangan kekarnya memeluk Sandra dari belakang. Menatap tajam wajah khawatir Sandra yang kini menghadap dirinya.
“Katakan Ay, ada apa? Hmmmmm......kenapa bingung begitu? Jangan membuatku takut sayang.” Jofan membelai pipi Sandra dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
“Ini bukan pertama kalinya. Aku tahu bagaimana Melan berjuang melupakan laki-laki yang dulu pernah melecehkannya.” Jofan memeluk Sandra yang kini berurai air mata. Tubuhnya gemetar di pelukkan Jofan. “Melan kita.....hatinya tidak seperti tawa yang kita lihat Mas. Dia memendam sakitnya sendirian.” Jofan memeluk erat tubuh Sandra.