
Kabar kedekatan adik nya dengan Oji sudah sampai di telinga Malik, siapa lagi sumbernya kalau bukan Hans. Sahabat yang selalu ada di sisi Oji, yang melihat bagaimana sahabatnya berjuang selama ini menutupi lukanya sendirian. Tetap terlihat baik-baik saja demi kedamaian hati Ayuna.
Hans merasa begitu bahagia, akhirnya setelah sekian lama Oji mau menerima perempuan lain masuk dalam hatinya. Meski belum jelas hubungan mereka, tapi Hans yakin kalau Oji saat ini benar tengah jatuh hati.
Dia mulai tersenyum begitu indah tanpa beban. Wajahnya terlihat lebih mempesona karena pancaran kebahagiaan senantiasa menemaninya melangkah setiap saat. Hans begitu menantikan hari bahagia itu benar-benar terjadi. Semoga saja mereka berakhir baik, tidak ada lagi Oji yang bertahan dengan kesakitannya sendirian. Tidak ada lagi laki-laki bernama Oji yang berusaha selalu terlihat baik-baik saja padahal hancur lebur isi hatinya.
"Benar ya Kak?" Tanya Ayu yang masih ragu, dia seolah menampilkan kecemburuan yang membuat Malik sedikit terganggu. Takut Ayu menyimpan rasa yang tidak pantas karena perlakukan Oji selama ini yang selalu baik pada keluarganya.
"Apa tidak bisa kalau Oji jatuh cinta lagi?" Wajahnya sudah tidak bersahabat. Pertanyaannya terdengar tidak nyaman di telinga Ayuna yang masih berfikir positif.
"Bukan seperti itu Kak, tentu saja sangat boleh. Aku hanya belum percaya saja kalau Kak Oji akhirnya mau membuka hati." Ayu masih belum menangkap sinyal cemburu dari suaminya.
"Apa Mommy lebih suka dia seperti dulu? Yang hanya duduk diam merenungi perasaanya pada mu?" Ayu yang sedang mengupas bawang tertegun. Menatap Malik yang duduk di meja kerjanya di ruang keluarga.
Apa maksud pertanyaan Kak Malik? Dia sedang cemburu atau sedang menuduh ku? Tidak mungkin kan suami ku seperti itu?
Berbagai pertanyaan muncul di benak Ayu yang semula tidak punya perasaan lain selain rasa tidak percayanya. "Apa aku terlihat tidak bahagia mendengar kabar ini?" Malik berdiri. Wajahnya sungguh sedang tidak bersahabat. “Pikiran apa yang ada di kepala Kak Malik saat ini?” Ayu merasa sesak. Bisa-bisanya tuduhna yang tidak pantas di lontarkan padanya.
"Jangan kau pikir aku tidak tahu. Kalian pasti bisa saja....." Malik berhenti. Bodoh sekali pikiran jahatnya menguasai logika berfikirnya.
Bagaimana bisa menuduh kan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Apa yang sudah dirinya lakukan. Ayu pasti sangat kecewa, terlihat sekali wajahnya begitu sedih saat ini.
"Maksud Kak Malik, aku akan berkhianat?" Malik menggeleng, dirinya kelewatan. "Sedangkal itu Kak?" Ayu bebalik, sesak sekali melihat wajah suaminya yang di kuasai perasaan tidak pantas pada dirinya saat ini.
"Mom.....Mommy...." Suara Ranu menghentikan perdebatan yang terjadi, Malik yang semual ingin melangkah pun kembali mundur.
Ayu menarik panjang nafasnya, dadanya terasa sedikit sesak menahan perasaan kesalnya. Mencoba untuk tidak menangis, dirinya harus bisa tenang. “Sudah siap sayang? Sebentar Mommy cuci dulu tangan Mommy.”
"Mom...." Ranu yang baru saja keluar dari kamarnya menghampiri Mommy nya lebih dekat. Memeluknya dari belakang, mengecup kepala Mommy nya yang tengah sibuk dengan masakannya. "Abang tidak sarapan di rumah boleh kah?" Ayu menoleh dengan rasa tidak senang sebenarnya.
Baru saja dirinya menenangkan diri untuk tidak marah pada Malik, sekarang Putra nya juga berani sekali meminta ijin untuk tidak sarapan. Ayu mencoba sekuat tenaga untuk tidak marah, untuk tidak bicara hal yang akan dirinya sesali jika menyakiti perasaan Putranya dan suaminya.
__ADS_1
“Ya sudah tidak apa, nanti di sekolah sarapan jangan lupa.” Ranu menatap dengan perasaan belum yakin. Takut Mommy nya hanya pura-pura memberikan ijin. Tapi Ranu benar-benar akan terlambat jika sarapan di rumah.
Ayu mengangguk. "Benar ya Mom, Abang ada kegiatan pagi ini Mom. Nanti Abang sarapan di sekolah." Ayu terlihat tersenyum pada Ranu.
Ayu memeluk Putranya, menyembunyikan perasaan kesal yang begitu menumpuk membuat dirinya merasa mual.
"Berangkat dengan Papah ya Nak, Daddy coba hubungi." Baru saja ingin mengangkat ponselnya, Malik dihentikan suara Ayuna.
"Berangkat dengan Daddy saja Nak, Kakak tadi bilang ada meeting pagi kan? Sekalian antar dulu Abang ke sekolah." Ranu mengecup pipi Mommy nya kesenangan. Ayu hanya sedang ingin mereka segera pergi agar dirinya bisa leluasa.
"Ayo Dad." Ranu melihat Daddy nya menatap wajah Mommy nya dengan lekat. "Are you ok Dad?" Ranu menatap kedua orang tuanya bergantian. Ada yang tidak beres, karena suasana rumah begitu mencekam.
"Daddy ok sayang, cepat berangkat." Ayu yang menjawab, Malik akhirnya pergi. Mengantarkan Ranu seperti permintaan Ayuna. “Sarapan jangan lupa ya Bang. Mommy marah kalau Abang sampai tidak sarapan.” Ranu mengangguk, Malik menatap punggung Ayu yang meninggalkan dapur menuju baby box.
“Daddy berangkat ya Mom.” Ayu tersenyum dan mengangguk. “Tidak akan lama Mom, setelah meeting Daddy langsung pulang.” Ayu kembali tersenyum, kini dirinya melangkah menuju pintu keluar. Menahan dadanya yang terasa begitu sesak. Ayu mundur saat Malik ingin mengecup keningnya. Masih sangat kesal dengan tuduhan yang begitu tidak pantas dari laki-laki yang selama ini selalu dirinya anggap mencintainya dengan benar.
Setelah keduanya pergi, Ayu masuk ke dalam kamarnya. Mengucinya rapat dan meminta Mawar untuk tidak mengganggunya karena ingin istirahat. Mawar tidak sedikitpun menaruh curiga, dia memang sering melihat Ayu istirahat di pagi hari karena malamnya bergadang menemani Baby yang terjaga.
Malik juga gusar, kenapa mendadak waktu berjalan begitu lambat. Dirinya tidak mungkin meninggalkan rapat Direksi seperti ini. Malik harus profesional meski hatinya sedang kacau balau memikirkan kebodohan yang sudah dirinya lakukan.
"Nonna sepertinya sedang tidur di kamarnya." Helga yang sedang menata makanan mengangguk, dapurnya tumben sekali berantakan. Masakannya belum selesai tapi di tinggal begitu saja. Sepetinya Mbak nya tengah kelelahan, maklum dia punya baby saat ini.
Beberapa hari ini Helga memang suka sekali mampir saat jam makan siang, dirinya sedang praktek di kota tempat Mbak nya tinggal. Menyisihkan waktunya yang begitu sedikit agar bisa mengunjungi Ayu dan menghabiskan waktu bersama. Oji juga hari ini sedang kosong, dia memutuskan menemani Helga ke rumah Ayuna.
"Aku saja yang ke kamarnya ya Teh, nanti aku pelan-pelan." Mawar mengangguk, dia bisa menjaga Ayu dari jauh saat adakeluarganya. Laporan juga sudah Mawar kirimkan pada Malik. "Kak Oji mau makan duluan atau bareng Mbak Ayu?" Tawar Helga yang melihat Oji sedang sibuk dengan ponselnya.
"Sama-sama saja. Aku ingin ketemu Baby dulu ya Ga. Kangen berat aku." Helga tersenyum, dia memang sangat suka anak-anak. Helga segera menuju kamar Mbaknya, tidak di kunci. Mawar sudah membukanya dengan kunci cadangan sesuai dengan permintaan Malik.
Tok..... tok.....tok....
"Mbak ....Mbak Helga masuk ya Mbak." Dia datang dengan Oji hari ini, ingin menceritakan langsung perasaan yang saat ini sama-sama sedang dirinya pupuk bersama Oji.
__ADS_1
Perlahan Helga membuka handle pintu, Putri manisnya tidak tidur. Mommy nya yang tertidur dengan lelap.
Helga berjalan perlahan. "Anak cantik tidak bobo sayang.....Om Oji nya kangen pengen peluk kamu Nak, ayo ikut Aunty." Helga tidak tega membangunkan Ayu yang terlihat begitu kelelahan.
Matanya juga sangat sayu. Helga menempelkan punggung tangannya, tubuhnya kedinginan. Helga menyesuaikan suhu AC agar tidak membuat Ayu kedinginan. Setelahnya membawa Baby keluar menemui Oji yang sudah tidak sabar ingin memeluknya.
"Mana Mommy nya Gak?" Tanya Oji yang tidak melihat Ayu di belakang Helga. Mata sipitnya begitu menggemaskan.
"Bobo Kak, capek sekali kelihatannya." Kini mata Oji tertuju pada Bayi cantik yang suka membuatnya menahan rindu. Memainkan hidung mancungnya yang begitu mebuatnya sangat canti. “Aku bawa Baby keluar tidak apa kan Kak?” Helga takut Mbak nya terkejut Baby tidak ada di sisinya.
"Tidak apa, dia butuh istirahat juga. Kamu bikin Mommy capek sayang? Hmmmmm....pasti Mommy nya kelelahan ya cantik." Helga senyum-senyum melihat Oji begitu hangat pada anak kecil. Berbeda saat sedang dengan orang dewasa, dia tidak banyak bicara.
Oji dan Helga akhirnya memutuskan untuk makan siang bersama tanpa Ayuna. Mereka tidak tega membangunkannya. Baby yang merasa nyaman juga akhirnya terlelap di dalam pelukkan Oji.
“Baby....Teh....Teteh....Baby...man....” Teriakan Ayu membuat Oji berjalan ke arah kamar dengan cepat.
“Hey....sayang....pelan-pelan. Baby bobo, dia tadi Helga ambil karena tidak tidur.” Ayu mengusap dadanya yang begitu terkejut. “Sorry.....sayang. Ayo duduk dulu Love.” Oji mengikuti Ayu yang berjalan menuju sofa di ruang tamu.
“Kalian sudah lama?” Helga membawa piring berisi makanan ke ruang keluarga. “Maaf Mbak tidak tahu kamu datang ya Dek.” Helga hanya tersenyum.
“Aku yang minta maaf karena datang tanpa permisi. Makan ya Mbak, aku lihat Mbak belum masak. Untung aku masak tadi di rumah, kebetulan jadwalku sedang tidak padat hari ini.”
“Kenapa harus permisi, ini kan rumah mu juga. Datang saja kapan pun kalian mau ya sayang, jangan hiraukan apa kata orang. Kamu itu adik ku.” Oji menangkap kesedihan, tidak biasanya Ayu seperti ini.
“Everithing ok Yu?” Ayu mengangguk, tapi dia tidak bisa membendung kesedihannya. “Hey.....kenapa menangis sayang?” Oji kebingungan melihat Ayu menangis. Helga mendekat, memeluk Ayu mencoba memberinya kenyamanan.
“Tenang Mbak, tenang yah.” Helga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya menepuk punggung Ayu yang menangis begitu sedih.
“Dimana kau bajingan! Kau keluar dan membiarkan Ayuna ku menangis seperti ini! Pulang kau Malik!” Isi pesan yang Oji kirimkan denga penuh amarah.
__ADS_1
Sudah diperingatkan untuk tidak pernah membuat Ayu sedih, tapi dia melihat dengan mata kepalanya sendiri Ayu begitu sakit dengan tangisannya.
“Istriku menangis? Aku menuduhnya yang tidak-tidak! Aku segera pulang Ji, tolong jaga dia sebentar. Aku sedang jalan sekarang.” Oji melempar ponsenya degan kasar, setelah sekian lama dirinya harus melihat Ayu menangis. Tidak rela sekali melihat air matanya, sakit.