
Malik panik, dirinya benar-benar dalam keadaan bingung tidak bisa berpikir dengan benar. Senang atau sedih seharusnya yang dirinya rasakan saat ini. Takut sekali, terbayang perjuangan kesayangannya saat melahirkan Ranu.
Malik lemas, bagaimana mungkin tubuh kecil semestanya bisa menanggung kembali beban berat seperti ini berulang. Malik saja kesakitan memikirkannya.
Ditambah lagi saat ini kesayangannya tidak sadar kan diri, membuat Malik yakin akan penderitaan hebat yang sedang menderanya saat ini begitu nyata.
Dirinya tidak bisa melakukan apapun, semua datang bersamaan seakan sedang menghukum dirinya. Ingin sekali memindahkan segala kesakitannya, tapi tidak ada yang bisa dirinya lakukan. Semua ini di luar kendalinya.
Mondar-mandir karena di usir Sarah dari ruang pemeriksaan, Malik membuat Sarah emosi dengan rentetan pertanyaan yang tidak ada habisnya. Alhasil kini dirinya berputar mengelilingi tempat nya berdiri.
"Dad....calm down. Mommy pasti baik-baik saja." Mahes mencoba memberikan nasehat. Tidak di gubris. Dengar saja tidak sepertinya.
"Biarkan saja Kak, Daddy mu akan tenang kalau sudah lihat sendiri keadaan Mommy." Jofan menarik Mahes agar duduk di sisi nya.
"Aku sedih sekali, Mommy pasti menderita sendirian." Tidak kalah lebay dari Malik. Tapi Jofan suka, dirinya juga khawatir hanya saja mencoba bersikap tenang. Sudah ada dua laki-laki berisik di depan nya.
"Mommy mu sad kalau lihat kalian semua seperti ini. Tenang, kita harus jadi penyemangat Mommy." Mendekap Mahes erat.
"Sakit apa Mommy Om? Apa yang dulu lagi?" Jofan mengedikkan bahunya.
"Daddy tidak bilang, Om saja tahu karena ingin melihat keadaan Mommy mu tadi. Om lihat Mamih marah-marah sambil mendorong Daddy mu keluar."
Mahes menatap kasihan pada Daddy nya.
"Mamih kenapa sekasar itu, mana boleh bersikap egois, Daddy mungkin hanya ingin temani Mommy saja."
"Kau tidak tahu saja Kak kelakuan Daddy mu." Mahes hanya menyimak, matanya sibuk memperhatikan Daddy nya yang terlihat kalut. Mondar mandir tidak ada habisnya sambil sesekali meremas rambutnya sendiri.
Ayu segera sadar saat Sarah menempelkan aroma terapi di hidungnya. Lamat-lamat menyelaraskan pandangannya yang terkejut mendapati sinar yang begitu terang menerpa matanya.
Ayu berusaha duduk dan Sarah segera membantunya, menetralkan pikirannya yang kacau dengan apa yang baru saja dirinya lihat tadi. Sarah tersenyum menatapnya, tentu saja. Dia pasti bahagia begitu juga seharusnya dengan dirinya.
Bingung sekali.
“Apa yang sekarang Ayu rasakan?” Menggeleng. Dirinya juga bingung perasaan apa yang seharusnya dirinya rasakan sekarang. “Kau takut?” Ayu hanya menatapnya. “Suami mu tidak akan marah. Dia sudah ada di sini.” Sarah memutar tangannya di permukaan perut Ayu yang masih rata. Membelainya penuh kasih sayang.
“Tapi aku lalai karena sepertinya aku tidak minum pil KB yang Dokter berikan sebulan yang lalu. Aku benar-benar tidak sengaja.” Matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
“Baby tidak boleh di bawa sedih, kalau dia berani marah padamu. Aku yang akan menghajarnya. Tenang saja sayang.” Sarah memeluknya erat.
Ayu tahu sekali selama ini suami nya bersikeras tidak mau lagi mempunyai anak, alasannya karena dirinya tidak sanggup melihat kesakitannya. Tidak mau lagi melihat segala macam penderitaan yang harus Ayuna tanggung saat hamil.
Malik frustasi karena sakit kehamilannya tidak bisa diobati. Dirinya merasa tidak berdaya.
Ayu merasa saat ini sedang mengecewakan suaminya. Dia sudah dengan hati-hati menjaganya tapi dirinya malah seceroboh ini. Melakukan segala hal seenaknya tanpa memikirkan resiko yang menyakiti perasaan suaminya.
“Sudah boleh aku membawa suami mu masuk?” Ayu menghela nafasnya panjang. Kini dirinya harus siap menanggung segala resiko.
“Bagaimana istriku, dia baik-baik saja kan?” Baru juga membuka pintu, Sarah sudah di buat kesal dengan tingkah Malik yang menjengkelkan. Sarah menariknya menjauh agar Sarah bisa memberikan nasehat sebelum Malik menemui Ayu.
“Adan Jofan dan Putraku juga ternyata.” Kini Sarah punya PR besar menjelaskan dengan bahasa yang bijak, ada Putra nya yang juga sangat over protektif pada Mommy nya.
"Dengarkan baik-baik para jagoan ku. Saat ini Ayuna kita sedang HAMIL, dia sedang mengandung Baby di perutnya." Jofan dan Mahes terkejut bukan main.
Tidak ada reaksi apapun, mereka terjebak dengan pikiran nya sendiri. Mereka menyimak meski percaya dan tidak dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Sar.....aku ingin masuk." Malik merengek tidak berhenti.
"It's ok, ini sudah terjadi." Bijak sekali, Sarah bangga.
"Good, aku setuju. Sekarang tugas kita membuat perasaan bersalahnya hilang. Buat dia tidak memikirkan semua ini kesalahannya."
"Wait Mih.....Kaka masih belum paham." Putranya yang bingung menyelak pembicaraan.
"This is real Kak, kamu akan jadi Kaka lagi. Mommy mu sedang mengandung sekarang."
"Aku tidak sedang bermimpi kan Dok!" Jofan masih menyadarkan dirinya dari keterkejutan. Aneh sekali mendengar kabar seperti ini setelah sekian lama.
"No....ini benar terjadi. Mommy sedang butuh kita semua. Sekarang wajah kalian harus bahagia di depannya." Mereka bertiga menurut. Malik juga bersikap tenang mengikuti perintah Sarah. Meski gugup, Malik mencoba santai dan relaks.
Jantung Ayu berdegup riuh menatap tiga laki-laki yang datang. Wajah mereka semua terlihat bahagia, Ayu lega tapi masih sedikit kebingungan. Apakah tulus wajah yang dirinya lihat, atau hanya cara mereka saja supaya dirinya tenang.
"Sayang...." Malik memeluknya erat. "Selamat yah, aku mohon jangan sakit. Katakan apapun yang Mommy rasakan yah. Jangan simpan sendirian." Ayu mengangguk, tentu saja dia menangis. Terharu sekali. Suaminya ternyata tidak marah atau kecewa.
"Dad....aku ingin peluk Mommy please." Malik melepas pelukkannya mengalah dengan anak nya yang terlihat berkaca-kaca menahan harunya.
__ADS_1
"Sini sayang." Ayu memeluk Mahes dengan hangat. Dia yang selama ini menjadi pelipur lara nya dengan segala sikap manisnya yang tidak sering di tunjukkan.
"Selamat Mom. Kaka akan jaga kalian sampai akhir." Semakin terharu Mommy nya.
Jofan ikut memeluk keduanya haru. "Semangat sayang, ingat kita semua akan merawat kalian dengan jiwa raga kami. Kalian akan bahagia aku janji." Menciumi kening adik kecilnya yang paling berharga.
"Mom....." Suara yang sangat Ayu kenal, Ranu yang duduk di kursi roda sudah ada di ambang pintu. Wajahnya tidak bisa digambarkan sedang merasakan apa. Matanya tajam sekali menatap netra Mommy nya yang kikuk.
Mendengar Mommy nya pingsan, Ranu yang masih belum sembuh benar memaksa Aldo membawanya keruangan Mommy nya. Ingin melihat dan memastikan sendiri keadaan Mommy nya. Ranu tidak akan kuat jika Mommy nya tidak baik-baik saja.
Dirinya tidak menyangka akan dikejutkan dengan berita yang membuat kepalanya berdenyut. Tidak percaya namun ini nyata, Ranu masih belum paham harus bagaimana menyikapinya.
Perlahan Aldo mendorong kursi roda mendekatkannya pada Ayu.
"Sayang, kenapa kesini. Abang kan belum sembuh betul." Malik menatap netra Putra nya yang sendu. Ada kemarahan di sorot matanya.
"Sungguh Mommy sedang mengandung? Apa aku tidak salah dengar?" Tanya nya memastikan.
"Sorry Nak, tapi itu benar." Malik mewakili Ayu menjawab pertanyaan Ranu.
"Mom jawab! Benar yang Abang dengar?" Keras sekali sampai Ayu terkejut. Tangan Ayu gemetar. Lidahnya kelu tidak bisa berucap. Dia menunduk menutupi rasa takutnya.
"Kid....kau tidak boleh bicara sekeras itu. Mommy belum pulih Nak." Jofan menghalangi Ranu agar tidak menatap langsung Mommy nya. Adiknya tidak akan sanggup.
"Apa yang Daddy lakukan. Om Jofan minggir! Aku ingin dengar sendiri dari mulut Mommy. Please." Menolak tangan Daddy yang meraihnya.
"Tidak Bang, sorry. Abang sedang tidak baik, sebaiknya bicara nanti dengan Mommy." Pinta Malik yang kini membawa Ranu keluar dengan paksa. "Jaga Mommy Kak, Daddy tenangkan adik mu dulu." Mahes mengangguk.
Ayu terisak, baru kali ini melihat Ranu kecewa. Sepanjang hidupnya anak nya selalu bersikap manis tidak pernah sekalipun marah padanya. Pasti kecewanya sangat besar. Apa yang dirinya lakukan padahal usia anaknya sudah remaja.
Dia pantas kecewa.
“Jangan sedih sayang, Abang hanya syok. Dia akan baik setelah tenang. Percaya sama Mas ya sayang.” Ayu masih menangis kebingungan.
Malik duduk di taman rumah sakit memeluk Putra kesayangannya. Ranu hanya diam tanpa sepatah katapun, pandangannya kosong entah apa yang mengisi pikirannya. Yang jelas malik melihat kesedihan di sana.
“Bawa aku ke rumah Eyang. Aku tidak sanggup bertemu Mommy.”
__ADS_1