
Semua mata menatap Ranu yang berjalan menggandeng perempuan cantik asing yang belum teman-temannya kenal. Ada beberapa yang menatap genit dan ada beberapa yang menatap kagum. Ada juga yang tidak perduli dengan kehadirannya.
Ranu yang sudah biasa dengan situasi seperti ini tidak kaget, dirinya sering jadi pusat perhatian karena tampangnya yang tampan dan rupawan. Banyak teman-teman yang suka mencuri perhatiannya. Ditambah sikap Ranu yang maskulin selalu menarik perhatian para gadis remaja.
"Abang, lepas tangannya Bang. Mereka lihatin nya gak nyaman." Bisik Hanum merasa risih di tatap seperti itu. Hanum hanya mampu menunduk sepanjang perjalanan. Enggan melihat sekeliling yang membuat dirinya tidak nyaman.
"Abaikan saja, mereka memang suka ingin banyak tahu. Kak Hanum tenang saja, Abang akan jagain Kak Hanum." Mahes yang melihat mereka baru saja sampai mendekat. Menyunggingkan senyumnya yang terlihat sekali canggung.
"Hanum satu kelas dengan Kakak." Mendengarnya Ranu menyerahkan tasnya pada Mahes. "Ayo." Hanum berjalan di belakang Mahes.
“Jagain ya Kak, Kak Hanum masih belum terbiasa dengan lingkungan sekolah kita yang selalu banyak siswa kepo.” Tersenyum mendengar ucapan Ranu yang jelas sekali sedang menyindir teman-temannya yang menatap mereka.
Mahesa berjalan cukup cepat, Hanum harus sedikit berlari agar langkah kaki Hanum tidak tertinggal jauh.
Buggghhhhh.....
Mahes yang berhenti tiba-tiba membuat Hanum membentur tubuh Mahes.
"Hati-hati Han, perhatikan langkahnya." Hanum tersenyum sambil mengusap keningnya. Tangan Mahes mengusap kening Hanum lembut. "Sakit?" Tanya Mahes membuat Hanum merona. Hanum menggeleng.
"Ti...tidak sakit Kak." Mahes kembali berjalan setelah menarik tangan Hanum dan berjalan beriringan.
Dari kejauhan Ranu tersenyum menatap keduanya berjalan dengan damai.
Ternyata Kakak nya baik-baik saja, Ranu lega. Sikapnya pagi tadi membuat Ranu berpikir Kakak nya tidak baik-baik saja. Tapi melihat pemandangan saat ini, Ranu merasa sangat lega.
"Siapa?" Tanya teman Ranu yang penasaran.
"Anak baru, Kakak ku. Jadi kalian jangan mengganggunya." Bicara sambil menunjukkan kegarangannya.
“Kau kan anak tunggal Ran, kami semua tahu. Kakak mu bagaimana Ran?.” Ranu tidak mau menanggapi banyak pertanyaan yang memusingkan. Memilih duduk menyisakan banyak pertanyaan.
"Cantik Ran." Ucap yang lain membuat Ranu tersenyum. Hanum memang sangat cantik, pantas jika menyedot banyak perhatian.
Mahesa menaruh tas Hanum, mereka duduk bersama. Hanum senang karena tidak akan secanggung yang dirinya bayangkan. Tapi Mahesa nya sangat dingin, dia seperti orang lain saat ini. Mahes mengeluarkan bukunya membuyarkan lamunan Hanum, mengembalikan kesadarannya. Hanum tersenyum menutupi kecanggungannya atas sikap Mahesa padanya.
"Duduk Han, aku ajari singkat pelajaran terakhir." Dengan gugup Hanum segera duduk dan mendengarkan dengan seksama. Mata Hanum sesekali melirik pada Mahesa yang dengan telaten dan sabar mengajarinya.
Dengan cepat Hanum paham, pelajarannya tidak jauh berbeda dengan sekolah lamanya. Mahes menutup pelajaran singkatnya dengan bangga, teman-teman sekelasnya merasa aneh.
Mahesa selama ini terkenal pria yang tidak banyak bicara, tapi mendengarnya mengajarkan pelajaran pada Hanum membuat yang lain ikut mendengarkan dan senyum-senyum merasa Mahesa seperti sosok lain hari ini. Dia ternyata benar-benar seorang manusia normal.
"Mengerti Han?" Hanum mengangguk. "Kalau sudah mengerti aku tinggal dulu...." Langkah Mahes terhenti, tangannya di cekal oleh Hanum. Hanum terlihat bernafas dengan tidak nyaman.
"Hmmm....hmmmm...Kak. Hmmmm...." Mahes tersenyum. Mendudukkan kembali agar Hanum bisa bicara dengan nyaman.
__ADS_1
"Ada apa? Apa merasa tidak nyaman?" Hanum menatap lekat mata Mahesa, mengangguk karena dirinya sungguh canggung. "Nanti akan terbiasa, tenang saja." Mahes menepuk punggung tangan Hanum dan berlalu meninggalkannya.
Mahesa masih merasa bingung harus bagaimana, hartinya mencintai Hanum dengan tulus, tapi masih tidak mengerti harus bagaimana dengan situasinya saat ini.
Hanum membolak balikkan bukunya merasa asing dengan suasana kelas yang belum dirinya kenal baik. Mencoba tersenyum ramah saat seseorang mendekat ke arahnya.
"Hay....sapa seorang gadis mendekat pada Hanum. "Patricia, panggil saja Cia." Hanum menerima uluran tangan dengan ramah.
"Hanum, salam kenal Cia." Akhirnya ada yang bisa mengusir rasa canggung Hanum. Cia mengenalkan satu persatu teman sekelas mereka, Hanum senang bisa mengenal Cia yang sangat ceria.
***
Jofan masih memejamkan matanya, tubuhnya nyaman sekali tidur sambil memeluk wanita kesayangannya. Sandra bisa jadi obat ampuh saat tubuhnya kelelahan. Mereka hanya tinggal menghitung hari menuju hari besar mereka untuk menjadi pasangan.
"Fan, gak makan dulu? Sudah siang loh, tadi cuma makan roti dan minum teh madu saja." Ucap Sandra dengan lembut. Jofan masih nyaman berada di pelukkannya.
"Baterai nya belum full Sayang, sebentar lagi." Mendengarnya Sandra hanya tersenyum.
"Apa semua ini yang terbaik Ay? Apa Ayu benar-benar menerima Hanum semudah itu? Aku saja rasanya tidak rela mendengar nama Nikita." Sandra kesal dengan keputusan mereka mengurus Hanum yang merupakan Putri masa lalu suami sahabatnya.
"Apa adik ku kesakitan? Aku sangat takut kehilangan lagi." Bicara masih memejamkan matanya. Mungkin ini yang menjadikan Jofannya selesu ini, dia khawatir dengan adik kesayangannya.
"Ayuna tidak bicara apapun tentang Hanum, dia hanya kecewa kalian menutupi semua ini. Kalian keterlaluan, aku saja kecewa dan sakit mendegar nya menangis semalam." Sandra mengingat pilunya perasaan Ayu.
"Kalian sudah lakukan yang terbaik, semoga Hanum akan jadi bahagia kita semua. Semoga kedepan kalian bisa lebih terbuka pada kesayanganku. Dia hanya ingin jadi tempat nyaman untuk kalian semua." Ucap Sandra penuh harap.
"Adik ku wanita hebat, dia pasti akan menjadi seperti dirinya yang baik hati sepanjang masa. Dia tidak akan membiarkan Hanum sendirian hanya karena sosok Nikita yang dulu pernah mengisi hati Kak Malik."
“Aku sempat bingung, sebenarnya Ayuna itu manusia atau malaikat? Kenapa dia sangat mudah memaafkan kesalahan orang lain.” Sandra saja tidak akan bisa, dirinya bahagia jadi bagian dari orang yang mengisi hati wanita sebaik sahabatnya.
“Aku akan kalah jika sampai Ayuna ku tidak bahagia, bantu aku ya Ay. Bantu aku jaga kesayanganku tetap bahagia.” Pinta Jofan pada calon istrinya.
"Sekarang ayo kita bersih-bersih. Aku tidak betah tiduran seperti ini seharian dan tidak melakukan apapun." Jofan menolak, tangannya merengkuh erat tubuh Sandra dalam pelukkannya.
***
"Mukanya kenapa masam begitu sayang?" Anna tersenyum, ternyata suaminya memperhatikan.
"Aku tidak masam loh, ini manis begini senyumnya." Anna tersenyum menggemaskan.
"Coba terima ya sayang, Ayuna sudah baik-baik saja dengan Hanum. Kamu juga harus mencoba menerima Hanum." Anna tidak menanggapi.
"Aku akan coba, aku pergi yah." Menenteng lebih banyak rantang yang membuat Rey gemas sekali, Rey memeluk istri kesayangannya.
"Terimakasih sayang, aku yakin kau akan menyayangi Hanum seperti Kakak dan Abang. Dia gadis yang baik, sungguh." Anna melepaskan cekalan tangan suaminya.
__ADS_1
"Aku akan berusaha dengan baik. Tapi aku tidak berjanji." Rey mengangguk paham, seiring berjalannya waktu, Anna pasti bisa menerima kehadiran Hanum.
Ranu menjemput Mahes dan Hanum di kelasnya. Menggandeng Hanum agar berjalan dengan percaya diri di sisinya.
Anna melambai pada mereka yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Hay Love, kepanasan yah?" Tanya Ranu yang melihat kening Anna banjir keringat.
"Tetap cantik cintaku meski berkeringat." Mahes menyeka keringat di kening Mamah Anna dengan lembut.
Anna menyiapkan bekal yang sudah dirinya masak den penuh cinta kasih.
"Ayo makan, jangan mulai merayu Mamah tidak jelas seperti anak kecil." Ranu dan Mahes senang mendengar Mamah nya merajuk.
"Cantik Love, Kakak gemas sekali." Mahes memeluk Anna yang sedang menyiapkan makanan.
"Mamah adukan Papah Rey yah, tahu rasa kalau tidak boleh bertemu!." Ancamnya membuat keduanya menutup mulut mereka.
"Masak apa Mah?" Mata Ranu berbinar. Anna tidak pernah gagal saat menyiapkan makanan untuk mereka.
"Hanum, duduk. Ayo makan." Bicara tanpa menatap Hanum. Mahes menatap gemas kesayangannya.
"Mah, dilihat dong yang di ajak bicara." Anna mencubit lengan Mahes yang menggodanya.
Melihat kecanggungan Anna, Hanum bingung harus bagaimana. Hanum melihat mata Ranu yang memintanya duduk. Saat ini hanya Ranu yang begitu hangat.
"Terimakasih banyak makanannya Tan....te." ucap Hanum ramah.
"Panggil Mamah Han, Mamah Anna." Hanum hanya melihat sekilas, wajah Anna masih belum bisa menerima dirinya. Hanum paham, tidak semua orang bisa membuka hati dengan cepat.
Mereka makan dengan canda tawa, sesekali Ranu dan Mahes melontarkan rayuan yang membuat Anna tersipu malu. Hanum hanya menjadi pendengar.
"I love you Mah, masakannya delicious." Ranu membubuhkan ciumannya di kening Anna.
"Cepat masuk, sebentar lagi bel bunyi kan."
"Terimakasih Tante, Hanum suka masakan Tante, enak sekali." Puji Hanum dengan dada berdebar-debar. Mahes tersenyum, matanya meminta Anna bersikap ramah pada Hanum.
"Sama-sama, Mamah pulang yah. Kalian pulang nanti di jemput Papah. Daddy masih kurang sehat." Ketiganya melambaikan tangan setelah memeluk Anna dengan hangat . Termasuk Hanum.
Anna tidak membiarkan pikiran buruk menguasainya, Anna mencoba menerima Hanum seperti semua orang menerima kehadirannya. Hanum tidak bersalah atas apa yang pernah mereka semua alami.
Hanum hanya korban atas begitu kejamnya sebuah takdir, mungkin dirinya akan menjadi salah satu orang yang akan mengukir kisah besama Hanum. Anna akan dengan senang hati membantu semua orang mengurus Hanum dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1