
Suasana siang yang mendung.
"Sudah lama sekali kita tidak kesini Mah." Ranu menggandeng Anna memasuki Villa.
"Wahhhhh.....udaranya sejuk sekali. Papah sesekali perlu pergi berdua dengan mu Yang." Anak-anak nya menggeleng tidak setuju.
"Ajak aku Pih, aku dan Abang juga butuh berlibur. Hanum juga." Jangan lupakan Hanum juga bagian merek sekarang. Mahes senang Hanum sudah terlihat sedikit lebih nyaman. Meskipun masih pendiam dan tidak seberisik biasanya.
"Ok...ok, kalau liburan berdua Papah akan pergi diam-diam." Ledek Rey yang suka melihat anak-anak nya kesal.
Mereka melihat-lihat suasana Villa sebelum berkemas, memutuskan ruangan bagian mana yang akan mereka gunakan untuk istirahat dan berkumpul bersama. Villa yang cukup besar membuat mereka bisa memilih tempat favorit mereka sesuai selera. Berbagai sudutnya nyaman untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarga.
"Sepetinya karena kita sedikit, cukup kita pakai kamar utama. Mamah dan Hanum tidur satu kamar, kalian bisa cari sendiri kamar yang kalian mau tempati." Anna tidak mungkin membiarkan Hanum tidur sendirian. Dan ketiga laki-laki kesayangannya suka memilih kamar sendiri karena mereka ingin punya waktu yang cukup untuk beristirahat.
"Peluk ...please .." Mahes merentangkan tangannya. "I love you Mah. Wanita baik hati yang sangat mempesona." Anna melepaskan pelukkan Mahes yang begitu erat. Memukul pelan kedua tangan Mahesa yang tidak mau melepaskan tubuhnya.
Anna paling tidak bisa jika mendapat gombalan dari putranya. Pipinya yang putih akan merona kemerahan. Matanya melotot merasa kesal sekaligus bahagia.
"Hanum, tidak papa kan bobo sama mamah?" Tanya Rey memastikan keputusan Anna tidak salah. Hanum yang sedang senyum-senyum melihat Mahesa dan Anna mengangguk. Tentu saja, dirinya malah sangat bahagia bisa punya waktu berdua.
"Aku senang sekali Pah, terimakasih banyak Mah." Anna mengangguk manis. Sejauh ini Anna mencoba dengan keras menghapus ego nya. Ingin jadi baik saja meski hatinya masih punya sedikit ragu.
"Sekarang temani Papah bongkar muatan dari mobil. Abang dan Kakak, cepat." Keduanya berjalan di belakang Rey.
"Han, ayo kita naik ke atas. Pemandangan dari atas sangat indah." Hanum terkesima melihat uluran tangan Anna. Matanya penuh binar bahagia. "Ayo." Hanum meraih uluran tangan Anna.
Menaiki tangga dengan dadanya yang bergemuruh karena rasa haru. Pegangan tangannya hangat, tidak ada sedikitpun rasa canggung di wajah Anna saat mengajaknya naik ke atas. Hanum merasa dirinya sudah diterima sepenuhnya, tidak mau momen bahagia seperti ini hilang sia-sia.
Hanum ingin dipertahankan, Hanum membalas erat pegangan tangan Anna. Anna lebih hangat dari kelihatannya, dia sangat lembut.
Rey mencekal langkah Mahesa yang sudah menenteng tas besar di tangannya.
"Jangan terlalu memperlihatkan perhatianmu pada Hanum ya Kak, papah takut Mamah mu cemburu." Sudut bibir Mahes terangkat.
"Anak mu ini tahu bagaimana menjaga sikap Pah. Tidak mungkin aku melakukannya, yah....meski kadang suka ingin iseng sih." Mahes mengerti apa maksud Papah nya. Dia tidak mau ada sakit di hati istri nya yang bisa membuat memilih menjauh.
"Abang setuju dengan Papah. Daddy pernah tanya hal yang sama pada Abang. Takut Kakak tidak perhatian lagi dengan Mommy." Ucap Ranu yang di angguki Rey, ternyata bukan hanya dirinya.
"Mana ada Kakak begitu, mereka tidak boleh merasa cinta Kakak berkurang. Malah akan aku lebihkan karena merelakan hati mereka menerima."
__ADS_1
"Ya sudah Papah cuma ingatkan saj Nak. Jangan sampai terlena dan menyakiti perasaan orang tua mu." Mahes mengecup pipi Rey sayang.
"Jangan khawatir. Aku akan bisa menempatkan diri." Mereka bertiga kembali masuk ke dalam Villa.
"Siang ini kita makan di restoran Papah yang di dekat sini yah. Sekalian kunjungan." Ranu bertolak pinggang.
"Kerja! Jangan rusak liburan kita ya Pah. Abang tidak suka." Ucapnya dengan rahang mengeras.
"Tidak kerja, cuma datang sebagai pelanggan saja." Ranu mengangguk setuju.
"Ingat! Tidak boleh bekerja di saat-saat seperti ini. Abang ingin liburan tanpa gangguan." Rey hanya tertawa. Anaknya sudah bisa mengancam.
"Kenapa Bang?" Tanya Mahes yang baru saja selesai mandi.
"Kita mana siang menjelang sore ini di restoran Papah Nak. Tidak ada yang lain." Jawab Rey mewakili, tidak mau ada keributan.
Tok ...tok ..tok ..
"Sayang....sudah siap? Aku dan anak-anak tunggu di dalam mobil yah." Terdengar sahutan dari dalam kamar yang tidak begitu jelas. Rey memutuskan untuk menunggu di mobil. Mahes dan Ranu sudah lebih dulu.
Suasana restoran sangat ramai saat mereka tiba, para pegawai Rey sampai tidak menyadari kehadirannya dan mencoba menyapa tapi hanya di angguki ramah oleh para karyawannya.
"Jangan cari perhatian Pah. Bersikap biasa saja." Ucap Ranu mengingatkan. Yang lain hanya tersenyum.
"Aku ke toilet sebentar ya." Mahes ingin buang air kecil. Mahes melewati beberapa ruangan kaca yang tampak dari luar.
Ada wajah perempuan yang sangat dirinya kenal. Terlihat sedang tidak nyaman bicara dengan lawan jenisnya. Matanya terlihat sekali sedang menahan rasa takut. Mahes ragu sekali melangkah, tapi keselamatan kesayangannya lebih utama dari rasa tidak enaknya.
Mahes menggeser pelan pintu yang hanya jadi penyekat ruangan mereka. Pembicaraan mereka bahkan terdengar dari tempat nya berdiri. Ucapan laki-laki yang bisa di bilang paruh baya itu tidak sopan, pantas saja Aunty nya gemetaran.
Benar saja dugaannya, kesayangan Mahesa sedang di rayu laki-laki hidung belang tidak tahu diri. Tangan Melan bahkan terlihat gemetar di bawah meja. Mahes suah tidak bisa lagi menahan emosinya.
"Love..." Mahes berjalan ke arah Melan penuh percaya diri. Mengepalkan tangannya penuh amarah. Mahes meraih tangan Melan, menggenggam erat tangan Aunty nya dan merengkuh tubuh Melan kepelukannya. Mahesa merasakan isakan Melan yang tertahan.
Melan sudah ingin menangis dan berteriak. Dia selamat dari jerat laki-laki hidung belang yang melecehkannya. Dirinya tidak bisa melawan, Melan hanya ketakutan.
"Siap...a." Merasa lawannya tidak sebanding. "Mau apa kau Anak bau kencur! Jangan ikut campur." Mahes menarik Melan ke belakang tubuhnya. Laki-laki itu mendorong dada Mahes dengan telunjuknya, Melan yang sembunyi di belakang Mahes ketakutan.
"Jangan sampai berurusan dengan ku Tuan, atau kau akan menyesal." Ancam Mahes dengan wajah memerah dan rahang mengeras menahan emosi.
"Sialan! Berani sekali bicara kurang ajar pada orang tua." Mahesa memicingkan matanya, tersenyum kecut pada orang yang menyebut dirinya tua tapi tidak punya sopan santun.
__ADS_1
"Kak....pergi saja yuk, aku takut." Bisik Melan dengan suara gemetar. “Ayo Kak, jangan ribut dengannya Kak.” Menarik tangan Mahes yang di genggamnya.
Memelas meminta Mahesa tidak bertengkar. Melan takut Mahes akan terluka.
Mahes geram sekali laki-laki tidak tau diri yang berdiri di hadapannya membuat wanita yang Mahesa sayangi ketakutan. Gemetar sekali tangannya, suaranya bahkan terisak.
"Lancang sekali anda, berani membuat wanita kesayanganku gemetar ketakutan seperti ini. Kau mau mati!" Jangan main-main jika menyakiti mereka, Mahes tidak akan segan menghancurkan lawannya.
“Anak kecil kurang ajar!!!!” Laki-laki tua itu mengangkat tangannya.
Melan menghalangi, mengeluarkan ponsel lewat bahu Mahes dengan tangan gemetar. “Aku sudah rekam semua pembicaraan tadi. Pergi atau aku akan laporkan pada polisi!” Rahang Mahes terasa kaku, tangannya sudah ingin melayangkan pukulannya.
"Ckkkkkk......Awas ....kita belum selesai." Laki-laki paruh baya yang Mahes bentak memilih pergi. Ancaman Melan ternyata membuahkan hasil.
Melan menangis di punggung Mahes. Ketakutan karena dirinya di ancam dengan tidak nyaman. Melan salah memilih klien, dia hanya laki-laki hidung belang yang punya banyak uang.
Mahes membalik tubuhnya, memeluk Aunty kesayangannya yang baru pernah dirinya lihat menangis. Aunty Melan biasanya selalu membuat lelucon yang menghibur dirinya.
Mahes membawa Melan duduk, kakinya pasti sangat lemas. Mahes berjongkok di depan Melan. Menunggui kesayangannya yang masih terisak. Berantakan sekali.
"Kenapa ada di sini sendirian? Hmm....dimana manajer Aunty?" Melan menggeleng. Dirinya juga bingung kenapa percaya begitu saja dan mau bertemu seorang diri.
"Ti....dak ta..u." suaranya terbata-bata. Pelan, hampir tidak bisa terdengar.
Mahes memeluk erat, kasihan sekali sampai ketakutan seperti ini. Mahesa tidak mau menekan dan malah membuat Aunty nya semakin ketakutan dan tidak nyaman. Mahes mengusap sayang surai Melan yang tergerai, sedikit lepek karena keringat.
"Kakak di sini, tenang sayang. Sudah jangan menangis." Melan masih tidak bisa tenang.
Entah apa yang akan terjadi pada dirinya jika Mahesa tidak datang. Melan akan sehancur apa jika menuruti keinginan laki-laki hidung belang itu, karir nya akan hancur jika menolaknya. Melan semakin sedih mengingat ancamannya.
"Ayo pulang." Mahes tidak menghiraukan tatapan yang lain yang penuh tanda tanya. Fokusnya hanya pada Aunty nya yang masih gemetar ketakutan.
"Abang, bawa Mamah dan Kak Hanum ke mobil. Papah menyusul." Mahes jalan duluan masih memeluk Melan yang tidak berhenti menangis. Ranu menggandeng Anna dan Hanum berjalan di belakang Mahes.
Sepanjang perjalanan mereka penuh keheningan. Hanya suara sesenggukan Melan yang belum juga reda. Melan sampai tertidur di pelukkan Mahesa. Kepalanya sakit dan tidak kuat lagi, tubuhnya kelelahan karena banyak menangis.
Di saat seperti ini, mereka memilih tidak mencari tau, membiarkan Melan meluapkan emosinya sampai tuntas.
Mahes dan Ranu terlihat sangat sedih, Melan selama ini tidak pernah memperlihatkan sisi dirinya yang seperti ini. Dia tidak pernah menangis sekalipun di depan mata mereka, ini pertama kalinya mereka melihat Aunty kesayangannya menangis begitu pilu.
Mahes menggendong Melan yang masih tertidur, membawanya ke kamar di Villa utama yang mereka sepakati untuk di tempati. Setelahnya kembali ke ruang santai untuk memberikan penjelasan pada yang lain.
__ADS_1
"Tidak ada yang mau bertanya?"
Terdengar deru suara mobil memasuki halaman villa. Mereka kini menatap pintu masuk yang terdengar sayup-sayup suara orang-orang yang sangat mereka sayangi. Tidak percaya dengan apa yang sedang mereka dengar meski begitu nyata.