Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Kenapa Kalian Sulit Sekali Percaya Padaku


__ADS_3

Duduk empat laki-laki yang saling menatap dan saling merenungkan bagaimana langkah yang seharusnya mereka ambil tentang Hanum. Gadis baik hati yang telah berhasil mencuri hati mereka.


"Mau sampai kapan kita hanya saling diam seperti ini. Bagaimana keputusan kalian?" Tanya Rey karena jengah menunggu.


Mereka sama-sama kebingungan, meski ingin menolong Hanum, mereka juga punya ketakutan jika langkahnya akan menyakiti perasaan banyak orang. Meski tidak ada kaitannya dengan Hanum, tapi Malik dan Nikita.


"Aku hanya takut adik ku akan banyak pikiran, aku ingin sekali dia hidup dengan damai. Kenapa sulit sekali untuk Ayuna hidup bahagia tanpa beban." Jofan sedih, adik nya harus selalu berkorban.


"Bejanjilah semua ini tidak menyakiti Ayuna, aku akan bantu jaga Hanum." Rey memberikan restunya.


"Aku juga Al, aku hanya takut Ayuna sakit. Aku yang tau bagaimana perjuangan Ayuna ku untuk sembuh." Adam juga sedih jika ingat bagaimana penderitaan Ayuna.


"Kalian aku kumpulkan karena semua itu yang aku takutkan, kalian saja ragu! Bagaimana dengan aku, aku yang bertanggung jawab dengan bahagianya, bagaimana?!" Malik terlihat sangat tertekan.


"Maaf Al, kau yang mengambil tanggung jawab ini dari awal, dan aku sudah peringatkan bagaimana kau harus berjuang untuk kebahagiaan adik ku. Aku percaya padamu." Rey menepuk pundak Malik mencoba meyakinkan Malik dengan tindakannya.


"Jadi kita sepakat untuk membantu Hanum yah, aku sedang membayangkan jika saat ini kita sedang berjuang untuk masa depan Mahesa." Malik merasa lucu dengan pemikiran Adam.


"Bukan bayangan Dam, memang itu yang sedang kita perjuangkan sejauh ini." Malik sudah bisa tersenyum, bahagia sekali jika anak-anak nya juga bahagia.


Anna dan Sarah datang tidak lama setelah mereka selesai berdiskusi.


"Sudah datang sayang, sini duduk." Adam merentangkan tangannya menyambut Sarah yang baru saja sampai. "Naik apa sayang?"


"Di jemput Aldo." Sarah mendudukkan dirinya di sisi Adam, menatapi satu persatu wajah para lelaki yang mencurigakan.


"Pasti kalian sedang melakukan kesepakatan, apa!" Tanya Sarah tidak sabaran.


"Tunggu Kak Anna sebentar, kau ini tidak sabaran." Malik tersenyum melihat semangat Sarah.


"Maaf....di luar banyak sekali pelanggan, aku jadi tidak bisa cepat ke sini." Anna berpeluh keringat. Lelah sekali.


"Sudah aku katakan untuk tidak membantu melayani konsumen. Kau kelelahan Sayang." Rey suka kesal saat melihat Anna berkerja terlalu keras.


"Kasihan anak-anak kewalahan Yang." Anna menatap semua orang yang menatap memperhatikannya.


"Iya....iya...aku kan bekerja sedikit saja kedepannya." Barulah mereka bisa dengan santai menatap wajahnya. Dasar para lelaki bucin.


"Ini tentang Hanum." Sontak Sarah dan Anna mendelik ke arah Malik. "Aku dan yang lain sudah memutuskan untuk merawat Hanum."


Malik terlihat sangat meminta persetujuan pada mereka. Meminta restu.


"Siapa gadis itu?" Sarah tidak mau Mahesa jatuh cinta pada hati yang salah. "Pantas untuk Putra kita?"

__ADS_1


"Sar....Hanum gadis yang baik, aku sudah mencari tahu banyak tentang Hanum sebelum memutuskan merawatnya." Malik menghela nafasnya yang menyesakan dada.


"Bukanya dia gadis yang membuat anak-anak ku babak belur!" Anna tidak mau lagi berurusan dengan Hanum, Anna kesal Hanum membuat anak-anak nya hampir saja celaka. "Luka Abang bahkan sampai saat ini belum sembuh." Mencoba mengingatkan apa yang sudah Hanum lakukan.


"Hanum hanya korban, dia hanya di manfaat kan untuk kejahatan mereka. Sarah sudah lihat dan buktikan sendiri bagaimana manisnya Hanum, dia butuh kita semua." Adam menambahkan agar tidak ada lagi keraguan.


"Ada satu hal lagi yang akan membuat kalian pasti akan memakiku." Anna dan Sarah sudah gemetar, sulit sekali menerima Hanum. "Dia Putri dari masa lalu ku, Nikita." Anna sudah tidak kuat, dia memeluk erat tubuh Rey.


"Tenang sayang, untuk itulah kita semua bicara pada kalian dulu sebelum memberitahu Ayuna. Hanum tidak bisa menerima hukuman atas kesalahan yang tidak dia perbuat. Dia gadis yang baik." Rey bicara sangat lembut agar Anna tidak merasa dipaksa menerima keputusan mereka.


"Kau pasti tahu akibatnya kalau Ayuna sampai terluka, dia tidak sekuat kelihatannya. Kalian yang tahu bagaimana proses Ayuna sembuh, dan lagi secara otomatis Hanum akan jadi bayang-bayang kita, apa kalian yakin Ayuna sanggup menerima kehadiran Hanum?!" Sarah saja ragu kalau semua ini akan mudah Ayuna terima.


“Lalu apa Hanum pantas kita biarkan saja menjadi gadis gelandangan dan tidak punya keluarga! Atau kita kembalikan pada Baskoro yang pasti akan kembali memanfaatkanya! Apa! Aku harus bagaimana! Dia Tuhan kirim ke tanganku, kenapa tidak pada orang lain......Kenapa!!!!” Malik juga punya pikiran yang kalut, tapi dirinya tidak mau egois dan menyesal.


“Kenapa tidak pulangkan saja pada Nikita.” Adam menyodorkan kertas yang menumpuk di atas meja. Sarah menatap Adam dengan lekat, manik matanya sudah berkaca-kaca. Malik dan semua orang sedang memperjuangkan Hanum demi Mahesa, Putranya.


“Itu alasan Nikita menyerahkan Hanum pada Baskoro. Dia sakit, waktunya tidak banyak, dia hanya ingin Hanum tidak sendirian.” Kata-kata Adam berhasil mengiris tajam perasaan sarah dan Anna. “Dia tidak mengirimkannya pada kita, tapi Tuhan yang kirim Hanum pada kita.”



Foto yang Naila kirimkan pada Ayuna.


“Ada reservasi Nai?” Tanya Ayuna dengan tidak menaruh curiga sedikitpun.


“Oh.....bukan Yu, aku kira kau akan datang juga, aku sudah siapkan dengan sepenuh hati, rindu sekali sudah lama tidak berjumpa.” Naila.


“ Semua keluarga ku yah?”


Lula sedang berpikir keras, apa dirinya salah memberikan informasi! Bagaiman kalau Ayu memang sedang tidak di beri tahu kalau ada pertemuan, tapi kenapa? Bagaimana ini, kenapa ceroboh sekali.


“Jangan khawatir La, kamu tidak salah kok. Kenapa tidak jawab pesanku. Naila.....kamu itu temanku, wajar kalau rindu. Aku juga rindu, kapan-kapan aku akan mampir.” Pungkas Ayu merasa kasihan jika Naila merasa bersalah.


“Maaf Yu, aku sungguh minta maaf. Aku kira pertemuan ini kamu juga tahu meski tidak hadir.” Naila menyesali kecerobohanya yang sok tahu.


“Ihhhh.....Nai.....La....kamu sedih seperti sudah berbuat jahat. Hahahaha.....mereka tahu aku sedang lemah, mana mungkin mengajakku diskusi. Yang ada mereka akan repot hanya menjagaku.” Ayu mencoba menetralkan rasa bersalah Naila.


“Aku takut melakukan hal yang salah Yu.”


“Jangan khawatir, semua baik-baik saja. Terimakasih ya Nai, kau selalu ingat aku sebegai sehabatmu. Sayang Naila....”


Ayu meraih hodie dan pasmina berwana senada, dengan langkah penuh keyakinan dirinya keluar penuh percaya diri. Untung saja saat ini kedau Putra nya sedang tidak ada di ruang keluarga yang akan dia lewati, mereka pasti sedang asik main game.


“Nonna mau kemana?” Suara Mawar membuat Ayu tersentak kaget. Ayu memegangi dadanya sambil mengtur nafasnya yang gelagapan.

__ADS_1


“Bantu aku, aku ingin ke restaurant Kak Rey.” Bicara pelan sambil menarik Mawar menjauhi pintu apartemen.


“Aku hubungi Bos...” Ayu menarik ponsel Mawar dari tangannya, Mawar menatap tidak paham kenapa Ayu melakukannya.


“Aku ingin memberikan kejutan....hari ini Kak Anna ulang tahun dan aku sudah janjian dengan yang lain untuk datang tanpa pemberitahuan.” Mawar masih ragu, Ayu selama ini tidak pernah berbohong padanya. Tapi aneh kenapa dirinya dilarang menghubungi Malik sebelum datang kesana. “Please....aku mohon, rahasiakan dari Kak Malik. Kau kan bisa menjagaku.” Pinta Ayu memohon belas kasihan Mawar.


“Apa Nonna sudah baik-baik saja dan boleh berkendara?” Ayu mengangguk.


“Nonna yakin? Aku bisa kehilangan pekerjaanku kalau tindakanku berbahaya.”


Ayu menatap Mawar menimang perbuatannya, tapi Malik pasti tidak akan marah hanya karena dirinya berkendara, Mawar pasti bisa menjaganya.


“Asal aku aman, Kak Malik tidak akan marah. Jaraknya juga tidak jauh.” Mawar meminta ponselnya di kembalikan, tapi Ayu menolaknya.


“Baiklah....semoga tindakan ku tidak salah.” Dengan berat hati Mawar menuruti permintaan Ayuna yang memintanya di antarkan ke restoran Rey.


Naila lari kegirangan saat melihat Ayuna datang. “Kau datang juga Yu? Sudah kuduga, mana mungkin kau tidak datang.” Ayu menyambut Naila dengan sangat ramah.


“Aku masuk dulu yah....setelah selesai kita bisa berbincang.” Ayu meninggalkan Naila dan masuk ke pintu pertama menuju ruang VVIP.


Ayu tidak lantas masuk....mendengarkan obrolan mereka yang sedang mendiskusikan Hanum dan juga dirinya.


Sebesar itu mereka khawatir, tapi kenapa harus dirinya. Apa semua masalah harus disimpan dariku....kenapa aku tidak mereka ajak berdiskusi, apa selemah ini keadaan ku. Kenapa Kalian Sulit Sekali Percaya Padaku.


Air mata menganak sungai mendengar diskusi yang tidak ada habisnya.


Kecewa sekali karena dirinya selalu jadi orang terakhir yang tahu segala macam masalah yang mereka hadapi. Ayu ingin jadi orang yang selalu menjadi tempat mereka pulang, membicarakan apapun yang mereka rasakan meski hal remeh yang tidak ada artinya.


Ayu memutuskan untuk kembali ke rumah. Dirinya mungkin belum saat nya untuk bersikap egosi, mendengar pembiaraan mereka saja dirinya sangat tersiksa, semua yang mereka bicarakan demi kebahagiaannya dan anak-anaknya.


Ponsel Malik terus berdering, entah sudah panggilan keberapa yang masuk karena Mahes dan Ranu terkejut tidak mendapati Mommy nya di manapun.


“Daddy tidak angkat....Om Biru sedang di rumah sakit dan Tante Mawar juga tidak angkat telponnya.” Racau Mahes yang masih mencoba menghubungi Malik dengan tangan gemetar.


“Terus coba Kak, aku juga sedang mencoba menghubungi Daddy.” Mereka tidak kepikiran untuk menghubungi orang lain selain Malik.


“Iya Kid....kenapa? apa Mommy.....” Ucapannya terpotong.


“Mommy tidak ada di kamarnya, Tante Mawar juga tidak ada. Abang baru cek CCTV dan Mommy keluar 40 menitan yang lalu.”


“Selama itu kenapa baru hubungi Daddy!!”


“Abang dan Kakak tadi antar Mommy ke kamar untuk istirahat, kita keasikan main Game Dad....Sorry.” Ucap Mahes penuh penyesalan.

__ADS_1


“Tolong cari Mommy cepat Dad.....Mommy ku Dad.” Pinta Ranu yang suaranya bergetar.


“Kalian jangan kemana-mana, tunggu saja di rumah. Daddy akan cari Mommy.”


__ADS_2