
Ayu dengan segera mematikan kompor panik. Dirinya lupa saat ini sedang merebus telur dan malah meninggalnya ke kamar mandi. Alhasil dirinya lari sekuat tenaga menuju dapur. Membuat dua pria kesayangannya ikut panik.
"Kenapa Mom?" Tanya Ranu yang ikut terkejut melihat Mommy nya lari terbirit-birit. Keningnya berkerut-kerut khawatir.
"Kenapa sayang?" Yang di tanya malah senyum-senyum malu.
"Mommy lupa sedang rebus telor. Tuh kan....." Membuka tutup panci. "Hampir saja." Air dalam panci sudah mengering. Untung saja dirinya segera sadar.
"Kan suami mu sudah sering bilang, minta bantuan kalau memang mau di tinggal. Bahaya kan begini." Malik mengambil alih dan mengangkat rebusan telor dari atas kompor.
"Maaf Kak." Suaranya terdengar sendu. “Aku tidak sengaja lupa Kak.” Namanya lupa pasti tidak sengaja.
"Mommy gak sengaja Dad, it's ok Mom." Memeluk Mommy nya. Ranu paling tidak rela Mommy nya sedih. Apalagi hanya karena alasan sepele. Tapi memang sangat berbahaya.
"Daddy gak marah loh Bang, cuma kasih tau Mommy supaya lebih hati-hati Bang." Memang dirinya tidak bermaksud marah. Mencium kening Ayu yang masih di peluk Ranu.
"Iya, Daddy gak akan bisa marahi Mommy Bang." Mencium pipi Ranu gemas. Ayu menambahkan agar Putra nya melembut.
Malik sudah punya musuh bebuyutan. Tidak bisa lagi sembarangan marah. Apalagi menyalahkan kesayangannya.
"Hari ini gak apa ya Bang makan di kantin." Ayu sebenarnya tidak tega membiarkan anak-anak nya makan di kantin. “Nanti Mommy call yah pas makan siang.”
"Tenang saja Mom, Abang dan Kaka sudah pesan makanan sehat sesuai permintaan Daddy." Ayu mengikuti Ranu yang menggandengnya berjalan ke ruang keluarga.
"Pesan.....gimana maksudnya Bang." Ayu tidak paham.
"Kan Daddy minta kita memilih restoran mana yang bisa kita pilih sesuka hati untuk makan siang." Ayu menyimak. Enak sekali bisa pilih menu sesuai selera.
"Oh....jadi Daddy pesen di restoran?" Sang anak mengangguk. Sambil berjalan lagi ke meja makan melanjutkan sarapanya yang sempat tertunda.
Ayu mengupas telor yang sudah tidak terlalu panas agar bisa dia bawa ke kantor. Ayu suka sekali telor rebus, menunda lapar saat Malik belum selesai dengan pekerjaannya yang menumpuk.
"Abang jadi nya pesan dimana? Kasih info Daddy supaya Daddy booking menu makannya." Ayu terharu. Kompak sekali mereka pagi ini, biasanya ribut. Keduanya lagi manis pagi ini.
Menatap Malik dengan matanya yang berbinar. Ternyata Malik tidak lepas tangan. Dia memperhatikan anak-anak nya dengan baik.
"Abang pilih restoran Papah Rey, tidak tau Kaka pilih apa." Malas memilih takut tidak sesuai selera.
"Pilihannya sama Bang." Balasnya saat membaca balasan chatnya dari Mahesa. "Kalian memang anak rumahan, Daddy suruh pilih yang kalian suka tapi tidak juga pilih yang lain." Malik menatap Ayu yang senyum-senyum genit.
"Rasanya sedikit sama Dad, meskipun punya Mommy lebih enak." Malik mengernyitkan dahinya, Mahesa mengutarakan alasan yang sama dengan Ranu saat masuk dan mendengar percakapan mereka.
Rasanya hampir sama. Mereka berdua punya telepati. Tidak heran kompak sekali saat melawan dirinya saat berbeda argument.
"Loh Kak Mahes sudah sampai yah, sini sayang sarapan dulu." Mencium pipi Mommy nya sebelum duduk.
"Masakan Mommy number one." Ranu mengacungkan kedua ibu jari tangannya.
__ADS_1
"Tentu saja Kak, Bang, kan Mommy belajar masak sama Papah Rey dulu." Bahagia karena mereka akan terurus dengan baik.
"Pantas saja, cuma restoran Papah yang terlintas di pikiranku." Meminum susu yang sudah Ayu siapkan.
"Ah....aku lupa bawa baju basket ku, aku tunggu di bawah saja ya Dad." Mahes segera menemukan susunya terburu-buru.
Beberapa menit tidak juga kunjung kembali Mahesa.
Ayu yang tahu anaknya tidak datang lagi segera menata roti dalam kotak makanan. "Bawa rotinya untuk Kak Mahes ya Bang." Ayu tetap berusaha sebisa mungkin menyiapkan makanan kecil untuk anak-anak nya.
"Ok, aku jalan ya Mom. Kak Mahes sudah tunggu Abang di parkiran sama Mamih Sarah." Ayu membantu Ranu menyipkan tasnya.
"Tidak dengan Papih Adam Bang?" Ranu mengangkat bahu nya tidak tahu.
"Kak Mahes cuma info itu ke Abang."
Malik segera menghubungi Sarah.
"Halo bidadari ku, sudah siap Abang bilang."
"Iya Al, aku menyertir hari ini, Adam ada operasi subuh tadi."
"Turun dari mobilmu dan aku antar hari ini."
"Jangan ngaco ya Al, aku bisa telat." Teriak Sarah tidak mau.
"Jangan membatah Sar, turun saja. Aku segera turun. Jangan buatku memaksa." Dengan kesal Sarah menutup panggilan telpon dari Malik. Kemudian tersenyum karena sadar Malik nya sedang posesif.
"Kenapa Mih? Kok kesal begitu mukanya?" Mahes menatap wajah Mamih nya yang tiba-tiba kesal. Sarah memeluk Mahes dan menyisir rambutnya dengan jari-jari.
"Turun Nak, kita berangkat di antar Daddy. Sedang aneh Daddy mu." Meski kesal Sarah tetap menurut. “Ayo, kita ke mobil Daddy sayang.” Merentangkan tangannya.
"Daddy juga larang Mommy antar bekal mulai hari ini." Mahes berpikir ada yang aneh. "Sepertinya alasan Daddy bukan yang semalam di sampaikan padaku dan Ranu, ada yang Daddy sembunyikan." Mahes berpikir keras. Sarah tidak tahu apa yang Mahes bicarakan. Tidak mau ambil pusing.
"Ayo jalan, antar anak-anak dulu baru Daddy antar Mamih ke rumah sakit." Malik segera masuk ke mobilnya begitu sampai di parkiran apartemen.
"Kau juga kena Yu?" Ayu hanya tersenyum. Di saat-saat seperti ini, mereka berdua tahu sekali harus menurut. Sarah dan Ayu sudah biasa, Malik memang unik.
"Kedua Putra mu ingin tahu Dad, kenapa melakukan ini pada kami." Malik pura-pura cuek tidak mau menangapi. Sarah berusana bicara dengan nada selembut mungkin.
"Daddy sudah kasih tau alasannya. Jangan tanya-tanya Daddy lagi." Sarah meringis meminta anak-anak nya tidak lagi mempertanyakan alasan Daddy melakukannya.
"Adam selesai jam berapa Sar? Aku ingin bicara siang nanti dengannya." Sarah membuka slide jadwal Adam yang ada di ponselnya.
"Sore ini dia luang, siang masih ada pasien Al."
"Ok, pulang nanti Daddy yang jemput anak-anak, setelah itu jemput kalian di rumah sakit. Kita makan malam di tempat Kak Rey." Ucapnya lagi tanpa menatap. Fokus.
__ADS_1
Ke empatnya mengangguk setuju saja dengan keinginan Daddy nya. Meski banyak sekali pertanyaan yang ada di benak mereka.
Group Chat Para Lelaki
Mahes : Daddy tolong jelaskan, bukan alasan semalam kan Daddy protect Mommy dan Mamih berlebihan seperti ini?
Jofan : Ada apa Kaka sayang, Daddy bertingkah aneh kah dengan adik kesayanganku?
Adam : Papih baru selesai operasi, lelah sekali Papih Kak.
Mahes : Resiko pekerjaan.
Adam : Tidak mau semangati Papih Kak?
Mahes : Papih kan laki-laki, Kaka jaga nya Mamih dan Mommy, dan Mamah Anna ku tersayang. Serta aunty-aunty terkeceh aku.
Adam : panjang sekali ketikan mu Kak. Sayang Papih nya susah.
Mahes : Kembali ke topik. Daddy please.....jelaskan Dad.
Rey : Ini anak dan Papih nya yang ternyata berisik. Memang Daddy kenapa Kak? Bertingkah dia?
Mahes : Daddy bilang ingin program anak ke dua. Larang-larang Mommy antar dan masak bekal untukku dan Abang. Tapi tingkahnya aneh, Mamih juga di protect Daddy.
Adam : Kok Daddy tumben, nanti orang tua yang bicara ya Nak. Sekolah yang pintar sayang. Jangan pikirkan sikap Deddy mu yang agak menyimpang.
Mahes : Aku sudah besar yah, sebentar lagi lulus. Harus di ajak diskusi.
Jofan : Ngeri sekali Kaka ini, sudah merasa besar padahal masih kelas tiga SMA.
Ranu : Abang juga, jangan tidak di kasih tau, Abang siap jaga Mommy dan semua wanita kesayangan ku.
Malik : Sejak kapan anak-anak Daddy jadi tua begini. Semua aman. Tenang saja, tugas kalian sekolah dan nilai bagus. Itu akan buat Mommy dan semua wanita kesayangan kalian bahagia. Cukup.
Ranu : Abang sudah bukan anak-anak Dad.
Malik : Nanti Daddy pikirkan, setau Daddy kau dan Kaka Mahes masih suka peluk-peluk Mommy manja seperti anak kecil.
Mahes : Daddy apa tidak berkaca, kita loh anak-anak nya. Daddy pun sama dengan kita.
Rey : Kok serang balik Daddy Kak.
Mahes : Daddy suka melarang-larang tapi dia sendiri melakukan.
Ranu : Bener, Abang suka kesal dan cemburu. Mommy ku di kuasainya.
Malik : Kalian tidak belajar? Kenapa menyerang Daddy di jam sekolah seperti ini.
__ADS_1
Malik meletakkan ponsel nya kesal. Pantas saja ponselnya berbunyi terus menerus, ternyata kedua anaknya sedang memperdebatkan sikapnya.
“Pak…..ada tamu di bawah. Memaksa ingin bertemu Pak.” Wajah Malik langsut pucat.